
Beberapa jam sebelum pembalasan di villa.
Ayunda dan, Ardilla, dan Caitlyn berasa menjadi princess sungguhan berjalan di mall dengan pengawalan ketat namun kasat mata dari para anak genk BIBA yang visualnya menandingi boyband korea.
Meski senang, tidak ayal rasa cemas dan malu masih menghantui Ayunda, tangannya mengapit erat tangan Zayin yang dibalas usapan lembut dipunggung tangannya oleh Zayin yang sesekali tersenyum menenangkan padanya.
" Abang, kita mau ngapain kesini?"
" Bukankah mall salah satu healing paling mujarab bagi perempuan saat stres?" Ucap Zayin lembut.
" Iya, kalau ada duitnya, ini kita lagi bokek, maklum akhir bulan." Celetuk Caitlyn.
" Ambil aja semau kalian, Abang yang bayar. Tapi endingnya Ayu sudah kembali ceria." Balas Zayin.
Mata para gadis mendadak berbinar-binar, seakan Zayin telah mengucapkan mantra kalau mereka menjadi putri tercantik sejagat raya.
" Beneran?" Aldilla memastikan.
Zayin mengangguk geli akan respon cepat para bocah itu, sedangkan Andromeda dan anak buahnya mendengkus sebal.
" Tapi...banyak orang lihatin Ayu." Cicit Ayunda meragu.
" Itu karena kamu jalan sama lelaki ganteng sekelas Abang yang berkualitas premium limited edition."
" Bang,..."
Zayin menggenggam tangan Ayunda," kamu cantik, bukan suatu kesalahan kamu mengungkapkan rasa terlebih dahulu pada pria, tetapi Abang harap kamu bisa melihat masih banyak lelaki diluaran sana yang mungkin bisa menerima kamu melebihi bang Ibnu."
Mendengar itu, mata Ayunda meneteskan bulir beningnya.
" Gak akan ada yang suka Ayu, mereka bilang Ayu murahan dan gak laku." Lirihnya.
" Itu yang ngomong gak laku."
" Tapi mereka punya pacar."
" Mereka pernah jalan dengan lelaki berkualitas seperti Abang?" Ayunda menggeleng.
" Jadi mereka zonk, Abang gak mau jalan dengan mereka, Abang maunya jalan dengan perempuan kayak Ayu." Ucapnya lembut.
" Aa..Abang so sweet banget sih." Rengek Ayunda manja.
Zayin terkekeh-kekeh," jadi meleyot ya kamu." Ledeknya, Ayunda terkikik menikmati kencan dengan lelaki berkualitas premium katanya
Aldilla dan Caitlyn yang berjalan di belakang mereka merasa gerah melihat interaksi mesra itu." Kalau gue belum tahu tentang mereka, gue pikir bang Ayin bucin akut sama Ayu, lihat tatapnnya lumer banget kayak coklatnya chocolava." Kata Caitlyn.
" Boleh gak sih gue naksir bang Ayin." Bisik Aldilla.
" Jangan, Lo bakal patah hati, gak ingat dia gak mau pacaran dengan dalih cewek itu ribet."
Aldilla menghela nafasnya berat," cari cowok aja susah, apalagi cari kerjaan ya!!" Gumamnya lesu.
" Abang, jadi beneran kita bebas jajan?"
" Iya, sekalian buat anak genk juga, ini sebagai ucapan terima kasih saya pada kalian yang sudah menjaga Ayunda." Ucapnya pada anak genk lewat earpiece bluetooth parallel.
Pekikan senang terdengar dari seberang saluran, namun terhenti saat Andromeda berucap," tidak perlu, bang. Menjaga Ayunda sudah kewajiban kami."
Keluhan lesu dari anak buahnya membuat Andromeda menggeram kesal.
" Tidak mengapa, jangan tolak rezeki. Syaratnya jangan pernah mengendurkan menjaga Ayu hingga kejadian kemarin terulang kembali."
" Siap!!" Ucap mereka serempak.
Ayunda yang tidak paham apa yang sedang dibicarakan, karena dia tidak difasilitasi earpieces, menarik Zayin ke toko Converse yang mendapat sorakan gembira dari anak genk.
Ditengah para bocah sibuk memilih, Zayin menerima pesan dari rekannya berisi alamat villa Birawa serta posisi Sandra secara mendetil diakhiridengan tulisan.
" Semuanya ready...tinggal jualan." Kode siap bertindak setelah operasi lapangan.
Kemudian dia mengirim pesan kepada Adgar agar membawa motor sportnya ke mall.
" Nando, Andros" Nando dan Andromeda melangkah lebar menghampiri Zayin yang memasukan ponselnya ke saku jaket.
" Iya, bang."
" Kalian jaga para gadis itu, Abang harus pergi ada urusan mendadak."
" Siap, bang."
Zayin berjalan mendekati Ayu yang sedang memilih kaos.
" Ayu." Zayin menepuk pundak Ayunda dibuntuti oleh Nando dan Andromeda
" Iya, bang."
" Abang harus pergi, tapi kalau kalian masih di sini, boleh. Ini Abang kasih kartu Abang." Zayin menyerahkan kartu debitnya.
" Ini berapa yang boleh dipake?"
" Sebebasnya, Jangan lupa sekalian beli keperluan rumah Nando, dan anak BIBA di markas."
" Bang, untuk rumah enggak perlu." Sungkan Nando.
Ayu menggeplak kepala Nando." Mumpung ada yang neraktir, jangan gengsi. Gengsi gak bisa bikin dapur Lo ngebul." Omel Ayunda.
" Siap bang, habis jangan marah ya."
" Paling minta ganti ke ayah."
" Abaaang...itu sama saja bawa Ayu ke tiang gantungan."
Zayin terkekeh," bercanda, pake aja. Udah lama Abang nabung, udah bertumpuk kayak gunung uang Abang."
" Dih, sombuong. Emang berapa sih gaji abdi negara?"
" Abang abdi negara spesial. Abang pergi ya." Zayin mencium kening Ayunda penuh perasaan.
" Kamu cantik, kamu layak diperjuangkan. Lelaki yang tepat akan memperjuangkan kamu." Ucapnya lembut sambil mengelus pipi Ayunda.
Karena terharu, Ayunda menenggelamkan diri dalam pelukan Zayin yang disambut hangat oleh sang empu, dalam pelukan Zayin, Ayunda mengangguk cepat dengan mata memerah menahan tangis haru.
Ayunda mengurai pelukannya." Love you."
" Too." Zayin berjalan santai keluar dari toko itu mengabaikan lirikan menggoda dari beberapa wanita.
Adegan itu tidak lepas dari sorotan orang sekitar yang merekamnya dengan ponsel mereka, Nando menghembuskan nafas dengan beratnya.
" Dros, siapkan hacker BIBA untuk mengawasi komentar video yang ini." Ujar Nando.
" Hmm." Tangan Andromeda sudah sibuk di atas keyboard ponselnya.
Di lobby mall, Zayin bertemu Adgar yang menggendong dua balita cantik.
" Aaaa..." Teriak riang Adelia dan crystal bersamaan mereka meronta minta diturunkan, lalu berlari berebut minta digendong Zayin, Adgar hanya bisa mencebik sebal.
" Kalian ini, punya kakak sepupu ganteng dianggurin."
" Cama Aa Adar bocen, tangen cama Aa Ayin." Ujar Adelia yang diangguki Crystal.
" Utututu... Aa juga kangen kalian, bidadari cantik penghibur hati. Sayang kalian berdua pake banget Aa tuh."
Adelia sudah bermesem-mesem sok malu-malu." Dih Aa gombal, tapi Adel cuka." Zayin terkekeh, Adgar bergidig geli.
" Aa, Adel pengen itu."
" Ical juga." Tunjuk mereka ke stand gula kapas.
__ADS_1
" Ya udah sana, sama kakak-kakak ya." Ucap Zayin merujuk pada beberapa anak Gaunzaga yang ditugasi mengawal Adelia dan Crystal.
Berhubung berbicara di sekitaran anak balita, mereka menggunakan bahasa yang baik untuk didengar.
" Kamu bawa pesenan aku?"
" Iya, lain kali jangan dadakan, hampir ada kiamat kecil, mereka ngotot minta ikut."
" Sorry, dan makasih untuk bantuan di sekolah."
" Aku paling males kalau kamu kayak gini, berasa orang asing diantara Birawa, Atma Madina, Romli. Padahal kita sudah lama bersahabat meski diawali dengan tidak menyenangkan."
" Sorry kalau kamu merasa demikian, bukan begitu maksudnya. Apa yang aku lakukan pasti berdampak pada nama sekolah."
" Its okey, kita harus lapang hati, bahwa kita lalai. Mama memutuskan melakukan investigasi secara rahasia mengapa bully ini bisa terjadi."
" Aku titip Ayu, diluar dia terlihat baik-baik, tapi aku tahu hatinya tidak demikian. Kalau ayah dan bunda belum pulang jangan pulang ke rumah, bawa aja ke rumah aku, tapi kayaknya dia masih malu bertemu bang Ibnu."
" Aku bawa ke rumah Tante Edel aja ya?"
" Itu lebih baik."
" Aku gak bisa ngobrol banyak, kita lanjut nanti. Mana kuncinya?" Adgar mengeluarkan kunci motor sport hitamnya dari saku jas yang dikenakannya.
" Aa mau pelgi lagi?" Tanya crystal.
" Iya, ada tugas negara."
" Ical, hebat kan calon cuami aku banyak teljaannya." seru Adelia.
" Heh, masih itik ngomongin calon suami." Omel Adgar menggendong para balita.
" Tata mama halus seling omongin calon cuami supaya benelan jadi. Adel kan cinta Aa Ayin, Aa Ayin ganteng deh." Adelia menoel genit dagu Zayin.
" Apa aku harus bahagia digombalin bocah itik gini, Gar. Ngomonglah sama kak Edel jangan begitu."
" Sudah, sampai bosan malah."
" Okey, para bidadari, Aa pergi dulu, jadi anak yang baik ya." Zayin mencium kening masing-masing balita tersebut, kemudian menyodorkan tangan untuk mereka cium.
" Hati-hati." Ucap Crystal.
" Aa ental pulangnya bawa duit banak-banak supaya cepat nitahin Dede ya!"
" Hadeuuh...Terserah kamu Del, terserah." Malas Zayin sebelum berlalu dari lobby yang terlebih dahulu mencium gemas pipi Adelia hingga dia terkikik geli yang pada akhirnya dia pun harus juga mencium Crystal dengan cara yang sama karena Crystal iri dibawah pelototan Adgar
*****
" Assalamualaikum." Daniel dan para sahabat memasuki rumah Eidelweis sebelum dipersilakan.
" Wa'alaikumsalam." Jawab Eidelweis sembari membawa seteko minuman limun yang langsung diambil-alih oleh Mumtaz.
" Biar Tante saja, kamu kan sedang sakit."
" Jangan berlebihan, Kak. Cuma ngangkat teko."
" Apa kalian tidak bisa manggil Tante saja?" Keluh Eidelweis.
" Maaf kak, kita lebih takut dengan Ayin daripada kakak." Jawab Alfaska enteng.
" Ayu kemana, kak?" Tanya Daniel.
" Di ruang tengah."
" Ayu." Panggil Daniel pada Ayunda yang sedang mencoba latihan merajut pada Nebuy Sri.
" Abang." Ayunda berjalan anggun ke arah Daniel.
Netra Daniel dan para sahabat terfokus pada lengan Ayunda yang dibalut.
" Apa kamu bisa jelaskan kenapa tanganmu dibungkus begitu?" Tanya Bara.
" Kalian pasti sudah tahu, Nando pastinya sudah cerita." Sarkasnya.
" Abang pengen dengar langsung dari kamu." Pinta Alfaska.
" Nanti setelah bunda dan ayah gabung, itu mereka sudah datang."
Terdengar sayup-sayup Hanna memanggil Ayunda dari arah luar.
" Ayu.. Ayu..." Panggil Hanna penuh kecemasan begitu mobilnya berhenti, Hanna langsung berlari masuk ke rumah Eidelweis.
Pintu rumah sudah dibukakan oleh kepala pelayan," dimana putriku?"
" Di ruang tengah berserta yang lain, nyonya." Tutur kepala pelayan menundukkan diri.
Begitu Hanna berdiri diambang pintu penghubung netranya menangkap Ayunda yang sedang bercengkerama dengan keluarga Hartadraja, Mumtaz dan para sahabat.
" Bunda..." Ayunda berlari kecil memeluk Hanna yang dibalas pelukan erat oleh sang bunda.
Ayunda mengerutkan kening bingung melihat wajah Hanna yang penuh dengan kekhawatiran.
" Bunda, ada ap.."
" Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu mengalami perundungan di sekolah?"
" Ayu tidak apa-apa, mereka sangat melindungi Ayu." Rujuknya kepada Genk BIBA.
" Itu bukan alasan kamu gak ngomong kalau dibully." Sela Daniel tidak menyukai akan fakta ini.
Teddy menyusul kemudian memasuki ruangan lalu memeluk Ayunda dengan sayang.
" Haikal, pangggilkan Nando." Pinta Alfaska.
Haikal pun tanpa kata kembali ke rumah Aida.
" Bang, jangan berlebihan, lukanya tidak seberapa. Tadi sudah diperiksa kak Ala."
" Bukan masalah lukanya saja, Yu, tapi pelanggarannya ini." Kukuh Daniel.
" Tapi..."
" Dengarkan kakak mu, Ayunda."potong ayah.
" Baiklah, tapi jangan terlalu berlebihan. Bang Ayin hari ini sudah menghukum mereka."
" Benarkah?" Hanna menatap satu persatu para anak, mereka mengangguk.
" Iya, ini." Daniel menyodorkan tabs yang berisi rekaman apa yang terjadi dengan Jessica dan Mela di sekolah, dan media sosial saat ini
" Assalamualaikum." Ucap Nando dan Haikal.
" Nando, bisa kamu ceritakan kenapa murid yang bernama Jessica begitu tidak menyukai Ayu?" Tanya ayah setelah duduk di sofa masih mernagkul Ayunda.
" Hal sepele, om. Si Jessica menyukai Andromeda, tapi gak berbalas. Sedangkan Andromeda dekat dengan Ayunda, sebenarnya seluruh anak genk BIBA bertugas melindungi Ayu selama diluar rumah. Tetapi tentu Jessica tidak tahu tentang hal itu. Dia pikir Ayu dan Andros pacaran."
" Sejak kapan Ayu dirundung?"
" Sejak kenaikan kelas sebelas, kami sebenarnya mau melapor, tetapi selalu dilarang oleh Ayu dengan alasan hal ini bukan urusan serius dibanding apa yang bang Daniel alami."
Semuanya terdiam mendengar cerita Nando, mata mereka seketika menatap intens Ayunda yang menunduk dalam.
" Apa kamu benci Abang?" Suara Daniel rendah menahan kesedihannya.
Ayunda mengangkat kepalanya, lalu menggeleng cepat." Ayu hanya ingin meringankan beban Abang, mana tega ayu cerita masalah ini kalau hampir setiap malam Abang menangis gara-gara tragedi itu.
" Masalah kalian lebih berat, dan masih ada bang Ayin tempat curhat Ayu."
__ADS_1
" Sejak kapan kamu dekat dengan Ayin, dek?" Tanya Bara.
" Sejak dulu juga dekat, kan Dafi sama bang Ayin sering ngajak Ayu pergi kalau bunda dan ayah sibuk dengan kalian."
" Maaf." Kata Daniel sendu.
" Apa sih bang, gak perlu. Lagian Ayu senang main sama bang Ayin sering dijajanin, gak kayak Abang minta ini gak boleh, minta itu dilarang. Bang Ayin mah dikasih aja."
Teddy dan Hanna hanya diam mendengarkan, mereka sungguh tidak tahu, jika anak bungsunya punya ikatan kuat dengan Zayin yang mereka nilai penyendiri.
" Tapi sejak masuk Akmil dia jauh, baru sekarang ini dia muncul."
" Eh,...mengenai itu...sebenarnya meski bang Ayin dalam kesatuan, dia menugaskan anggota inti BIBA untuk menjaga Ayu, makanya ketika para penjahat menyerang dan mencoba menculik kalian Ayu hampir tidak tersentuh." Ungkap Nando.
" Dan entah sejak kapan anak BIBA bekerjasama dengan TNI, dan polri dalam penumpasan kejahatan jalanan."
" Lo tahu tentang hal ini, Bar?" Tanya Alfaska, Bara mengangguk.
" Zayin minta anak BIBA dilatih fisik layaknya anak RaHasiYa dengan alasan percepatan regenerasi, mengingat kejahatan jalanan sekarang lebih canggih, lebih terlatih, dan terkoordinir dengan baik dibanding masa kita dulu, tapi gue gak tahu soal perundungan Ayu." Ucap Bara penuh sesal.
" Julia, apa tindakan sekolah selanjutnya? Tanya Hanna.
" Menjelang pulang tadi keluarga Jessica sudah mengirim pengacara akan membawa ini ke jalur hukum jika sekolah tidak bertindak tegas terhadap apa yang terjadi pada Jessica hari ini."
" Keputusannya?"
" Tentu sekolah bersikap tegas, dan meyakinkan apa yang terjadi hari ini hanya merupakan tindak balasan dari korban atas pelanggaran yang dilakukan oleh Jessica."
" Jessica juga akan melaporkan Zayin yang menyiram kuah soto, mereka meminta rekaman cctv, tetapi anehnya pada saat kejadian itu tidak terekam oleh cctv." Terang Julia melirik Nando.
Nando yang menyadari Julia meliriknya mencoba tetap tenang di tempat dia berdiri.
" Apa kalian ada sangkut paut dengan cctv sekolah?" Tanya Julia kepada anak RaHasiYa.
Mereka menggeleng," kami berkomitmen pengelolaan tidak resmi cctv dibawah tanggung jawab anak BIBA."
Julia memanggut-manggutkan kepala." Apa itu ulahmu, Nando?"
" Saya bukan anggota genk BIBA, Bu."
" Terus apa langkah selanjutnya yang diambil oleh sekolah terhadap mereka?" Tanya ayah.
" Zayin melarang kami untuk menskorsingnya, dengan yang alasan tidak ada efek jera. Orang seperti mereka akan menikmati masa skorsing untuk jalan-jalan, bukan instropeksi diri.
" Maka dengan ini kami mengharuskan mereka berdua tetap masuk sekolah dengan menjaga jarak dengan Ayunda sejauh dua meter, selama disekolah tidak diperbolehkan menggunakan gawai atau gadget apapun, artinya semua mata pelajaran dia tulis dibuku secara manual, bukan diketik dilaptop, dan melapor ke pihak sekolah setiap harinya."
" Ditambah setiap akhir pekan selama satu semester ini dia kerja sosial di panti yang dikelola oleh keluarga Hartadraja dan rekan.
" Itu semua usulan dari Zayin, dan saya kira ini lebih positif bagi pelaku perundung dibanding dilaporkan ke pihak berwajib atau skorsing." Tukas Julia.
" Bagaimana dengan nama baik sekolah?" Tanya Bara.
" Tentu awalnya kami mendapat hujatan dari masyarakat atau wali murid lainnya, namun setelah kami memastikan hal ini tidak akan terjadi lagi, dan melihat hukuman yang dijatuhkan kepada Jessica, keadaan kembali kondusif."
" Apa Zayin bisa mengintervensi sekolah?" Hanna melihat satu kejanggalan dari pernyataan Julia.
" Tidak, dia hanya mengusulkan dengan data yang dia tulis selama bersekolah di BIBA. Dimana hukum yang diberikan sekolah kepada murid bermasalah ternyata tidak efektif dan efisien, baik dari kualitas muridnya, maupun efek jeranya.
"Sedari dulu dia mencoba memberi advice, tapi sepertinya pihak sekolah mengabaikannya, maka setahu saya Genk BIBA bekerjasama dengan osis yang menjadi eksekutor bagi murid yang bermasalah." Iris mata Julia melirik Adgar yang mesem-mesem.
" Jadi mama tahu kelakuan kelakuan kami?"
" Kamu pikir yayasan akan berdiam diri setiap kalian bergerak?"
" Dan hasilnya?" Hanna penasaran.
" Setiap murid yang melanggar, osis secara formalitas akan menghukum seperti biasa hanya berdiri hormat kepada bendera merah putih, selanjutnya OSIS akan menyerahkan kepada genk BIBA, mereka memilih hukuman sosial, semisal membersihkan lingkungan, memperbaiki ibadah dan tempat ibadahnya, bekerja sama dengan polisi lalu lintas menertibkan laju kendaraan, membantu orang tua menyebrang jalan, bahkan turut membantu pengamen mengamen dengan cara yang benar ditempat yang genk BIBA sediakan, dan masih banyak lagi."
" Itu semua Adgar yang memimpin?" Tanya ayah.
" Saya memimpin pengawasan, ide hukuman berasal hasil rembukan berdasarkan evaluasi yang kita catat, sebagian besar dari Zayin, meski secara resmi bukan anggota genk karena cita-citanya sebagai TNI, tapi keberadaan sosoknya tidak bisa diabaikan. Kalau dulu mungkin seperti bang Mumtaz dan para sahabatnya ini.
" Setiap bang Bara tawuran, disaat terdesak mereka berempat akan turun tangan, sehingga pihak lawan mengira mereka anggota genk padahal hanya solidaritas semata."
" Zayin..." Gumam Hanna.
" Kenapa? Apa bunda akan menjadi sosok ibu yang menyebalkan seperti mami Sandra?" tuding Daniel menyelidiki.
Hana gelagapan, lantas menggeleng cepat," bukan begitu, terus terang bunda tidak begitu mengenal dia dibanding kalian. Dia jarang berkumpul dengan kita."
" Dengan Genk juga enggak, Tan. Dia hanya muncul kala diperlukan, itulah mengapa kami bisa dekat." Sahut Raja.
" Itu karena dia menghabiskan waktunya bersama Khadafi...dan juga Ayu" Ucap Alfaska merenung, yang diangguki boleh Ayunda.
" Apa?" Daniel ingin memastikan pendengaraannya.
" Aku gak tahu bagaimana dia disekolah, tetapi setiap pulang sekolah, dia tidak langsung pulang. Dia biasanya akan pulang menjelang Maghrib selebihnya bersama Dafi, setidaknya itu yang dilaporkan Ubay.
" Kan udah Ayu bilang, Abang Ayin sering ajak ayu dan Dafi jajan, gak pernah jauh-jauh kok. Mama Aida selalu ada buat mantau kita."
" Ternyata kita tidak tahu banyak tentang dia." Gumam Bara.
" Well, bagaimanapun ketertiban dan keberanian penghuni sekolah tentu tidak lepas dari peranan genk BIBA dalam menjaga para penghuni sekolah."
" Saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada RaHasiYa selaku penanggung jawab Genk BIBA."
" Kepada siapa saya utarakan ucapan terima kasih ini?"
Mereka semua menunjuk pada Bara." Dia yang yang bertanggung jawab tentang koordinasi pasukan, atau per-genk-an" Jelas Alfaska.
Bara mendelik kesal," terima kasih kembali, itu komitmen dari RaHasiYa guna mewadahi kreatifitas kaula muda, khususnya remaja agar tidka terjerumus pada hal yang meresahkan masyarakat."
Semuanya bertepuk tangan mendengar ucapan Bara layaknya pidato kenegaraan.
Mendapat respon yang berlebih membuat bara jengah, ia pun beranjak dari Daan untuk kembali ke rumah Aida.
Diseberang sana, Ibnu terpekur mendengar semua kisah itu, satu hal yang Ibnu sadari dia mengabaikan adiknya karena terlalu sibuk dengan para sahabatnya.
" A, yang lain kemana?" Khadafi berdiri diambang pintu, Ibnu menatapnya intens.
Khadafi salah tingkah ditatap sedemikan rupa oleh kakaknya, tatpan yang mengira kan..entah apa." Kenapa?"
" Udah sore, belum ada yang masak buat makan malam. Aku gak paham mau masak apa, takut mereka gak Suka."
" Daf..." Ibnu berjalan perlahan mendekati Khadafi
" Iya."
" Apa kamu pernah membenci Aa karena sibuk mengurus bang Afa dan yang lainnya?"
Khadafi tidak langsung menjawab, dia kaget akan pertanyaan yang tidak terduga ini.
Kahadafi perlahan menggeleng. " Benci sih enggak, tapi terkadang kesepian. Merasa sendiri, tapi Aa Ayin memberi pengertian ke Dafi kalau bang Afa, bang Aniel, dan bang Bara lebih membutuhkan Aa.
"Bang Afa hanya punya Papi yang sibuk, bang Bara tidak punya siapa-siapa. Sedangkan Dafi masih punya Aa, kakak Ala, Aa Mumuy, Aa ayin ayah Zein, dan mama Aida."
" Tapi kami menghabiskan waktu banyak buat mereka?"
" Dafi punya Aa Ayin dan Ayu buat main, mereka gak pernah biarin Dafi sendirian. Jadi hilangkan rasa bersalah itu." Terka Khadafi, tatapan yang tidak biasa itu dia duga rasa bersalah kakaknya pada dia yang sering ditinggal pergi olehnya.
" Maafkan Aa."
Khadafi menggeleng." Tidak ada yang perlu dimaafkan, bang Afa memang yang lebih membutuhkan Aa. Dafi baik-baik saja."
Tiba-tiba Kadafi memeluk erat Ibnu." Its, okey. I am fine, everything always be fine!" Bisiknya.
Bebrap menit merek berpelukan menyalurkan rasa sayang antar saudara, sehingga tidak menyadari obrolan mereka terdengar oleh Aryan yang baru pulang dari kantor.
__ADS_1
Dibalik tembok Aryan berdiri tertegun, ternyata banyak orang yang menjadi korban akibat trauma Alfaska mengapa Sandra tidak bisa melihat ketulusan dari para sahabat ini, renung Aryan.