
Begitu Hito menutup pintu mobilnya Zivara menerobos masuk menggeser duduk Zahira yang sudah duduk di kursi penumpang.
" Lo apa-apan sih. Keluar gak?" Marah Zahra.
" Enggak, gue numpang balik. Gue gak punya duit ini akhir bulan." tolak Zivara.
" Ni gue kasih ongkos, Lo keluar."
Zivara ngambil selembar lima puluh ribu, "cepat berangkat." Zivara menepuk kepala kursi pengemudi.
" Heh, turun. Kita mau kencan." Kesal Zahra pada Zivara yang masih ngeyel.
" Ya udah kencan aja, gue mah mau balik."
Di depannya Zahra melihat Farhan baru keluar dari lobby.
" Prof." Panggil Zahra dari jendela mobil.
Farhan menoleh ke arah suara terlihat kepala Zahra menyembul di jendela mobil.
" Ara, kamu sedang apa?" Tegur Hito tak habis pikir.
" Bentar dulu."
Farhan mendekati mobil Hito," apa?"
" Angkut Ziva, dia nyumpekin mobil." Mata Zahra melirik ke kursi belakang yang mana mata Zivara sedang melototinya
Sebelah alis Farhan terangkat bertanya pada Hito yang mengedikan bahu.
" Ck,...lama." Zahira membuka pintu penumpang dan melangkah ke tempat Farhan berdiri, membuka pintu penumpang disebelahnya lalu mendorong Farhan melesak masuk menggeser duduk Zivara ke pojok pintu.
" Aws, Lo apa-apaan sih, Ra." Protes Zivara yang terpentuk kepala Farhan.
" Sorry." Ucap Farhan yang masih bingung, kejadiannya begitu cepat.
" Berangkat, Bang." Zahira mengetuk atap mobil.
" Mercy rasa angkot ya, Yang." Hito menyalakan mesin mobil keluar dari area rumah sakit, Zahra terkekeh.
Suasana dalam mobil hening, tangan Zivara yang beradu dengan tangan Farhan seketika membuat tubuhnya kaku, sementara Farhan mengulum senyum.
" Berhenti, kak." Pinta Zivara ke Hito.
" Iya, ini juga mau berhenti, tapi banyak angkot agak depanan ya."
" Nanti gue puter balik."
" Dikit doang, Mercy kesenggol angkot yang ribet gue." Ucap Hito memberhentikan mobilnya.
Zahra melihat mereka berhenti di sepertigaan jalan ramai.
" Kok di sini? Rumah Lo kan masih jauh."
" Rumah gue udah pindah lewat belok sana." Tunjuknya ke arah seberang kanan, ia membuka pintu mobil.
" Gak dianter ke rumahnya?" Tanya Zahra ke Hito.
" Enggaklah, dia kalau minta anter pulang aku cuma sampe sini. Kalau nyampe rumahnya Harus putar arah lagi, males."
Zahra terdiam, " laporan kamu dari Ayu kurang akurat ya." Bisik Hito tersenyum meledek
" Apa sih, enggak ya." Elak Zahra.
" Prof, turun." Ucap Zahra."
" Kok?" Tanya bingung Farhan.
" Prof tega dia nyeberang sendiri?"
Dengan menahan kesal Farhan turun dari mobil.
" Dadah. Jalan Kak." Hito hanya menuruti permintaan kekasihnya dengan mengulum senyum, entah disadari atau tidak olehnya tadi dia memanggil Hito dengan sebutan Kak.
" Ra, kita dosa gak sih nurunin prof. Farhan? Beliau kan dosen kita?" Tanya Zahira ragu.
" Dih, siapa yang nurunin? Gue cuma nawarin beliau mau nganter Ziva atau enggak." Kilah Zahra." Yang minta berhenti siapa?"
" Ziva?"
" Yang berhentiin mobil siapa?"
" Kak Hito."
" Salah gue dimananya?" Tanya Zahra.
" Kan yang manggil beliau Lo?"
" Yang masukin beliau ke mobil siapa?"
" Gue."
Entah mengapa Zahira berpikir keras perihal sepele ini.
" Jadi yang salah siapa?"
" Kak Hito." Ucap Zahira tanpa bersalah, Hito hanya merotasikan matanya saja.
" Yang, bilang ke bagian kepegawaian rumah sakit lagi buka lowongan buat dokter ahli jantung, kayaknya ada dokter jantung yang mau resign." Sindir Hito.
Zahira yang sadar sedang disindir berdecak sebal," ck. Baperan Lo, kak."
" Xixixi..." Zahra terkikik senang melihat sohibnya merana.
" Bapak, gak perlu anter saya. Si Ara kalau sablengnya lagi kumat emang bar-bar mendadak. Mari pak." Pamit Zivara.
Farhan mencekal lengan Zivara, " aku anter."
" Gak perlu, pak." Zivara mencoba melepas pegangan Farhan.
" Mau sampai kapan kamu mengindari saya?"
Zivara menunduk agak takut mendengar suara bariton nan dingin.
" Ayo, mobil saya sudah sampe." Farhan menarik lembut tangannya ke mobil hitam yang berhenti di depan mereka.
Ketika mobil melaju lurus Zivara menoleh pada Farhan," pak ini bukan arah rumah saya."
" Kita makan dulu, saya pikir banyak yang harus kita bicarakan."
" Pak...." Zivara sungguh belum siap membicarakan apapun dengan Farhan.
" Ziva..." Balas Farhan lembut menatapnya dalam.
Selepasnya Farhan langsung sibuk dengan ponselnya.
Zahra dan Zahira menatap Hito bingung karena mereka berhenti di cafe'D'lima.
" Kita makan dulu." Hito melepas seatbelt Zahra.
" Ini akhir bulan, pak. Kita mode irit." Ucap Zahira yang diangguki Zahra.
" Saya traktir."
Keduanya langsung membuka pintu mobil tanpa dikomando" Bilang dong, kan kita gercep." Ucap Zahra.
" Heeh." Timpal Zahira.
Hito hanya menggelengkan kepala. " sok miskin, Kalian pikir saya enggak tahu berapa honor kalian? Apalagi kamu!" Sentil Hito pelan ke kening Zahra, Zahra dan Zahira hanya nyengir lebar.
" Usaha buat gratisan mah gak boleh berhenti, kak." Balas Zahira.
" Terserah, kayak masih mahasiswi aja kalian."
Hito mendorong pintu masuk cafe' mempersilakan para wanita itu masuk terlebih dahulu.
Melihat siapa yang duduk si salah satu meja cafe' Zahira berbalik badan hendak keluar yang dicegah Hito.
" Duduk, Zahra gak jadi makan gaji kamu saya potong." Titah Hito tegas.
" Kakak gak bilang dia gabung." Kesal Zahira.
" Kamu gak nanya."
Samudera menghela nafas berat, menaklukan hati Zahira ternyata lebih sulit dari yang dia perkirakan.
Zahra tanpa drama sudah duduk manis di seberang Samudera menarik buku menu.
" Pindah." Seru Hito yang sudah menggeser kursi di sebelahnya.
" Apa sih, siapa cepat dia dapatlah."
" Kamu ngapain duduk berhadapan gitu sama Samu."
" Ya, Allah To, duduk doang." Protes Samudera.
" Dari duduk, saling pandang, suka, terus nikung, no way." Hito masih kekeuh menarik Zahra untuk pindah duduknya.
" Pikiran Lo terlalu jauh."
" Hanya mengantisipasi."
" Hira, duduk. Gue udah laper, Lo gak mau, kak Samud buat gue aja." Ucap ngasal Zahra yang mendapat pelototan dari Hito.
" Heh, ngomongnya." Tegur Hito gak suka.
" Habis ni dua orang banyak drama. Kalau emang gak suka udahan aja."
" Kayak kalian gak ngdrama, dan catat gue udahan sama dia." Tekan Zahira.
Hito dan Zahra menatap Samudera," gue mah masih, dia aja yang overthingking."
" Dih, dimananya yang overthingking kalau Lo tunangan sama gue karena kasian."
" Kata siapa?"
" Mantan Lo."
" Dan kamu percaya?"
" Kenapa enggak."Hito dan Zahra membelalakan mata.
" Dia gak move on dari aku, dan pengen kita bubar, jangan percaya omongan dia."
" Aku berulang kali lihat kalian jalan."
" Dia ngintilin aku, aku gak pernah ngajak jalan dia. Kamu tanya Hito aku frustasi karena kamu ngejauh mulu dari aku."
" Halah gembel."
" Gombal." Koreksi Hito dan Zahra.
" Udah kita makan, laper."
" Ngalihin, kalah omong kan Lo. Udah jangan buang energi ngehindar dia mulu." Cerocos Zahra, Zahira mendelik sebal, Samudera terkekeh mendengarnya.
" Kayak kamu." Celetuk Hito.
" Dih, kapan aku ngehindar?"
" Iya gak ngehindar, cuma melengos pergi kalau ada aku."
" Benar, buat bapak CEO." Balas Zahira tersenyum menjengkelkan
" Tahu ah, ayo kita makan." Tukas Zahra cemberut.
" Lo ngomong gue gampar pake tisue ni." Nyolot Zahra saat Zahira hendak membuka mulutnya.
Cring!!
" Pak, lepas jangan dipaksa gini, malu." Zivara memprotes dan mencoba melepas genggaman tangan Farhan yang sudah dia upayakan sejak mobil terparkir di depan cafe'.
" Aku gak akan maksa kalau kamu gak akan kabur."
" Iya, ini gak kabur. Lepas."
" Enggak, udah nanggung."
__ADS_1
Farhan membawanya ke private room yang sudah dibookingnya pada Erwin.
Empat pasang mata itu hanya memandangi mereka dengan cengo.
Private Room
" Silakan." Ucap karyawan seusai menaruh makanan di atas meja lalu meninggalkan ruangan.
" Pak,..."
" Makan."
" Katanya mau ngomong."
" Setelah makan, pembicaraan dalam keadaan kenyang akan menghasilkan hasil yang lebih baik. Percayalah."
Farhan membantu zivara mengambil lauk pauk kesukaannya.
Zivara melihat seluruh menu yang tersaji, merupaka makanan itu kesukaannya.
Zivara makan dengan tertunduk dalam, tak sadar bulir bening jatuh, tak ada yang bicara selam makan.
" Terharu heh?" Ucap Farhan lembut mengelap mulutnya seusai makan.
Zivara mengangguk," aku masih inget semua tentang kamu, bukan hanya makanan saja."
" Maaf..."
" Kamu suka Hito?"
Zivara menggelengkan kepala," jangan hanya menggeleng, ucapkan." pinta Farhan.
" Enggak." Cicitnya.
" Kenapa masih ngedeketin dia meski itu menyakiti Zahra."
" Enggak mau nyesel."
" Maksudnya?"
" Gak mau nyesel kayak ke kamu," Zivara menarik nafas dalam sebelum bicara," dulu aku gak perjuangin kamu, aku nyeselnya minta ampun, dan gak mau ngerasain itu lagi."
" Tapi nyakitin Zahra."
" Itu penyesalan terbesar, sekarang aku sedang perjuangin maaf dari Ara."
" Maksud saya, waktu kamu ngedekitin Hito apa kamu gak mikirin perasaan Zahra?"
Zivara tertunduk lesu tak lama ia menangis tersedu-sedu, menumpahkan segala emosi yang dia tahan selama ini.
Menyeka air matanya seperti anak kecil," saya tidak begitu paham soal dunia bisnis, mama memberitahu aku kalau perusahaan papa sedang bermasalah, nenek Sri memberi bantuan dengan syarat aku menikah dengannya. Saat itu aku hanya ingin membantu papa, dilain sisi nenek terus mendesak saya, saya pikir saya tidak punya pilihan selain menyetujuinya."
" Kenapa tidak datang padaku?"
" Hira memperingatkan saya tentang Mumtaz yang menurutku sudah terlambat, Bapak lihat keluarga aku bangkrut, bapak pikir saya mau bapak juga mengalaminya? saya berurusan dengan RaHasiYa, dengan Mumtaz, orang yang gak akan segan menghabisi semua orang yang terlibat yang menyakiti keluarga dia. Lihat saja nasib Hartadraja!"
" Kamu mendekati Hito, tapi kamu masih peduli pada saya?"
" Saya selalu peduli padamu, saya tahu kamu sedang di dekati oleh dokter intership."
Farhan terkekeh," cemburu?"
" Apa saya masih berhak untuk itu?"
" Saya tidak pernah mencabut itu untuk kamu." Ucapnya dengan tatapan lembut.
" Hehehe, baguslah kalau kamu merasa bersalah, supaya kamu gak nakal lagi."
" Maaf, maafin saya, pak." Bujuknya tak sadar menggoyang-goyangkan lengan Farhan dengan manja.
Farhan tersenyum," iya saya maafin, tapi jangan diulangi lagi." tangannya menggenggam tangan Zivara.
Zivara menggeleng," gak akan. Papah udah marahin saya dan mama. Saya juga gak mau ngelihat kamu sedih lagi."
Pletak!!!
" Aawsss." Zivara memegang dahinya yang disentil Farhan.
" Geer sekali anda."
Zivara tertegun," emang enggak?" Lirihnya.
Jempol Farhan mengusap punggung tangan Zivara, tersenyum," sedih, kecewa. Bukan padamu, tapi pada diriku sendiri. Andai dulu saya tidak meninggalkanmu untuk menikahi Anna, kamu tidak akan mengalami ini. Itu yang saya pikirkan."
" Jangan diingatkan lagi tentang itu, dokter Anna itu sangat menyebalkan bahkan dia secara terang-terangan mendukung Zahra sebagai pendamping kamu."
" Biarkan saja apa kata orang jangan diambil pusing."
" Sepertinya anda suka sekali dipasangkan dengan Zahra?" Tanya Zivara curiga.
" Dari sejak kuliah dia selalu menjadi gadis favorit saya, karena selalu nyambung membicarakan apapun tentang dunia medis. Tapi dia tak pernah melewati batas, dia tahu kepada siapa hati saya tertambat."
Farhan menatap Zivara intens," dia tidak akan mengkhianati sahabat, dulu Setiap kalian bertemu dengan saya sebenarnya saya hanya ingin bertemu dengannya guna membicarakan tentang penelitian, tetapi selalu dia tolak. Dia tahu diantar kalian yang selalu menggoda saya hanya kamu yang memakai hati dan dia selalu berusaha menjaga perasaan kamu. Saya harap kamu juga demikian."
" Pak, saya jahat banget ya?"
" Apa dia masih marah sama kamu?"
" Sekarang dia mulai menanggapi setiap omongan saya meski dengan nada ketus."
" Sabar ya, kamu sudah merusak kepercayaannya." Farhan mengusak hijab Zivara.
" Saya akan menunggu uluran tangan dia kapan pun. Apalagi saya melakukannya kala dia berduka." Lirih Zivara menahan tangis yang hendak keluar lagi, dadanya begitu sesak mengingat segala kesalahannya.
" Semuanya bisa kembali selama kita berusaha dan konsisten."
" Saya hanya berharap siapapun yang membunuh Tante Aida dihukum setimpal."
\*\*\*\*\*
Nathan duduk santai menikmati secangkir kopi di kursi santainya di sore hari nan cerah di depan para tahanannya yang tak berdaya.
" Kau tahu Aloya, sebentar lagi Surga Duniawi kembali padaku." Ucapnya dengan senyum devilnya.
Rudi menatap Nathan nyalang, padahal hanya untuk bernafas saja dia harus dibantu dengan tabung oksigen.
" Itu mustahil, kau tak akan mendapatkan apapun. Kalian akan hancur."
" Bermimpilah selagi kau bernafas."
" Tamara, ku dengar dia sudah bangkrut, kau sudah melatih dia menjadi penerus mu dengan baik, tetapi keserakahan dan kebodohannya yang menghancurkannya sendiri."
Rudi membulatkan matanya, tak percaya mereka tahu hubungan dia dengan Tamara.
" Saya akan menayangkan live adegan ranjang dia yang terakhir sebelum dia pensiun."
__ADS_1
Seluruh layar menayangkan satu kamar yang dimasuki Tamara dengan klien seorang pria tua berumur 70 tahun.
Rudi dan Victor mengeraskan rahangnya, tatapan benci selalu mereka layangakn selama mereka disuguhi adegan ranjang dari Tamara, dan Gaby. Dengan tatapan mencemooh Nathan meninggalkan mereka.
\*\*\*\*\*
" Pagi, Nenek. Maaf telat, jalan macet." Sapa Tamara lembut pada Sri yang menunggunya di teras.
" Tak apa, justru nenek yang meminta maaf sudah merepotkan kamu minta anter ke rumah sakit. kita tinggal menunggu cicit nenek yang ingin nenek kenalkan dengan kamu."
Tiiin!! Tiin!!
" Itu cicit nenek, ayo kita kesana, panggil Sivia di dalam suruh cepat, cicit nenek bukan orang sembarangan.
Wajah Tamara seketika kaku kala mengetahui Akbar yang mengantar mereka ke rumah sakit.
" Akbar, kenalkan ini Tamara yang ingin nenek kenalkan padamu?"
Akbar melirik Tamara lewat kaca spion tengah mobil.
" Hai."
" Ha...hai..."
" Kamu ini, sapa wanita cantik dingin begitu."
" Kamu pasti tahu dia, dia kuliah di kampus yang sama denganmu."
Lagi, Akbar melirik Tamara, membuat Tamara salah tingkah.
" Enggak pernah, jurusan apa?"
" E...ekonomi."
" Beda gedung, Akbar jurusan bisnis habis kuliah langsung ngantor, jadi gak ada waktu buat nongkrong." Alibi Akbar.
" Aduh... Kasian ya cicit nenek, mulai sekarang luangkan sedikit waktumu untuk berteman dengannya."
" Hmm."
\*\*\*\*\*
" Selamat pagi semua. Sarapan telah tiba Salam Zahra ketika memasuki ruangan Mumtaz sambil membawa dua kantong besar berisi saraoan yang dipesan para sahabat adiknya itu.
Terlihat Tia sudah sibuk menyiapkan sarapan buat Mumtaz dan Alfaska." Lain kali jangan bawa sarapan, aku udah bawain buat mereka, aku pesan dari restoran bintang lima. Makanan yang kakak bawa pasti dari penjual biasa kan, kasian mereka nanti kurang nutrisi."
Susana ruangan mendadak tegang karena tatapan sinis Zahra.
" Apa yang kamu tahu tentang nutrisi, di sini saya atau kamu yang menjadi dokter?"
Tidak peka dengan suasana ruangan, Tia dengan santai menjawab," makanan dari restoran mahal lebih terjamin kualitasnya. Mulai sekarang urusan makan Aa Mumuy biar Tia yang urus, Aa mumuy itu sudah menjadi orang penting, dia seorang milyuner jangan dikasih makan sembarangan lagi." Cerocos Tia tak melihat wajah datar Zahra menandakan marah yang mulai menguasai dirinya.
Tia menawarkan sarapan yang ia bawa pada Zahra yang langsung ditepis olehnya.
" KAKAK!!" Bentak Tia, menatap tajam Zahra.
" Kakak punya masalah apa sama Tia, Tia cuma berbuat baik. Perasaan, kakak sinis mulu iri sama Tia karena Tia sudah mendapat restu mami sedangkan kakak tidak?"
Semua mata membulat, " TIA." Tegur Alfaska.
" Apa? Tia gak salah bicara, entah sejak kapan kak Ala selalu marah sama Tia, bahkan tidak membuatkan Tia sarapan." Emosi Tia.
Ibnu dari arah belakang Zahra mengambil kantong dari tangannya, " Sini, biar Inu makan sarapan dari Kakak, biar jumlah tabungan Inu hampir sama dengan Afa, tapi Inu masih makan makanan dari warteg, Padang atau manapun selama itu halal dan baik." Sindir Ibnu menatap sinis Tia, dan kecewa pada Mumtaz yang terus diam.
" Tidak usah kasihan sama kakak." Zahra hendak merebut kembali kantong yang dihalau Ibnu.
" Siapa yang kasihan sama kakak, Inu sayang kakak, karena kak Ala Kakak Inu." Dirinya sudah sibuk membuka styrofoam dan mulai memakan sarapannya.
" Kayaknya itu lebih bergizi, karena gue masih miskin yang kaya itu bokap gue jadi kayaknya gue gak pantes makan makanan restoran bintang lima." Raja menaruh sarapan dari Tia, lalu mengambil sarapan yang dibawa Zahra, begitupun dengan yang lain termasuk Alfaska.
Wajah Tia memerah, " dasar kalian kampungan."
" TIA." kali ini Mumtaz yang bicara, Tia terdiam menunduk, dia paling takut pada Mumtaz.
" Minta maaf sama kak Ala."
" A,..." Enggan Tia.
" Minta maaf."
" Tak perlu, orang miskin sepertiku tak membutuhkan maaf formalitas dari OKB norak." Ucap tajam Zahra dengan tatapan menusuk.
" Ini peringatan buatmu Alfaska Atma Madina, jika kau tidak bisa mendidik istrimu menjadi orang yang lebih baik, singkirkan dia dari hadapanku. Orang miskin ini menolak dihina." Ujarnya sebelum meninggalkan ruangan.
Alfaska tertegun dengan ucapan itu, tangan Mumtaz mengepal mendengar ucapan Zahra,
Sragkk!! Prang!!!
" Aaaa..." Tia menutup telinga dan kedua matanya ngeri.
Semua orang terlonjak dan kaget melihat piring dan gelas terbang dan pecah terbentur dinding.
Mumtaz melempar sarapannya, dia berjalan menuju meja dan mengambil sarapan dari Zahra.
Mata Tia membulat, " A.. Aa.." lirihnya.
" Sebaiknya kau ubah sikapmu selagi kak Ala menahan amarahnya. Jangankan kau, mertua mu saja Tak akan mampu menahan amarah kakakku. Jangan pernah memberi makan padaku lagi." Suara berat nan datar Mumtaz mampu membuat tensi ruangan tegang.
Tia menunduk melirik meminta pembelaan pada Alfaska, suaminya yang ternyata bersikap santai tak ada tanda untuk membela.
" Selamat pagi semuanya." Salam Zahra memasuki ruangan Ibrahim Husein.
Moodnya yang sudah jelek karena Tia ditambah jelek kala mendapati Sri di ruangan itu, tapi dia harus menjaga mimik wajahnya senormal mungkin.
" Pagi, Zahra." Jawab Farah, dan Hazam.
" Saya periksa bang Ibra dulu yang Tante, om."
" Iya." jawab mereka.
Zahra langsung menuju brankar Ibrahim.
" Ziva, lihat Hito masih peduli sama kamu, buktinya dia ngasih ruangan di lantai ini buat Ibrahim meski papa kamu bukan pemegang saham lagi." Nenek memanasi Zahra yang sibuk memeriksa Ibrahim.
Malas dengan trik licik nenek, Zivara membongkar yang sebenarnya.
" Bukan kak Hito yang ngasih, tapi prof. Zahra." Zivara sengaja menyebut gelar Zahra, orang tua Zivara terkejut, mereka pikir menempatkan Ibrahim di lantai zuper VVIP merupakan ide Hito.
Terdiam sejenak mencerna omongan Zivara, nenek mendengkus" Heh, kamu jangan demi bela dia kamu berbohong, mana bisa dia memiliki kuasa menempatkan orang di lantai ini. Untuk mendapat kamar di lantai butuh rekomendasi pemegang saham."
" itu bisa saja, yang beli saham saya di rumah sakit ini Mumtaz, adiknya Zahra." Terang Hazam.
Malas mendengar adu mulut yang tidak berfaedah, Zahra segera mendekati orang tua Ibrahim, " Semua sudah membaik, bang Ibra boleh pulang hari ini juga."
" Terima kasih, Zahra." Ucap Hazam.
" Ziva, bilang ke bagian administrasinnya saya yang bertanggung jawab atas biaya bang ibra."
" Zahra, itu tidak perlu." Tolak Hazam karena tidak enak hati, walau tak dipungkiri dia sangat lega.
" Tidak mengapa, om. Saya sudah menganggap bang Ibra sebagai kakak saya."
" Saya sungguh berterima kasih padamu, Zahra. Setelah apa yang sudah dilakukan Ziva padamu."
" Jangan sungkan, om. Yang error kan Ziva bukan bang Ibra. Mari om, saya mau mengunjungi pasien lainnya."
Saat Zahra hendak memegang tuas pintu gerakannya terhenti karena ucapan nenek.
" Tidak peduli gelarmu profesor, bagiku kau tetap tidak pantas untuk cucuku, saya sudah sebegitu menolakmu tapi kau masih tak tahu malu terus mengejar cucuku, meski kau seorang profesor, tapi bagi ku tetap wanita murahan."
Semua mata tersentak atas hinaan frontal nenek pada Zahra, Zahra memejamkan mata menahan emosi marahnya.
Akbar sudah mengepalkan kedua tangannya, giginya saling beradu, rahangnya mengeras. Sungguh dia tak menyangka neneknya akan begitu keras kepala.
Zahra menoleh dengan ekspresi tenang, " apa kau pikir kedua wanita yang duduk di sisimu wanita baik-baik?" Zahra menghirup oksigen semampunya.
" Sekali pandang, orang akan tahu level mereka jauh dibawah saya. Sebaiknya kau periksakan matamu, Sri Hartadraja."
Sesudahnya dia melenggang pergi meninggalkan ruangan.
Akbar dan keluarga Husein tersenyum kagum dengan keberanian Zahra, nenek menggeram kesal, sivia terbengong, dan Tamara sejak memasuki ruangan bergerak resah dan gusar berada dibawah tatapan tajam Ibrahim dan Akbar...
__ADS_1