Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
227. Adu Operasi Lapangan.


__ADS_3

Dua Minggu sejak kejadian menakutkan itu, Alfred sudah bisa berjalan keluar kamar meski tubuhnya masih berbalut perban, ia bagaikan mumi berjalan, dan mumi ini  menghabiskan waktunya di ruang kerjanya dengan berlembar-lembar kertas besar bergambar blue print dan sketsa gedung RaHasiYa.


Sedari masuk Matunda terus memperhatikan gerak-gerik Alfred secara seksama terlebih pada kakinya.


" Sepertinya kau tidak senang saya sembuh." Ucap Alfred dengan mata masih tertuju pada kertas.


" Tidak juga, meski saya kecewa, anda tidak menyukai saya setelah apa yang saya lakukan untuk anda."


" Apa maksudmu?"


" Kau mengirim orang-orang untuk mematai saya setiap kali saya keluar."


" Kau keberatan? Mengapa? Apa kau berniat mengkhianatiku?" Tanah balik Alfred dengan mimik skeptis.


Prank...


Brakh.


Matunda melempar sebundel kunci ke atas meja.


" Tidak tahu diri, bvnvh saya. Bukan saya yang rugi tapi kau." Ucap Matunda meremehkan.


" Kauuu..."


" Gara-gara kau sering mengutus orang untuk mengikutiku, professor itu mengancam akan menghentikan pengobatan mu."


Alfred tertegun, " kau membual."


Matunda mengedikan bahunya masa bodo." Karena kau tidak menyukaiku, pilihan mu adalah bvnvh aku, atau pecat aku."


 Alfred terkekeh-kekeh sambil menggeleng tidak habis pikir." Kau memang tidak tahu diuntung, tanpa ku kau masih dikejar interpol, mungkin sekarang kau sudah m4ti."


" Dengan mu aku juga akan mat1. Ini hanya soal waktu. Saya permisi."


Matunda melewati ruangan besar itu menuju pintu.


" Berhenti,..."


" Kau serius akan berhenti?"


" Ya, off course."


" Kau masih menjadi buronan interpol?"


" Tidak masalah. Adios!" Matunda memberi hormat padanya.


Alfred begitu geram karena merasa dipermainkan dan disepelekan oleh bawahannya, maka untuk memberi pelajaran Matunda, ia melepas pisau yang disimpannya dalam laci lalu melemparnya. Saat Matunda akan memutar kenop pintu, terdengar suara benda terbang


Srett...clep....


Pisau tertancap di pintu tepat di sisi kepalanya, tubuh Matunda diam tidak bergerak karena kaget.


"  Kau salah jika berpikir dapat mempermainkan ku, aku masih mampu membvnvhmu kalau aku mau." Ucap Alfred tajam


Kekagetan itu hanya bertahan sepersekian detik, karena saat ia berbalik, raut wajahnya sudah tampak biasa.


Matunda menyeringai." So, kill me.


" Be softly and slowly." ucap Alfred sambil menyeringai devil.


" Itu kesalahan terbesar mu. Kau mungkin menolak kenyataan tapi aku masih seorang bangsawan yang tidak sudi menjadi kacung."


" Yang terbuang." Ejek Alfred.


" Yeah, tapi keluarga ku tidak akan membiarkan orang asing menghina anggota keluarga meski dia sudah terbuang. Ingat satu hal, keluargaku keturunan seorang ksatria, dan mereka akan memburu mu sampai kau lenyap."


" Dan aku seorang prajurit tangguh." Pongah Alfred.


" Hanya kau, terbukti keturunan mu pengecut semua. Dimana mereka sekarang, hmm? Musnah." Ejek Matunda


Alfred mengepalkan tangannya menahan gejolak emosi, namun rasa marah itu terlalu besar dia tahan.


Semakin lama tubuh Alfred memerah, bintik itu muncul lagi, makin lama makin banyak, herannya sepertinya Alfred tidak merasa kesakitan seperti dulu jika emosi menguasainya.


Semakin banyak bintik itu, Alfred terlihat semakin kaku sebelum matanya tertutup, dan tubuhnya terkulai lemah lalu jatuh di kursi. Ia pingsan.


Matunda melihat semua reaksi tubuh itu, ia pun tertegun sebelum menghembuskan napas lalu mendekatinya untuk memberinya obat.


Ini bukan yang pertama, Matunda sudah biasa menghadapi situasi ini. Tiga puluh menit lagi Alfred sadar, dan dia akan kembali bugar tanpa mengingat kejadian tadi.


Selesai menangani Alfred, Matunda menghadap ke salah satu cctv yang berbentuk aneh, tapi tidak kentara. " Jadi, anda tahu apa yang harus dilakukan untuk melumpuhkannya, tuan." Ucap Matunda pada seseorang.


Di ruang kerjanya Mumtaz dan Zayin memperhatikan semua yang terjadi di ruang kerja Alfred.


" Hanya itu?" Tanya Mumtaz pada seseorang di seberang saluran.


" Untuk sementara hanya itu, dalam keadaan tenang, semuanya berjalan baik baginya, dia bahkan meneliti dengan detil blue print itu. Saya menghkawatirkan anda."


" Terima kasih, tapi ada aku. Aku tidak kalah jenius dan terlatih darinya." Seru Zayin.


" Tentu tuan muda."


" Ck, hentikan panggilan itu om Matunda. Saya terlalu imut untuk dipanggil dengan sebutan menyebalkan itu." Dengkus Zayin yang mendapat penolakan dari Matunda.


" Terima kasih atas petunjuk mu, Matunda."


" Anytime, sir. " Komunikasi itu pun terputus.


" Bagaimana kemampuan analisa dia, Yin." tanya Mumtaz.


" Well, dia masih tentara terlatih meski sudah veteran. jelas dia masih suka berlatih, Itu terlihat dari detilnya dia menyimpan peledak di gedung ini, dan kemampuannya membuat peledak. Aa yakin akan mengundang dia kesini? Bisa jadi dia menghancurkan gedung ini."


" Alfaska yang mendesaknya, kalau pun gedung ini hancur, dia bilang memang berniat renovasi besar-besaran."


" Aku tidak bisa kehilanganmu." Ucap Zayin pelan tiba-tiba melankolis.


" Karena itu aku meninggalkanmu untuk melindungi ku." Mumtaz menepuk pundak Zayin.


" Lebih baik aku yang terbuvnvh daripada harus kehilanganmu." Surat Zayin mulai memberat.


" Dan aku akan membenci diriku jika hal itu terjadi."


Zayin menarik Mumtaz untuk dipeluknya, " kita bisa menghadapinya." Ujar Mumtaz.


" Kita harus yakin." Balas Zayin.




Dan benar saja, 30 menit usai, Alfred kembali membuka mata, ia mendapati dirinya terbangun di atas ranjangnya.



" Berapa lama saya tidur?"



" Dua jam." Jawab Matunda dari meja kerjanya



" Kau masih di sini?"



" Kau pikir saya bisa pergi setelah kau melempar pisau itu di kepalaku?"



" Hahahhaha, ada yang bisa membuat mu takut juga akhirnya."



Matunda memilih kembali menekuni pekerjaannya, ketimbang meladeni Alfred.


 


Dari ekor matanya dia bisa mengamati Alfred turun dari ranjang, berdiri di jendela menatap pada senjanya hari.



" Lusa, kita mulai menginvasi gedung RaHasiYa."



Matunda tertegun, sebelum menjawab." Siap, laksanakan."



\*\*\*\*\*\*\*\*



" Hiks...hiks ..." Dua Minggu selepas kepergian Mumtaz, Sisilia masih menghabiskan sebagian waktunya  untuk menangisinya.



Entah mengapa untuk perpisahan mereka kali ini hati Sisilia dilanda kegelisahan yang akut hingga dia enggan untuk makan dan minum.



Saking khawatirnya, Gama, Elena, dan Dominiaz datang ke Tangerang di tengah malam lewat jalur udara di hari yang berbeda guna mencegah kecurigaan Navarro.



" Sayang, udah dong nangisnya, mata kamu udah bengkak tu. Ini bukan pertama kalinya kalian Ldr-an." Bujuk Elena.



" Mom, Lia juga pengennya berhenti, tapi gak tahu kenapa perasaan Lia selalu cemas, mom." Lirih Sisilia.



" Ya, kalau kamu nangis terus, dia akan merasa terbebani. Kerjanya gak bisa maksimal karena berbagi pikiran." Ujar Dominiaz yang mulai bosan dengan sikap manja adiknya.



Padahal biasanya Sisilia termasuk pribadi dewasa, dan berpikiran positif.



" Daripada marahin aku, mending Kakak lakukan sesuatu pada monster gi-la itu. Bukankah ini seharusnya urusan Gaunzaga, Kenap kak Mumtaz yang kena getahnya. Hiks..huhu..hiks." omel Sisilia.



Sebelum Dominiaz menjawab ponsel Sisilia bergetar.



Derrt ..dert....



Gama mengambil ponsel Sisilia yang berada di atas meja.



" Ini VC dari Mumtaz." Di ponsel sudah terpampang wajah Mumtaz saat Gama memberikannya.



Hampir tiap malam Mumtaz melakukan panggilan dislea tugasnya, ia tidak ingin Sisilia merasa sendirian dalam kegundahannya.



" Kita keluar dulu, sayang." Elena mengecup kening Sisilia.



" Mumtaz, tolong bujuk pacar manja mu ini supaya berhenti menangis." Ujar Gama ke muka ponsel.



" *Tiap malam Om, tapi apa mau dikata Lia-nya bucin banget sama Mumtaz, om*." Balas Mumtaz yang langsung mendapat pelototan dari Sisilia.



" Hahahahha..." Semuanya tertawa saat Sisilia mencebik.



" Ya udah om sama Tante  keluar dulu." Gama memberikan ponsel tersebut ke Sisilia.



Mumtaz memperhatikan wajah bengkak Sisilia dengan mata merah.



" *Masih nangis*?" Tanya Mumtaz lembut.



" Aku juga gak tahu kenapa, tapi airmata aku gak bisa berhenti. Hiks..." Rengek Sisilia.



" *Padahal aku di sini baik-baik aja. Kamu gimana di sana*?" 



" Gak baik, pake nanya." Sentak Sisilia cemberut.



" *Coba cerita apa yang bikin kamu nangis*?"



" Sama yang kemarin-kemarin."



" *Ya, aku dijaga ketat melebihi pejabat negara oleh Gaunzaga, RaHasiYa, dan Prakasa kalau kamu mau tahu. Semuanya aman, sayang*."



" Aku tahu, kak Domin juga udah jelasin tapi hati aku tetap aja gelisah."



" *Mau ketemuan*?"

__ADS_1



" Boleh?" Jawab Sisilia cepat.



" *Bolehlah*."



" Aku ke Jakarta ya."



" *No, aku yang ke Tangerang kalau keadaan sudah memungkinkan*."



" Sama aja boong, dasar PHP." Dumel Sisilia.



" *Hehehe*..." Kekeh Mumtaz lucu.



" *Udah ya jangan nangis terus, mending do'ain aku*."



" Itu mah selalu." ucap Sisilia merengek.



" *Ya udah tenangin diri kamunya supaya aku yang di sini kerjanya juga tenang*."



" Emang kamu suka mikirin aku?"



" *Ya Tuhan tentu saja, setelah keluarga aku, kamu yang selalu aku sebut dalam setiap do'aku*."



Sebenarnya Mumtaz geli mengatakan hal tersebut, tapi perempuan selalu ingin mendengarnya. Apalah daya dirinya yang terlalu mencintai perempuan cantik ini, dia pun rela mengatakannya.



" Owh, romantisnya." 



Ceklek...



" KAKAKkkk...." Pekik Dista menyerobot ponsel dari tangan Sisilia.



" Heh, lagi ngobrol lho kita." Omel Sisilia.



" Terus? Memangnya kamu doang yang kangen kak Mumuy, aku juga."



" *Hehehe..., Ita apa kabarnya*?" tanya Mumtaz lembut.



" Baik, duongg. Kakak gimana? Masih liyer ya mikirin pacarnya manja mendadak gini?"



" *Biasa saja, suka malah. Jadinya berasa dicintai gitu*." Jawab Mumtaz menggoda Sisilia yang mesem-mesem malu.



" Iya sih yang dicintai, apalah aku mah jomblo akut. Pernah pacaran, tapi berasa jomblo. Dicuekin terus sama doi."



" *Aku cinta kamu*." Jawaban tersebut bukan Mumtaz yang jawab, tapi Daniel yang tiba-tiba muncul di belakang Mumtaz.



Daniel mengambil ponsel dari tangan Mumtaz, berniat berbicara pada Dista yang sudah lama memutuskan komunikasi dengannya.



Melihat sosok yang sudah lama dihindarinya, Dista melempar ponsel menjauh ke atas kasur.



Dia buru-buru pergi dari kamar tersebut.



Sisilia mengambil ponsel itu, Daniel yang tidak lagi melihat Dista, menghela napas berat.



 " *Dia masih marah ya, Sil*." tanya Daniel muram.



" Tepatnya udah gak mau lihat kak Daniel. Lagian Kak Daniel ngapain sih masih ganggu Ita, dia udah ngelepasin kak Daniel, lho. Udah gak ada yang ngerecokin hidup kak Daniel lagi."



" *Sil, jangan bilang gitu*." tegur Mumtaz.



" Au ah, mana peduli aku sama kak Daniel. Kasih hpnya ke kak Mumtaz."



Daniel pun mengembalikan ponsel tersebut pada Mumtaz.



" *Jangan marah, Ya*."



" Habis bete aja sama teman kakak yang satu itu, udah selingkuh masih saja ganggu mantan."



" *Ita bukan mantan ya*, dan aku gak selingkuh." Seru seseorang dari jarak jauh yang dipastikan itu Daniel.



" Dih, ngaku-ngaku. Dulu aja dianggurin, dan dimarahi, setelah Ita mutusin baru mau engeh. Kakak jangan gitu, aku kalau putus gak akan mungkin balik."




 " Iya selingkuh sama perempuan sih enggak, tapi sama kerjaan." Dumel Sisilia.



" *Maaf, tapi ini janji aku sama kak Inu. Aku gak bisa berhenti di tengah jalan*." Ucap Mumtaz pelan.



Melihat raut Mumtaz yang berubah sendu, tak ayal Sisilia merasa tidak enak hati.



" Apa sih kak kok sedih gitu. Aku cuma bercanda." Seloroh Sisilia.



" Aku paham kakak sangat menyayangi kak Inu, dan aku suka itu. Aku gak keberatan untuk hal itu. Maaf ya kalau perkataan aku bikin kakak sedih."



" *Syukurlah kalau itu bercanda, aku gak mau di situasi memilih antara kalian. Inu sudah menjadi keluarga ku sebelum aku mengenal kamu, dan kau yang ingin ku jadikan keluarga di masa depan aku*." 



" Kak, aku tutup ya VC-nya." 



Klik...



Karena  malu, Sisilia menyudahi obrolan itu.



\*\*\*\*\*\*



Mateo menatap takjub Alfred sejak kemunculannyaa di ruang tamu yang sudah mampu berjalan tanpa kesakitan, dipikirannya Alfred sudah sembuh.



" Mateo, memang kau yang masih tahu caranya berhutang budi tidak seperti yang lain." ucapnya menyindir Matunda yang berdiri di belakangnya.



Mateo mengernyitkan kening menatap Matunda yang mengedikan bahu tidak peduli.



" Mengapa anda memanggil saya, tuan."



" Karena saya butuh kamu."



" Saya seorang pengkhianat, tuan." tekan Mateo tegas.



Alfred mengangguk setuju." tapi kau tahu caranya balas budi."



" Saya sudah melunasi jasa anda padaku dengan memberikan pemicu senjata anda tempo hari."



" Say berpikir itu tidak cukup mengingat saya mengangkat mu dan kedua orang tuamu dari lingkaran kemiskinan."



Mateo mengeraskan rahangnya, ia sungguh bosan dengan hubungan balas jasa ini.



" Putramu telah mengambilnya dengan mele-cehkan adikku." ucapnya Mateo dingin.



" Ayolah, dalam kasus Valentino bukan hanya dia yang bersalah, tetapi adik mu juga. kita tahu pasti Dolores yang selalu merayunya. putraku hanya mengambil apa yang dia berikan." ucap Alfred mencemooh.



" Adik bukan pelacur l, dia tidak pernah merayu, tapi putramu yang selalu memaksanya. tidakkah kau ingat bagaimana dia selalu ketakutan setiap kali Valentino mendekatinya." bentak Mateo.



" Dia hanya pura-pura, khas pelacur jalanan."



Prang....



Mateo melempar vas bunga yang terletak di samping sofa di atas meja kecil.



keterkejutan tentu dirasakan Alfred, dia sampai terjengkit dari sofanya. ini kali pertama dia melihat kemarahan Mateo.


Alfred berpindah duduk menjauh dari Mateo.



Sedangkan bagi Matunda ini kesenangannya pribadi, ia menuangkan air ke gelas besar lalu memberikannya pada sang mantan rekannya. kemudian dia tidak langsung menjauh, Ida memilih berdiri di depan Mateo menghalanginya dari pandangan Alfred. lewat matanya dia memberi kode Mateo untuk mengambil kertas



Mateo melihat di bawah gelas itu terdapat kertas kecil bercatatan pendek, ia mengambilnya kemudian membacanya.



" **Kalau aku ingin menghancurkannya turuti apa yang dia mau**!"



Mateo memandang Matunda yang berjalan menjauh darinya, ia menenggak air tersebut hingga tandas.



" Apa yang aku inginkan, tuan."


__ADS_1


Alfred tersenyum culas." sekarang kau tahu bagaimana kedudukan mu."



Mateo diam, tidak bereaksi akan ucapan yang merendahkan tersebut.



" Saya ingin kau membantu pekerjaan Matunda."



" Pekerjaan?"



" Untuk selengkapnya kau akan mengetahuinya saat dia beraksi."



" Baiklah, saya harap ini yang terakhir anda memeras saya."



" Tentu, Saya akan melepaskan mu setelah aksi ini berakhir."



Sekarang di sinilah dia berada dalam sebuah Van di seberang jalan gedung RaHasiYa memperhatikan kinerja Matunda dan anak buahnya memasuki parkir gedung.



Dia merutuki dirinya dan juga Matunda yang menjebaknya masuk kandang harimau kelaparan.



Tengah malam dua hari kemudian tiga mobil Van tanpa mencolok memasuki area parkir basement gedung RaHasiYa dipimpin oleh Matunda dan dibantu Mateo lewat laptopnya mengawasi gedung dan sekitarnya.



Sementara di kamarnya memantau aksi tersebut.



Matunda memastikan gedung sepi sebelum mereka memasuki gedung dengan MacBook yang selalu setia di tangannya.



Matunda membuka sandi gedung hingga pintu utama lobby terbuka secara otomatis bagi mereka.



Beberapa proa berpakaian serba hitam membawa peti kayu yang berisi peledak." kita hanya punya waktu 20 menit untuk menyebarkan bom itu di seluruh lantai ini." seru Matunda dengan MacBook di tangan.



Anak buahnya menyebar berpencar ke seluruh penjuru ruangan setelah membongkar peti tersebut.



Matunda disibukan membuka sandi lift agar merak bisa ke lantai selanjutnya ia menginginkan tugasnya lekas selesai dengan cepat.



" Fin." seru salah satu orang tersebut bertepatan dengan sandi yang berhasil dibuka



Ting...



lift terbuka, Matunda segera menitah anak buahnya ke lantai satu. Di sana untuk melewati detektor sensorik, Matunda kembali diharuskan memasukan sandi sebelum menginjakkan kaki mereka di lantai tersebut.



Ting...



" Oke semua ready. kita punya 15 menit sebelum detektor itu menyala dan kalian tertangkap." seru Matunda yang diangguki anak buahnya.



Sementara dia menunggu di dalam lift guna membuka sandi lantai selanjutnya . dia tidak bisaa meninggalkan lift karena jika pintu lift tertutup sandi lift kan kembali berubah.



20 menit kemudian mereka telah berkumpul di dalam lift, " untuk malam ini kita hanya sampai lantai dua saja. Sekarang pukul 3.00. kalian hanya memiliki 10 menit karena sebentar lagi piket pagi akan mulai kerja."



Ting...



Begitu pintu dibuka mereka langsung berlari menyebar dengan Bim di tangan masing-masing.



Tepat menit ke 11 merek berkumpul dalam lift, merek terlambat satu menit, tanpa sepengetahuan mereka satu menit itu merusak segala rencana merekam



" Kalian mundur kembali ke tempat." perintah Alfred dari saluran di seberang.



" SIAP."



Tepat pukul 03.30 wib mereka meninggalkan gedung RaHasiYa dengan pikiran telah berhasil melakukan misi.



Alfred yang terlalu fokus pada layar televisi mengawasi kinerja anak buahnya lalai akan sejati yang penting. Karena pada waktu yang bersamaan robot-robot kecil penyisir operasi militer yang turun dari drone pengangkut berlogo **R** yang menyerbu mansion dari atap mansionnya.



Tepat pasukannya keluar dari gedung RaHasiYa, saat itu juga para robot tersebut menyelesaikan tugasnya dan meninggalkan Medan.



Nando dan Daniel menyeringai culas dalam ruang kerja kecil Nando." cuma segini doang kemanan sang tentara pasukan khusus." celoteh Nando.



" Jangan sombong, karena kesombongannya dia lalai." ujar Daniel bijaksana.



" Saat berikan bukti pada kepolisian mengenai keterlibatannya pada kasus 10 tahun yang lalu." ujar Mumtaz yang duduk di kursi kebesarannya di kantor Romli corp.



" Bim, Lo beri berkas ini pada Berto atau Timothy." Mumtaz memberikan map besar pada Bima.



" Bagaimana dengan Ibnu, gue gak bisa ninggalin dia."



" Biar Jeno yang urus tentang dia." ujar Alfaska memasuki ruang kerjanya.



" Oke, gue pergi." Bima memasukan map tersebut ke dalam ransel, kemudian mengenakan jaket kulitnya sambil berjalan keluar ruangan.



" Ck, nyusul juga Lo kemari, bagaimana keadaan Tia?"



" Gue dipaksa dia malah. sumaph mulut ibu hamil nyelekitin banget." Alfaska duduk di sofa panjang membaringkan diri di sana.



" Apa yang dia ucapkan?"



" Adek Lo bilang gini, ngaku petinggi RaHasiYa yang tersohor kegagahannya tapi ternyata pengecut. temannya lagi kesusahan bukannya ke sana bantuin malah tiduran di sini berlindung di ketika istri yang lagi hamil." ucap Alfaska dengan mulut menye-menyekan....



" Mulut boncabe, ditambah mulut dia sambel geprek, hasilnya mulut anak Lo gimana ya?"



" Kalem anak gue mah. kan dia dijaga Akbar."



" Atau dia jodohnya Akbar kayak si Adgar yang naksir sepupunya yang masih itik." seloroh Mumtaz.



" Amit-amit jabang bayi. meski dia Akbar konglomerat ogah gue punya mantu aki-aki."...



" Hahahahaha..."



\*\*\*\*\*\*



Zayin memasuki markas besar, langsung menuju ruang kerja panglima yang ternyata sudah hadir juga KASAL.



" Bagaimana keadaan terakhir di lapangan?"



" Mereka berhasil membangun sebuah tiga pangkalan penghancur baru."



" Darimana bantuan mereka?"



" Dari sindikat mafia negara tetangga kita."



" Darimana mereka masuk?"



" Dari perbatasan darat, angkatan darat memperkirakan negara kita telah disusupi sekitar 110 orang penyusup gelap yang dibantu anggota dew4n daerah yang ternyata sindikat bandar narkoba.



Rahang kedua pimpinan tersebut seketika mengeras." Hubungi BNN, untuk melakukan sidak dadakan pada para dew4n." Titah panglima.



" Mereka pasti tidak menyukainya." ujar Zayin.



" Tidak ketika titah itu datang dari pimpinan dew4n pusat dengan dalih peningkatan profesionalitas. mereka sangat membutuhkan nama baik setelah tercoreng karena kasus Surga Duniawi dan buronnya ketu4 dan Wakli ketuanya." seru panglim4.



" Sial."



" Kemana rudal itu akan diluncurkan?" tanya KASAL.



" Ke kota besar masing-masing sudut arah wilayah."



" Apa kita harus menambah prajurit?"



" Tidak perlu, lebih baik kita menggunakan robot penyerang untuk meminimalisir korban prajurit."



" Siap laksanakan."



" Kau boleh pergi." titah panglima.



" Terima kasih, dan kinerja mu seperti biasa selalu memukau." ucap KASAL.



" Siap." jawab Zayin tanpa merasa tinggi hati.



" Susahnya bikin senang satu prajurit satu ini." seru panglim4.



" Iya, kalau yang lain pasti sudah ternyum, tapi dia selalu menanggapinya santai."

__ADS_1



Setelah mengurusi urusan administrasi, satu pesawat militer pengangkut terbang membawa beberapa drone pengangkut dan anjing robot ke lokasi sesuai arahan atasan....


__ADS_2