
" Kakak, apa kamu serius?" Tanya Tia ragu.
Jimmy mengangguk " tentangmu, aku selalu serius."
"Ta,...tapi, aku... tidak suci lagi. Apa kakak gak jijik sama aku?"
" kamu tahu penderitaan kakak, apa kamu jijik sama kakak?" Tia menggeleng.
" kalo Tia jijik, mana mau Tia nembak kakak." Jimmy terkekeh.
" jadi,..." tanya Jimmy
" apa?"
" Jawabannya, Tia. Kakak pegel ni." Rengek Jimmy.
Tia terkekeh " Tia mau, tapi..." Tiba-tiba Tia teringat ancaman Adinda yang akan menyebar fotonya, wajah Tia yang semula sumringah berubah panik. Dia berlari meninggalkan Jimmy dan orang-orang yang memperhatikannya.
Jimmy yang lebih panik mengejar Tia di susul para sohibnya, maka terjadi lah kejar mengejar.
Mumtaz dan para sohib yang langsung keluar ruangan BEM setelah menerima telpon Radit. Riana bingung dengan sikap tergesa-gesa Mumtaz yang duduk di sampingnya.
Dia menarik lengan baju Mumtaz " mau kemana? Ini rapat udah mau mulai." Ucap Riana.
" Gue keluar dulu ya, Yud. Cari Tia." Pamit Mumtaz ke Yuda, Yuda mengangguk.
Riana yang tidak tahu hubungan darah antara Mumtaz dan Tia mengernyit bingung " ngapain cari dia, gak penting banget."
Mumtaz menghentakan tangannya yang dipegang Riana, Riana terkaget dengan sikap kasar Mumtaz. Tanpa kata Mumtaz keluar ruangan.
Riana melepas kepergian mumtaz dengan sendu. Riana bingung tidak tahu lagi cara mendekati Mumtaz. Segala cara sudah dia lakukan, tetapi selalu gagal.
Mumtaz dan para sahabatnya menemukan Tia dan Jimmy yang sedang berjongkok di depan Tia. Mereka melihat dan mendengar semua adegan picisan lamaran romantis yang dipaksakan ala Jimmy.
" Muy, kalah langkah jauh Lo sama Jimmy sableng." Ledek Ibnu.
" Dari pada Lo jalan di tempat. Gue dengar Ayu di sekolahnya banyak yang deketin." Ledek Daniel
Mumtaz bertos tangan dengan Daniel.
" Si Jimmy nya aja yang kegatelan, tapi gue lihat Tia baik-baik aja." Ujar Rizal.
" Hemmm. Ayok lah balik ke BEM." Ajak Ubay. Kala mereka hendak berbalik, mereka melihat Tia berlari yang tak lama dikejar Jimmy, maka mereka pun mengejar mereka berdua.
"TIA,...TIA..." Panggil keras Jimmy. Tia memghiraukan panggilan Jimmy, dia terus berlari menuju gerbang kampus.
Gedung psikologi termasuk gedung yang jauh dari gerbang, maka tak heran jika aksi kejar-kejaran mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di kampus termasuk sahabat Tia yang ada di gedung farmasi seusai menjemput Sisilia untuk berangkat ke BEM bareng.
Awalnya mereka menatap Tia dengan geli, tetapi tatapan itu berubah khawatir kala melihat Tia menangis, maka mereka pun turut mengejar.
Saat hendak sampai pintu gerbang tiba-tiba ada tiga orang yang menggoda Tia " hei, cewek, kenapa sedih? Putus cinta? main yuk sama kita, kita bisa hibur kamu." Goda pria bertopi hitam menutupi sebagian wajahnya.
Tia yang dalam keadaan mood jelek hanya mendelik dan berdecak kesal.
" Untung cantik jadi gak apap-apa dijudesin si mbak."
" Woy, jangan ganggu temen gua." Teriak Dista yang mengundang perhatian beberapa mahasiswa yang hendak keluar.
" Waduh, yang ini galak banget." Kata teman si penggoda
" Ini macan betinanya." Kata si penggoda.
" Siapa Lo? Anak sini?"tantang Dista.
Sebelum pria itu menjawab datang segerombolan pemuda yang dipimpin Jimmy.
" Siapa kalian? Kenapa ganggu cewek gue?"
" Whow...whow santai bro, dia cewek Lo? Kok mau? Masih banyak yang lebih sexy dari dia." Ujar penggoda
" Dih ngurus, situ aja tadi goda dia." Dista mendorong bahu si penggoda
" Yank, udah. Tahan." Daniel menarik Dista dalam rangkulannya.
" Apa? Yank, si macan galak ada juga yang demen?" Culas si penggoda.
" Siapa sih Lo. Bikin kesal aja. Gue timpuk ni." Tia mengangkat tangannya, tapi ditangkap oleh si penggoda, dan si penggoda mencium punggung tangan Tia.
Mereka semua terkesiap melihat itu, Jimmy melangkah maju hendak menghajar si penggoda
" Stop." Kata Mumtaz
Mumtaz melepas topi pria itu dan si pria tertawa mengejek.
"Aaaaaa,, Aa Ayin." Teriak Tia membahana. Tia meloncat menubruk tubuh Zayin dan memeluknya erat.
Tingkah Tia itu mengundang perhatian orang-orang sekitar termasuk Adinda Aloya.
Kantin Universitas
" Kenalin ini temen seperjuangan gue, William, dan Bayu." Tunjuk Zayin ke orang bermata kecil berkulit putih khas oriental dan ke pria bermata besar berkulit sawo matang, tapi memiliki senyum manis.
" Hallo, Tia." Salam orang bernama Bayu. Tia memandangi Bayu secara intens.
" Aaa Bayu ku, si embul ku.." jerit Tia menyalami Bayu.
Jimmy berdecak kesal melihat itu " kalian ngapain di sin?"
" Kuliah kita di sini."
" HAH?" Mereka serempak kaget
" Kita masuk fakultas ekonomi." Ucap Zayin.
Jimmy menatap Tia lekat " kamu, kenapa tadi lari?"
Tia terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Jimmy. Tia menunduk dalam.
" Dia nangis?" Tanya Zayin.
" Tadi waktu Lo tangkap dia, dia lagi nangis gak?" Tanya Daniel.
" Iya sih, tapi gue pikir karena takut kita aja. "
" Dih PD." Ucap Tia.
" Terus kenapa?"
Melihat tatapan Jimmy dan Mumtaz, Tia menghela nafas " Adinda mengancam kalau hari ini dia akan menyebarkan foto itu?" Cicit Tia rapuh.
Sesaat mereka berpikir bingung, selanjutnya Mumtaz dan para sohib paham dan begitu juga Zayin..
" Jangan pusingkan itu. Itu sebentar lagi juga beres."
" Tapi dia punya foto aslinya. Sekarang memang kita bisa menahannya, tapi bagaimana jika dia menggunakan foto asli itu,..." Tia menangis tak ingin membayangkan hal-hal negatif lainnya
Zayin memeluk Tia." Tenang, akan Aa bereskan."
" Nu?" Tanya Mumtaz, Ibnu mengangkat jempol tangan.
" Kalau urusan penyebaran udah beres, tapi perihal lembaran foto, kita kudu ambil manual." Ucap Jimmy.
" Kalian tahu tempat tinggal dia?" Tanya Zayin
" Iya, tapi buat apa?
" Buat ambil fotonya lah. Percuma gue masuk TNI kalo ngambil gituan aja kagak becus."
" Kita punya denahnya." Ucap Ibnu.
" Kalian emang bisa diandalkan. Siap-siap malam ini pukul sebelas." Mereka mengangguk.
" Apa gak masalah?" Ragu Dista.
" Mereka yang bakal kena masalah." Ucap Zayin.
" Ya udah clear. Urusan ni bocil emang kudu cepat selesai." Jengah Jimmy.
" Sekarang kita ke BEM. Yuda ngirim pesan mulu ni." Ucap Rizal.
" Kita tinggal dulu ya, Yin." mereka bertos ala laki-laki.
Ketika mereka sampai di ruangan BEM rapat tengah berlangsung Mumtaz mengambil duduk di samping Sisilia. Riana melihat itu menjadi cemberut. Pasalnya dia sudah menyiapkan kursi di sebelahnya untuk Mumtaz.
" Oh iya Yud, gue dapat telpon dari pak Dominiaz untuk melakukan janji temu dengannya. Kapan Lo bisa?" Tanya Mumtaz.
" Kapan aja."
" Hari ini?"
" Oke."
" Habis ashar, bagian pencari dana kesana. Rapat di tutup. Ucap Yuda yang langsung disetujui bagian pencari dana.
Mereka langsung membubarkan diri. Mengisi perut mengingat saat ini jam makan siang.
" Siapa yang mau sekalian beli makan? Gue mau ke kantin." Ucap Romli.
Hampir semua yang masih di ruangan angkat tangan.
" Kamu mau sekalian?" Tanya mumtaz., Lia mangangguk
" Aku siomay aja." Ucap Lia.
Mumtaz menggeleng " makan nasi. Kita masih banyak yang harus di urus."
Sisilia senang kala Mumtaz protektif kepadanya. " Tapi siomay juga."
" Entar gak habis."
" Kan ada kak Beni." Menyebut anak BEM yang bertubuh kecil, tapi makan banyak. Entah kemana itu makanan lari.
Mumtaz mengangguk " sekalian beliin buat dia ya." Lia mengangguk
" Ben, tolong beliin kita makan, si Romli kayaknya kerepotan."
Beni, anak kost tersenyum senang. Pasalnya dia pasti bakal banjir tip. " Oke. Tapi ongkir ya." Mumtaz mengangguk.
__ADS_1
" Mumtaz, ini bekal buat kamu." Riana berdiri dengan mengulurkan tangan yang memegang kotak bekal.
Mumtaz menengadah menatap Riana " Na, jangan terlalu sering ngasih gue makan, gak enak sama yang lain. Itu ngerepotin Lo."
" Gue gak repot kok, lagian sekalian juga."
" Ya udah, makasih ya. Lain kali gak usah. Gue makan bareng yang lain." Mumtaz menerima kotak makanan itu dan meletaknya di atas meja.
" Woy, bareng sini, ada makanan dari Riana ni!" Ucap Mumtaz ke anak lain. Yang langsung diserbu
" Kok cuma dikit,RI?" Protes Romli, Riana hanya tersenyum kikuk.
Mumtaz sendiri hanya mengambil sedikit, " kamu, mau?" Tawa Mumtaz
Mumtaz melirik Sisilia yang tertunduk dalam memaksa memasang raut tegar meski sakit hati.
Sisilia mengangkat kepalanya, dia melirik Riana yang menatap tajam Sisilia.
Sisilia menggeleng " gak enak sama kak Riana!"
" Kenapa? Dia udah ngasih ke kita, mau ga. Entar cepat habis."
" Udah habis." Tukas Beni " lain kali yang banyak ya Riana sayang. Makasih." Dia melenggang enteng meninggalkan ruangan untuk membeli pesanan teman-temannya.
" Habis!" Celetuk Mumtaz, Mumtaz dan Sisilia tertawa geli.
" Kamu selalu dikasih bekal makanan sama kak Riana?" Tanya Sisilia.
Mumtaz menatap Sisilia, dia tahu tersimpan rasa tidak suka dari pertanyaan Sisilia " kadang aja. Padahal udah bilang berkali-kali gak usah."
" Kamu, suka dia?" Sisilia penasaran.
Mumtaz termenung mendengar ucapan Sisilia " enggak, aku suka kamu." Ucap Mumtaz sembari menatap lekat Sisilia.
Sisilia yang semula menunduk mengangkat kepalanya membalas tatapan Mumtaz.
Suasana ruangan yang rame gaduh, mereka berdua mengobrol dengan interaksi yang biasa membuat obrolan mereka tidak ada yang mendengar dan memperhatikan, kecuali Riana dan Radit
Mumtaz menatap langsung ke manik hijau hazel Sisilia." Aku suka kamu. Mau jadi calon Mak,mum aku?" Tembak Mumtaz
Sisilia terperangah kaget mendengar tembakan Mumtaz, dia diam tak bisa bicara, ini seperti mimpi. Sekian lama ucapan itu Sisilia harapkan
Keterdiaman Sisilia disalahartikan oleh Mumtaz, Mumtaz menghela nafas kasar " maaf, jika ucapan..."
" Mau, aku mau banget." Sisilia menutup mulutnya, karena intonasi suaranya yang agak tinggi.
Mumtaz mengangguk terkekeh. " Makasih, maaf gak romantis." Sisilia menggeleng
" aku tetap suka." Ujar Sisilia
Mumtaz dan Sisilia saling pandang menghiraukan keberadaan yang lain
" YEAY,...ada yang baru jadian EUY." Teriak Radit.
" Siapa?" Tanya penasaran yang lain. Cek di group BEM sekarang.
Suara berbagai notifikasi ponsel berebut bunyi. Termasuk punya Mumtaz dan Sisilia.
" AAaaa......, So sweet." Sorak yang lain.
" Selamat ya.!"
" Semoga jodoh!"
" Selamat Lia, lo gak digantungi kayak jemuran lagi." Ledek Tia.
Ucapan selamat datang dari para teman BEM. Yang diterima hangat oleh Mumtaz dengan senyumannya, sedangkan Sisilia tersenyum kikuk. kecuali Riana, tatapannya terluka.
"PJ..., PJ...,PJ...," Teriak serempak mereka.
" Akhirnya mereka official, terima kasih ya Allah!" Sambut lebay Raja.
Tanpa mereka sadari sedari tadi Radit yang duduk di samping mereka memperhatikan interaksi mereka hingga dia sempat merekam penembakan Mumtaz kepada Sisilia.
Sisilia yang tidak suka menjadi pusat perhatian menunduk malu. Mumtaz yang paham hal itu menggeser tubuhnya guna melindungi Sisilia dari godaan para teman BEM
" Muy, PJ." Ibnu memprovokasi
" Iya, iya.lagian tadi kalian udah pesen makanan kan. Masa PJ. Gak habis, mubazir."
" Pasti habis, Muy, kita di kampus bakal sampe malem ni." Ucap Cindy.
" Ya udah pesan aja. Secukupnya." Peringat Mumtaz.
" Woy, yang pake pengantar makanan. Jangan yang dikantin mumpung gretongan." Celetuk yang lain.
" Boleh, Muy?" Ucap Fatimah, teman BEM nya sok pake puppy eyes.
" Silahkan."
" Aaaa, baiknya Mumtaz ini."
" Gue tahu dia baik, tapi gue gak nyangka dia royal." Celetukan demi celetukan terjadi diantara para temen nya.
" Shalat dulu yuk." Ajak Mumtaz, Lia mengangguk.
" Muy, jangan kabur. Makanan datang siapa yang bayar?"
Mumtaz mengeluarkan lima lembar seratus ribuan. " Kalo kurang, kalian yang nanggung."
Mumtaz meninggalkan ruangan diiringi tangisan Riana
" Yud, ini udah jam setengah tiga, berangkat sekarang aja ke rumah Dominiaz Gaunzaga nya yuk." Tawar Rizal
" Oke, yang lain selesaikan tepat waktu. Waktunya sudah mepet."
" Kamu dijemput?" Bisik Mumtaz
" Belum tahu, belum telpon minta jemput." Sisilia berharap Mumtaz mengajak pulang bareng.
" Jangan telpon bareng aku aja, tapi pake motor kak Ibnu gak apa-apa?" Sisilia mengangguk, dalam hati jungkir balik dia.
" Motor kakak?"
" Belum sempat ganti, lagi ngumpulin duitnya." Ucap Mumtaz, Sisilia terdiam dia Ingat jika motor Mumtaz rusak parah akibat menolong kakaknya
" Nu, ke rumah kak Dominiaz gue pinjem motor lo."
Ibnu melempar kunci motornya.
" Bay, gue sama Lo ya." Ubay mengangguk.
" Ini para bocil diajak?" Tanya Raja menunjuk Tia dan para sahabatnya."
" Eh, Lo seumuran gue ya. Badan Lo doang yang tinggi." Kesal Dista.
" Kalian mau ikut?" Tanya Bara
" Ikut lah."
****
Kediaman Pradapta
Kedatangan mereka disambut hangat mommy Elena " selamat datang teman-temanya Sisilia. Mari masuk."
Mereka memasuki ruang tengah yang megah layaknya istana Eropa.
" Gak nyangka gue Sisilia setajir ini." Komentar Rizal
" Kalau gue tahu Sisilia tajir, gue gebet dari jaman SMA dah." Celetuk Radit
" Isteri idaman banget." Juan menambahi
Sisilia memasuki rumah dengan wajah sumringah. Hal itu tertangkap oleh mommy Elena.
" Anak mommy tumben pulang ngampus senang begitu wajahnya." Seru mommy yang dapat di dengar oleh yang lain.
Sisilia yang salah tingkah mengelak. " Apa sih mana ada, biasa aja juga."
Mommy Elena yang kepo menarik Sisilia ke dapur " ayo cepat cerita ke mommy."
Sempat ragu karena bocornya mulut mommy, tapi Sisilia tahu mommy-nya bakal tanya ke teman-temannya. Jadi dia tidak punya pilihan
Sisilia membisiki mommy-nya, dalam sekejap "yeaaaaay.....," Teriak mommy
" Daddy, Daddy,..." Teriak mommy
" Mommy, udah janji loh gak bakal bocor." Ucap Sisilia dengan suara tertahan khawatir para sahabatnya mendengar.
" Aduh, gimana dong Sil, mulut mommy gatel pengen cerita." Sisilia memutar bola matanya jengah. Seharusnya dia menahan raut wajah senangnya tadi.
" Ada apa sih mom, teriak-teriak." Omel Daddy baru keluar dari mushala bareng para tamunya
" Aduh, dududu, cerita jangan ya, gak cerita, pengen cerita, tapi kalau cerita Lia pasti ngambek." Monolog mommy.
Kak Dominiaz yang baru gabung di ruang tengah " cerita aja my, berisik."
" Kalau Sisilia ngambek kamu yang tanggung jawab ya." Mata mommy terus melirik ke arah Mumtaz yang berdiri di belakang Jimmy dan Rizal.
" Kayaknya mommy Lia udah tahu kalo Lo nembak dia." Bisik Radit. Mumtaz menatap Radit tenang.
" Daddy, gimana dong. Mulut mommy gatel. Sil, mommy cerita aja ya, kamu mau apa aja dan kemana aja mommy kabulin dari pada mommy ngigau."
" Mom, cerita. Ada apa?"
" Dad, Sisilia ditembak Mumtaz, sekarang mereka sudah jadian." Ucap cepat mommy bagai rapper.
Para sahabat ternganga dengan kecepatan ucapan mommy Elena, mereka melirik Mumtaz yang terdiam tenang
" Go, bro. Gapai restu mu!" Daniel memberi semangat yang malah mendapat jitakan dari Jimmy.
Sisilia berlari ke lantai dua, ke kamarnya. Mumtaz tersenyum melihat tingkah Sisilia. Sedangkan para sohibnya menepuk jidat masing-masing
Daddy dan Dominiaz menatap Mumtaz dalam.
" Mari kita ke ruang tamu." Ajak Daddy diikuti yang lain.
__ADS_1
Di ruang tamu mereka semua terdiam, entah apa yang mereka tunggu.
" Maaf, ini proposal Pema kami." Yuda membuka suara.
" Saya sudah menerimanya, Pema kali ini terbilang ambisius ya." Ucap Dominiaz.
" Berapa dana yang masih dibutuhkan?" Tanya Dominiaz
Yuda dan yang lain menatap berharap.
" kalau dari target sekitar 150 juta lagi, kak." Jawab Raja.
" Ya sudah, saya tutupi kekurangan itu." Dominiaz mengeluarkan cek 200juta
" Beneran, kak?" Tanya mereka serempak
Daddy dan Dominiaz mengangguk geli."
" tapi dengan syarat,"
" Apa?" Mereka antusias
" Mumtaz, bisa kamu jelaskan apa yang terjadi dengan Sisilia?" Tanya Daddy.
Mereka serempak menatap Mumtaz dengan harapan tinggi.
Pertanyaaan itu berbarengan dengan masuknya Sisilia ke ruang tamu, dia seketika mematung di tempat.
Mumtaz menatap Sisilia yang menahan nafas. Beranjak mendekati Sisilia, dia menarik tangan Sisilia untuk mendekat.
Mumtaz duduk di lantai di dampingi Sisilia.
" Om, kakak,..."
Mommy Elena yang semula mengintip berlari kecil duduk di samping Daddy
" Om, Tante, kakak..." Ralat Mumtaz
" Maaf jika sekiranya saya telah lancang meminta Puteri om untuk menjadi kekasih saya, tapi saya sangat menyukai Sisilia." Ucap mantap Mumtaz.
Mommy Elena hanya menutup mulut dengan kedua tangan dengan tatapan syahdu.
" Sejak kapan?" Tanya Daddy.
" Entah lah. Saya hanya merasa nyaman dekat dengan Sisilia sejak saya SMA."
" Tapi Sisilia sukanya sejak dia SMP." Celetuk mommy. Para sahabat terdiam menahan tawa.
" Kamu cinta dia?" Tanya kakak Dominiaz
" Saya sayang Sisilia, saya berniat serius dengan Sisilia."
" Yang saya tanya, apakah kamu cinta Sisilia? Tegas Daddy.
" Daddy,..." Sisilia menegur ayahnya
Mumtaz memegang tangan Sisilia
Mumtaz menghela nafas berat " saya belum tahu apa itu cinta, dulu saya pikir saya sudah merasakannya, namun ternyata saya kurang memahaminya. Maaf. jika saya merasakannya Kembali, saya ingin rasa itu untuk Sisilia." Jujur Mumtaz
" Sisilia, kamu Puteri Daddy satu-satunya, kamu dengar sendiri perkataan Mumtaz, apa itu tidak masalah buat kamu?" Tanya Daddy memastikan
Sisilia mengangguk " tidak masalah, Daddy. Lia akan mengambil apa yang diberi kak Mumtaz."
" Meskipun itu hal yang menyakitkan?"
Sisilia menatap Mumtaz ragu.
" Saya tidak berjanji akan selalu membahagiakan Sisilia, tapi saya pastikan berusaha untuk tidak mengecewakan Sisilia."
Sisilia tersenyum mendengar perkataan Mumtaz "Daddy sudah dengar, kan?"
Daddy menghela nafas " Mumtaz, kalau suatu hari kamu sudah tidak menyayanginya sebagai kekasih, maka jangan sakiti dia, tapi kembalikan Lia kepada Daddy dengan baik-baik."
Mumtaz terdiam sesaat." Saat saya berniat mengungkapkan perasaan saya, saya tidak pernah berpikir untuk mengakhirinya." Tegas Mumtaz.
" Ooooh, sayangku. Saya merestui kalian, Jangan khawatir, Daddy dan Dominiaz yang super protektif juga sudah merestui kalian." Sahut mommy.
" Terima kasih, mohon bimbingannya." Ujar Mumtaz
" Dih , dikira lagi bimbel." Celetuk Jimmy. Mereka tertawa senang.
Daddy memeluk Sisilia " senang ya, penantian lama terwujud." Sisilia masuk dalam dekapan daddynya, malu.
" Ayo semuanya, saatnya kita makan merayakan hari jadinya Sisilia dan Mumtaz."
jam delapan malam mereka baru keluar dari rumah Pradapta diantar sampai pekarangan oleh keluarga Pradapta. Mumtaz dibonceng Ibnu
" Sil, apa Mumtaz tidak punya kendaraan?" tanya mommy.
" tadinya punya, tapi rusak waktu nolongin kak Domin."
mereka saling pandang
" mau beli, tapi lagi ngumpulin uangnya dulu. kan kak Mumtaz juga jadi tulang punggung keluarganya." terang Sisilia.
" kak, gak ada niat ganti gitu?" tanya Mommy
" mau, ini baru ngeh." ucap Dominiaz.
****
Kediaman mama Aida.
Kepulangan mendadak Zayin cukup membuat mama terkejut, akibatnya mama memarahi Zayin yang tidak pulang selama empat tahun
Saat ini mereka berkumpul seusai shalat tahajud
" Heran mama punya anak betah banget tinggal di tempat orang." Omel Mama
" Kalau Ayin gak pulang supaya gak ada drama menye-menye lagi, ma." Zayin membela diri
" Kalau kakak, sayang duit bolak balik jerman-jakarta." Ucap kak Zahra
" Ma, hari ini Tia dilamar Abang Jimmy?" Bongkar Zayin
" Hah? Serius?" Tanya mama
Tia yang menunduk menganggukan kepala
" Gimana, ma?"
" Apanya?"
" Restunya." Kata Tia.
" Tia bisa bertahan tanpa restu mami Sandra?"
" Tia sebenarnya keberatan jika harus menikah tanpa restu orang tua, tapi Tia bisa lihat kalau kak Jimmy membutuhkan pernikahan ini."
" Tia sendiri?" Tanya mama
" Kejadian ini cukup menguras emosi Tia, dan memahami kesulitan kak Jimmy, kami berdua akan saling menjadi obat bagi masing-masing."
" Ya, pernikahan bukan seperti pacaran yang melulu tentang kesenangan!" Ucap mama
" pacaran sama kak Jimmy juga gak selalu senang, tapi kami bisa berbagi tentang hal lain. Itu yang buat Tia mau menikah dengan kak Jimmy."
" Kalau kamu yakin, mama setuju, tapi kamu melangkahi ketiga kakak kamu, khususnya kak Ala."
" Kakak gak jadi masalah. Mungkin Rizki Tia menikah duluan." Ucap kak Ala
" Mumpung membicarakn pernikahan, ada yang mau kakak sampaikan."
" Hito sudah melamar kakak."
Mereka tertegun mendengar kabar itu
" Terus apa jawaban kakak?"
" Belum ada. Kakak mau minta ijin kalian, khususnya mama. Kakak khawatir keberadaan Hito di tengah-tengah kita membuat mama bersedih."
" Kalau mama menolak?" Tanya mama
Kak Zahra terdiam " maaf, Zahra akan berusaha meyakinkan mama bahwa Hito tidak seburuk yang kita kira."
" Soal nenek Sri?"
" Kakak sudah tegaskan akan menikah jika nenek merestui."
" Om Hito setuju?" Tia menggeleng
" Kami mau menikmati masa penyesuaian kami. Biar kenal lama, tapi kami LDR kan, beda."
" Bagaimana, ma?"
" Tragedi ayah sudah lama, bohong kalau mama bilang sudah lupa, tapi terasa picik jika itu menjadi penghalang kebahagiaan anak Mama, mari kita menyesuaikan diri bersama." Tukas mama.
Zahra mengangguk dengan haru
" Jadi, yang nikah Tia dulu atau Kakak duluan?" Tanya Zayin
"Terserah Allah siapa duluan, kita saling dukung." Jawab kak Ala
" Ma, Aa Mumuy juga udah jadian sama Lia?" Ungkap Tia
" Lah, emang selama ini gak jadian?" Tanya mama
" Hah, maksudnya?"
" Selama ini mama lihat Aa memperlakukan Lia dengan istimewa, malam kira kalian pacaran, Muy." Mumtaz hanya mengedikan bahu.
" Jadi cuma Ayin yang jomblo?"
" Idih kata siapa? Malam gak inget Aa Ayin udah punya calon!? Meski masih balita sih." Ucapan Tia berhasil membuat semuanya tertawa, zayin melempar bantal sofa ke muka Tia.
__ADS_1