
Zayin keluar dari ruangan disambut Bayu dan William yang berdiri di depan pintu.
" Kalian..."
Mereka mengedikan bahu." kami ditugasi membantu Lo."
Mereka bertiga berjalan cepat keluar dari markas." Kita berangkat sekarang. apa kalian dalam keadaan komplit?"
" Bahkan kait bawa lato-lato sebagai alat pukul mereka." seloroh William.
" Gas lah. Lo bawa bencong aja gue terima." timpal Zayin sebelum mengenakan helm full facenya.
" Kemana kita?" tanya William yang membonceng Bayu.
" Ikuti aja gue."
" Ck, alamat balapan di jalan. ditegur lagi gue." sungut William misuh-misuh.
****
" Bos, mereka sudah menuju pelabuhan, apa instruksi selanjutnya?" tanya Matunda yang menatap Navarro sinis.
" Bilang pada mereka ikuti instruksi orang sana, mereka akan membawa wanita itu ke Cina."
Matunda terhenyak, " Bos, saya pikir itu bukan solusi terbaik bagi anda, para adiknya akan membv-nvh anda."
" Matunda, saya bosan mendengar ocehan tidak berguna itu, mana mereka? saya sudah di sini sekian lama, tapi mereka tidak kunjung jua datang. segala rumor mengenai kehebatan mereka bullshit semata, Matunda." sergah Navarro percaya diri.
" Mumtaz telah membuat cucu ku menjadi pelacvr bagi Raul, jadi apa salahnya ku buat kakaknya pelacvr juga. bahkan dia dibandrol dengan harga satu triliun karena otak cerdasnya."
" Anda melupakan satu hal, dia tunangan dari tuan Arvenio, tuan. salah satu petinggi Gaunzaga. ada hal tidak beres darinya, bukan saja RaHasiYa yang membalas, tetapi juga klan Gaunzaga. mereka bukan tandingan anda."
" Saya tidak peduli, merek bahkan sudah membvnvh seluruh ahli waris saya."
" Belum, tuan. masih ada Alfred junior."
Mendengar nama cucu lelakinya, bibir Navarro tersenyum sumringah." dan saya harus menyiapkan kerajaan untuknya."
" Saya meragukan itu, jika anda tidak membebaskan profesor Zahra."
" Diamlah, Matunda. kau tidak tahu apa-apa." ucapnya mulai gusar.
Dia kesal keberadaan di RaHasiYa tidak mendapat tanggapan apapun dari para petingginya, padahal sudah lama dia di sini.
Matanya menatap ke atas ke arah kubah yang masih berwarna terang berawan dengan awan yang berjalan seirama angin.
" Apa kau sudah menghubungi mereka?"
" Sejak tuan menjejakkan kaki di sini saya sudah menghubungi mereka."
" Kenapa mereka tidak kunjung datang."
Matunda menghela napas berlebihan," tuan, mereka orang sibuk, anda berkunjung tanpa pemberitahuan, pasti mereka tidak punya waktu meladeni anda, tuan." ucap Matunda kurang ajar yang berhasil membuat Alfred naik pitam.
" Tuan, ingat kondisi anda, turunkan amarah anda."
******
" Mas, apa kita aman di sini?" Tanya Eidelweis memperhatikan kamar luas yang kini ditempatinya.
" InsyaAllah aman, Gaunzaga belum pernah menemukan brunker ini jadi mungkin tidak da orang yang mengetahuinya." Jawab Heru seraya menyelimuti Adelia yang masih nyenyak dalam tidurnya.
" Zayin pasti memarahi kita kalau dia tahu kita ada di sini."
" Ya..mau gimana lagi, kita terima saja kalau dia memarahi Adel."
Heru duduk samping Eidelweis yng mengusap perutnya," apa perutnya masih kram?" Ia turut mengusap perut buncit istrinya.
Eidelweis menatap suaminya." Udah enggak, tadi ya..ketakutan aja sih. Dipikir-pikir ini pertama kali aku lihat kamu menembak. Kau malah gak tahu kamu bisa nemb4k."
Heru mengecup keningnya lembut dan hangat." Kalau jadi anggota Gaunzaga ya harus bisa nemb4k. Anak RaHasiYa saja perusahaan di bidang teknologi dan Informasi diwajibkan bisa apalagi, Gaunzaga organisasi bawah tanah."
" Puluhan tahun aku tahu kamu, tapi belum cukup mengenal kamu." Eidelweis mengusap rahang Heru.
" Kau akan menjawab paa yang kamu pengen tahu."
" Kamu tadi kelihatan gagah, padahal yang ku tahu kamu cuma pinter ngurusin dokumen aja."
" Hahahaha, menjadi asisten kakak kamu harus serba bisa, sayang."
" Mas, kamu beneran gak mau jadi pemimpin perushaan yang dilimpahkan papa?"
Heru menggeleng sambil mempermainkan jari lentik Eidelweis. Lantas ia menggeleng."kisah aki dengan Hito tidak hanya rekan kerja, kalian menemukan ku dalam keadaaan baik-baik saja, tapi tanpa Hito mungkin aku sudah meninggal. Jadi tidak semudah itu aku bisa meninggalkan Hito. Bagiku dia pahlawan ku."
" Tapi aku tidak harus menjadi bayangannya. Aku gak suka nenek selalu merendahkan kamu."
" Maaf, aku gak bisa menjadi lelaki yang membanggakan kamu, tapi aku gak bisa meninggalkan Hito, tidak Maslah mereka menganggap ku bayangan Hito namun aku tahu Hito selalu menjadikan aku seseorang bahkan diantar kami berempat. Mereka selalu memandang aku seseorang yang sama derajat bukan bawahan."
" Mas, aku gak masalah kamu bersama kak Hito, aku cuma takut kamu sakit hati selalu diejek nenek."
" Aku malah gak ingat nenek kamu ngomong apa saja, bagiku mendapatkan kamu sebagai istriku dan ibu dari anak-anakku adalah anugerah." Heru selain lagi mengecup kening Eidelweis.
" I love you. Aku bahagia menikah dengan mu." Ucap Eidelweis parau.
" I love you too, membahagiakan kamu adalah salah satu prioritas ku." Heru merangkul Eidelweis erat, ia selalu merasa takjub mendapati Eidelweis istrinya.
Sementara di bagian lain bunker Jeno, Leo, dan Ragad memperhatikan anak kedokteran merawat para rekannya yang terluka, mereka diam merutuki dirinya masing-masing karena gagal menyelamatkan Zahra.
Namun itu tidak berlangsung lama, ponsel mereka menerima pesan dari Mumtaz. Mereka bergegas mengumpulkan para anggota yang masih siaga dan berlari menuju motor yang terparkir di tempat khusus di basement.
******
Ada apa?" tanya Dominiaz yang duduk di samping Gama saat melihat raut tegang Mumtaz.
" Kak Zahra sudah terdeteksi, syukurlah." Mumtaz mengeluarkan laptopnya, ia menyambungkan dengan ponselnya.
Suasana ruangan yang semula ribut, hening seketika, para petinggi RaHasiYa lantas menghampiri meja Mumtaz.
Sementara Hito memperhatikan ponselnya yang menunjukan lokasi Zahra, ia meminta Samudera yang duduk disampingnya untuk menindak lanjuti pencarian.
Samudera mengangguk, ia membuka dokumen Penjelajahan lokasi.
" Maaf, semuanya saya pergi dahulu." Hito berdiri mengenakan jaketnya.
" Kemana?" tanya Aznan.
" Menjemput Zahra."
Semuanya terkejut, " kamu yakin?" tanya Gama.
" Mumtaz juga saya yakin sudah mengetuai dimana Zahra." Hito menatap Mumtaz yang mengangkat kepala dari ponselnya.
" Iya, saya titip kakak, om. bawa dia ke rumah sakit. tempat dia disekap tidak menyenangkan." ujar Mumtaz dingin.
" Iya, percayakan dia padaku." Hito berlalu keluar.
" Maaf, kalian bisa melanjutkan diskusi kalian, persolan mereka saya serahkan pada kalian. saya akan sibuk mengurus kak Zahra terlebih dahulu." ucap Mumtaz pada para ayah dan Fatio.
" Jangan sungkan Muy. kami di sini untuk membantu mu, bukan untuk kamu layani seperti biasanya." Teddy berjalan menuju meja Mumtaz.
" Apa kamu membebaskan kami untuk membalas mereka?"
" Tentu, kalau kalian butuh orang untuk eksekutif lapangan, kalian tinggal meminta bantuan anak RaHasiYa."
" Tidak perlu, kami bisa mengatur sendiri, damian sudah kami hubungi, dan menyanggupinya. kalian berkosentrasi lah urusan Zahra." ujar Aznan.
Mumtaz mengalihkan tatapannya pad Adgar yang diam sedari tadi tidak seperti biasanya.
" Adgar, apa lo ingin mengatakan sesuatu?"
" Tidak selain maaf." ucapnya pelan dan menyesakan.
" Gue pasti terlihat seperti orang tidak berguna, melindungi satu wanita saja tidak becus, padahal jalan berkali-kali menyelamatkan para wanita Hartadraja." ucapnya menyalahkan dirinya sendiri dengan rahang bergelemetuk.
para petinggi RaHasiYa saling lempar tatapan, " Tangkap." Mumtaz melempar kunci motor sport yang Daniel berikan.
Adgar langsung menangkap kunci tersebut." Lo dengan Zayin pimpin operasi pembebasan kak Ala. btw, dia dan anak RaHasiYa lainnya sedang di jalan menuju lokasi, Lo tahukan dia rewel sama orang yang terlambat."
Adgar langsung berdiri, mengenakan kembali jaket yang semula dia buka.
" Baik. bang. lakukan apapun atas nama CEO Hartadraja corp jika diperlukan untuk kepentingan Kak Ala." ujar Adgar sambil berlari keluar ruangan pada Akbar.
" Lha, memang selama ini tugas dia siapa yang lakuin?" gumam Akbar sambil menggeleng kepala.
Zayin, dan Leo bertemu Adgar tidak jauh dari pelabuhan memasang wajah cemberutnya yang imut.
" Sorry, sorry. kakak Lo ngomongnya dadakan. gimana strategi kita?" tanyanya sambil nyengir.
" Lo bakal tahu hebatnya TNI kita."
" Apasih, bebasin Kak Ala aja dulu."
" Diem lo, mana ada pemimpin yang datang terlambat sedangkan anak Buha Lo udah mencar."
" Kok bisa?"
" Bisa lah. Sejak datang Bayu, dan Willi langsung operasi lapangan. tinggal menunggu kedatangan target, Jeno dan Ragad sedang menyusup berdasarkan informasi Aa Mumuy."
" Lo gak marah sama gue?" tanya Adgar memperhatikan Zayin.
" Apa gunanya? udah terjadi juga. sekarang tinggal menyelamatkannya saja." kata Zayin santai sambil matanya memerhatikan tabletnya.
__ADS_1
" *Target menuju lokasi, wilayah steril*, *Endut* *kita sedang membersihkan aktor*." seru William dibalik earphone-nya.
" Kita bergerak, mobil target sedang mengarah ke sini." Zayin menjalankan motornya dengan Adgar yang dibonceng di belakangnya Hito dan anak buahnya sudah mengikuti.
Posisinya melaju berjarak dua kendaraan dari belakang target, begitu mobil itu melaju masuk dan berhenti dipemeriksaan, tidak lama pro berseragam masuk ke dalam mobil.
Giliran Zayin yang diberhentikan, Zayin langsung mengeluarkan tanda pengenal keanggotan TNI, di belakang para petugas ragad dan anak buahnya langsung menangani mereka dengan melucuti alat komunikasi mereka, maka mereka pun tidak berdaya membiarkan beberapa mobil di belang Zayin memasuki pelabuhan.
BMW tersebut masuk ke dalam salah satu peti kemas yang paling pojok, tertera di sana menuju luar negeri.
Zayin, Leo, dan Jeno bergegas mencari posisi mengamati mereka.
" Ini gue sendiri nunggu motor?" tanya Adgar kesal melalui earphone-nya.
" Iya, Lo anak kantoran, kalau lecet nanti emak Lo marah-marah." jawab Zayin ngasal yang disambut kekehan anak RaHasiYa dan Bayu serta William.
Sementara Hito menunggu dalam mobil jaguar warna metalik kelautan terbaru yang berhenti tidak jauh dari pengintaian.
\*\*\*\*\*\*
Zahra melenguh sadar dari pingsannya dengan kepala pusing karena gerakan dari tempatnya yang gelap dan sempit.
Saat ia m ingin mengerang ia baru menyadari jika mulutnya tertutup lakban, ia bergerak-gerak menyesuaikan diri di tempat terbatas ini.
Berhenti bergerak karena pusing sembari menelisik sekitaran, tubuhnya terbaring miring meringkuk, dengan kedua kaki dan tangan terikat tambang.
Ia menendang berkali-kali body mobil terdengar suara asing khas Asia yang dia pahami dari negara tetangga.
Paham percuma segala usahanya, Zahra menghentikan tendangannya yang hanya menyakiti kakinya, udara pun sudah terasa pengap.
" Tenang, Zahra. Tenang. Para adik Lo bukan orang gabut oon, tunangan Lo bukan orang pengangguran, Magetan. jadi pasti ada sesuatu yang mereka lakukan untuk lo " suara hatinya berkata.
Ia melepas lakban dari mulutnya, mengingat-ingat masa silam saat dirinya diculik dan ditemukan, lantas ia pun meraba dan menekan seluruh benda yang melekat di tubuhnya.
Meski kesusahan karena kedua tangannya terikat, ia menekan kancing-kancing kemejanya, anting-antingnya bahkan untuk cincin tunangannya ia gunakan bibirnya menekan batu berliannya, namun tidak menghasilkan apapun.
Maka di saat inilah dia pasrah, dirinya terdiam siap menerima yang terpahit yang terjadi padanya.
Dia membenci dirinya yang tidak berdaya, dia membenci dirinya yang kalah, namun satu ingatan akan sesuatu membuatnya tersenyum.
" Setidaknya gue melakukan sesuatu sebelum mati." Ucapnya menghela napas lega bermonolog.
Zahra benar-benar pasrah, dia siap menjemput mautnya. Zahra mengubah posisi tidurnya dari miring menjadi terlentang dengan kaki menekuk dia atas perutnya.
Terdengar suara dari beberapa pria sebelum mobil itu melaju dan beberapa saat kemudian berhenti.
Tidak lama bagasi itu dibuka, saat ia bersitatap dengan pelaku yang melotot karena terkejut, ia segera menendang orang tersebut yang langsung terjengkang karena tidak siap dan kaget.
"Aaaaaaa...wss..." Lirih orang itu memegangi dadanya yang kesakitan. Tendangan itu sungguh bertenaga menendang tepat di ulu hatinya.
Hanya lirihan dan jeritan tertahan sebagai jawabannya, maka rekannya itu mendekati bagasi dengan mengeluarkan pistol dari belakang pinggangnya.
Ia bejalan pelan dan hati-hati memperhatikan sekitaran mendekati bagasi, dan langsung menghindar saat tendangan dari kaki panjang mencuat ke atas.
" Shitt, mam. Ayolah bekerjasama jangan membuat kami mencelakai mu." Rutuknya ia segera menutup kasar pintu bagasi yang langsung terdengar suara tendangan dari dalamnya.
" Yeaah..teruslah berteriak dan berusaha, sebelum kau dijual." Gumamnya menyeringai.
" Apa yang terjadi?" tanya pria berseragam keluar.
" Biasa, sok melawan. sudah tahu tidak berdaya."
" Bagaimana kalau kita cicipi dia dulu."
" Cuma menyentuh tidak memasuki. ini perempuan sudah sold out."
" Lumayanlah, bening gak?"
" Banget."
Saat lelaki berbalik hendak keluar, satu pukulan keras tepat mengenai hidungnya. Terdengar suara retakan patah tulang hidung pistolnya terlepas dari pegangannya, orang itu langsung menendang pistol itu menjauh.
" Aaaaaaaa....." Jerit orang tersebut memegangi hidungnya yang berdarah mengucur.
" Menjualnya, bahkan untuk menjalani sisa hidup mu saja kau akan kerepotan." Ucap orang yang memukul tadi dengan suara tajam mengancam.
Jeno dan Leo segera menangkap pria berseragam, dan membuka bagasi.
pemuda membuka pintu bagasi, saat tiba-tiba tendangan melayang di udara, ia menangkisnya.
" WOW, wow...santai *girl. this is me*, *your brother*." seru pemuda itu.
Zahra terkejut, ia bukan main senang melihat adiknya.
Zayin mengangkat Zahra Ala mengeluarkannya dari bagasi tersebut.
Lalu Zayin membawa Zahra ke dalam gendongannya ala bridal keluar dari peti kemas tersebut. selama berjalan menjauh menuju mobil Zahra terus menangis.
" Huaaaaa.....kamu lama sekali sih. tentara apaan yang lama nyelematin satu orang doang. huaaaaaa.." Zahra menangis histeris.
Zayin terkekeh-kekeh geli, kakaknya yang sudah tua masih bisa menangis bagai anak kecil, dia jadi teringat Adelia.
" Cup..cup...cup...sekarang tenang. semua sudah beres."
" Kamu jangan sampe membiarkan bule itu lolos. hiks..hiks...huhu..aku tadi ketakutan, Bahkan Kakak udah siap mati...hiks..."
__ADS_1
" Husssh... tenang. Kakak ini punya adik gak bego-bego amat masa segitu *hopelles*-nya." Zayin mencium kening Zahra.
" Udah ya nangisnya, kalau Aa Mumuy lihat kakak nangis antar aku yang dijadiin perkedel sama dia, mau?"
Zahra menggeleng." makanya tenang, dan diam. mending bobo aja mumpung dada bidang nan gagah ini masih kosong."
" Hiks...hiks...memang kamu bakal lupakan kakak kalau udah punya pacar?"
" Enggaklah, lagian siapa juga yang mau pacaran, ribet. mending langsung nikah."
" Udah punya calon?"
" Belum, santai aja. masih panjang perjalanan karir aku. ingat aku mau jadi koopsus. dan itu masih lama banget."
" Lucu kali ya kalau Adel yang jadi istri kamu." Zahra terkikik membayangkannya.
" Jangan mulai, ya..enggak sama itik juga kali, kak."sungut Zayin kesal.
" Aduh kasiannya, Adel ditolak."
" Kak, aku jatuhin ni." ancam Zayin.
" Memang berani?"
" Ish, nantangin lagi." Zayin mengendurkan pegangannya, lalu melemparnya.
" Kyaaaa..AYIN..." jeritnya terkejut saat tubuhnya melayang, itu sebelum ada tangan kekar lainnya menangkap dirinya.
" Hup..Zayin, kakak mu bukan karung beras." suara berat Hito terdengar menegur.
" Dia lebih berat dari karung beras. mulai sekarang kurung dia. jangan biarkan dia kelayapan dimana-mana. awas aja kalau lepas lagi. bawa sana aku masih banyak urusan di sini."
Setelah mengatakan hal yang menyebalkan itu Zayin pergi berbalik kembali ke dalam pelabuhan.
" Kamu di sini?, kok bisa?" Zahra terheran-heran.
" Bisa. sayang *please*, jangan keras kepala lagi atau adikmu ngerubah aku jadi bubur ayam." Hito memasukan kekasihnya ke dalam mobilnya dengan hati-hati.
" Jalan. seperti perintah Mumtaz, bawa kami langsung ke rumah sakit." titahnya pada sang sopir.
Di sana ia duduk merangkul erat Zahra. menghapus segala ketakutannya " ini gak ada yang bakal bukain ikatan aku?" Zahra menyodorkan tangannya.
" Astaga, maaf sayang." Hito dengan panik membuka tambang yang mengikat kedua tangan dan kaki Zahra.
Kemudian dia mengusap tempat bekas ikatannya yang memerah." pasti sakit banget." ucapnya sendu.
Zahra menarik tangannya, ia mengusap rahang kekasihnya." kamu pasti panik dan marah banget ya. maaf ya, tadi aku terlalu kalut mengkhawatirkan adik-adik ku."
Hito mengelus tangan yang berada di pipinya," kamu berhasil membuat jantungku berhenti berdetak, ya..tuhan saat ku lihat kamu dibawa mereka...aku..putus asa, aku memikirkan hal yang paling buruk, dan aku marah. kalau bukan Mumtaz yang mencegahku, aku yakin Dominiaz sudah menghancurkan gedung dimana para bajing4n itu membawamu."
" Maaf, maafkan aku." Zahra mengecup hidung Hito.
" Sayang, adikmu tidak selemah itu mudah ditaklukkan, kalau kamu menginginkan keselamatan mereka, kamu cukup tinggal di tempat yang mereka inginkan. biarkan mereka berkonsentrasi melawan Navarro."
Zahra mengangguk cepat. " aku..hanya takut. hati aku tidak tenang." lirihnya bingung.
" Sayang, Gaunzaga tidak akan membiarkan mereka berjuang sendiri, Dominiaz akan selalu menjaganya terlepas dia pacar dari Sisilia, dia sudah menganggap Mumtaz adiknya. percaya saja pada mereka."
" Setelah kejadian ini, aku percaya kalau mereka kuat. tapi bagaimana kalian bisa kemari? dimana dia?"
Di sisi lain, Zayin bersama yang lain telah mengumpulkan para tersangka yang terlibat penyelundupan Zahra, dengan teknologi dan kerjasama apik antar Bayu, dan RaHasiYa.merak berhasil menemukan nama-nama yang menjadi tersangka.
" Kalian, mati. mati di tangan kami."
BUGh...BUGh....
Zayin melepas pukvlan keras pada pria berseragam.
" Lo mau nyicipin Kakak gue, istri Lo yang bakal dicicip oelh mereka." ujar Zayin pada segerombol pria asing.
Pria berseragam itu menggeleng cepat memohon ampunan.
" Serang mereka sampai mereka menyebut siapa nama yang bertanggungjawab mengirim Kaka Ala." titah Zayin.
" Siap." sru mereka serempak.
Zayin berbalik arah, melihat satu persatu para petugas pelabuhan," apa kalian melihat kekerasan di sini?" tanyanya dengan suara menggelegar tajam.
" TIDAK, KAMI TIDAK MELIHAT APAPUN." jawab mereka. bersahutan.
" Bagus, karena m mang tidak terjadi apa-apa."
DOR...DOR...DOR...
" AAAAAAA.....aaa...hmmp..."
Letusan temb4kan bersahutan cukup lumayan lama, sebelum hening sepi setelahnya.
" Kalian tidak melihat apapun kan?" tanya Zayin. para petugas mengangguk.
" *Mission Complicated*." seru Jeno.
" *Good great job*." jawab Mumtaz, dia duduk tenang di ruang kerjanya sambil memperhatikan banyaknya mayat diseret oleh anak buahnya ke dalam peti kemas yang semula diperuntukkan untuk Zahra.
" kirimkan peti itu pada alamat yang tertera, biar tetangga kita paham siapa yang masih menguasai negeri ini." titah Mumtaz.
" Siap laksanakan."....
__ADS_1