
Pukul 03.00 WIB, Daniel memaksa Jimmy untuk pulang ke Jakarta meski mendapat protesan dari Jimmy Daniel tetap keukeuh.
" Niel, sumpah baru tahu gue kalau Lo Setega ini." Omel Jimmy mendelik tajam ke Daniel.
" Lo enggak iba melihat keadaan gue?" melas Jimmy yang duduk disampingnya dengan kaki yang terbungkus perban berselonjoran.
Daniel enggan menanggapi ocehan Jimmy yang sudah berlangsung selama setengah jam semenjak mereka masuk ke mobil.
" Siapa suruh Lo bikin ribet."
" Gue tahu gue salah, tapi apa Lo gak lihat badan gue lecet-lecet gini? Sumpah badan gue berasa ringsek ditabrak kereta."
" Cih, hiperbola banget. Apa Lo gak bisa ngikuti skenario yang udah kita bikin?" Ucap Daniel jengah.
" Gue udah nyoba, tapi ngebayangin mesti ucap ijab-qabul pake nama tu cewek najis gue, gue gak sanggup." ucap ngotot Jimmy.
Pletak!!!
" Gak banyak orang yang mau jadi penghulu bohongan, dan membuat buku nikah palsu, tapi Lo dengan seenak jidat kabur kayak perawan dipaksa nikah. Kalau Lo mau berubah pikiran bilang, buluk. Jangan bikin orang panik!" Cerocos Daniel, Jimmy meringis memegang kepalanya.
" Lo belum nemuin cinta sejati Lo sih walau cuma bohongan, tapi gue gak sanggup."
" SOUMBONG! Tapi apa yang udah Lo perbuat fatal akibatnya." Gumam Daniel tanpa sadar tapi terdengar oleh Jimmy.
" Maksud Lo?"
" Apa?" Daniel tersadar, dan mencoba biasa.
" Tadi omongan Lo."
" Yang mana?"
" Lupakan, gak minat typo gue."
Heh!!! Daniel menghela nafas lega.
" Pi, kenapa diam aja? Semua baik-baik saja kan?" Tanya Jimmy heran.
Papi menoleh sekilas, hanya mengangguk. Sebenarnya papi resah kabar terakhir yang dia dapat dari Bara membuatnya gusar.
*****
Pukul 05.45 wib suasana rumah sakit Atma Madina terlihat berbeda ini disebabkan pihak rumah sakit sibuk karena para sahabat, keluarga Atma Madina, Birawa, Hartadraja, Pradapta datang hendak mengantar pulang jenazah Aida.
Mereka bertanya-tanya sehebat apa sosok Aida sehingga para pemegang saham rumah sakit langsung datang memberi penghormatan terakhir baginya.
Alih-alih diantar ke Aida mereka malah diarahkan menuju ruang inap dimana Jimmy ditempatkan setelah mendapat pemeriksaan intensif dan menyeluruh.
Jimmy yang terbaring di brankar terheran mengapa begitu banyak orang yang berkumpul di tempatnya. Begitupun yang lain kenapa pihak rumah sakit membawa mereka ke zuper VVIP, tujuan mereka adalah ke tempat Aida.
Kepala rumah sakit dan beberapa staf rumah sakit masuk ke ruangan yang telah dipenuhi pengunjung itu.
Setiap orang saling tukar pandang risau.
" Maaf telah membuat kalian menunggu. Saya mendapat amanat dari dokter Zahra dan keluarga terkait Aisyah Ardani Romli atau Aida Romli."
" Pukul 01.15 wib. Pihak keluarga telah memulangkan Alm Aida dengan mobil ambulance yang sudah dipersiapkan oleh pihak keluarga. pemindahan almarhumah dari rumah sakit ke tempat tujuan yang tidak dikonfirmasikan kepada kami, kami tidak mendapat keterangan lebih lanjut."
Semua orang sontak tersentak kaget, Bara maju mencengkeram kerah kemeja kepala rumah sakit.
" Bagaimana bisa pihak rumah sakit membiarkan mereka keluar begitu saja, ceroboh sekali kalian." bentak Bara dengan rahang mengeras.
" Maaf, kami sudah berupaya mencegah, tapi bapak Mumtaz memaksa bahkan beliau melarang kami menelpon anda, tuan. Sebagai salah satu pemegang saham rumah sakit ini tidak banyak yang bisa kami lakukan selain mematuhi keinginan beliau." Tukas kepala rumah sakit.
Dengan kesal Bara melepas cengkeramannya, merapihkan kerah kepala rumah sakit kembali.
" Maaf, tentu kalian sudah melakukan hal yang tepat. Apa ada sedikit informasi yang bisa kalian berikan kepada kami."
Mereka menggelengkan kepala," tidak ada. bahkan mereka membawa staf sendiri unuk memandikan jenazah, dan langsung mengkafaninya." ujar salah salah satu staf.
" Baiklah, terima kasih atas informasinya, kalian boleh keluar." Tukas Bara.
Jimmy menatap kosong ke depan, dia syok mendapati kabar dari pihak rumah sakit.
" Apa ini maksudnya mama meninggal? Cicit Jimmy pilu.
Lupa akan kondisi Jimmy para sahabat memoleh khususnya Daniel dan Radit mendekatinya.
" Iya, kemarin mama tertembak oleh Rudi, dan Allah menghendaki mama bersamanya." Ucap Radit pelan.
Jimmy menatap Daniel, dan mengitari yang lainnya, dan kembali kepada daniel," Lo tahu? Dan Lo gak ngomong sama gue?
" Kemarin waktu nyusul Lo mama masih dioperasi, dan gue gak tahu mama meninggal." ujar Daniel, air matanya merembes keluar, dengan punggung tangannya dia segera menghapusnya. Begitupun dengan Jimmy kala kesadarannya kembali air matanya sudah deras turun di pipinya.
" Jadi ini yang Lo maksud berakibat fatal dari kaburnya gue? bagaimana Aloya bisa mendatangi kediaman mama?" teriak Jimmy.
Hening sesaat.
" Mereka mendatangi rumah papi ketika mereka sadar kalau kamu tidak akan datang sesuai jadwal ijab-qabul, mereka memaksa kita untuk menyerahkan kamu tapi kenyataannya kamu tidak ada." Papi menghela nafas gusar mengingat kronologi tragedi itu.
" Mereka memaksa ke rumah mama karena berpikir kamu pasti mendatangi rumah itu mengingat kamu suami dari Tia. Papi sudah bilang kalau kamu tidak ada di sana tapi mereka tidak percaya. Papi sudah berupaya mencegahnya." ucap papi lemah.
Jimmy termenung, " Pi, Afa yang mengantar malaikat maut kepada mama, Afa pembunuh mama." Jimmy tertunduk.
Ucapan Jimmy membuat mereka sontak terkejut dengan pemikiran Jimmy.
" Andai Afa tidak pergi, andai Afa mengikuti rencana kita, mama tidak akan meninggal. Afa pembunuh, pi. AFA PEMBUNUH!" racau Jimmy histeris.
Melihat kondisi Jimmy yang down, para pengunjung dengan inisiatif sendiri berkumpul di ruang tunggu dan menutup pintu.
" Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan." lirih Jimmy pilu, meyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
Bara menekan tombol guna memanggil dokter, tak lama dokter datang dan memeriksa Jimmy, memberikannya obat penenang.
Setelah memastikan Jimmy tertidur efek dari obat penenang, para sahabat bergabung di ruang tunggu bareng yang lain.
Dengan menggunakan layar proyektor, Ibnu memutar ulang kejadian penembakan itu.
Semua pasang mata yang menonton terkesiap kaget mendengar suara letusan dari pistol Rudi.
" Saya sudah membawa rekaman ini ke kepolisian, hasilnya tembakan pertama ditujukan kepada Sandra Atma Madina, tetapi karena bidikan yang belum stabil mengenai Adelia, tembakan kedua ditujukan untuk Adelia, yang dihalau oleh mama. Semua tembakan itu secara sengaja dilepaskan terfokus kepada mereka, dengan artian Rudi tidak menembak secara acak." Terang Ibnu, Sandra syok mendengar penjelasan Rudi.
Sandra tidak mengira dia berurusan dengan keluarga psikopat.
" Rudi dan Victor adalah dua orang penjahat kelas teri, dalam artian strategi mereka mudah diterka."
Eidelweis menganga terkejut anaknya menjadi target penembakan Aloya.
" Bagaiman bisa mereka tega berniat membunuh Anak balita."
" Bisa saja, beberapa tahun lalu mereka melempar Nathan Wilson kecil yang berusia tujuh tahun ke laut lepas guna menghilangkan ahli waris Wilson."
" Apa yang kamu maksud itu Nathan putra dari Edward Wilson?" tanya Dominiaz.
" Iya, betul. tapi Nathan berhasil diselamatkan oleh pamannya, Luke Wilson."
" Mereka tega melakukan itu?" Geram Eidelweis.
__ADS_1
" Apapun akan mereka lakukan demi mencapai ambisi mereka." jawab Dominiaz.
" Kau kenal Nathan?" tanya Bara.
" Teman dari SMA, sepanjang hidupnya pancaran matanya penuh kebencian, bahkan saya harus ekstra kala menjadi temannya."
" Kalau mereka penjahat, bagaimana mereka mendapat kekayaan sehingga bisa menjadi pebisnis dengan bisnis hiburan beromset milyaran."
" Apa kalian mengikuti berita tuntutan Wilson kepada Aloya?" mereka mengangguk.
" Dari sana harta mereka dapatkan."
" Apa RaHasiYa ada dibalik tuntutan Wilson?" tanya Kakek Fatio.
Ibnu tidak menjawab.
" Saya kenal keluarga Wilson sewaktu kuliah di Amerika, sedari dulu luke mencari tentang Aloya dan Rafael tapi saya tidak bisa membantu mereka." Fatio memberi alasan.
" Iya, bahkan kami yang memberi bukti-buktinya kepada polisi." ucap Daniel santai.
" Sekarang bisa kita maklumi mengapa kasus lama itu bisa diselesaikan dalam waktu singkat." Fatio menganggu-anggukan kepala.
Sibuk dengan skandal Aloya mereka tidak menyadari Jimmy sudah berdiri oleng diambang pintu tengah.
" Dimana Aloya sekarang?" semua orang terlonjak kaget mendengar suara lemah Jimmy.
Ibnu menatap silih berganti antara Daniel dan Bara.
" Kalau kau ingin tahu dimana mereka, sembuhkan dulu trauma masa lalumu." Telak Bara.
" Beritahu aku, brengsek! mereka sudah menjadikan saudaraku, sahabatku yatim-piatu kau pikir aku akan membebaskan mereka?"" bentak Jimmy.
" Mereka sudah berada ditempat yang seharusnya." timpal Daniel.
" dimana?"
" Bukan hanya kau yang ingin menghabisi mereka. kau, jangankan untuk menghabisi semua Aloya mendengar nama dan melihat Rudi dan Victor kau sudah bergetar ketakutan, bagaiman bisa kau membalas dendam kepada mereka?" balas Bara.
Jimmy terdiam tertegun," aku memang tidak berguna, segala malapetaka keluarga Mumtaz semuanya bermula dariku. Mungkin mati lebih baik bagiku." cicit Jimmy.
PLAK!!!!
Tamparan keras itu bukan dari Daniel maupun Bara, tetapi dari Ibnu. sua penghuni ruang tunggu terlonjak terkejut atas keberanian Ibnu.
" Kami tidak menyelamatkanmu untuk kematianmu, kami tidak bersamamu untuk menjadikan kau pecundang. Bagaimana bisa kau berkata demikian setelah kau menikahi Tia!" Ibnu menatap nyalang Jimmy yang ternganga kaget akibat tamparannya.
" Kalau kau tak bisa membalas mereka diam dan lihat, kau cukup memerintah kami. kalau kau bisa membalas mereka lakukan apa yang ingin kau lakukan! jangan buat usaha aku dan Mumtaz percuma!" bentak Ibnu dengan nafas berat menahan marah.
" Dengarkan aku, sejak Mumtaz tahu Aloya yang menculik kalian, tak ada satu menit pun dia buang waktunya selain untuk menghancurkan Aloya. Sekarang hanya karena kau belum bisa atasi trauma mu itu kau ingin mati, MATI SAJA SANA tak perlu bilang-bilang. biarkan aku menikahi Tia dan bahagia dengannya sebagai penggantimu." Ibnu tersenyum smirk, dia menyerang titik lemah Jimmy, yaitu Tia.
Ibnu tahu seberapa bucin Jimmy terhadap Tia, membayangkan Tia bahagia dengan Ibnu Jimmy menghajar Ibnu walau masih lemah, namun cukup menyakitkan.
" Jangan pernah bermimpi menjadikan Tia milikmu." Desis Jimmy.
" Kan Lo udah mati, Lo mau Tia jadi janda muda gitu, ingat janda makin terdepan, aku sih yes kalau jandanya Tia." Ucapan Ibnu makin kacau, para sahabat lain menggeplak keningnya, para orang tua hanya menggeleng.
Usai mengatakan itu dengan santai Ibnu Kembali ke laptopnya.
Tak ingin ada perkelahian lebih lanjut, " Ini, mereka di sini." Ibnu menyiarkan keberadaan Aloya dalam kondisi mengenaskan.
Semua orang terbelalak ngeri dengan keadaan mereka, Rudi yang terkapar tak bisa bergerak karena babak-belur dan beberapa bagian tubuh yang patah, begitupun dengan Victor. Celine dan fiona lebam diseluruh wajah karena hajaran dan jambakan para anggota RaHasiYa, dan Adinda yang menjerit meraung dengan gerakan mesum menjijikan karena libido yang tek tersalurkan akibat hiperseksualnya.
Hening, sunyi, tak ada gerakan satupun dari orang dalam ruang tunggu itu.
" I....itu...dimana?" tanya Jimmy berharap jawabannya tidak sama apa yang dia pikirkan mengenai tempat itu.
" The Baraz, tempat dimana dulu kalian disekap waktu penculikan." Ucap Bara menatap dalam Jimmy yang terkesiap.
Tubuh Jimmy bergetar kala bayangan masa kelam itu datang, tangannya mengepal sampai memutih antara takut , benci, dan dendam.
Sungguh Jimmy sedang mengalami pertentangan bathin dalam dirinya antara trauma masa lalu dan kebencian masa kini.
Radit mengamati Jimmy seksama mencegah Daniel yang hendak mendekat.
Butuh lima belas menit bagi Jimmy menguasai diri hasil dari konsultasi dengan Radit selama ini.
__ADS_1
" Bawa aku ke mereka."
" Kalau kamu sudah siap."
" Lebih baik aku mati daripada melihat mereka hidup."
Ibnu menatap Jimmy jengah mendengar komentar Jimmy.
" Sorry brother, aku gak bisa biarin kamu bunuh mereka, kematian tidak pantas untuk mereka. Mumtaz dan Wilson sudah sepakat akan menciptakan neraka bagi mereka." ucap Daniel.
" Mumtaz?" tanya Jimmy bingung.
" Aku dan Mumtaz ketika mengetahui bahwa mereka lah yang menculik kalian langsung menyelidik tentang mereka sampai ke akarnya, percayalah keadaan mereka saat ini belum seberapa dibanding dengan kejutan-kejutan yang sudah dipersiapkan untuk mereka, bahkan mereka sendiri yang akan memohon kematian cepat menjemput mereka." ucap Ibnu penuh ketekadan.
Semua orang bergidik tak bisa membayangkan neraka yang akan dialami Aloya.
Ibnu menatap klan Hartadraja" Dan ini berlaku untuk kalian Hartadraja, seharusnya Husain saat ini sudah mengajukan pailit, mereka bangkrut. kalau Hartadraja tidak melakukan tindakan yang seharusnya kalian pun dipastikan menyusul Husain." Tekan Ibnu menatap tajam Hito.
menghela nafas berat," pesan tersampaikan." ucap Hito berat.
" Fokus RaHasiYa saat ini mencari keberadaan Mumtaz dan saudaranya. Saat ini waktu yang tepat melakukan pendekatan terhadap Tia yang otw janda." Racau Ibnu yang ditanggapi santai oleh mereka tetapi tidak oleh Jimmy.
" Gue masih hidup ya Nu." geram Jimmy.
" Apa bedanya hidup jadi pengecut dengan mati terkubur?"
" Gue tarik kata-kata mati tadi, gue bakal balas dendam." ucap Jimmy memaksakan
" Emang bisa, belum berhadapan langsung aja, tangan Lo udah bergetar ketakutan, gimana mau jadi imam dalam rumah tangga. Koleps langsung Lo." cibir Ibnu.
" Dih, tanya Radit, gue otw sembuh."
" Cih, baru otw aja bangga, gue gagah berani. Tia butuh laki-laki yang bisa melindungi, dan itu gue!" Ibnu makin memprovikasi.
" TIDAAAKKK...Ayang mbeb Inu gak boleh selingkuh, enak aja mau nikah sama kak Tia, aku udah booking abang Ini dari kelas lima sd ya." protes Ayu yang sudah tak tahan menahan rasa cemburunya.
Ayunda makin bertambah usia makin bertambah kebucinannya pada Ibnu yang masih setia dengan sikap biasanya.
Para orang tua dan yang lain melongo mendengar ucapan Ayunda Birawa, ayah dan bunda cuma mesem malu.
Para sahabat menahan tawa," cie..cie Abang Inu yang udah diposesifin sama abegeh..." goda Rio.
Ibnu seketika salah tingkah, dan menunduk sok sibuk dengan laptopnya menutupi malunya. Para orang tua terkekeh melihat adegan di depannya.
Mereka tiba-tiba kaget melihat di layar muncul tulisan
**SENANG LIHAT KALIAN BERCANDA, MAMA SUDAH TENANG**!!!!
Ayu, kata bang Ayin kalau bang Ibnu selingkuh dia punya teman prajurit yang jauh lebih gagah...
Ayunda yang melihat tulisan itu mulai terpancing, binar matanya senang, tapi tidak dengan Ibnu.
Jimmy, Tia di sini baik-baik saja. Kak Ala juga...
Suasana berasa horor.
" Shitt,... Mumtaz melihat melihat kita." ucapan Ibnu berhasil membuat mereka bergidik.
" Sama tentara keren kali ya..." gumam Ayunda.
Ibnu yang sebenarnya lebih bucin dari Ayunda yang sudah bucin akut tingkat dewa, geram dan berjalan dengan langkah lebar ke Ayunda.
" Cari yang lain aja Yu daripada sama tukang selingkuh." Jimmy mengkompori, Ibnu mendelik tajam, Jimmy tersenyum meledek.
" Heh, masih bocil genitnya minta ampun, bun, ayah. Inu minta ijin mau service otak erorr Ayu dulu." Ibnu menarik lembut tangan Ayunda dan membawanya keluar ruangan.
" Cie...cie ..ayang mbeb Inu udah bucin abegeh..." ledek Haikal yang langsung kena tendangan dari Ibnu yang malu.
Eidelweis, Julia, dan Nadya menjerit tertahan emlihat adegan gemas dari Ibnu, sedangkan para pasangannya mendelik sebal
" Ingat umur, Yang..." Sarkas Damian, Julia langsung mencebik kesal.
para orang tua terkekeh geli dengan sikap Ibnu.
Akhirnya mereka dapat melihat sikap santai petinggi RaHasiYa yang biasanya bersikap serius.
Melihat kalimat terkahir Hito tertegun...
__ADS_1
**makasih masih mengikuti cerita ini, jangan lupa like dan komen positifnya ya**