Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
204. Sang Aktor Utama Mulai Beraksi.


__ADS_3

 Pria tua tengah berjalan melihat-lihat rak buku di ruang kerja Ergi dengan earphone bluetooth-nya, ia sedang berbicara dengan seseorang."__jadi pertemuan tadi tidak menghasilkan apapun?" Tanyanya yang mengenakan seragam dengan atribut pangkat kebesarannya dengan karir berpangkat jendral empat.


" Saya kaget ternyata Ergi keras kepala dan terlalu serius menjalani perannya sebagai K4polr1. Bapak bisalah bujuk dia supaya lebih santai." Seru orang di sebrang sambungan telpon.


" Saya lebih kaget sewaktu kalian memilihnya menjadi orang nomor satu di instansi ini, padahal saya sudah bisiki kalian untuk memilih Andre."


" Ck, Andre terlalu pongah orangnya, dia tidak punya aura wibawa. Status dia sebagai buronan itu buktinya padahal dia orang nomor dua di mantan instansi anda."


" Tenanglah urusan dia biar saya yang tangani. Saya hanya kesal orang-orang mu terlalu serakah hingga semuanya menjadi berantakan, saya mempertaruhkan kredibilitas saya untuk semua ini dan anak buah mu mengacaukannya. Saya hanya minta anda tangani Juna dan Agung."


" Beres, dia hanya seorang anggota. Itu dia datang saya tutup telponnya."


Pria dengan tubuh yang masih gagah meski di usia lanjutnya mengedarkan pandangannya pada seluruh sudut mantan ruangan kebesarannya. 


" Sebentar lagi, tinggal beberapa langkah lagi aku akan kembali menduduki kursi ini selama yang aku mau." Gumamnya mengusap-usap kepala sandaran kursi dengan senyum penuh kebanggaan dan kesombongan.


****


" Masuklah." Pinta sang ketua pada Juna yang berdiri di depan kamar hotel yang disewanya untuk malam ini.


Mereka duduk di ruang tamu saling berhadapan. Sang ketua dengan kemeja yang lengannya sudah digulung asal dan dua kancing yang terbuka sedangkan Juna masih dengan pakaian formal rapih sempurnanya.


" Minum?" Tawar ketua pada Juna mengangkat botol Champaign-nya.


" Tidak, saya tidak minum. Bisa kita to the points, seharusnya saat ini saya menikmati waktu santai dengan istri tercinta saya." Todong Juna frontal.


" Juna, usia mu masih muda, karir politik dan hukum mu masih panjang bisakah kau berhenti bersikap berseberangan dengan kami seperti para senior mu?"


Rahang Juna mengeras," kalau saya tidak mau, apa yang akan anda lakukan?" Matanya menatap bertabrakan dengan mata ketua yang kantung matanya sudah membesar.


" Heuh, politik itu keras, saya anjurkan kau diam, berhenti merecoki. Tapi saya akan memberikan posisi Mulyadi padamu kalau kau bersama kami."


Tangan Juna mengepal kuat hingga buku kukunya memutih, ia paham arti itu. Bergabung atau menyingkir, tapi dia sudah sejauh ini negara ini sudah terlalu melenceng untuk dibiarkan saja kalau bukan saat ini Juna ragu ada kesempatan lagi untuk memperbaikinya.


Juna berdiri, merapihkan jasnya." Kalau saya melakukan hal pengecut sepertimu saya malu pada para pejuang dan para pemuda, lakukan apa yang ingin kau lakukan, dan saya akan melakukan apa yang ingin saya lakukan." Setelah mengatakan itu dia berbalik keluar kamar presidential itu.


Sepeninggal Juna, sang ketua melayangkan gelas yang dipegangnya ke sembarang arah. 


Prang....


" Tuan... Apa kau baik-baik saja?" Suara lembut dari orang yang hanya mengenakan lingerie berwarna merah yang berdiri di ambang pintu kamar tidur mengalihkan emosinya.


" Kemarilah saya butuh hiburanmu." Wanita itu tertawa sensual dan berlari kecil padanya yang berakhir duduk di pangkuan ketua dengan gaya menggoda.


" Janganlah marah, kalau anda kesusahan anda tahu saya bersedia mengubah mood anda." Ucapnya dengan suara mendayu-dayu seraya tangannya melepas sisa kancing yang ada.


" Hmm, lakukan." Ucapnya berat menahan nafsu yang sangat menjijikan yang mana tangannya sudah bermain merem4s buah sintal wanita yang sudah mengerang menikmatinya di atasnya.


*****


Betapa Ergi terkejut saat ia membuka pintu ruangannya,  mantan atasannya duduk di kursi kebesarannya. lancang sekali.


" Bapak..." 


Pria itu menoleh, kemudian dia beranjak menghampiri Ergi dengan senyumnya yang ramah."Ergi... Duduklah ada yang ingin saya bicarakan." Ucapnya melangkah ke sofa bagaikan di kantornya sendiri.


Ergi mengernyit ia mau heran tapi ini mantan atasannya yang sedari dulu terkenal bertindak semau sendiri. Di atas meja sofa telah ada dua cangkir yang masih mengepul.


" Ergi, apa kau tidak pernah membersihkan ruanganmu? Hingga ruangan penuh kehormatan ini menjadi sarang hewan yang menjijikan." Todong pria itu langsung.


" Maksud bapak?"


" Lihatlah, masa ruangan K4polr1 ada cicaknya." Tunjuknya pada seekor hewan yang menempel di sudut pojok atas.


" Nanti saya bereskan, apa bapak ada perlu? Bapak datang ke ruangan saya di malam hari."


" Saya langsunh saja, kau jangan terlalu tegas dan disiplin dalam melaksanakan tugas, itu tidak baik. Saya ingin kau melunak dalam menangani kasus-kasus itu, demi nama baik negara kita dari pandangan cemooh negara-negara sahabat. Saya yakin kau menangkap apa maksud saya."


Sejenak ia tertegun, semenit berikutnya raut kekecewaan menyertai pandangannya pada sang pria tua itu." Instansi ini terlalu berharga untuk mewujudkan keegoisan anda, pak. jadi saya akan nolak permintaan anda." Balas Ergi dengan berani.


Dia tahu akan ada resiko dari ucapannya mengingat sosok pensiunan itu masih sangat kuat pengaruhnya.


Tubuh lelaki tua itu menegang, wajahnya memerah, egonya tersentil akan penolakan Ergi. Ia menyesap kopinya perlahan sambil menatap tajam Ergi yang membalas tatapannya.


" Kau akan menyesal menolak perintahku, minumlah kopi mu selagi hangat. Saya pergi." Pria itu beranjak ke pintu namun sebelum membukanya Ergi bertanya,


" Apa anda sedang mengancam saya?"


" Kau berhasil menjadi pimpinan di instansi besar ini, berarti kau tidak bodoh. Pikirkan sendiri." Kemudian lelaki itu lenyap dibalik pintu yang ditutup kencang.


Ergi mengambil cangkir itu dan baru saja dirinya menyesap setitis cairan itu, laba-laba jatuh dari atap tepat di atas kepalanya mengenai gelas itu. Ergi terkejut hingga pegangannya terlepas dari gelas tersebut dan jatuh.


Prang...


Isinya menumpahi pahanya.


" AARRGKKHH..."


Mendengar jeritan, ajudannya lekas masuk dan kaget dengan apa yang dia lihat." Pak, bapak...." Ajudannya karena khawatir berlari kencang dan langsung meminta bantuan sebelum dia melepas kancing dan melonggarkan kerah sang atasannya.


*****


Selepas membersihkan diri Sisilia yang mengenakan kaos dan training panjang milik Mumtaz yang sudah biasa dia kenakan karena tidak ada pakaian wanita di rumah ini cukup bagi tubuhnya yang tinggi bergabung dengan Zahra di dapur sedang membuat susu untuk para penghuni.


" Hai, kau sudah membersihkan diri?" tanya basa-basi Zahra.


" Sudah."


" Bagaimana perasaanmu saat kau begitu dicintai seorang Mumtaz?"


Sisilia mengulum senyum." ini bukan yang pertama, tapi rasanya masih selalu sama. merasa dihargai dan diratukan."


Zahra terkekeh geli mendengarnya." kau begitu mencintainya? padahal dia tidak begitu tampan."


" Sangat, dan dimata ku kak Mumtaz sangat rupawan."


tawa Zahra tergelak, ia menggeleng-geleng tidak habis pikir." tapi aku heran kenapa saudara lelaki kakak tidak menyukai saat banyak perempuan mengejarnya." pertanyaan ini sudah lam ingin ia lontarkan.


" Entahlah, mungkin karena ajaran mama. mama selalu mengajarkan untuk setia dan berhati-hati terhadap tingkah berlebihan lawan jenis."


" Hmm, begitu ya...tapi Zayin kan jomblo sejak lahir, dia terlihat membenci wanita..."


" kecuali Adel." potong Zahra.


" Hahahaha..." mereka berdua tertawa mengingat hanya balita itulah yang mendapat kelembutan dari Zayin.


" Btw, ini sudah nampan ke berapa, kak?" Sisilia membantu mengaduk melarutkan susu.


" Ketiga, kenapa menjelang weekend selalu lebih ramai ya? Apalagi kalau tim inti tidak ada bisa dua kali lipat dari ini."


" Bukan hanya anak RaHasiYa, kak. Anak kampus lain dan juga Warga juga ikut nongkrong. Terlebih sekarang mulai banyak tugas, mereka lebih memilih ngerjain di sini daripada di tempat tongkrongan." Sahut Haikal masuk ke dapur membantu menyiapkan nampan ke empat.


" Untung mereka gak bawa perempuan." Ucap Zahra.


"  Selain para bocil plus Ayu,  gak bolehin bawa sama Zayin."


" Baguslah. Mumuy kemana?" 


" Gak tahu."


" Ck, asisten macam apa kamu juragan pergi tapi gak tahu."


" Macam aku, kak." Tunjuk Haikal pada dirinya sendiri dengan bangga atau tidak tahu diri.


" Yang ini kasih ke Jeno." Haikal langsung berlalu dengan membawa segelas besar susu dari Zahra.


" Perlu bantuan?" Romli memasuki dapur dengan sekantong plastik. 


" Tentu." Jawab Sisilia.


" Kak, ini " Romli mengangsur kantong tersebut.


" Ini apa?"


" Burger. Kemarin aku dengar kakak ingin makan burger, aku hari ini dapat rezeki dari Bara."

__ADS_1


" Gak usah padahal, tabung aja uangnya. Bukan berarti aku nolak, tapi kamu pasti lebih membutuhkannya."


" Masalah jajan mah tenang. Untuk tiga hari ke depan aman. Aku pengen banget melakukan sesuatu buat kakak sebagai ucapan makasih udah bersedia nampung aku yang bukan siapa-siapa." Romli menyeringai hambar dengan mata yang mengkristal air mata.


Zahra tersenyum terenyuh." Makasih, tapi untuk lain kali kita jajan bareng ya, aku traktir kamu."


Romli mengangguk semangat seraya mengusap ujung matanya." Di dalamnya ada dua, buat Sisil satu."


" Makasih, kak." balas Sisilia senang.


 " Ini ada apa? Suasana sedikit melow begini." Ubay yang masih dengan stelan formal meski dasi sudah dilonggarkan, ia melangkah ke kulkas dan mengambil air dingin.


" Jangan dibiasakan minum air es saat capek." Zahra merebut botol air itu dan menggantinya dengan segelas air mineral hangat.


" Baru balik, Bay. Lo kelihatan sibuk banget sampe gak pernah terlihat di kampus." Ucap Romli.


" Ck, si Bara sumpah ngerjain banget. Kak, tolong bilang ke petinggi RaHasiYa khususnya Mumuy. Kalau mau mengambil alih perusahaan orang ya, siapkan timnya gitu lho buat ngurus ini mah Mumuy yang ngambil yang sibuk orang lain. Ini efeknya aku hampir gak pulang-pulang." adu Ubay seperti biasa, Zahra hanya mendengarkan.


" Kalau Lo sibuk mulu, gimana dengan kuliah Lo?"


" Heh Lo pikir gue masih butuh ijazah hanya untuk mencari pekerjaan? Hingga buru-buru nyelesainnya."


" Hm, benar juga ya. Enak ya gak usah pusing mikirin cari kerja."


" Lo kenapa? Masih jadi tim pengejar ijazah ya?" Gurau Ubay.


Romli menghela nafas berat " Hmm, apalagi dengan jurusan gue gini, kayaknya sulit nyari kerja."


" Kamu mengambil apa?" Tanya Zahra.


" Bahasa Indonesia."


" Wow, seriusan?" 


" Iya."


" Mau jadi asisten saya gak? Saya lagi bikin jurnal cuma gak punya waktu buat merangkai kata." Ujar Zahra.


" Boleh." Sambut Romli bersemangat. Dia pikir inilah waktunya dia balas budi.


" Aku juga, kak." Sahut Dimas ikut gabung


" Kapan Lo datang?" Tanya ubay kaget.


" Barusan sama Dewa disuruh juragan."


" Ya udah kalian berdua. Berapa bayarannya? Jangan mahal-mahal lho." kata Zahram


" Bayaran buat apa?" Tanya Romli tidak suka.


" Jasa kalian."


" Ya Allah kak, gak usah. Kita nolong kakak aja ini mah." sahut Dimas.


" Jangan, kalian mau ayah dan mama bangkit dari kuburan buat getok aku doang karena pamrih pada kalian. Ini pure bisnis."


" Tulis no rekening kamu." Zahra meletakkan ponselnya di atas pantry.


Romli dan Dimas saling lirik karena sungkan, mereka melirik Ubay meminta pendapat. Ubay yang kebetulan menatap mereka mengangguk pelan dengan gerakan mempersilahkan.


 Romli yang hendak mengetik urung karena kedatangan Zayin." Ada apa ini rame-rame di dapur tapi sepi."


Entahlah mengapa, Romli selalu merasa gugup dengan kehadiran sosok satu ini. Tubuhnya yang tegap tinggi, aura yang kuat dan cara bicara yang tegas mampu mengintimidasi dirinya yang kurus.


" Itu mereka bingung mau ngetik nomor rekening atau enggak, atas tawaran jadi sisten Kak Ala."


" Ooh, tulis aja.  Jangan ragu, Kakak kaya kok. Kak, aku susu strawberry." Seru Zayin.


" Tumben kamu pulang, tobat jadi bang Toyib." Sindir Zahra.


" Kakak juga tumben pulang sore. Sepi job." Sindir balik Zayin.


" Tapi mereka sungkan karena sudah banyak ditolong kakak." lanjut Ubay.


" Jangan menghinakan kebaikan seseorang dengan perasaan berhutang budi. Kalian mencantumkan harga pun bukan berarti kakak merendahkan manfaat ilmu kalian." 


" Oh, iya. Ini surat Abang. Jatuh di ruang tamu tiga hari yang lalu, gue mau nyerahin lupa mulu, sorry."Zayin memberi kertas tagihan uang kuliah dari administrasi kampus pada Romli.


Zahra dan Sisilia yang semula menaruh perhatian berbalik badan sibuk kembali dengan menyiapkan susu untuk para abang, sedangkan ubay dibantu Dimas membawa susu yang sudah siap saji.


Romli terkejut, ia segera menerima kertas yang diletakan di atas pantry. Saat membaca tagihan kuliahnya sudah dibayarkan ia menangis tergugu terkejut sekaligus haru. Romli menutup mukanya dengan dengan menundukkan tubuhnya antar malu dan senang. 


" Siapa yang bayarin? Lo?" Ucap Romli dengan suara tercekat.


Zayin mengedikan bahu." Jangan semakin merasa menyesal dan malu, kebetulan gue lagi ada rezeki lebih." Ucap Zayin santai.


" Huhu...hiks.... Huhuhu....tapi ini mahal."


" Bagi Lo, bagi gue mah enggak."


" Kenapa kalian begitu baik padaku? Dengan apa gue harus membalasnya? Sungguh gue berterima kasih banget sama Lo...hiks, Yin. Bilang gue harus ngapain? Gue akan melakukannya." Tawar Romli dengan raut memohon. 


" Ck, gak perlu gimana-gimana, udah jangan diperbesar." Balas Zayin sedikit tidak enak hati.


" Terima kasih."


" Hmm."


" Assalamualaikum." Salam dari Alfaska dimanfaatkan Sisilia dan Zahra untuk keluar dari dapur dengan membawa senapan susu dalam beberapa gelas, begitupun Zayin.


" Wa'alaykumsalam. Kok baru pulang?" Tanya Sisilia menyalami mereka satu persatu.


" Biasa bisnis." Jawab Daniel duduk di sofa panjang di samping Alfaska.


" Ayu udah pulang?" Tanya Mumtaz.


" Belum lihat, paling udah tidur." Jawab Zahra.


" Nu, mau ke mana?" Tanya Zahra saat Ibnu melewatinya setelah mencium tangan Zahra.


" Tidur, capek."


" Minum susu dulu." Tanpa protes Ibnu langsung menenggak habis susunya lalu naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.


" Bang," dewa dan Dimas masuk ke ruang tamu menghadap Mumtaz sambil menenteng laptop yang sudah menyala.


" Duduk sini." Mumtaz memindahkan ranselnya ke samping kaki sofa.


" Ada apa?" Tanya Daniel 


" Enggak tahu." Jawab Mumtaz.


" Bang, ada orang yang masuk ke sistem keamanan RaHasiYa." Ucap Dewa memperlihatkan jejak digital peretas seseorang.



Saat membuka pintu kamarnya Ibnu terkejut terpaku kala mendapati ada gadis yang tertidur di ranjangnya, gadis yang belakangan ini selalu menghindari dan cemberut padanya gadis yang baru dia rasakan pandangannya sangat penting baginya, gadis yang sangat ia rindukan kecentilannya. 



Ibnu menutup pintu lalu menguncinya ia masukan kuncinya kedalam saku celananya. Ia letakan ranselnya di atas meja belajarnya kemudian secara berjalan ke ranjang lalu duduk di sisi kasurnya menatap intens Ayunda yang sedang tertidur pulas.



Seiring melembut pandangannya ia merapihkan helaian rambut yang menutupi wajah Ayunda, membelainya selembut sutra kemudian ia kecup kening, kedua matanya, pipinya, terakhir kecup4n itu mendarat di bibir ranumnya.



" Kangen kamu banget." Bisiknya sembari mengelus pipi chubby itu hingga sang empu bergerak terganggu mencari posisi nyaman.



" Emmhmmh..." 


__ADS_1


Tangan Ayunda memegang tangan Ibnu yang mengelus pipinya membawanya ke dadanya. Bibir Ayunda terbuka sedikit, tidak tahan lagi melihat godaan di depannya Ibnu membungkuk menjatuhkan kecupan-kecuoan yang perlahan berubah menjadi sesap4n.



cium4n-cium4n itu berubah sedikit \*\*\*\*\*4\* yang makin lama makin mendesak. merasakn benda kenyal yang mengisap bib1rnya Ayunda membuka matanya yang langsung membulat karena kaget.



Merasakan bibir Ayunda menutup tegang Ibnu membuka matanya yang langsung bersirobok dengan mata bulat itu namun tidak menghentikan \*\*\*\*\*4nnya tersebut walau semenit kemudian Ibnu menjauhkan diri dari sang gadis.



" Aaaargmmh.."



Ibnu membekap mulut Ayunda." jangan teriak, didengar bang Mumuy dan bang Ayin auto ditendang kita."



Ayunda mengangguk cepat." kenapa Kakak pulang?" bisiknya. Ayunda merubah posisinya menjadi duduk, ia gugup karena tercyduk tidur di kamar Ibnu.



" Kenapa enggak, ini kamar aku." Ibnu masih menatap intens Ayunda yang menunduk karena malu.



Tangan mereka masih saling genggam, ibnu angkat dan ia kecup punggung tangan Ayunda dapat Ayunda rasakan kehangatannya. ia mengangkat wajahnya yang ternyata mendapati Ibnu sedang menatap dengan tatapan lembut



Jari jemari Ibnu mengusap sayang wajah Ayunda, mata mereka masih saling beradu." Sering ya tidur di sini?" Ibnu mencubit kecil pipi itu.



" Hah?"



" Kamu juga rindu aku ya?"



" Hah?" Ayunda masih nge-lag.



Gemas dengan keimutan karena kebingungan Ayunda kembali Ibnu mengecvp bibirnya sekilas.



" Aakh...Heks.." Ayunda menutup bibirnya yang kemudian dia cegukan.



" Hehehe\_\_\_suka?" Refleks Ayunda mengangguk namun kemudian menggeleng.



Ibnu tersenyum lebar." Aku juga suka, banget malah."



Ibnu beranjak menjauh dari kasur, ia membuka kemeja dan kaosnya sangat santai, Ayunda refleks menyembunyikan dirinya ke dalam selimut." hehe, bukan yang pertama kali juga kamu lihat badan aku."



" Ya gak dibuka di depan orangnya juga, kak." protes Ayunda dibalik selimut.



" Jangan mencoba kabur, kakak mandi dulu baru kita bicara." seru Ibnu sebelum masuk ke kamar mandi.



selang 15 menit Ibnu sudah duduk di atas kasur berhadapan dengan Ayunda yang setengah wajahnya disembunyikan di tumpuan tangan yang berlapis selimut.



" Yu, lihat kakak dengan benar." Ibnu menarik selimut.



" Ini udah benar." Ayunda menarik kembali selimut itu.



" Oke, dengerin kakak. aku minta maaf udah mengecewakan kamu, udah bikin kamu marah, tapi aku gak punya hati sama Mela."



" Boong, kakak nganter dia, tapi gak pernah mau nganter aku." lirih Ayunda.



" Karena aku takut kebablasan kalau keseringan sama kamu padahal kamu masih termasuk remaja sedangkan aku pria dewasa. Aku bingung dengan perasaanku



" Di satu sisi aku mau sama kamu, di sisi lain aku takut menodai kamu yang masih memiliki kisah hidup yang panjang. aku gak mau merusak kamu tapi pengabaian kamu ke aku, itu nyakitin perasaan aku banget, Dek." terang Ibnu sendu.



" Menodai?" Ayunda bingung akan maksud ucapan Ibnu.



" Iya, menodai dengan ini." Ibnu memegang tengkuk dan langsung menc1vm Ayunda dan melvm4tnya dalam namun lembut tanpa memberi Ayunda kesempatan untuk menolak.



" Bang Ibnu kemana, sih?" tanya si kriting


" Mau ngapain?" tanya Daniel yang sibuk membantu adik tingkat mengerjakan tugas.


" Ya minta bantuanlah, bang."


Malam ini seperti malam biasa jika mereka ada di rumah, keberadaan mereka dimanfaatkan oleh adik tingkat maupun temannya untuk berdiskusi mata kuliah yang mengganggu otak mereka. terlebih Zahra.


Setiap Zahra pulang sore, maka mahasiswa kedokteran dari berbagai kampus akan banyak yang kumpul meminta diajari dadakan, alasannya setiap kali Zahra pulang sore, maka dapat dipastikan akan ada kuliah umum dadakan di ruang tengah.


Ditengah kesibukan itu tiba-tiba datang Berto dengan raut panik.


Tok..tok...


" Malam semua. diaman kak Zahra?" Berto menerobos tanpa permisi masuk ke dalam rumah. begitu ia melihat Zahra langsung ia menariknya terlihat kasar padahal Berto tidka sengaja ia hanya ingin segera membawa Zahra.


" Hei, ada apa ini?" Mumtaz mencekal pergelangan tangan Berto kuat-kuat.


" Sorry, gue ahrus bawa kak Zahra ke rumah sakit Atma Madina, pak Ergi sedanh sekarat beliau diracun."


Mereka yang mendengar terkejut," dimana pak Ergi sekarang?" tanya Zahra sembari berlari menuju kamarnya.


" dalam perjalanan ke rumah sakit setelah mendapat pertolongan pertama."


" Kal, panggil Ibnu suruh bawa perlengkapan komplit. No, jaga rumah." titah Mumtaz yang menaiki anak tangga yang diikuti para sahabatnya menuju kamar masing-masing.


Haikal langsung mengerjakan perintah, Jeno langsung mengumpulkan anak RaHasiYa, sedangkan Ragad yang sudah tidur dibangunkan untuk menyiapkan mobil.


Berto sendiri masih duduk gugup dengan keringat dingin yang disuguhi air mineral hangat.


" Tenanglah, fokuskan diri. gugup tidak akan menyelesaikan masalah." Ucap Rizal menepuk punggung Berto.


" Bagaimana jika pak Ergi tidak selamat? bagaimana jika usaha kami sia-sia?" gumam Berto dengan tatapan kosong.

__ADS_1


" Maka rakyat yang akan turun, kami pastikan itu." ujar Yuda penuh tekad...


__ADS_2