Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
216. Kemarahan Ibnu.


__ADS_3

Ibnu memarkirkan motornya tepat di depan pintu utama mansion, melempar kunci kendaraanya pada petugas keamanan.


Rio dan Leo mengikuti dibelakangnya, keberadaan mereka hanya memastikan Ibnu tidak menyakiti dirinya sendiri.


Mereka langsung masuk, yang minta ditunjukan dimana tuan rumah berada. mereka melihat Ernest tengah menikmati hidangannya..


" Maaf, tuan. tapi tuan Ibnu memaksa..." kepala maid melapor takut-takut.


" Tidak mengapa, tinggalkan kami."


Ernest menjauhkan piringnya yang makanannya baru habis setengah.


" Duduklah."


Ibnu duduk di kursi yang ditunjuk Ernest, kursi samping sebelah kanannya, sementara Leo dan Rio berdiri di belakang kursinya. amat Amerika mengawasi seluruh penjuri ruangan mencari hal yang bisa membahayakan Ibnu." Maaf atas kelancangan saya. Tapi saya kesini ingin bertemu dengan Maura."


Ernest menelisik mimik raut Ibnu yang biasanya terlihat santai dan ramah, kini terlihat tegang, kemudian memperhatikan kewaspadaan dari kedua temannya yang terkesan seperti pengawal.


Dia bisa melihat pakaian serba hitam Ibnu terdapat beberapa noda darah, dan sedikit ada di wajah dan rambutnya yang dia pastikan noda itu didapat belum lama.


" Saya tidak menyangka dia begitu populer, saya pikir anda harus mengantri karena Bara sedang menemuinya."


" Tidak perlu, kami bisa menemuinya bersamaan jika anda tidak keberatan."


" Kalau saya keberatan? Mengingat dia budak saya."


" Saya akan memaksa, dan anda tidak akan pernah bisa menikmati dirinya lagi. Anda yang rugi."


" Kali begitu untuk apa anda permisi pada saya, pergilah. Tapi jangan sentuh dia, maksud saya secara s3xsual. Dia milik saya."


" Saya tidak janji, tapi saya tidak pernah tertarik pada jalank sesexy apapun dia. Permisi."


Tanpa buang waktu ia beranjak dipandu oleh kepala maid menuju kamar Maura berada. Selama perjalanan itu ingatannya melanglang buana pada tulisan di file.


" Karena jeritan kami Terdengar oleh mereka, kami berusaha kabur dari sana namun gagal. Dua penjaganya yang kini ku tahu mereka bernama Andre yang saat itu masih polisi baru, kini menjadi wakil ka-polr1. Dan satu lagi Mulyadi yang saat itu baru lulusan S1 ilmu hukum.


Tubuh kecil kami memudahkan mereka menangkap kami, kami diseret ke dalam rumah dan dilem-par hingga mengadu dengan ujung sepatu mahal sang bule.


Pria berseragam coklat yang akhirnya ku tahu bernama Toni yang saat itu menjabat sebagai kapo-lr1 menyeringai lebar jahat menatap kami, ia menghentikan gerakannya namun tidak memisahkan dirinya dari ibu yang  sudah menutup wajahnya dengan kedua tangan lembutnya.


Bapak tidak kalah terkejut dengan ibu saat melihat kami yang ditarik paksa menggunakan leher seragam kami.


kami dipaksa berlutut dneg kedua tangan di belakang kepala.


" Tuan, saya mohon bebaskan mereka. Mereka hanya anak kecil yang tidak tahu apapun." mohon bapak


" Tapi mereka mengintip saya tuan." sahut Toni.


Sambil menatap culas kami, dia menjilat tangannya yang lalu diusapkan pada benda diantara kedua ************ ibu yang mana miliknya masih di dalamnya. Kupalingkan wajah Ibnu yang sudah memucat sementara diriku sendiri mual.


Toni  memaksa kami untuk mendekat, namun aku tolak. Tidak suka kami membantah, pengusaha tampan menendang punggung kami hingga tersungkur.


Bule satunya yang akhirnya ku ketahui bernama Eric Gonzalez menarik paksa kami mendekati Toni, ia memegang rahang Ibnu, sem nyata Bram memegang wajahku agar wajah kami tetap terangkat.


Toni mencabut miliknya dari milik ibu, lalu sengaja memainkan alat vi-talnya yang masih tegak dihadapan kami lalu kembali memasukkannya ke...milik ibu.


Aku yang sudah mual memuntahkan isi perutku ke arah dirinya. Semua isi perutku mengenai dirinya. Ia murka dan langsung berdiri menjauh dari ibu dengan celana melo-rot sampai betis.


Karena murka, Toni berjalan ke arah ku sambil mengocok-kocok miliknya, sementara bapak langsung bergerak menutup tubuh ibu dengan kain dress, karena kain itu telah robek bapak melepas kemejanya lalu menutup tubuh ibu.


Toni yang berdiri dengan batang yang masih menegak menarikku untuk berlutut dia hadapannya.


Saat ia mengarahkan miliknya padaku, Ibnu menjerit " jangan..." walau tidak mempan.


Batang berurat itu terus mendekat padaku kedua tangannya memaksa membuka mulutku yang sengaja ku katup erat. dibantu Bram dia memasukan telunjuknya yang bau ke dalam mulutku yang langsung ku gigit kuat-kuat. Aku tidak melepaskan telunjuk yang terjebak diantara dua deretan gigi ku meski dia sudah berteriak dan meminta dilepaskan.


Dibantu Bram dia menam-parku, memv-kulku namun aku bertahan tetap mengigit jarinya.


Bram lalu menarik rambutku, semakin kuat gigitanku, saat kepalaku tertarik ke belakang, ku rem4s dua buah biji yang bergelantungan tepat di mataku.


Ku tarik, dan ku remas kuat seorang menjauhnya kepalaku. Aku membabi buta menekankan tangan ku di dua biji itu.


Toni terus memukul kepalaku yang aku hiraukan, meski pukulan itu sangat menyakitkan.


Karena aku yang tidak kunjung melepaskan gigitan dan tarikan ku di diri Toni, bule yang memegang pistol dan mengarahkannya pa di kau yang akhirnya melepaskan tembakan, aku tidak merasakan apapun dari tembakan itu, tapi aku melihat pinggang ibu yang terjatuh dibelakang ku mengucurkan darah.


ibu menerima peluru itu demi aku, ibu bangun dari pembaringannya demi, aku yang menyebabkan ibu meninggal. aku yang menyebabkan bapak menangisi menjerit menangisi ibu. *aku yang salah!!!


kesal karena tembakan itu melesat sii bule kembali melayangkan tem-bak4n, kali ini bapak yang terkena*.


Tembakan itu meleset mengenai ibu karena bapak yang melemparkan dirinya menghalau pistol itu agar tidak mengenaiku.


Bule tersebut marah, ia kini menodongkan pistol itu pada bapak yang terluka di lengannya. Aku yang melihat dia menarik pelatuknya, ku tarik kuat dua biji itu yang semakin membuat Toni berteriak keras karena sakit.


Saat tembakan itu dilepaskan tubuh mungilku meloncat menghambur menubruk bapak yang diposisi duduk meringis memegangi tangannya hingga peluru itu menebus punggungku.


Tubuh kecilku sakit, bapak yang terjengkang dibawah ku memelukku, kedua tangannya mengelilingi tubuhku sambil menangis. Tangisannya semakin kencang saat ia merasakan darah di punggungku.


Masih kuingat tatapan bapak yang meredup dengan airmata yang mengalir saat beliau melihat darah yang memenuhi telapak tangannya.


Bapak marah, ia menaruh ku ke atas lantai, ia bangun dari lantai dan berlari hendak menghajar pria bule tersebut, namun hujanan peluru keburu menembus tubuh bagian depannya termasuk da-danya. Bapak terjatuh di depan mata kami.


Ibu sambil memegangi pinggang berteriak, suasana semakin kacau saat sang bule semakin menggila dengan melancarkan tembakan ke sembarang arah, sambil menahan sakit aku merayap melindungi Ibnu yang masih terbengong syok, ku jatuhkan tubuh Ibnu tiarap menggunakan tubuhku untuk melindunginya. 


Bisa kulihat Beberapa peluru mengenai ibu beberapa mengenai bapak meski bapak sudah tidak bergerak, tidak bisa ku lupa pengusaha yang ku ketahui namanya Bram Brotosedjo menertawai hujanan pe-luru yang dihabiskan untuk menembaki bapak.


Setelah dia puas, sebelum bule itu pergi dari rumah itu, bule tersebut memanggil Andre dan Mulyadi, dia memerintahkan keduanya untuk membakar rumah bapak.


Keduanya membawa dua dirjen berisi minyak, lantas mereka menyiraminya ke seluruh penjuru rumah, sementara sayup-sayup ditengah antara sadar dan tidak sadar ku dengar teriakan Ibnu yang menepuk-nepuk pipik agr aku tetap sadar.


Suara bergetar antara ketakutan dan kepanikan membuat hatiku sakit, dan kesal karena tidak berdaya.


Mataku mengerjap- kerjap mecoba mengahalau rasa kantukku tapi semakin lama mataku semakin berat.


Tiba-tiba ku dengar jeritan murka Ibnu pada dua orang yang tengah tertawa.


Ibnu berdiri, yang ternyata dia pergi ke dapur yang ku tahu akhirnya untuk mengambil pisau. Saat tubuh kecilnya berlari melawan dua orang besar itu, saat Ibnu hendak menghunuskan pisaunya Andre langsung mencekik lalu melemparnya ke dinding.


Ibnu jatuh tergeletak, matanya membara penuh kemarahan. Ia bangun dengan air mata mengiringi tatapan tajamnya, ia berteriak kencang lalu kemudian bangkit lagi Ibnu mengamuk melempari mereka dengan benda yang disentuh tanganya lantas berlari mencoba menendang namun gagal, Andre berhasil melumpuhkannya dalam satu kali gerakan, dalam kunjungan Andre, dia mengarahkan mengarahkan pandangan Ibnu pada Mulyadi yang sedang mengga-gahi ibu meski sudah tidak bernyawa sambil mengerang menikmati perbuatannya dan tertawa puas sesudahnya.


Aku kembali memuntahkan isi perutku karena jijik melihat tingkah mereka, sementara Ibnu sudah menangis tersedu-sedu.


Setelah Mulyadi, Andre menyuruh Mulyadi untuk memaksa Ibnu menyaksikan perbuatan bejatnya. Di depan Ibnu, Andre memperlihatkan batang beruratnya, mengelusnya lalu memasukan alat vit4lnya ke mulut ibu yang dipaksa terbuka dengan kedua tangannya.


Ibnu menangis meraung, suara sangau rendahnya menunjukan ia sudah tidak mampu lagi bertahan.


Entah kekuatan dari mana, aku bangun seraya meringis karena sakit di punggung yang ku rasakan. Ku ambil pistol yang tergerak di lantai, lalu ku ku lem-par sekuat sisa tenagaku, pistol itu tepat mengenai pelipisnya Andre.


Sementara Mulyadi, sambil memegangi Ibnu dia mematik korek api gasnya, berniat hanya untuk menakut-nakuti kami, namun Ibnu menepis korek itu yang jatuh mengenai dirjen yang berlumur minyak.


Seketika api berkobar, dan dengan cepat merambat ke memenuhi ruang tamu.


Andre yang melihat rumah yang mulai terbakar menyudahi kegiatan bejatnya, ia mengeluarkan miliknya dari mulut ibu, dan tergesa-gesa mengancingkan celananya lalu mereka berdua berlari keluar dari rumah meninggalkan kami.

__ADS_1


Aku yang kelelahan pasrah terbakar dalam api. Dengan suara lemah aku meminta Ibnu untuk lari. Alih-alih mengikuti perintah ku dia malah melangkah mendekati ku dan kemudian menggendongku di punggungnya.


Beberapa kali dia jatuh karena tubuhku lebih berat dan besar darinya. Di sisi lain api mulai mengepung rumah.


Menyerah tidak mampu lagi menggendong, di ambang pintu Ibnu memilih menarik kakiku, jangan dikata betapa sakitnya punggung ku berbenturan dengan lantai. 


Tepat di d pan pekarangan rumah, sudah banyak orang yang mencoba memadamkan api, saat melihat kami berdua ayah dan mama yang ternyata ada di lokasi dibantu warga bergegas menghampiri kami, ibnu dengan suara gugup menjelaskan kalau aku tertembak di punggungnya.


Saat mataku melemah, ku lihat raut ayah yang mencoba menyembunyikan rasa takutnya, dari kejauhan terdengar teriakan Zayin yang meneriakkan namaku, tidak lama mataku tertutup meninggalkan riuhan para tetangga yang berjibaku dengan api yang sudah melahap rumah.


" Tuan, apakah anda baik-baik saja?" Tanya kepal maid saat wajah Ibnu memucat.


 Suara itu membangunkan ibu dari ingatan isi file itu." Saya baik, dan tunjukan dimana kamarnya?" Jawab Ibnu memasang wajah ramahnya.


" Ada di ujung lorong ini tuan."


" Kita lanjut."


Saat kepala pelayan itu berbalik ke depan, raut wajah Ibnu kembali berubah datar dengan senyum miring kali ini saat mengingat apa yang sudah dia lakukan pada dua bedeb4h itu.


Tatapannya berubah dingin saat pintu yang dituju terlihat.


" Yang ini, tuan."


" Buka."


" Di dalam masih ada tuan Atma Madina, tuan."


" Buka." Suara dingin itu sangat menakutkan.


" Ba..baik."


Perlahan karena ragu sang pelayan membuka pintu, kesal akan sikap lambat kepala pelayan, Ibnu mengambil alih pegangannya pada handle pintu.


BRAK....


" Nu," panggil Bara.


" Diamlah Bara, atau ku bunvh kau."


Bara dan para sahabatnya terhenyak mendengar ancaman itu, mereka memilih diam


******


Mumtaz melajukan motornya mengebut ditengah ramainya laju lalulintas, selama perjalanan ia berkomunikasi dengan Dewa agar anak buahnya mematikan seluruh sistem keamanan cctv rumah Ernest, menghapus video yang menunjukan keberadaan Ibnu.


Saat tiba di depan rumah Ernest dia langsung menekan klakson yang terkesan mendesak, Alfaska memilih turun dan mengeluarkan kartu identitasnya pada penjaga agar semua prosedur izin masuk tidak rumit.


Trang....


Pintu pagar dibuka, Alfaska menghela nafas berat saat dirinya ditinggal oleh Mumtaz.


Tidak lama Daniel datang, dengan motor sportnya.


" Mana mobil Lo?" Alfaska menaiki boncengan motor berwarna hitam-biru itu.


" Di gedung Pradapta. Gue menaik heli sampe ke lapangan terdekat. Ditinggal Lo."


" Hmm, teman Lo gak punya akhlak emang."


" Ipar Lo itu."


" Sayangnya iya."




"Maaf paman, basa-basinya nanti saja, Ibnu dimana?" Tanya Mumtaz dengan raut khawatir.



Refleks Ernest menunjuk ke arah lift." Antarkan tuan Mumtaz ke sana." Titah Ernest. Pada pelayannya.



Tidak lama Mumtaz pergi, datanglah Alfaska dan Daniel dengan mimik yang sama yang ditampilkan Mumtaz.



" Kalian pasti mencari tuan Ibnu?" Sarkas Ernest sebelum mereka membuka mulut.



" Iya, paman."



" Antarkan." Titahnya pada kepala pelayan yang baru tiba dari dapur.



" Kalau kalian mencari saya, say menunggu di sini."



" Siapkan juga Chocolat muffin-nya seperti biasa ya paman." Pinta Alfaska sambil berlari ke arah lift.



" Anak itu..masih saja tidak sopan. kalau bukan tuan muda Atma Madina dan tidak punya pengaruh besar ku lempar dia ke comberan." Gerutu Ernest.



" I..ini a..ada..apa?"


Mendengar suara Maura yang notabene putri kandung Brotosedjo, Ibnu langsung murka.


Plak...


Tanpa tedeng Alung Ibnu mena-mparnya kuat mengenai pipinya hingga Maura sampai terjungkal.


Ibnu menaiki ranjang, mendekati Maura lalu mence-k1knya.


" Nu,..." Ibnu menoleh pada Bara yang memanggilnya.


" Diam Bara. Kalau kau tidak bisa tegas padanya biar gue yang bertindak."


Cekalan dilehernya semakin mengerat, Maura gelagapan kekurangan oksigen. Satu tangan yang lain menelpon Dimas.


" Buat sambungan Brotosedjo dengan Maura." Ucap Ibnu.


" Siap, bos." Jawab Dimas diseberang telpon.

__ADS_1


Tidak lama tabs yang dalam ransel Rio berbunyi


Rio yang berdiri di belakangnya, melangkah mendekatinya.


" Nu,..." Rio memperlihatkan video Brotosedjo yang duduk di lantai yang terlihat lembab dan pengap.


" Pasangkan tepat di depan anaknya."


Rio meminta bantuan Haikal menggeser nakas ke tengah sisi ranjang, menempatkan tabs bersandar ke vas bunga berukuran kecil.


Tampang Bram sudah tidak karuan seperti gembel dengan kedua kaki dan tangan diperban seadanya.


Ibnu menarik cekikannya, mendekatkan Maura agar bisa melihat ayahnya.


" PAPA..." teriak Maura tercekat. Maura menangis tidak tega melihat kondisi ayahnya jauh dari kata baik.


Brotosedjo dipaksa penjaganya untuk melihat anaknya dengan penampilan khas wanita bayaran.


" Ma.."


Brak...


Ucapan Brotosedjo teredam pintu yang dibuka. Para sahabat menghela nafas lega pawang ibnu telah datang.


Bara mendekati Mumtaz dengan raut khawatir." Muy, Lo harus larang Ibnu menyakiti Maura."


Mumtaz menatap Bara sinis." Lo masih mengkhawatirkan pel4cvr itu."


" ****.., Muy. Ini bukan saatnya Lo menghakimi gue, bukan dia yang gue cemaskan tapi Ibnu. Kita sudah sejauh ini mencegah ibnu mengotori tangannya."


" Benarkah hanya itu alasannya?" Mumtaz sangsi.


Bara mengusak rambutnya frustasi Mumtaz tidak percaya padanya, ini memang salahnya yang ceroboh, tapi Mumtaz pasti tahu dia tidak akan pernah mengkhianati persahabatan mereka.


" Ba..Ra..to..Lo..ng..a..ku..." Maura merintih.


" Noh, simpenan Lo minta diselamatin." Tambah Alfaska memprovokasi.


Bara mendelik kesal pada sepupunya itu, kalau ngomong julid lancar benar.


" Demi Tuhan, Muy. Gue gak mungkin mendahulukan cewek per3k itu ketimbang Ini, ini murni gue mencemaskan dia."


" Gak perlu, dia sudah ada kita." Ujar Daniel tak kalah sengit.


Bara melepas lalu melempar jasnya ke lantai supaya kekesalannya mered, ternyata tidak, ia mengendorkan dasinya." Kalian kekanakan, iya gue salah. Gue minta maaf. Puas kalian." Sentak Bara.


" B aja tuh." Jawab Alfaska mengangkat bahunya masa bodo tidak ambil pusing.


" Bara...to..long lah putriku. Bukankah kau..sangat mencintainya. Saya..merestui kalian." Ucap Bram dari layar tabs.


Bara berdiri duduk di pinggiran ranjang. Menatap sengit Brotosedjo." Heh. Kau terlalu percaya diri, Bram. Gue bahkan muak sama anak Lo. Jijik gue sama kalian."


Maura terbeliak tidak percaya Bara mampu menghinanya sedemikan rupa." Ba..Ra...bagai..mana..bisa...kamu menghina..ku..."


Maura mencoba menggapai punggung Bara yang langsung dijauhkan Ibnu dengan menarik cekikannya ke belakang hingga maura tercepit sesak.


" Aakh....i..Ibnu...." Suaranya tenggelam seiring dinginnya tatapan Ibnu.


" Minggirlah Bara, gue bahkan tidak peduli tentang drama percintaan Lo. Cassandra menjadi lebih baik tanpa Lo. Bod0h." marah Ibnu.


Bara menurunkan kdua tangannya lemah, ia menyerah, pasrah. Maura menggeleng cepat Bara berkenan menyelamatkannya.


Ibnu berdiri membawa serta Maura yang memegangi tangan Ibnu agar melepaskan ce-kikanya."


" Muy, jangan diam saja. Kita di sini bukan untuk menonton dia." bujuk Jeno. Orang yang ucapannya bisa dipertimbangkan oleh Mumtaz diluar para sahabatnya.


" Muy,...." Ibnu menatap sendu Mumtaz yang menatapnya intens.


" Nu, biarkan gue yang melakukannya, ini tanggungjawab gue."


Mata Ibnu memejam menahan bendungan air mata yang hendak lepas, namun tidak berhasil. airmatanya tetap mengalir di pipinya.


Mumtaz dapat melihat luka itu di mata sahabatnya, Mumtaz dapat melihat rasa sakit itu di matanya, dan Mumtaz sangat merasakan apa yang dirasakan Ibnu.


" izinkan gue berperan sebagai anak lelaki sulung bapak dan ibu. saat ingatan itu kembali, gue hampir mengakhiri hidup gue.


" Hanya sekali ini saja, biarkan gue membalas perbuatan mereka. biarkan gue menjadi bangga bapak dan ibu di sana." ucap Ibnu tercekat.


" Muy,...pleassseee..." Ibnu menangis mohon.


Mumtaz mengambil secarik kertas dari ranselnya, " Nu, gue kakak Lo. gak peduli darah siapa yang mengalir di tubuh kita gue kakak Lo, tugas gue melindungi Lo." Mumtaz menyodorkan kertas berupa kartu keluarga itu tertera nama Ibnu Abdillah, dan Khadafi selaku anak adopsi. pada Ibnu yang menatapnya kaget.


" Sejauh itu?" kejutnya.


" Sejauh itu, itu atas inisiatif mama. mama khawatir mereka mencari Lo, karena itu ayah dan mama mengadopsi kalian. atas bantuan teman bapak semua jejak riwayat keluarga kalian diendapkan termasuk kategori VVIP yang aman identitas kalian tidak bisa diketahui umum." terang Ibnu.


" Nu, biar gue saja ya?"


Ibnu menggeleng," kita keluarga, Lo dan Ayin sudah melakukan banyak hal, sekarang waktunya gue."


" No, sebentar lagi waktunya Lo, yaitu menghabisi nyawa orang membuat nyawa bapak dan ibu melayang."


Ibnu yang tengah stres, dan marah. muak terus dibantah, dengan entengnya dia menghempaskan Maura ke dinding mewah kamar, kepalanya terantuk hiasan dinding yang terbuat dari timah berupa patung kepala harimau.


" Aaarrkh.." pekik Maura, refleks bara bergerak menghampirinya, baru setengah ruangan Ibnu yang sedang marah mengha-jar Bara.


mendapat serangan mendadak bara Riska sempat melawan beberapa tonj-okan dan pvkvlan mengenai perut dan wajahnya.


Kemampuan bela diri Ibnu yang tidak jauh dari Mumtaz memudah dia mengatasi Bara, terakhir Ibnu menarik berdiri bara, lalu menghempaskannya ke tubuh Maura.


Ibnu meludahinya keduanya, mimik murkanya dia tunjukan seluruhnya." ma-ti Lo, Bar. ma-ti sama dia." rasa kecewa menyelimuti Ibnu.


Bara yang melihat kekecewaan itu menggeleng, dia menjauhkan diri dari Maura yang masih berupaya meraihnya.


" Nu, gue minta maaf, gue gak maksud nolong dia. gue cuma refleks aja."


" refleks itu cerminan kata hati bukan sih." celetuk Alfaska tidak memperbaiki suasana yang tegang.


Para sahabat hanya bisa menggeleng kan sikap Alfaska yang selalu menyiram bensin ditengah kobaran api.


" Kalau begitu Lo Pvkvli dia sampai babak belur. seorang Bara Atma Madina yang terkenal tidak punya hati apa mampu melakukannya pada mantannya yang mengkhianati kepercayaannya?" tantang Ibnu.


" Muy..." panggil Leo, berharap Mumtaz bertindak meredamkan amarah sahabat kentalnya itu.


" Lakukanlah, apapun yang menurut kalian benar dan nyaman. tapi setelah itu lepaskan dia. untuk kedepannya Maura menjadi urusan gue dibawah kekuasaan Randy."


" Dan untuk Lo Bara, kalau Lo masih berminat padanya Lao harus bayar mahal ke gue." tekan Mumtaz menatap Bara sinis.


Sontak semuanya terkejut akan keputusan Mumtaz, mereka tidak menyangka Mumtaz akan membiarkan Ibnu melakukan kekerasan...


Sedangkan Ibnu tersenyum miring, tertawa devil seraya menatap Maura yang mengkerut di pojokan lemari pajangan.


Bram di sebrang sana, memohon Bara untuk menyelamatkan putrinya, meminta Mumtaz untuk mengampuni Maura.....

__ADS_1


Ibnu melangkah mendekati Maura, saat melewati Bara m, tangannya dicekal Bara...


__ADS_2