
Setelah memaksa dan mengancam akhirnnya Hito menyerah, dia mengijinkan Zahra untuk pulang. Dibantu para adik dan sahabatnya semua barang Zahra dikemas dengan cepat.
"Nu, jangan lupa mampir ke toko swalayan buat beli bahan dapur sama persediaan keperluan buat di rumah." Seru Zahra memberesi beberapa perlengkapan terakhir.
" Kalian pulang duluan, kakak mau visit pasien dulu." Zahra dengan santai meninggalkan ruangan.
" Berasa jadi ART enggak sih." Gumam Radit.
" Sudah biasa." Timpal Raja.
Ceklek...
Tiba-tiba Kepala Zahra nongol dibalik pintu, membuat para pemuda itu terjengkit dan gugup.
" Aku tahu kalian bakal ngedumel, supaya kalian malu aku balas dengan mentraktir kalian yang sudah baik sama aku. Nu, beli bahan-bahan barbequean."
" Horreee... Kak Ala yang terbaik." Sorak Raja yang mendapat dengkusan dari Zahra.
" Yuuhhuuu...awas-awas menantu konglomerat mau lewat bawa makanan muaHAall buat kalian yang masih nepong di sini." Ucap Tia sambil berjalan layaknya peragawati dengan menenteng dua papperbag berisi makanan dari restoran mewah.
Zahra dari ruang tengah hanya mengamati tingkah adiknya yang mulai berubah semakin menjadi menyebalkan sejak berdamai dengan mertuanya.
Di satu sisi dia senang Tia sudah bahagia, di satu sisi lain dia cemas adiknya kena sindrom OKB.
" Kakak, kak...Tia bawa mamam, jadi gak usah masak." Tia meletakan bawaannya di atas meja makan.
" Gak perlu bawa juga padahal, kak Edel udah masakin makanan buat kakak."
" Ini dari restauran mahal, aku yakin kakak gak bakal sanggup beli. Jadi mumpung mertua aku yang tajir itu traktir, terima saja. Yap! Nyonya muda ini mau ke kamar dulu mau bersih-bersih lengket badan aku kena sinar matahari." Ucap Tia centil melenggang pergi ke kamarnya.
" Dia kenapa? Obat cacingnya udah habis? Apa Atma Madina gak sanggup beli obat amnesia?" Kesal Adgar.
" Dia mah rabies." Tukas Zahra ngasal yang disambut tawa oleh Raja, Adgar, dan Juan yang bertos tangan.
\*\*\*\*
Bandara Soekarno-Hatta
Seorang wanita muda berpakaian sexy nan terbuka mengangkat kertas bertuliskan Sivia Gonzalez mengundang decak kagum pengunjung laki-laki bandara akan kemolekan tubuhnya.
Sivia menghampiri wanita tersebut," siap kamu?"
" Ikut gue!" Seru wanita tersebut sombong, Sivia bergeming dengan mengangkat alisnya heran.
Wanita tersebut berbalik badan karena merasa tidak ada yang mengikutinya, dan kesal karena memang Sivia masih berdiri ditempat dimana gadis dia menyapanya.
Wanita itu lantas kembali menghampiri Sivia," ikut gue atau gue sebar Sivia Gonzalez adalah Silvia Hermawan mantan *sweet heart* Indonesia yang berubah menjadi \*\*\*\*\*\*." Desis wanita tersebut.
Sivia menegang, rahangnya mengeras, namun dengan cepat dinormalkan.
Dua wanita duduk berhadapan di salah satu cafe di bandara dengan ekspresi saling tidak suka.
" Gila, enggak sudi gue. Lo pikir gue mau ngekori si nenek tua itu? Kalau bukan papa ngancem gue, gue juga ogah apalagi harus berurusan pidana kayak gini."
" Lo gak punya pilihan selain nurut apa kata gue kalau Lo gak mau identitas Lo terbongkar di masyarakat."
" Bongkar aja sana dari pada gue berurusan dengan Hartadraja." Tolak keras Sivia.
Cukup lima tahun lalu dia berulah mengakibatkan imejnya hancur.
" Lagian Lo punya dendam apa sih sampe segitunya?"
" Bukan urusan Lo."
" Ya udah minggir, siapa Lo nyuruh-nyuruh gue." Sivia beranjak keluar cafe.
Kesal karena gagal membujuk Sivia dengan ancaman penyebaran skandalnya lima tahun lalu, maka dia akan menggunakan ancaman yang lain.
" Menurut Lo bagaimana reaksi bokap lo kalau gue kasih sebenarnya Lo masih sering bertemu dengan Herry Sanjaya dibelakangnya?" Ucapnya dengan menaik turunkan alisnya culas.
Langkah Sivia terhenti, dia menatap benci wanita itu, "apapun kebencian Lo pada Hartadraja jangan pernah libatkan gue, dan gue kasih nasihat gratis buat Lo simpan semua niat jahat Lo kepada mereka, karena itu tidak akan sebanding dengan penderitaannya."
" Thanks atas nasihatnya, tapi gue gak butuh."
" Kalau begitu Lo aja sendiri yang lakuin, Lo bukan pengecut yang bersikap sok berani kan?" Sindirnya.
Wanita itu mengepalkan tangan kesal," gue gak punya akses dekat dengan mereka atau..." tiba-tiba wajah wanita itu sumringah dengan idenya yang baru, "gw punya, melalui Lo."
Sivia sangat tidak suka wajah culas wanita di depannya ini.
" Lo kenalin gue, atau gue bikin hidup Herry tercinta Lo hancur."
" Heh, Lo terlalu tinggi memandang diri Lo."
" Terserah, gue memang bukan siapa-siapa, tapi koneksi gue jelas gak bisa dibantah. Kekuasaan mereka dibawah kendali \*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\* gue, Lo tahu kan apa maksud gue?"
Meski raut wajahnya normal, tapi dalam hati Sivia, dia mengutuk wanita ini.
" Baiklah, bersiaplah hari Sabtu ini."
" Gitu dong, *good girl*. Sok jual mahal." Cemoohnya.
" *\*\*\*\*\**."
" *Whatever, I am*." Percaya dirinya.
" Gue peringatin Hartadraja sekarang jauh lebih menakutkan daripada lima tahun lalu." Sivia pergi meninggalkan wanita tersebut.
\*\*\*\*
" Siang Lia." Ibnu memasuki ruang inap Sisilia.
" Siang, tumben kak Ibnu rajin nungguin aku."
" Hmm. Ini apa?" Tunjuknya pada kotak di atas meja .
" Gak tahu, tadi ada paket buat aku, tapi aku malas bukanya."
Ibnu menatap curiga paket tersebut," boleh gue buka?"
" Buka aja, kalau barangnya bagus kasih ke aku."
"Hmm." Ibnu membuka paket, matanya terbelalak dengan isi paket tersebut. Berupa boneka perempuan yang sudah dicoreng dengan cat merah menyerupai lumuran darah dengan pisau tertusuk di dada dan terselip selembar notes kecil yang bertuliskan" ***suatu hari pisau itu ada di dada Lo***."
Ibnu lantas segera menutup rapat kembali kotak tersebut, dan membawanya keluar.
" Mau dibawa kemana? Isinya apa?"
" Buang, jelek." Ibnu meninggalkan ruang inap, Sisilia melongo.
\*\*\*\*
Dalam waktu bersamaan ternyata empat sahabat itu mendapatkan paket dengan tiga isi yang sama, hanya isi untuk Cassandra yang berbeda.
" AAAAA..." Cassandra menjerit ketakutan dengan tangis histeris.
" MAMA..." Julia langsung mendatangi, dan terkejut mendapati putrinya terduduk meringkuk di pojok ruang tengah sambil menangis.
" Cassy, ada apa?" Tanya Julia panik, tanpa menjawab Cassandra menunjuk kotak yang dia letakan di atas meja.
Julia memeriksa kotak tersebut, dan terkejut sekaligus takut. Dengan panik ia bergegas menelpon suami dan para pria Hartadraja lainnya.
Selang 15 menit Damian membawa kotak tersebut ke ruang kerjanya dimana para pria Hartadraja berkumpul, sedangkan Cassandra sudah diamankan di kamar tidurnya ditemani para wanita Hartadraja.
Kotak berisi kucing bertuliskan namanya dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya masih berlumuran darah segar dengan pisau dilehernya disertai notes bertuliskan " ***tinggalkan Bara, atau the next Lo yang mati***." tergeletak di lantai samping meja ruang kerjanya.
Setelah melihat paket tersebut wajah Damian datar dan dingin. Memori otaknya sedang mengingat siapa musuh di masa lalunya yang berani mengusik keluarganya.
" Cctv sudah diperiksa, pengirimnya sedang dicari RaHasiYa" Ucap Adgar.
" Ternyata bukan hanya Cassy yang mendapat paket tapi mereka berempat, mereka hanya diberi boneka yang berlumuran cat merah seakan darah dengan pisau tertusuk di dada." Jelas Adgar.
Semua orang terkejut, bagaimana keadaan mereka?"
" Sisilia baik, karena bang Ibnu yang membuka paket tersebut, Dista awalnya kaget, namun berakhir marah-marah sampai sekarang masih ditemani bang Daniel, Tia juga sama dengan Ita. Tetapi bang Radit tetap memberi mereka konsuling trauma, bagaimanapun hal ini cukup mengejutkan dan menakutkan.
" Apa Cassy juga harus begitu?" Tanya kebuy Fatio yang mengkhawatirkan cicitnya.
" Kenapa tidak, untuk berjaga-jaga."
" Beritahu Radit, jika sudah selesai dengan Tia dan Ita diminta kesini." Seru Damian.
" Baik." Adgar langsung melakukan titah papanya.
__ADS_1
" Om...maaf lancang." Bara memasuki ruang kerja Damian dengan raut tegang, mata memerah menahan amarah sekaligus khawatir ketika dia mendengar kabar teroro yang diterima kekasihnya.
Matanya mengarah ke kotak yang terbuka, rahangnya mengetat keras kala melihat isinya.
" Dimana Cassy?"
" Di kamar tidurnya, ditemani para perempuan lainnya."
" Mau dibawa ke polisi atau bekerja sama dengan RaHasiYa?" Tawar Bara
" Apa RaHasiYa mampu?" Tanya Fatio.
" Apa selama ini ada tugas RaHasiYa yang gagal?" Tanya balik Bara.
" Kalau lapor polisi akan lama prosesnya dan mendapat perhatian publik." Lanjut Bara.
" RaHaSiYa bekerja dalam diam, namun pasti. Mereka juga akan langsung mengeksekusi pelaku." Timpal Adgar.
" RaHasiYa bekerja sama dengan Gaunzaga saja, lebih leluasa. Hito minta Gaunzaga mengirim pengawal untuk Cassy." Pinta Damian.
" Akbar akan meminta teman RaHasiYa menjaga Cassy di kampus." Seru Akbar tenang.
" Jeno sudah menugasi anak buahnya untuk menjaga mereka. RaHasiYa meminta ijin untuk memasang alat disekitaran Cassy." Ucap Adgar sambil memperlihatkan pesan dari Alfaska.
" Maksudnya?"
Adgar mengedikan bahu." Kurang paham."
" Bilang kita ijinkan."
20 menit kemudian Ibnu, Radit bersama tiga orang berpakaian kasual sudah sibuk memasang peralatan teknologi yang diperlukan untuk keamanan Cassandra dari alat radar, pelacak di mobil, perhiasan, kamera dari berbagai bentuk yang disimpan di tempat pribadi dari aksesoris, tas, make up, perhiasan, Mobil.
Semua klan Hartadraja berkumpul di ruang tamu melihat kinerja RaHasiYa " dan yang terakhir ini." Ucap Ibnu merujuk pada benda berbentuk bulat.
" Ini bom berdaya sangat rendah hanya untuk mengejutkan saja namun bisa melukai yang bisa berubah bentuk dan akan meledakan objek yang sedang melakukan kekerasan pada Cassy. Aku akan simpan ini di dalam bagasi mobil." Seru Ibnu meletak bom tersebut di bagian pojok kanan bagasi mobil.
" Bom ini tidak akan melukai Cassy kan?" Tanya Julia khawatir.
" Tidak Tante, bom sudah di atur dengan ketegangan tubuh Cassy, dia akan menempel di tubuh objek begitu Cassy menerima kekerasan dan akan meledak ketika objek menjauh tiga meter dari Cassy." Terang Ibnu.
" Apa kalian sudah mengidentifikasi pengirim paket tersebut?" Tanya Damian.
" Sedang dilacak, pelaku memakai masker dan sarung tangan hanya terlihat matanya saja, lewat mata tersebut kita sedang mencarinya."
" Jika sudah ditemukan, serahkan kepada saya." Pinta Damian dingin.
" Tentu, Om."
Terdengar suara orang turun dari tangga, semua pasang mata menatap mereka, Cassandra tanpa berkata apa-apa berlari merentangkan tangan ingin memeluk Ibnu.
" Kak Ibnu..." Ibnu menyambut Cassandra, tetapi deheman Bara membuat dia sedikit melambat geraknya.
" Ekhem... Jangan lama-lama." Bara memisahkan mereka dengan paksa dan membawa Cassandra ke dalam pelukannya.
" Apa sih, cuma peluk doang." Rungut Cassandra.
" Iya, sama aku aja peluknya, ngapain ke Ibnu."
" Nyaman aja dapat pelukan kak Ibnu."
" APA? Kamu sering peluk dia?" Mata Bara mendelik tajam Ibnu yang bersikap santai saja.
" Cuma beberapa kali, gak dengar tadi kak Radit bilang apa? Aku harus mendapat kenyamanan, dipeluk kak Ibnu itu nyaman."
Bara menghela nafas berat menahan emosinya," ya udah, tadi udah kan!?"
" Belum puas. Aku lagi ketakutan dan trauma loh ini , kak." Rayu-nya
" Ya berarti dipeluk aku, badan aku lebih kekar dan cocok buat peluk kamu, badan dia mah kurus."
Bara memeluk erat secara penuh badan Cassandra hingga tenggelam dipelukannya dengan mata mengantarkan ancaman pada Ibnu yang dibalas kekehan.
" Gue kan memang pelukable." ucap Ibnu memanasi.
Terdengar satu notifikasi pesan masuk ke ponsel Ibnu, setelah membacanya lewat mata Ibnu mengkode Bara untuk membawa pergi Cassandra yang langsung dilaksankan Bara dengan memanggul Cassandra ke pundaknya karena terus mendapat penolakan Cassandra.
" Pelaku telah teridentifikasi," ucap Ibnu.
" Maaf, Om. Ibnu harus ke RaHasiYa."
" Saya ikut." Ucap Damian.
" Kita semua ikut." Seru Eidelweis.
" Maaf, pria boleh. wanita tunggu saja. Biasanya ini akan memakan waktu lama.
" Pa, satu jari pelaku itu bawa untuk ku." Pinta Julia.
" Tentu, sayang. Aku pergi." Damian mencium kening Julia dalam.
" Kalian berkumpullah di sini, para pengawal sudah tersebar di rumah ini." Ujar Hito pada para wanita, ia beranjak pergi dengan yang lain.
Ketika para pria pergi ke gedung RaHasiYa, Bara masih terjebak dengan Cassandra yang masih enggan melepas Bara.
Kini mereka duduk di gazebo di taman samping, Bara mendudukan Cassandra bersandar di dadanya dalam pelukannya.
" Kak, kira-kira siapa yang benci Cassy?"
" Enggak ada."
" Paket itu..."
" Cuma iseng."
" Mana ada iseng dengan niat begitu."
Alih-alih menjawab omongan Cassandra dia menghirup wangi rambut Cassandra, dan membawanya kedalam pelukannya.
" Kok, aku curiga kak Tamara ya?"
Bara menatap Cassandra dari samping dengan mengernyit bingung.
" Kakak belakangan ini sering ketemu dia kan?"
" Mana ada, aku gak punya waktu selingkuh."
Cassandra memukul tangan Bara gemas." Bukan selingkuh, ke-te-mu!" Tekan Cassandra.
" Gak ada."
" Ada, orang ada yang ngirim fotonya ke aku."
" Hah?"
Cassandra melepas pelukan Bara, dan berlari ke dalam rumah, tak lama dia membawa ponselnya dan menunjukan beberapa foto Bara dan Tamara yang dikirim oleh nomor yang tak dikenal.
Bara mengamati foto-foto itu, dia baru sadar itu foto dimana Tamara selalu datang ke gedung fakultasnya jika dia masuk kuliah.
Bara menarik kembali Cassandra duduk dalam pelukannya.
" Kalau gak ada kamu tatapan kak Tamara ke aku juga gak enakin banget, sinis gitu."
" Dia yang mendatangi aku, tapi gak aku ladeni. kalaupun ada waktu pasti aku samperin kamu, ka mu tahu sendiri aku sekarang lebih sibuk selepas Papi hengkang dari Atma Madina corp, jadi jangan cemburu dan salah paham."
" Cemburu iya, salah paham enggak, makanya gak aku laporin ke Kakak. Aku gak mau nambah beban kakak."
" Gak gitu juga sayang, tentang kamu gak ada yang jadi beban buat aku." Bara mencium pelipis Cassandra.
" Aku simpan ponsel kamu ya buat penyelidikan lebih lanjut."
" Aku jadi gak ada hp dong."
" Pake hp aku aja."
" Kalau ada kolega telpon?"
__ADS_1
" Aku, hp pribadi sama hp bisnis beda."
" Aku pergi dulu ya, yang lain udah di RaHasiYa."
" Jangan dulu, aku masih kangen." Cassandra menyuapi Bara buah-buahan yang sudah disediakan Bara.
" Tapi.."
" Aku yakin kak Daniel, kak Afa, dan kak Ibnu bisa menangani ini, belum lagi bantuan dari yang lain. Kamu di sini aja dulu nyantai."
Cassandra membalikan badan, duduk menghadap Bara," lihat, usia kamu masih muda, tapi ekspresi kamu gak beda jauh sama om Hito."
Bara terkekeh," kata orang jadi anak konglomerat enak bisa berfoya-foya, mereka gak tahu aja tekanan jadi anak konglomerat."
" Makanya dibawa santai aja dulu, buat apa punya asisten banyak kalau masih kamu yang sibuk."
Bara tersenyum, menarik dan membalik kembali tubuh Cassandra dalam pelukannya kembali.
" Sayang kamu banyak-banyak." Bisik Bara tepat di telinga Cassandra.
" Banyakan aku." Balas Cassandra memiringkan kepala setengah menoleh ke Bara.
Cup!!
Bara mengecup bibir Cassandra," banyakan aku."
Cup!!
" Banyakan aku." Cassandra balas mengecup.
Cup!!!
Kali ini Bara tak melepas pautan bibirnya, menarik tengkuk Casandra ia mengulum dan melum\*tnya dalam-dalam.
Hemmhmh!!
Desah Cassandra, meremas kuat jemari Bara, Bara semakin memperdalam aksinya melepas segala frustasi, kecemasan, dan kelelahannya
Mhemmh!!!
Kini \*\*\*\*\*\*\* itu dari dua arah yang masih terlena, Bara mengeratkan pelukannya.
Dengan nafas terengah-engah mereka mentautkan kening dengan tersenyum.
Cup!!
Kecupan sedikit pautan Bara kembali layangkan," pokoknya banyakan aku."
" Hemm, aku ngantuk banget. Entar kalau nikah gak bisa tidur aku cium kamu banyak-banyak ya supaya cepat tidur."
" Hahaha...kalau udah nikah mah ciuman kayak tadi bikin kamu nambah melek." Bara menggigit gemas pipi Cassandra.
" Dih, mesum."
Berbunyi satu notifikasi pesan dari ponsel Bara, Cassandra membukanya.
" Kak Maura pengen ketemuan, ada hal penting katanya." ucapnya murung, memperlihatkan isi pesan pada Bara.
" Jangan cemburu, aku ada urusan dengannya terkait penyerangan kemarin. pelakunya om Brotosedjo, ayahnya Maura."
Cassandra ternganga karena terkejut.
Cup!!! Mhmmh!!
Bara tiba-tiba \*\*\*\*\*\*\* bibir cassanda, dirasa cukup ia menyudahinya.
" Jangan perlihatkan mimik ngegemesin gitu di depan yang lainnya ya."
\*\*\*\*\*
Mereka para pria keluarga Hartadraja, Pradapta, Teddy, dan Aryan, Daniel, Alfaska dan Ibnu berkumpul di lantai tujuh sedang mengamati layar yang menampilkan persiapan gabungan anak Gaunzaga-RaHasiYa untuk menyerang geng *off shadow*.
" Hasil investigasi, yang mengirim paket mereka adalah anggota dari organisasi khusus pembunuh bayaran terbesar di Bekasi bernama *off shadow*. Mereka spesialis membunuh, dan mengambil organ vital guna dijual di pasar gelap."
" Apa sudah tahu kenapa mereka menyerang empat gadis ini?" Tanya Damian.
" Melihat dari serangan kemarin dan teror yang belakangan diberikan kepada mereka, motifnya masih menjurus pada RaHasiYa dan Hartadraja."
"Teror?" Tanya Damar.
" Beberapa hari terakhir datang ancaman kepada mereka lewat ponsel, karena kita sudah menyadap ponsel mereka khusus spam teror, maka teror tersebut dapat kami tangani sebelum para bocil itu melihatnya.
" Dari?"
" Sang pengirim pesan adalah hacker, mereka menyebut kalau mereka dibayar oleh seorang wanita muda berjubah hitam." Ibnu menayangkan wanita dalam balutan topeng dan masker dengan jubah menjuntai hitam sampai mata kaki dengan kombinasi merah di sekitar sisinya.
" Kami sudah mengatasi itu dan mereka tidak akan meneror kembali." jelas Daniel.
" Itu jubah Mega hostes club the flawless kan ya!?" Gumam Adgar
Semua mata memandang Adgar sambil mengangkat alis bertanya.
Adgar menutup mulutnya kaget ketika menyadari ia telah membongkar aibnya sendiri.
" Gar,.." Aznan meminta penjelasan.
" Itu, jangan salah paham dulu. Adgar ikut Ayin dan temanya yang katanya lagi melakukan penyelidikan, tapi lihat sisi baiknya kalau Adgar gak memiliki pengalaman hidup yang beragam kalian gak bakal tahu kalau itu adalah jubah the flawless." Ucap panik Adgar.
Semua orang memutar bola matanya malas menanggapi kalimat terakhir Adgar.
" Darimana kamu tahu itu club the flawless?" Tanya Damian menyiratkan peringatan.
Adgar menelan salivanya gugup," Itu dari lambang bordiran bunga mawar yang berbentuk hurup 'F'." Tunjuk Adgar ke jahitan yang berada di bagian dada sebelah kiri.
" Kalau kalian belum yakin Adgar bisa kesana untuk memastikan."
Pletak!!!
Hito memukul kepala Adgar keras, sang empu meringis kesakitan.
" Gak perlu terlalu totalitas, om bisa hubungi Nathan, sang pemilik club."
Adgar hanya bisa nyengir lebar," ya...kirain."
" Yang diperluas tuh koneksi, bukan pergaulan gak jelas." Omel Damian.
Kini di layar tampak pertempuran antar tiga organisasi besar sedang berlangsung dibawah pantauan RaHasiYa melalui drone.
\*\*\*\*
Cafe' D'lima
Maura menoleh kiri-kanan dengan raut cemas dan takut, sungguh ini kali pertama dia melakukan hal yang menurutnya jahat.
Tring!!!
Ia menghela nafas lega kala melihat Bara memasuki ruangan dengan asistennya, ia mengangkat tangan agar Bara langsung menemukannya.
" Ini." Maura langsung mangangsurkan map berwarna coklat itu ke hadapan Bara begitu Bara duduk di kursinya.
" Kamu, kenapa tegang begitu?"
Bara memeriksa isi map tersebut dengan teliti, setelah memastikan dia memasukan kembali ke dalam map tersebut.
" Aku pikir Tamara sudah menyadari kalau aku berbuat jahat sama dia, sejak dua hari lalu dia rutin menelpon aku pasca dia menandatangani surat-surat ini." ucap Maura sambil memilin-milin tangannya resah.
" Aku akan lindungi kamu."
" Dia sepertinya akan melakukan sesuatu terhadap Hartadraja, dia menyebut nama Hartadraja itu yang aku dengar waktu dia mendapat telpon dari seseorang."
" Terima kasih atas infonya. asisten aku akan bawa kamu ke tempat yang aman."
" Bud, bawa dia. suruh Ubay menemui saya."
" Siap, bos."...
**Yuk, like, komen, dan hadiahnya....jadi readers aktif ya... saling menyenangkan kan lebih baik**...
__ADS_1