Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
175. Nasib Para Pelaku.


__ADS_3

" jadi, pak andre. Apa yang akan anda lakukan untuk selanjutnya?" Ucap sang dewan sambil menyesap champagne-nya


Air mukanya begitu puas melihat porak poranda jalanan, dan melihat ambulance yang ringsek,mereka berdua masih betah dalam ruang kerja Andre setelah mengakhiri pesta keberhasilan meyabotase evakuasi Sandra.


" Kenapa saya lagi, kapan giliran anda?"


" Usai penangkapan 50 orang itu, Senayan menjadi perhatian publik, kami sedang tidak bebas, karena ini banyak proyek yang tertunda."


" Sedangkan k3polisi@n dan KPK sedang menjad idola. Manfaatkan situasi ini dengan menangkap mereka."


" Kalau sekaligus empat, resiko kita yang mampus, jadi rencananya satu persatu saja dulu." Andre menyesap champagne-nya.


" Atur saja, saya pulang. Sudah ada yang nunggu."


" Hmm." Jawab Andra asal, kemudian ia sibuk menelpon bawahannya untuk tugas selanjutnya.


" Tim, hubungi media. Beri satu atau dua rekaman kecelakaan itu, pastikan berita Sandra menjadi fokus utamanya." Ujarnya pada Timothy, anggota divisi cyber diseberang saluran.


Tanpa sang dewan sadari setiap langkahnya sejak keluar dari area m@b3s diikuti oleh beberapa orang yang sudah menungguinya di atas motor.


********


Alfaska melenguh tersadar dari pingsannya, matanya melirik satu persatu wajah-wajah lelah yang hadir di ruangannya, ruangan khas rumah sakit.


Kakek Argadinata yang duduk di kursi samping brankar mendekat, Tia yang duduk di sofa ingin mendekat, tapi urung, mengingat ucapan suaminya pada kakaknya.


Semuanya mengelilingi brankar Alfaska kecuali Tia.


Daniel dan Bara  yang menangkap gerakan ragu dari Tia itu menghembuskan nafas berat, sesak itu masih terasa, jarak itu kian terlihat.


Bara mengirim pesan pada Zahira sebelum dia beranjak mendekati brankar.


" Alfa ku, Akhirnya kau bangun." Lirih kakek Argadinata, 


Tangan tuanya mengelus wajah Alfaska dengan sayang.


" Kek, semuanya...?" Terlihat wajah Alfaska linglung menangkap aura sendu di sekeliling ruangan ini.


" Lo pingsan, karena gue tonjok." Ucap Bara santai.


Kakek mendelik mendengar perkataan Bara.


" Ke...kenapa?"


Ceklek...


Prof. Farhan dan dr. Zahira memasuki ruangan dengan wajah tenang tanpa beban, beda dengan apa yang ada di pikiran mereka.


" Tuan muda, saya akan memeriksa anda." Ucap formal Farhan.


" Bagaimana, prof?" Tanya Bara.


" Kita tidak punya pilihan, sebab waktu terus berjalan." Jawab Farhan.


" Ini..ada apa?" Tanya Alfaska bingung.


" Ada yang ingin dikatakan Dr. Zahira, tetapi harus ada keluarganya, yaitu Lo, sebagai ahli warisnya."


" Mengenai?"


" Papi. gue ingetin Lo masih punya Papi sebagai orang tua Lo."


Seketika atmosfer ruangan meningkat tajam dengan ketegangan yang diperlihatkan Alfaska.


" Ada apa dengan Papi?" Ucapnya dengan suara tercekat.


Zahira membuka amplop besar berlogo rumah sakit.


" Apa bisa saya bicara di depan luar keluarga?"


Bara mengangguk," ini mama saya, nyonya Sherly." Tunjuknya pada Sherly.


" Dan anda kenal dengan tuan dan Nyonya Birawa, mereka orang tua kedua kami. Itu kakek, dan para saudara dari papi." Tunjuknya pada keluarga Argadinata.


" Itu para sahabat dari Alfaska dan saya, lambat-laun mereka akan tahu tentang Papi, karena mereka sudah seperti keluarga." Tunjuknya pada Yuda dan kawan-kawan.


" Jadi, bicara saja." pinta Bara.


" Baiklah." Zahira menunjukan dua hasil MRI Aryan di bagian jantung.


" Kesimpulan gambar ini menerangkan kalau jantung tuan Argadinata tidak baik."


" Dan karena kecelakaan ini tuan mengalami pembocoran jantung, harus segera dilakukan transplantasi jantung."


Jeduar..


Berita itu bagai petir menyambar bagi semuanya, tidak ada yang berani menyela ucapan Zahira, wajah Alfaska sudah kembali pias.


" Jantung yang cocok diantara keluarga Argadinata hanya punya tuan Ardan, tetapi jantung beliau pun tidak direkomendasikan untuk dijadikan donor."


Lagi, berita itu menempatkan mereka seperti ditepi jurang, detak jantung mereka berdegup kencang.


" Jadi, apa Papi juga tidak..." Bahkan Alfaska tidak sanggup melanjutkan perkataannya saking takutnya.


Zahira menggeleng." Kami punya rekaman medis Nyonya Sandra,  dan jantung beliau cocok untuk tuan Aryan, mengingat kondisi tuan Aryan..."


Airmata Alfaska mengalir tanpa permisi." Lakukan, saya sudah tidak bisa kehilangan orang tua lagi. Lakukan. Saya akan tandatangani semua persetujuan yang dibutuhkan." Ucapnya lirih.


" Indonesia belum pernah melakukan transplantasi secara mandiri, secara fasilitas, kita punya fasilitas komplit..."


" Apa yang menjadi halangannya?" Sela Bara atas ucapan Farhan.


" Tenaga ahli, Di Indonesia hanya prof. Zahra dan prof Farhan yang pernah memimpin operasi ini." Ucap Zahira.


Susana terasa lebih hening mendengar nama itu, semua mata tertuju pada Alfaska yang diam mematung.


" Di Jerman, dan di banyak kasus dunia, Zahra salah satu dokter yang memiliki kemampuan cara transplantasi yang terkini dan berbeda, yang pemulihan pasca operasinya lebih cepat dan minim resiko."


" Apa kakak tidak mau mengoperasi Papi?" Tanya Alfaska sedih.


" Masalahnya bukan di Kak Ala, tapi lo. Lo inget perkataan terakhir Lo padanya?" Sinis Bara.


Raut wajah Alfaska bertanya bingung." Ap.." sekelebatan kejadian demi kejadian di depan ruang operasi terlintas, wajah Alfaska memucat saat mengingat itu.


" Bar... bagaimana mungkin gue bisa mengatakan hal sejahat itu?" Paraunya Terdengar memilukan.


"Mumuy, mana mumuy? Kenapa dia tidak ada di sini. Dia tidak mungkin menjauh dari gue." Paniknya, Matanya mengedar seisi ruangan.


" Mana Mumuy, mana Inu?" Kini Alfaska turun dari ranjang dengan terhuyung, melupakan infusnya, ia melangkah panik hingga tiang infusan oleng hampir jatuh kalau tidak ditangkap oleh Ardan, pamannya.


" Tuan, tenanglah. Prof.zahra sedang mengurus sesuatu." Ucap Farhan yang mengembalikan Alfaska ke atas ranjang dibantu para sahabat.


" Kemana kak Ala?" Tanya Daniel.


" Terakhir saya dengar beliau ke cafe seberang."


Mata Bara mengode Budi untuk ke sana.


" Jadi, apa kalian setuju jika prof. Zahra yang menangani kasus ini?" Tanya Zahira.


" Please, lakukan yang terbaik." Mohon Alfaska.


" Tuan, saya pikir anda salah paham terkait kematian nyonya Sandra." Ucap Farhan.


" Kami selalu melakukan yang terbaik, tidak pandang bulu. Nyonya Sandra berada dalam kondisi tidak baik, prof. Zahra lah yang paling sakit saat kami menyatakan gagal, bahkan beliau lah yang paling menolak keadaan ini. Semuanya karena anda, beliau tidak ingin menjadikan anda yatim, tetapi apa daya jika Tuhan sudah berkehendak." Tukas Farhan.


" Bagian kondisi terakhir Sandra sebelum dioperasi?" Tanya kakek Argadinata.


" Beliau mendapatkan benturan yang hebat di kepalanya, akibatnya terjadi pergeseran otak, terlambat mendapat pertolongan. Saat ini prof. Zahra dan rumah sakit sedang melakukan investigasi."


" Jadi bukan karena kesalahan prof. Zahra yang tidak mampu menyelamatkannya." Sarkas Farhan.


Alfaska tertunduk dalam, perkataan Farhan sangat menyiksanya.


" Baiklah, kami permisi." Pamit Farhan.


" Ya tuhanku, mengapa aku bisa begini." erangannya, kedua tangannya menutup wajahnya.


Tidak lama budi memasuki ruangan lalu membisikan sesuatu pada Bara.


Rahang Bara mengetat tajam," maaf, semuanya saya permisi."


Daniel dan para sahabat mengikuti Bara, Rio yang berjalan paling akhir memelankan langkahnya saat menerima pesan di ponselnya.


Setelah menerima pesan, sontak dia memisahkan diri berjalan menuju pintu darurat



Mumtaz dan Ibnu berjalan di belakang Dominiaz menuju rumah sakit, mereka saling berbisik.



" Muy, Leo dan Haikal menghubungi gue." Ucap Ibnu pelan.



" Suruh mereka awasi orang yang terlibat dalam kecelakaan ini, koordinasi dengan Rio, dia yang tahu siapa saja orangnya."



" Usik mereka tanpa menyentuhnya, satu persatu. Dari yang paling pribadi sampai yang paling biasa saja."



" Teror gitu?" Tanya ibnu memastikan.



" Terserah, asal jangan sampai menyentuh fisik. Seluruh keluarga mereka tanpa kecuali." Ucapnya datar.

__ADS_1



Ibnu mengangguk dengan tangan yang sudah sibuk dengan ponselnya, begitu sampai di pelataran rumah sakit, tangan Mumtaz menarik Ibnu keluar dari rombongan Zahra, melipir ke beberapa motor yang sudah menunggu mereka tidak jauh dari rumah sakit.



Langkah Zahra diberhentikan oleh Hito saat pandangannya menangkap segerombolan orang dengan kamera, mic , dan alat rekam lainnya di depan lobby. Mereka berebut meminta keterangan pada Budi sebagai wakil Bara.



" Ayo, kita hadapi mereka, aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi apapun itu aku siap melawannya." Seru Zahra yang melanjutkan langkahnya tidak sempat Hito cegah.



Petinggi Gaunzaga hanya bisa mengangguk, kemudian mengambil posisi Hito di depan Zahra, Samudera dan Dominiaz di sebelah kanan- kirinya.



" Ada apa ini?" Tanya nyalang Zahra kepada mereka, Budi bergegas mengambil posisi kosong di belakang



" Itu,..." ucap ragu salah satu satu wartawan.



" Apa anda prof. Zahra?" Potong rekan wartawan lainnya.



" Apa kau wartawan baru? Hingga tidak tahu siapa saya?" Sarkas Zahra tajam.



Bara dan yang lain yang mengawasi sejak wartawan menggerumuni Budi di ruangannya segera berlari menuju lobby.



" Apa benar nyonya Sandra Atma Madina menjadi salah satu korban kecelakaan?" Tanya wartawan berkecamata.



" Kalian tahu telah terjadi kecelakaan, tapi di sini kalian ribut mencari berita, diwaktu yang sangat berarti bagi petugas medis menangani para korban. Apa menurut kalian itu etis?" Pertanyaan telak Zahra mendiamkan mulut para kuli tinta itu.



" Mengingat saat kecelakaan tiada media yang hadir, saya terkejut kalian menanyai nyonya Sandra sebagai salah satu korban," Zahra tersenyum smirk pada kameramen yang tidak jauh darinya."  sebaiknya kalian minta berita secara komplit pada narasumber kalian."



" Tapi ada praduga ini adalah perbuatan Mumtaz yang tidak menyukai nyonya Atma Madina, bagaimana tanggapan anda?" Tanya wartawan perempuan berambut sebahu. 



Sesaat Zahra terkejut, namun ia berhasil menormalkan raut wajahnya.



" Darimana asal skenario konyol itu?" Tanya Zahra datar dengan mimik wajah tanpa ekspresi.



Wartawan tadi gugup dibawah tatapan tajam Zahra dan para bodyguardnya yang sangat mereka ketahui siapa mereka itu." Se..semua orang sudah melihat kebencian dia pada nyonya Sandra, jadi sebagai petinggi RaHasiYa, dia tidak sulit melakukan itu."



" Konyol, itu tidak bisa dijadikan dasar. argumen anda tidak relevan." jawab Zahra skeptis.



" Bagus kalian tahu beliau sebagai petinggi RaHasiYa, itu berarti jika pertanyaan anda berdampak membentuk spekulasi yang dapat menggiring opini dimasyarakat terhadapnya, kami bisa menuntut kalian dengan pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, pemfitnahan dan sebagainya, kecuali kalian bisa membuktikan apa yang kalian katakan."  Suara berat dibelakang mereka menggelegar itu bukan Zahra yang menjawab, tetapi Daniel.



Seseorang yang dikenal tenang, namun tajam dalam dunia bisnis, cerdas dalam dunia teknologi, sebagai pewaris Birawa dia merupakan salah satu pemuda yang berpengaruh di negeri ini.



Daniel, Bara, dan para sahabat refleks mengelilingi Zahra sebagai lapis terdepan bagai benteng pertahanan.



Semua wartawan terperangah melihat sikap para pria tersebut yang melindungi namun pada waktu bersamaan mengancam.



" Saya pikir kalian salah alamat urusan kecelakaan itu datang kemari, sebaiknya ke kantor polisi bukan ke rumah sakit." Sindir Bara.



" Bagaimana dengan para korban?"




Selama Bara meladeni para wartawan itu, Hito dan yang lain menggiring Zahra ke ke dalam rumah sakit.



" Zahra." Panggil Zahira saat Zahra memasuki lobby.


Zahira terkaget melihat siapa-siapa yang berjalan mengelilingi Zahra.


" Keren amat Lo dikelilingi cogan kecuali satu." Lirik sinisnya tertuju pada Samudera mengikuti langkah kaki Zahra.


" Masih aja kalian gelut, bawa oleh-oleh apa Lo buat gue? Boleh gue tolak?" Tanya Zahra tanpa menghentikan langkah kakinya menuju ruang kerjanya.


Raut Zahira berubah sendu." Sayangnya tidak bisa. Pak Farhan dan ahli jantung lain sedang menunggu Lo."


" Biarkan Zahra istirahat sejenak." Potong Hito.


" Tapi..."


" Biarkan dia beristirahat sejenak, sesudah subuh baru kalian kembali berdiskusi." Ucapan mengintimidasi dari Hito menghentikan upaya Zahira.


" Pergi Lo, bodyguard gue sedang on fire semua." Zahra mengambil map putih dari Zahira dan meninggalkannya.


" Apa Lo lihat-lihat gue?" Bentaknya pada Samudera yang masih berdiri bersama Dominiaz, menungguinya.


" Mau sampai kapan marah?" Tanya Samudera lelah.


" Siapa yang marah, gue cuma gak ingin berhubungan lagi sama Lo."


" Sam, mending Lo nikahin dia, dilemesin istri lebih baik, daripada udah dijulidin, eh direbut orang." Usul Dominiaz ngasal.


" Kalian aja yang kawin, sesama fuckboy." Ucap Zahira sebelum berbalik badan.


" Lo kok bisa tahan cinta sama cewek galak modelan kayak gitu." Ejek Dominiaz.


" Gue juga gak paham, apa gue mesti periksa otak gue ya. Gue sebucin ini sama dia."


" Karma itu berlaku ternyata, dulu aja Lo sia-siakan dia." Dominiaz berlalu ke arah ruang kerja Gama.


*****


Suara  keras gedoran pintunya mengusik Raul yang tertidur di ruang tv.


Dengan langkah gontai ditengah kantuknya Raul membuka pintu yang dilanjut umpatan saat melihat siapa yang bertamu di dinihari ini.


" Nenek, mengapa kau bisa ada di sini?" Tanyanya setelah berhenti mengumpat dalam bahasa spanyol.


" tidak sopan, persilakan nenek masuk." Guadalupe mendorong kursi rodanya yang dicegah oleh kaki Raul.


" Tidak akan, kau kesini pada waktu tidur orang pasti membawa masalah." Matanya melirik Armando yang dibelakang Guadalupe.


Kedipan mata Armando mengiyakan ucapan Raul.


" Si@l, pergilah kemana saja. Jangan kemari."


" RAUL, Bagaimana mungkin aku tega membiarkan nenek terlantar?"


" Kau tidak akan terlantar, kau punya kartu hitam, kau bisa membayar hotel manapun dengan kelas eksekutif." Sarkasme Raul.


Sedetik kemudian Damian menginterupsi obrolan mereka dibelakang tubuh Guadalupe." Hallo tuan Gonzalez, apa kabarmu? Saya harap kau tidak berkeberatan saya bertamu saat ini?"


" Tentu, silakan masuk." Jawab Raul tidak punya pilihan.


Damian mengambil alih pegangan kursi roda Guadalupe dari Armando, kemudian mendorongnya masuk ke dalam penthouse itu.


" Mari, Nyonya, saya bantu anda." Tutur Damian sarat ancaman.


Seketika tubuh Guadalupe menegang, wajahnya secepat kilat berubah pias.



Seluruh anggota keluarga Gurman-Gonzalez telah berkumpul di ruang yang paling luas yaitu ruangan tengah, menatap tajam Guadalupe yang tidak lepas dari jangkauan Damian.



Televisi  yang memberitakan kecelakaan itu masih menyala, mimik Guadalupe yang sudah seperti tersangka mengungkap segalanya.



" Baiklah, apa hubungan kami dengan kecelakaan itu?" tanya Alejandro.



" Kami dapat memastikan itu upaya pensabotasean terhadap evakuasi nyonya Sandra yang ada dalam ambulance itu yang dilakuan oleh penjahat-penjahat bodoh." matanya melirik Guadalupe yang memasang wajah innocent.

__ADS_1



" Nenek, *please* katakan kau tidak terlibat dalam kecelakaan ini?" Tanya Sivia sinis.



Dengan tampang tidak bersalah Guadalupe siap menyanggah.



" Tentu saja..."



" Jangan berbohong, anda pikir saat ini saya di sini tidak punya bukti? Ucap Damian meremehkan.



" Kalau begitu kenapa tidak kak Damian yang mengatakan langsung?" Pinta Sivia.



" Ini bukan wilayah saya, di sini saya hanya ingin memastikan kalian tidak terlibat."



" Apa maksud anda?" Tanya Raul.



Damian menatap lurus Alejandro." Tuan Gurman, saya menghormati ada sebagai kenalan kakek mertua saya, saya informasikan bahwa telah terjadi pembaharuan kesepakatan antara Gaunzaga dan RaHasiYa terkait penanganan wanita tua ini, dan hal itu bisa berlaku pada anda."



" Mereka tidak bisa..."



" Bisa saja, karena wanita tua itu menumbalkan nyonya Atma Madina." Ucap Damian dingin memotong ucapan Alejandro.



" Hahahaha, apa dengan kata lain dia mati?" wajah Guadalupe seketika terpahat sumringah.



" Dan kau pikir tawa mu saat ini tidak diketahui oleh mereka?, bahkan kau dan para *partners in crime* mu saat ini hidup dibayangi maut." peringat Damian sinis.



" Itu tidak mungkin, mereka tidak punya buktinya." yakin Guadalupe.



" Kebodohan para penjahat era teknologi seperti saat ini adalah, menggunakan alat teknologi dalam kejahatan, satu hal yang sangat mereka kuasai, dan kau manggunakan itu.



Kau sungguh tidak mengambil pembelajaran bagaimana mereka dapat menemukan Zahra hanya dalam hitungan hari ditengah hutan belantara, dan mencederaimu tiada daya seperti sekarang, wanita keriput." marah Damian merasa diremehkan.



" Bahkan mereka bisa mengetahui rasa panik dan ketakutan mu saat ini." Terang Damian berharap ucapannya mengenai mental wanita lancang ini.



Hentakan tarikan nafas terdengar nyaring di ruangan yang tiba-tiba hening itu, Damian menatap satu persatu dari mereka memastikan pesannya tersampaikan.



" Apa maksud anda?" Telaah Raul lebih dalam.



" Mumtaz memutuskan untuk menangani langsung pelaku itu, kalian tanyakan pada Rodrigo siapa yang harus diwaspadai antara Bara atau Mumtaz!?"



Mereka menoleh pada Rodrigo yang menghembuskan nafasnya merasa lelah.



" Kek, aku pernah mengatakan padamu..."



" *No, you not*. Kau hanya memberitahukan kakek betapa RaHasiYa tidak boleh diremehkan, bukan siapa yang paling harus diwaspadai." Potong Alejandro kesal.



" Baiklah, maafkan aku kalau aku lupa."



" Jadi,..." Desak Raul.



" Mumtaz, pasti jawabannya Mumtaz." Sivia yang menjawab, yang diamini oleh Rodrigo.



" Mengapa? Maksud saya Atma Madina lebih punya kekuasaan dan nama." Analisa Raul.



" Sepanjang kau tahu, dalam wadah RaHasiYa." Jawab Rodrigo.



" Selain unggul bela diri, kemampuan teknologi, ketelitian, insting, dan diplomasi antar negara, Mumtaz masih unggul dari Bara, satu hal yang terpenting, totalitas. Dia akan menghukum  keseluruhan yang terkait pelaku, seluruhnya! Ambil hikmah dari kasus tuan Navarro, dia tidak segan menggunakan Angela sebagai pemancing dirinya." Terang Rodrigo.



" Ya Tuhanku..." Erangan kesal terlontar dari Alejandro.



PLAK....



" Aa...aws" parau Guadalupe memegangi pipinya, matanua melebar tidak menyangka Alejandro mampu menyakitinya.



Pun demikian dengan yang lain, meski tidak ada protesan dari mereka.



" Ale,...kau berani...." 



" Tentu saja aku berani, demi Tuhan, kauu hanya sekedar gvndikku, tetapi kau terlalu banyak tingkah. Berapa kali ku bilang berhenti berulah, tetapi kau meremehkan perintahku. Sekarang kau rasakan akibatnya.



Guadalupe menggeleng cepat, " tidak...kau tidak bisa menyerahkan aku pada mereka."



" Seharusnya kau berpikir sebelum bertindak, bahkan bukankah Rodrigo telah memberikan salinan pengajuan cerai dariku? Apalagi yang kau harapkan dariku?"



Alejandro benar-benar murka terhadap Guadalupe, ia muak dengan obsesi Guadalupe yang selalu ingin menguasai semuanya.



Mumtaz, Ibnu, Rio, Bima dan anak RaHasiYa lainnya sudah berada di seberang area apartment Raul.


" Gue pikir kalian sudah tahu apa yang harus kalian lakukan?" tanya Mumtaz yang diangguki Bima dan yang lain.


" Habisi tanpa jejak, siapapun yang menghalangi kalian." titah Mumtaz.


" Siap." mereka menjawab serempak.


" Nu, bagaimana?"


" Siap." Ibnu menyerahkan sederet nomor tertulis di kertas kecil pada Mumtaz.


" Yo, kita masuk."


" Oke."


Tiga sahabat dengan pakaian kasual memasuki lobby dan masuk lift tanpa kesulitan, karena akses izin masuk gedung secara online yang mereka memiliki, akses yang mereka buat hanya dalam beberapa menit.


Pun demikian saat mencari unit Raul, mereka menemukan penthouse Raul dengan mudah, Mumtaz mengetik nomor sandi pintu, perlahan membukanya.


Ketiganya langsung sibuk dengan masing-masing laptop mereka, tanpa diketahui oleh penghuninya yang terlalu fokus pada pembicaraannya dengan Damian.


Lama mereka duduk di ruang tamu mendengarkan obrolan antara Klan Gurman-Gonzalez dengan Damian.


Tawa membahana dari Guadalupe mengeraskan rahang ketiganya, wajah mereka sungguh dingin. Mumtaz beranjak ke pintu antar ruangan.


" Ini lahan ku, tidak ada yang bertindak selain aku."


" Tentu, dan kita sudah terhubung dengan Valentino, dan seterusnya Rio akan memberikan rekaman pada Andre dan Alfred." ucap Ibnu.

__ADS_1


Dengan tangan terlipat di dada Mumtaz menunjukkan dirinya pada mereka.


" Saya senang mendengarnya, tuan Gurman. Jadi saya asumsikan anda tidak keberatan kalau saya mencabut nyawanya saat ini." Ucap Mumtaz yang berdiri di pintu antar ruangan dengan latar belakang pencahayaan yang redup semakin memperjelas aura membunuhnya....


__ADS_2