
Cklek....
Kepala Alfred menoleh sedikit, " Matunda, kenapa kau begitu lama, cepat suntik saya tubuh saya sangat kepanasan bagai terbakar." Lirih Alfred terlihat memprihatinkan.
" Maaf, tuan. Saya sedikit kesulitan menakar obat anda. Biasanya tuan Mateo yang melakukan ini."
" Jangan banyak bicara, lakukan saja sekarang."
" Baik."Matunda mencampurkan cairan obat ke dalam cairan infus Alfred.
Selang 45 menit suhu tubuh Alfred kembali normal, " Matunda, saya ingin kau bawa Sivia kemari, kita harus memanfaatkan dia untuk membebaskan Ivanka."
" Tuan, saya ragu tuan Alejandro menyetujui permintaan anda."
" Kau bisa menculiknya, lakukan apapun. Saya tidak suka menjadi tidak berdaya. Bagaimana pun Gonzalez harus merasakan apa yang saya rasakan." Geram Alfred.
" Saya usahakan."
" Tidak bisakah kau menyanggupinya seperti Mateo yang bertindak bagai anjing piaraan saya? Tidak hanya berusaha." hardik Alfred.
" Saya tidak bisa, saya yang tidak menjanjikan apapun pada anda inilah yang pada akhirnya masih setia pada anda melebihi Mateo." Sindir Matunda.
" Saya permisi."
" Kalau bukan aku butuh kemampuan mu tidak sudi aku menerima kutu busuk sepertimu. Setelah semuanya beres akan ku kembalikan kau ke jalanan." Monolog Alfred kesal dengan sikap tidak patuhnya Matunda.
******
Suhu ruangan BEM meningkat tajam akibat aura permusuhan dari Rendy pada Maura yang mengkeret memegangi kaki kursi, Rendy tidak segan menunjukan kebenciannya pada gadis itu.
Sesekali Maura mengesot mendekati Bara meminta perlindungan yang langsung dihempaskan olehnya yang sudah tidak lagi sudi berhubungan dengan mantannya itu.
" Ren, kalau bisa Lo ambil semua milik dia." Ucap Bara, Maura menoleh cepat dengan mata membola padanya.
" Ja...jangan..aku pergi...aku tidak akan lagi mengganggu mu lagi Bara."
" Jangan dipercaya. Kalau kakak goyah aku laporin ke om Damian supaya bawa Cassy menjauh dari kak Bara. Cassy udah banyak nangis karena ulah dia." kata Sisilia.
Maura mendelik sengit padanya." Kenapa Lo melototi gue?" Sinis Sisilia tidak kalah delikan.
" Kenapa sayang?" Tanya Mumtaz.
" Itu dia melototin aku."
Mumtaz menoleh tidak suka pada Maura." Ren, bisa kali Lo bikin dia gabung bareng ibu dan tantenya..."
Maura panik," tidak..tidak..Bara, kamu tidak bisa menyerahkan aku padanya, kamu jangan setengah-setengah menolong aku, please demi masa lalu kita." Mohon Maura menitikan air mata.
" Baru saja gue lakukan." Balas Bara tidak peduli.
" Dia membenciku."
" Justru itu gue nyerahin Lo ke dia."
" Makanya kak, punya otak dipake jangan dipajang doang." Ucap Sisilia julid.
Mendengar hinaan SISILIA padanya tak ayal berhasil memicu Maura untuk menumpahkan kekesalannya." SISILIA..."
Bugh____
" Aarrkggh...hiks." Maura memegangi hidupnya yang mengeluarkan darah.
Semua orang terperangah akan tindakan cepat Mumtaz yang mengh4jar tepat di hidung Maura hingga berdarah dapat dipastikan hidung Maura patah.
Sisilia pun kaget dan sedetik berikutnya ketakutan, tapi ia mencoba mengendapkannya. Perlahan dia memegang tangan Mumtaz yang dibalas digenggam oleh sang empunya.
" Bisa Lo jangan belibet, disuruh nurut banyak tingkah. Ini keputusan gue Bara tidak salah, semua atas keinginan gue."
Maura yang masih meringis kesakitan dan menangis menggeleng walau lemah." Gak ada negosiasi." Tekan Mumtaz.
" Ren, bisa Lo pastikan dia gabung pada pertunjukan striptis nanti?" tanya Mumtaz dengan suara dingin.
Perkataan Mumtaz mengagetkan Bara, walau ia tidak menyukai Maura namun dia tidak berpikir sampai sana untuk menghukumnya.
" Striptis?" Tanya Rendy.
" Hm, nanti gue telpon Lo kalau sudah ada kepastian." Mumtaz mengabaikan tatapan meminta kompromi dari Bara.
" Kalau ada diantara kalian yang keberatan, sebaiknya kalian urus dia sampai tuntas dan ambil semua resikonya gue gak mau tahu lagi soalan dia." Mumtaz hanya memastikan segala persolan Bram Brotosedjo berakhir sampai sini saja.
Mereka semua menggeleng, termasuk Bara. Dapat dia lihat Mumtaz dalam mode tidak bisa dibantah.
tring___
Mumtaz melihat pesan yang masuk pada ponselnya." sorry gue harus pergi ada urusan dadakan.Saat mumtaz berdiri semuanya berdiri.
" kalian mau ngapain?'
" ngikuti Lo. udah jangan banyak protes " Alfaska merangkul Mumtaz yang menarik lembut tangan Sisilia.
" Gue balik ke tangerang, gue harus waspadai gubahan macam apa yang disampaikan Lia pada cassy-gue terkait si Maura." sindir Bara melirik Sisilia yang terkekeh padanya.
" Gue juga cabut." dengan kasa trendy menarik Maura berdiri lalu meninggalkan ruangan di belakang Mumtaz dan Alfaska.
Teriakan Maura juga mengejutkan orang yang menunggu di depan ruangan BEM, seketika tubuh Riana kaku, perlahan ia beranjak meninggalkan ruangan namun langkahnya terhenti saat dirasa ujung gamisnya ditarik seseorang.
Romli lah sang pelakunya." Gue harap sampai sini Lo paham, Mumtaz bukan seseorang yang bisa Lo ganggu.
"Lo sudah pernah merasakan kekerasan darinya dan bukan hal sulit baginya untuk melakukannya lagi."
" Sok tahu Lo." Elak Riana akan kesimpulan Romli.
" Gue memang belum lama tinggal bersamanya, tapi gue tahu banyak tentang dia. Selagi dia hanya bicara hentikan semua kegaduhan Lo ngeribetin hidup dia. dia gak cinta sama Lo.
"Dia bukan seseorang yang mudah goyah hatinya hanya karena tangisan dan rengekan cewek, justru baginya itu adalah hal yang memuakkan. Jadi hentikan, atau apapun yang terjadi di dalam sana bisa terjadi pada Lo." Romli menatap dalam ke netra Riana.
" Gak semudah itu menghilangkan perasaan." balas Riana.
" itu Lo tahu, bagi Mumtaz Sisilia yang paling dia inginkan. kalian pasti lihat kemarin bagaimana nasib Bella yang diperlakukan oleh keluarganya karena bertingkah seolah dia seseorang bagi Mumtaz yang ternyata sangat mengganggu Sisilia." seru Romli yang diangguki teman BEM-nya.
" Lo ngadepin satu Mumtaz aja gak mampu, apalagi berhadapan dengan kakak perempuan dan adik lelakinya, auto stroke Lo. ini nasihat gue sebagai teman Lo. kalau Lo masih bebal, rasakan rasa maupun edisi ke 2." tukas Romli.
" Sebaiknya ll dengerin omongan si Romli. terus terang ulah Lo bikin kita muak sama Lo." seru Alfaska diambang pintu berdiri merangkul Mumtaz.
Semuanya memandangi mereka yang berdiri diambang pintu, Riana segera mendekat pada Mumtaz yang dicegat oleh Alfaska.
" Muy, aku..."
" Gue gak cinta sama Lo, tertarik aja enggak. hati gue, cinta gue sudah untuk Lia. mulai saat ini berganti menjadi benalu." Mumtaz meninggalkan mereka yang terdiam bersama Sisilia.
Riana menatap punggung itu menjauh dengan tatapan sendu, setitik airmatanya menuruni pipinya.
Untuk sesaat Riana merenungi ucapan Romli menarik ujung gamisnya dan lekas berlalu dari sana bersama Divanya.
" Kalian mau pergi?" tanya Romli.
" Iya, kita mah orang sibuk." Alfaska menjawab sombong.
" Makanannya?" tanya Gladys. mata Romli sudah berbinar mendengar apa yang akan dijawab Alfaska dan yang lain.
" Bawa ke mobil gue." jawab Bara.
Romli terbeliak tidak menyangka" serius?" tanya Romli.
" Iya, gue masih ada beberapa urusan di sini sebelum cabut."
" Lo bisa beli lagi di jalan, Bar." protes Romli keberatan.
" ke apa Lo sewot, itu pake duit gue bayarnya kalau lo lupa. kembaliannya Lo ambil dah." Ucpa Bara malas.
" Asyikk, siipp. gue bakal bawa ke mobil Lo , tuan Atma Madina yang baik hati." ucap Romli seraya membukukan badan.
" Jangan lupa Lo ke rumah sakit buat jemput kak Ala." Daniel mengingatkan yang diangguki Romli.
\*\*\*\*\*
Di lain tempat beberapa pria paruh baya masih adu bicara dengan ngotot akibat dari ulah para pemuda yang sedang diributkan oleh ulah para gadis yang belum jua menyerah selepas kepergian Mumtaz dan Daniel dari ruang rapat mab3s TN1.
Bahkan kini bertambah menteri pertahanan, menteri koordinasi dibidang perekonomian, dan Menkopolhukam turut berkumpul bersama beberapa dew4n.
__ADS_1
Presid3n memijit-mijit pangkal hidungnya kerena lelah," jadi kesimpulannya apa?" Tanya presiden bidan mendengar para menterinya hanya saling lemari kesalahan.
" Mereka bersatu melawan pemerintah dan menguasai teknologi informasi." Tukas menkopolhukam.
" Itu kita tahu, demo kemarin buktinya, permasalahannya, masa BIN, maupun mekoinfo belum bisa menentukan pemilik akun yang dengan kurang ajarnya menyebarluaskan aib pejabat yang mempermalukan negara. Kita salah satu negara dengan SDM terbesar,...mana kemampuan negara yang katanya hebat itu." Sarkas ketua dew4n culas.
" Pak, alih-alih bapak menyalahkan menkoinfo, mending bapak atur anak buah bapak supaya kerja yang lurus sesuai hukum, seribu akun julid semacam dia tidak akan bisa merendahkan kalian kalau kaliannya patuh bekerja sesuai amanah ideologi." Sahut menteri pertahanan.
" Wajar mereka marah, legislatif dan eksekutif terlalu keluar jalur konstitusi." Ucap Janu yang mendapat delikan tajam dari sang ketua. Sementara agung terkekeh geli saja.
" Memang apa yang bapak dan ibu harapkan ketika pejabat yang waktu pemilu memberi harapan yang tinggi, harapan itu kalian hempaskan dengan kriminal yang maha dahsyat itu, untung mereka gak ngamuk dan anarkis. Berterima kasih lah kalian kepada Bara Atma Madina dan Akbar Hartadraja." Sindir Juna.
" Atma Madina dan Hartadraja?"
" Hmm, mereka berdua pengusaha muda yang sangat berpengaruh dikalangan kaula muda, ditambah Birawa, Rugawa dan generasi ketiga top 10. Kehadiran mereka menunjukan adidaya mereka atas kita." Sembur Juna, ia mulai mempertanyakan ketepatannya berpolitik saat ini ketika mendapati apra rekannya hanya para pecund4ng.
" Itulah mengapa mereka dapat meringkus penyusup dengan cepat." Gumam B1N mengangguk-angguk.
" Dengan kata lain saat ini mereka menguasai segala elemen penting di masyarakat yaitu ekonomi, sosial, teknologi, dan kekuasaan." Seru Menkopolhukam
" Kita sangat terjepit, tidak punya pilihan lain selain mengikuti aturan hukum yang berlaku." Ucap presid3n menatap ketua dew4n.
"...kalau memang ada yang keras kepala, silakan. tapi jangan bawa-bawa saya. Di penghujung masa jabatan saya tidak ingin menjadi seorang pemimpin yang dikenang sebagai pemimpin gagal." Tegas presid3n menyela saat ketua dew4n hendak bicara.
" Saya yakin mereka punya celah." Kekeuh dew4n.
" Silakan anda cari, mereka adalah klien RaHasiYa. Terlalu beresiko bagi kita untuk berurusan dengan perusahaan pengamanan berlevel dunia setingkat mereka. Jika kita ada diseberang RaHasiYa, dipastikan mereka dengan mudah melobi negara-negara luar untuk mengajukan ini menjadi konflik internasional, karena mereka dapat memenuhi syarat subjek hukum internasional." Ucap kepala BIN.
" Apa mereka sekuat itu?" Kaget sang ketua.
" Lebih kuat dibanding apa yang anda kira. Ingat, mereka dibekingi oleh para konglomerat yang mungkin tergabung dalam 9naga, bisa dipastikan tidak hanya posisi anda di senay4n yang hancur, tetapi seluruh kehidupan keluarga besar anda, jadi sebaiknya kita akhiri kerusakan ini ." B1N memperingati.
" Baiklah rapat disudahi, karena saya sendiri bosan mendengar perkataan yang sama. Sekarang kita hanya harus memulihkan kepercayaan rakyat. Pak Ergi, saya minta anda memimpin langsung kasus-kasus ini sesuai prinsip-prinsip hukum" titah sang R1 1.
" Siap sedang berjalan."
" Seharusnya memang begitu, karena ini semua bermula dari instansi anda, pak Ergi." Sarkas ketua sinis.
Tepat ketua mengucapkan perkataan yang sangat childish dan penuh tudingan itu Zayin memasuki ruangan. Ia berjalan santai menghampiri tempat panglim4 dengan aura tidak peduli. Panglim4 menghela nafas kasar. Semua mata mengarah padanya yang membisiki sesuatu pada panglima.
Sedangkan ruangan sesaat sunyi, Ergi sangat geram, sedangkan Janu dan Agung mengerang malas mendengar sikap memalukan dari ketua mereka. Tanpa sadar Ergi menggebrak meja.
Siapa kau bersikap tidak sopan? Kami sedang musyawarah penting." Hardik ketua kesal merasa tidak dianggap.
" Instansiku yang bersalah?" Tanya Ergi mengeratkan rahangnya guna menahan emosinya pada ketua.
Pertanyaan dan pernyataan itu dilontarkan secara berbarengan, ada jeda keheningan sebelum Zayin menjawab.
" Tdak penting sama sekali daripada yang harus saya laporkan pada atasan saya karena ini perihal keamanan negara, sedangkan apa yang anda katakan hanya seperentel batu di pasir yang tidak berguna." Balas Zayin terkesan malas.
" Kau, berani meremehkan urusan saya sebagai ketua dew4n.
" Jadi anda akui kalau segerombolan orang yang sekarang kasus itu anak buah anda, apa anda sebagai leader mereka." Perkataan itu diucapkan dengan air muka singing ala Zayin.
" Saya pastikan trek record kinerja saya sangat memuaskan. Bahkan jika kinerja anak buahmu digabungkan tidak akan sempadan."
Ruangan melotot karena keberanian Zayin membalas sang ketua, panglim4 hanya memijit pangkal hidungnya dibawah tatapan heran presid3n.
" Kau berani padaku?" Bentak ketua.
" Saya tidak melihat kenapa saya harus takut pada anda mengingat kita sama-sama digaji dari uang hak rakyat. Btw, sebaiknya anda menjawab pertanyaan kapolr1 karena saya sedang sibuk." Selepas mengatakan itu zayin memberi hormat dan berlalu dari sana.
" Siapa dia?" Tanya menteri pertahanan.
" Salah satu prajurit terbaik yang miliki Indonesia, dan saya tidak akan melakukan apapun yang kalian minta hanya karena kalian tersinggung akan sikapnya." Peringat panglim4 yang menebak dari gestur tersinggung yang terpancar dari masing-masing audiens.
" Mengapa?" Ketua masih mendesak.
" Tidak ada alasan."
" Dia adik dari salah satu petinggi RaHasiYa." Celetuk kepala BIN.
Mendengar itu para peserta mengangguk-angguk paham, sedangkan ketua menggeram kesal.
" Pak ketua bisa anda jawab pertanyaan saya?" Ulang Ergi.
Iya semua ini karena kesalahan instansi anda, bukankah wakil anda yang menyebabkan kegaduhan ini, ironisnya sekarang dia buron, dan anda belum mampu menemukannya." Ujar ketua sambil tertawa mencibir.
" Dan jangan lupakan para dew4n itu sedang dibawah tanggung jawab instansi saya yang beberapa kali anda dan kolega mencoba bernegosiasi. Saya pikir sekarang saatnya anda melihat bagaimana instansi saya bekerja sesuai aturan hukum dan ideologi." Tekan Ergi tenang.
" Rapat dibubarkan." Tukas presid3n beranjak pergi dari sana.
\*\*\*\*
Di penthouse Raul, keluarga Gurman, dan Mateo menerima Matunda menyampaikan keinginan Alfred.
" Hahahaha...percaya diri sekali dia meminta dengan pongahnya cucuku." perkataan itu diucapkan Alejandro menyiratkan ketersinggungan merasa diremehkan oleh Alfred.
" Katakan padanya kami menolak, dan jangan mencoba melakukan tindakan curang pada kami, jika bukan Guanzaga yang menghancurkannya, Sinolan Jaquino yang akan merayakannya." imbuh Rodrigo tenang.
" Beliau akan menculik nona Sivia andai kalian menolaknya cara baiknya." ujar Matunda apa adanya.
" Dan katakan apa yangs Aya katakan tadi " seru Rodrigo.
" Baik, tuan."
" Jadi aku pengganti diriku." kata Mateo, Matunda hanya mengedipkan baginya tidak peduli.
" Hahahaha..apa pasukan tuan Alfred sudah menipis? atau segitu putus asanya beliau."
" Anda bisa menilainya sendiri tuan."
" Kau lelaki kurus yang selalu duduk di pojokan yang saya pikir tidak berguna. apa yang sedang kau rencanakan?"
__ADS_1
" Tidak ada, saya hanya menjalankan titah tuan Alfred karena anda mengkhianatinya. tidak lebih." sindir Matunda. tersirat kesinisan dalam ucapan itu, dan itu ditangkap oleh ketiganya.
" Apa kau punya masalah denganku?" tanya Mateo penasaran.
" Tidak tuan. di sini posisi kita sama. Maaf, saya harus pergi, akan saya sampaikan pesan anda, tua "
Selepas Matunda pergi, sivia keluar dari kamarnya dneg raut ketakutan bersama Belinda.
" Kakek, kakak. apa sekarang aku berad dalam keadaan terancam?" tanya Sivia cemas.
Tiga lelaki itu saling pandang sebelum menggeleng" Apa kau mendengar semuanya?" Sivia mengangguk.
Rodrigo menghela nafas mencoba tenang." Tidak kau aman bersama kami."
" Tumben Kamis udah pulang?"
" Tadinya aku mau mampir ke rumah nenek Sri, tapi beliau tidak ada. kata penjaganya mereka sekeluarga sedang berlibur ke luar negeri dan tidak tahu kapan pulang."
" Apa mereka sungguh memperlakukan kamu dengan baik, sayang?" tanya Belinda ragu-ragu.
Sivia menampung tangan Belinda dan mengusapnya lembut." mama, membagi butuh waktu bagi kami berdamai, dan aku memakluminya.
" Aku memang bodoh membatalkan pernikahanku dengan Hito dengan mengkhianatinya, tapi sekarang aku menyadari kami tidak saling mencintai.
" Aku bahkan berteman dengan calon istri Hito, dan aku tahu Hito sangat mencintainya. tatapan Hito padanya tidak pernah dia berikan padaku. Kami sudah menemukan kebahagiaan kami masing-masing. dan keluarga Hartadraja tidak membenciku hanya karena ulah nenek Guadalupe."
" Syukurlah kalau begitu, mama lega mendengarnya." Belinda mengusap lembut pipi putrinya.
" Papa, apa tidak sebaiknya kita pulang saja? maksudku Navarro saat ini sudah menargetkan Sivia."
" Justru kalau kita pulang keadaan Sivia lebih terancam karena di sana Navarro masih punya banyak teman yang siap membantunya demi menghancurkan Sinolan." ucap Alejandro.
" Mama jangan mengkhawatirkan itu, aku sudah mendatangkan bala bantuan ke Indonesia untuk menjaga kalian." seru Rodrigo.
Belinda menatap Diego yang mengangguk padanya.
\*\*\*\*
Di Alatas architecture lah kini Mumtaz dan para sahabat berada berhadapan langsung dengan keluarga Husein Alatas bersaudara ditambah Riana yang duduk di kursi ujung bersama Zahra dan Zahira.
Riana duduk gelisah di kursinya, Zivara membisikinya." apa kau berbuat ulah lagi?" Riana menggeleng.
" Maaf, saya mengganggu waktu kalian, tetapi ada yang harus segera saya luruskan, ini perihal Riana, paman Husein."
Hazam Husein menatap Riana yang menunduk dalam." apa lagi yang Riana lakukan?"
" Dia menganggap kebaikan saya pada kelurga paman dikaitkan dengan perasaannya pada saya, dan saya tidak menyukai itu." tekan Mumtaz tidak menutupi perasaan tidak senangnya.
" Maksud kamu, apa?" tanya Ibrahim Husein.
" Dia telah menyebarkan rumor kalau kami ada sesuatu hubungan spesial, dan sebagaimana kalian tahu kalau saya sudah memiliki Sisilia Pradapta sebagai kekasih saya. bisakah kalian menjelaskan padanya? karena sepertinya dia tidak bisa memahaminya kalau saya yang mengatakannya."
" Benarkah itu Riana?" tanya Zahra memicing.
Riana tidak sanggup menjawabnya, sedangkan Zivara terkesan tidak ingin membantunya.
" Riana." panggil Ibrahim.
Riana mengangkat wajahnya menatap Ibrahim." Bang, aku mencintainya, aku sudah mencoba menghilangkan rasa ini, namun tidak pernah berhasil." mohon Rian pada Ibrahim berharap ia memahaminya.
" Saya tidak pernah mencintainya memberikan harapan padanya. sekarang pilihannya adalah saya membiarkan paman Hazam dan bang Ibrahim mengurus perusahaan pusat dan kalian menjauhkan dia untuk saya atau kalian lepaskan perusahaan itu sama sekali dan saya urus Riana dengan cara saya." tegas Mumtaz.
" Saya menghormati paman, tapi saya tidak bisa berhubungan dengan orang-orang yang beresiko merusak hidup saya. Saya harap paman memakluminya."
" Bagus Kakak mendukungmu. jangan biarkan hidupmu rusak karena keegoisan seseorang yang tidak memiliki kebaikan." dukung Zahra.
" Riana, saya Zahra, Kakak tertua Mumtaz. kau bisa tanyakan pada Zivara hal buruk apa yang bisa saya lakukan pada orang yang mengganggu keluarga saya." peringat Zahra langsung menatap netra Riana.
" Kak Mumtaz, urusan Riana biar saya yang menanganinya, biarkan papa memegang perusahaan itu, kakak tahu betapa bahagianya papa kembali mengurus perusahaan itu meski tidak bisa memilikinya kembali." ucap Jasmine memohon. dia menatap tajam Riana.
" Apa jaminannya Riana tidak lagi mengganggu saya?" tanya Mumtaz mematikan.
" Kakak bisa menikahkan aku dengan Fatih." Ucpa Jasmine berlagak enggan.
Fatih mengerang malu, duo Ibrahim menertawainya, Zivara melempar tisu padanya, Sisilia terkikik, Daniel, Ibnu, Mumtaz menatapnya malas. sedangkan yang lain saling pandang bingung.
" Untung di Lo, ragu di gue. Serius Jasmine."
" Aku serius, aku jami. Riana gak akan ganggu kakak lagi. namaku bagai neraka jahanam baginya." Jasmine meyakinkan.
" Terserah, awas aja kalau kamu bohong. pekerjaanmu taruhannya." tukas Mumtaz.
\*\*\*\*\*
Prang\_\_\_
Alfred melempar gelas wine-nya begitu dia mendengar ucapan Matunda.
" Kau ini tol0l atau bod\*h. kenapa kau bilang semua rencana kita padanya." bentak Alfred tidak habis pikir cara berpikir Marunda yang sangat polos.
" Ini bukan keahlianku, dan saya menolak rencana jahat anda."
" Berani aku membantahku?"
" Anda bisa memecat saya."
" KAU..."
Tit..tit....
" Maaf tuan, itu alarm kalau kita menembus pertahanan RaHasiYa. tuan, apa anda akan memecat saya atau membiarkan saya melanjutkan usaha agar kita bisa masuk ke gedung RaHasiYa?" tanya Matunda dengan gestur culas.
" Teruskan lah, jangan buat saya kecewa..."
" Saya usahakan, tinggal selangkah lagi kita bisa masuk ke gedung itu." ucap Matunda
__ADS_1
dengan mata menatap monitor komputernya.