
Para Mama berkumpul bersamaan di ruang kerja Gama dengan pemeran utama dokter Natasya, psikiater yang selama ini menjadi konsultan kejiwaan Mumtaz.
Gama, Aryan, Teddy, dan aznan duduk tenang di samping masing-masing istri, memperhatikan drama para mama.
" Jadi dok, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Bukankah anda menagtkan kalau Mumtaz sudah sembuh." ucap Hanna.
Natasya Duduk tegang di kursinya, dia mendapat telpon padaa pukul 7 pagi dari rumah sakit untuk segera datang ke rumah sakit karena ada pasien VVIP, yang ternyata para istri konglomerat yang memanggil dirinya.
" Mumtaz sangat pandai menyimpan emosi, dia seperti terlatih harus bagaimana bertindak. dengan kata lain saya juga terkecoh." ungkap Natasya menyimpan kecewa.
" Berapa usia anda?" tanya Dewi.
" 28, nyonya."
" Lama praktek." timpal Sherly.
" Lima tahun."
" Kenapa Mumtaz masih trauma?, maksud saya, dia pernah menjalani terapi." tanya Elena.
" Dia terlalu lama menahan emosi, selam ini dia menyimpan sendiri, memaksakan diri mampu menangani semuanya, sampai akhirnya ternyata alam bawah sadarnya berkata lain. ternyata bathinnya tidak sekuat pikirannya, dan sisi lain dalam dirinya ada yang mendorong untuk melepaskannya."
" Maksud mu dia pulang kepribadian ganda?" tanya Hanna.
"bukan, gini terkadang pikiran dan hati kita saling adu argumen atas apa yang ahrus dan tidak harus kit lakukan kan?" semuanya mengangguk.
" Analoginya begitu. dia berperang antara hati dan logikanya, namun pada akhirnya tubuh menuruti yang bisa membebaskan dia dari segala kesusahannya.
" Apa yang ahrus kita lakukan?" tanya Elena.
" Pak Mumtaz itu, orang cerdas, dia mampu mengendalikan diri harus bagaimana, karena dia punya modal kuat akan kepercayaan dirinya."
" Apa? siapa?" sosor Hanna penasaran.
" Keluarga, dia percaya diri kalau dia punya orang-orang yang menerima dia apapun keadaanya. itu point pentingnya. support kalian sangat menyembuhkan Beliau."
" Kesimpulannya?"
" Pastikan dia merasa dilindungi, dimanja, disayangi. saya punya firasat dia lama menanggung beban ini, tapi dia tidak bisa mendapatkan yang tadi saya bilang sesuai kebutuhannya."
Deg ...
Hanna, Aryan, sherly dan Teddy tertegun, ada satu sudut hati mereka merasa tercubit. rasa bersalah untuk kesekian Kalinya merayapi hati mereka.
Selama bercerita perubahan raut Natasya tidak lepas dari tangkapan mata Elena, dan dia sangat tidak menyukainya.
" Terima kasih, dok atas informasinya." tukas Hanna sedih.
' Anda boleh pergi, dok." elena tidur beranjak begitu Natasya beranjak keluar dari ruang kerja suaminya.
" Dokter." Natasya sedikit kaget saat mendapati Elena mengikutinya keluar.
" Iya, nyonya " Natasya dengan hormat mendekat padanya.
" Saya akan to the point saja padamu."
" Maksud nyonya?"
" Say tahu anda menyukai calon menantu saya?"
" permisi?" Natasya mencoba tenang, walau degup jantungnya berdetak kencang. ia gugup dan was-was.
__ADS_1
" Jangan gimmick naud di hadapanku, dokter. saya ingin memperingatkan anda, dari keterangan tadi calon mantu saya tidak berterus terang padamu, itu tanda dia tidak menyukai mu. hilangkan perasaan anda, jika tidak, say akan memastikan anda tidak bisa berpraktek dimana pun lagi."
" Nyonya, saya kira and adalah paham. saya tidak..."
" Mulut mu bisa mengelak, tapi tidak dengan sorot matamu..." Elena berjalan mendekatinya yang dari gesturnya bisa dilihat Natasya begitu cemas.
" Saya tidak akan membiarkan satu wanita pun merusak hubungan mereka, dia putraku, sekaligus calon mantuku. kalau kau cukup punya nyali, kau tidak hanya berhadapan dengan ku, tetapi seluruh orang tua yang tadi hadir, belum lagi Zahra. kau tentu tahu bagaimana dia jika dirinya dikecewakan. pargilah!" Natasya langsung berlari wajahnya pucat, dia cukup tahu diri untuk tidak berurusan dengan mereka.
" Ada apa kau mengikuti dokter tadi, Elena." tanya Hanna begitu elena kembali masuk ruangan.
" Hanya memastikan hama pergi sebelum berulah."
*Maksudnya?" tanya Dewi.
" Dokter tadi menyukai Mumtaz, beruntung calon mantu Ki tidak menyukainya, jadi aman. coba kalau itu Daniel, dokter itu juga dia tidak embat." seloroh elena yang disambut tawa oelh yang lain kecuali Hanna dan teddy yang berdecak sebal.
" Kita harus mengawasi dia, dia seorang psikiater, aku takut dia akan melakukan sesuatu." ucap Sherly.
" Aku akan memberitahu Bara, kalian jangan mengkhawatirkan itu." tukas Aryan.
" Betul kata mas Aryan, kita fokus pada Mumtaz saja, pemandangan saat dia memeluk Eidelweis sangat menyayat hati. saya merasa bersalah, mengingat Aida meninggal untuk menyelamatkan cucu saya." satu Dewi.
" Mbak, jangan begitu. bicara soal kebaikan keluarga itu tidak akan ada habisnya, Mumtaz pasti tidak suka akan perkataan mbak, saya tahu itu. sekarang waktunya kita berbuat sesuatu untuknya yang berhubungan dengan mbak Aida." kata Hanna
" Apa itu?" par mama merapat, padahal mereka berbicara dengan suara keras." bagus kan ide ku?" ucap Hanna.
" Kapan kit mulai?" Sherly bersemangat.
" Besok, kita tinjau tempat itu."
" Okay, deal. besok kit mulai bergerak." ucap Elena.
^^^^^^^^^
dari langkah pertama kakinya mendekati rumah itu degup jantungnya sudah bertalu-talu gila. keringat dingin membasahi tubuhnya yang bergetar.
Ibnu mengambil tangan Mumtaz, yang refleks ditaut kuat oleh Mumtaz. saling menggandeng mereka memasuki rumah itu dapat Ibnu rasakan betapa dinginnya tangan sahabatnya itu, tangannya kebas dalam genggaman. mitmaz yang sangat kuat.
Begitu sampai di depan pintu tubuh. Mumtaz gemetaran hebat Hinga dia lunglai bersyukur Alfaska sigap menyangga tubuh yang hampir jatuh tersebut.
Daniel mengambil kursi yang berada di teras, mereka mendudukan Mumtaz di sana. dia menunduk menopangkan tangan di atas pahanya. napasnya terengah-engah, dadanya sesak, ia ingin mundur tapi dia pun tidak lagi bisa menahan siksaan bathinnya ini. dia takut dirinya lepas kontrol dan melakukan apa yang dikhwatirkan semuanya.
Tiba-tiba seseorang memeluknya, sesaat tubuhnya menegang, namun detik berikutnya dia membalas pelukan itu.
" Its okay. kalau Aa gak bisa its okay. kita lakukan perlahan-lahan saja." bisik Zayin menenangkan."
" Bapak dan ibu di dalam sana saat api itu ******* rumah ini, aku...payah...aku tidak bisa menyelamatkan mereka." rintih Mumtaz.
" Tapi Aa berhasil membalas para pelakunya, bapak pasti bangga. bapak sudah tenang Aa sudah menjadi kakak yang baik untuk Aa Inu dan Dafi. sudahlah semaunya sudah berlalu, kita berdamai dengan masalalu itu, okay?" Zayin mengusap menenangkan punggung kakaknya.
Lama.merka dalam posisi saling berpelukan, saat Mumtaz tenang mereka saling menjauhkan diri saling tatap.
" Aa sudah berhasil mengembalikan nama baik bapak, para tetangga yang dulu menghina Aa Inu sudah meminta maaf atas kekeliruan mereka, bahkan mereka mensupport Aa ini dan Dafi. mereka berdua kini tidak lagi merasa asing di rumahnya sendiri. Aa tenangkan dirimu, kau tidak gagal, Aa berhasil! berhasil atas cita-cita ingin mengembalikan kehidupan untuk Aa Inu dan Dafi." ucap Zayin setenang mungkin.
Ibnu sendiri sudah menahan tangis, dia merasa merasa bersalah, berkali-kali dia merutuk andai dia tidak kehilangan ingatan, Andai dia kuat menahan goncangan bathin atas kehilangan kedua orang tuanya, andai mereka bersama-sama mengatasi luka ini, Mumtaz tidak akan menyimpan luka itu sendiri, berpura-pura baik, padahal yang paling sakit diantara mereka tas luka masing-masing adlah Mumtaz.
Apa yang dipikirkan Mumtaz itu juga yang dipikirkan Alfaska, Daniel, dan Bara. andai mereka kuat, Andia mereka tidak bergantung pada Mumtaz, andai...seribu perandaian yang...yang mustahil mereka dapatkan, keran kini nyatanya Mumtaz sudah terluka, bathinnya sudah rusak, dan itu semua karena mereka yang lemah.
" Kamu tidak membenciku kan, Yin? Aku ternyata tidak sekuat yang kamu kira."
" Jangan mengecilkan diri hanya satu memory, Ayin bangga pad Aa, Aa sangat kuat bahkan lebih kuat dari bang Bara yang ditakuti oleh semua Genk motor pad masanya saja udah cukup buat Ayin. hari ini besok, lusa, bahkan kemarinnya kau masih menjadi kakak kebangganmu. menjadi inspirasiku, ayah dan mama akan bangga padamu, selalu kau selalu menjadi dan bangga mereka." diakhir kata Zayin memupuk kepal Mumtaz, sesuatu yang selalu dilakuan orang tuanya saat mereka sudah berbuat baik.
__ADS_1
" Kita pulang?" Mumtaz menggeleng, menolak ajakan Zayin.
" Sudah sejauh ini."
" Muka Aa pucat banget."
" Ada mereka yang bopong kalau Aa pingsan." mereka tertawa, senang rasanya Mumtaz sudah bisa berseloroh meski bertolak belakang dengan tubuhnya yang masih memproduksi keringat dingin.
" Berhenti memaksakan diri." peringatan Zayin.
" Enggak, tapi memang udah kesal aja dengan ini semua." ucap Mumtaz.
" Terus gimana? lanjut masuk?" Mumtaz mengangguk.
Zayin berdiri, dia dengan tenang membuka pintu rumah. mereka bisa melihat betapa kuat pengaruh suasana dalam rumah, tubuh Mumtaz tersentak, saat netranya melihat ruang tamu, tubuhnya menggigil.
Zayin mengulurkan tangannya yang lama diabaikan kakaknya meski kemudian dengan keraguan dia menerima uluran tangan yang sama besar dengannya itu.
Perlahan, kakinya bergerak masuk, tangannya yang dipegang Zayin mengepal kuat,
wajahnya semakin pisa, melawan rasa takut yang menghinggapinya Mumtaz melangkah semakin dalam ke ruang tamu, kakinya mulai melemah ia refleks berpeganahm pada Zayin yang langsung sigap memapahnya.
saat kakinya semakin ke dalam hingga mereka berdiri di ambang pintu antar ruangan, tubuhnya tersentak kala deretan adegan demi adegan sepuluh tahun menerpa pandangan alam bawah sadarnya, yang paling mengerikan adalah dimana ibu diperk'osa di depan mat Amerika dan tawa para lelaki bang'sat itu.
Tubuhnya sudah tidak bisa lagi menahan, saking jijiknya ia mengeluarkan segala isi perutnya, tubuhnya lemas lalu semaunya gelap, sayup-sayup dia dengar teriakan sebelum matanya menutup rapat.
Zayin memegangi tubuh tinggi yang terkulai lemas dalam rengkuhannya, saat yang lain berteriak Ida cukup tenang menangani kakaknya yang sudah terlihat pucat seperti mayat.
"Yin, Zayin..." panik Ibnu.
satu lagi orang yang harus dia tenangkan," Aa hanya pingsan. tenang lah kalain semuanya."
" Kita bawa ke rumah sakit." ujar Alfaska.
" Tidak perlu, kalian bersihkan bekas muntahannya aku bawa Aa ke kamar dulu. sorry, A rumahnya kotor." ucpannya pada Ibnu yang menggeleng cepat.
Radit lekas mengikuti langkah zayin ke sebuah kamar yang disediakan untuk Mumtaz oleh Ibnu yang terletak di samping kamarnya.
" Bang, semuanya okay?" tanya khawatir Zayin.
Radit menyelimuti tubuh Mumtaz, menyalakan suhu AC.
" Hal yang wajar, setidaknya Mumtaz tidka lagi menahan menolak semau gejolak perasaannya, dia membenturkan diri dengan kejadian 10 tahun yang lalu, pusat dari traumanya. itu kabar baik bagi kita."
" Terus gimana?"
" tinggal menunggu dia siuman. Lo istirahat, tenangkan Ibnu, dan yang lain, yakinkan mereka semuanya baik-baik saja. mereka masih terbelenggu perasaan bersalah pad sekalian sekeluarga, dan itu tidak baik jika dibiarkan. Lo mewakili keluarga nyatakan tidak ada yang perlu disalahkan, atau apapun lah sesuka Lo, gue yakin di militer diajarkan ilmu psikologi."
Zayin mengangguk," gue titip kakak gue, gue urus tu para bocah gede. jadi orang kok pada baper dan gak move on lagi, pusing gue. ini tuh kayak labirin bolak balik mulu."
Radit terkekeh, " Setidaknya mereka mengeluarkan perasaan itu, Yin. rasa bersalah akan berdampak menjadi menakutkan jika berubah menjadi rasa benci pa dan diri sendiri yang berakhir bvnvh diri karena merasa tidak berguna." tutur Radit yang diangguki Zayin.
" Gue keluar dulu."
" Hmm."
ketika pintu dibuka terpampang wajah b
tegang Bara, " astaghfirullah, gue kira gondoruwo Lo, bang." bentak Zayin.
" Ck, gimana Mumtaz?"
__ADS_1
" Tidur. lihat aja sendiri. jangan lama-lama gue mau ngomong sama kalian pada."
" Hmm." Bara memasuki kamar....