Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 53. cerita cinta Atma Madina


__ADS_3

" Mbak, hari ini bukannya ijin setengah hari, kok baru pulang?" Tanya mami


" Dari rumah mbak Aida."


" Ada apa ke rumah mbak Aida, hati-hati jaga Bara atau Dista dari mereka."


" Kamu masih belum merestui Alfa dengan Tia?, Tia anak baik loh, San!"


" Dia bukan anak dari kalangan atas, aku hanya berharap Afa mendapat pendamping yang setara, yang bisa menyesuaikan diri dengan gaya hidup Atma Madina."


" Ya Allah, Sandra. Picik sekali pikiranmu, apa kamu pikir Atma Madina masih ada?"


" Apa maksud mbak, tentu masih. Aku menjaga segala hal tradisi Atma Madina."


" Kamu pikir siapa yang membesarkan nama Atma Madina? ARYAN, bukan seorang Atma Madina. Yang berhasil merubah Atma Madina yang kaku menjadi humble. Mbak yang koma selama delapan tahun saja dapat merasakan perubahan atmosfer Atma Madina, masa kamu enggak."


" Kasian sekali Tia punya mertua kayak kamu, andai dia menyukai Bara, aku akan menikahkan mereka kapan pun mereka mau." ujar bude sherly


" Apa maksud mbak, Tia menjadi menantuku?"


" Well, mereka akan menikah, dan sekarang sedang sibuk mengurus pernikahan."


Mami terdiam, dengan naik pitam mami pergi menuju rumahnya yang terletak di seberang.


" Papi, apa benar Afa akan menikah?" Teriak mami begitu mendapati suaminya duduk di ruang keluarga sedang membaca majalah bisnis.


" Iya."


" Kenapa mami tidak diberitahu?"


" Afa sudah mengatakannya pada mami kalau dia akan melamar Tia."


" Dan papi menyetujuinya?


" Tentu, Tia anak baik-baik dari keluarga baik-baik."


" Batalkan, mami tidak Sudi memiliki mantu dari kalangan bawah. Pi, Afa ahli waris tunggal kita, kenapa papi sembarangan menikahkan Afa dengan gadis miskin itu."


" Mereka tidak miskin, mereka hanya tidak mengumbar kekayaan mereka."


" Huh, omong kosong. Batalkan pernikahan itu, kalau memang Afa ingin menikah biar mami Carikan calon istrinya."


" Kamu setuju atau tidak, pernikahan tetap akan terlaksana karena ini kebahagiaan Afa." Ucap tegas papi.


Mami meninggalkan ruang keluarga dengan marah, dia harus melakukan sesuatu untuk masa depan ahli warisnya.


Sesampai di kamar tidur mami menelpon seseorang " hallo jeng Miranda, apa kabarnya?"...


" Assalamu,alikum, Afa pulang." Jimmy menuju ruang keluarga yang biasa papinya berada di sana, namun langkahnya terhenti karena panggilan mami.


" Afa, apa benar kamu akan menikahi Tia?" tanya mami berdiri di depan kamar tidur utama


Jimmy berbalik menghadap mami, dia lelah dan ingin pergi ke kamarnya " iya."


" Batalkan, mami sudah punya calon untukmu."


Jimmy menggeram kesal " hentikan sebelum Afa berbuat nekat, mami."


" Memang apa yang bisa kamu perbuat? apa kamu akan melawan mami? tantang mami.


Afa diam sesaat, " sekali lagi Afa bilang tidak peduli mami setuju atau tidak, Afa akan tetap menikahi wanita pilihan Afa." Jimmy yang anti memasuki rumah, kembali melangkah keluar.


"AFA,...kemari kamu.!!! panggilan yang diacuhkan Jimmy yang terus melangkah meninggalkan rumah


Papi bertepuk tangan mengejek " Hebat Sandra, kau sudah berhasil membuat Alfa, anak semata wayangmu menjauh darimu. Sekarang dia menjauh, jika sikapmu tidak berubah anakmu akan pergi dari hidupmu." sarkas papi yang meninggalkan mami ke ruang kerja.


Mami tertegun dengan panggilan papi yang menyebut dirinya Sandra, bukan mami. sebutan yang hanya keluar jika papi kecewa terhadap dirinya.


*****


" Nu, gue nginep di rumah lo, ya." ucap Jimmy membaringkan diri di atas kasur berukuran king size di kamarnya


" Emang gue bisa nolak kalau Lo udah tepar begitu!?" Ibnu mendumel menutup pintu kamar tamu.


*****


Bara dan Cassandra sedang berkencan di cafe'D'lima waktu yang jarang mereka dapatkan.


" Kak, serius kakak gak suka kak Tamara, cantik loh dia."


" Kamu muji atau mancing aku? Kapok aku dekat cewek lain kalau cuma bikin kamu menjauh." Ucap Bara.


" Ini lain lagi, waktu itu emang kakak selingkuh sama kak Maura." tekan Cassandra


" Bukan selingkuh, sayang. cCuma terjebak masa lalu." Sangkal Bara


" Yee..., sama aja." Dumel Cassandra


Bara memainkan tangan Cassandra di pangkuannya " Hehehe...sumpah aku kapok, cuma kamu yang bisa bikin aku patah hati. Bayangkan empat tahun aku hidup dalam kesedihan karena cewek." Bara mencium tangan Cassandra dalam.


" Bara," panggil Maura yang berdiri di meja Bara


Bara menatap Maura tajam " apa?"


Tanpa malu Maura duduk di seberang Bara." Aku mau minta tolong sama kamu, aku mau kamu tolong bisnis papa. Papa marah sama aku karena penawaran kerja sama papa ditolak Hartadraja." Maura melirik Cassandra


" Cih, males banget. Cari target yang lain." 


" Please, demi masa lalu kita. Aku sudah mencoba bujuk Akbar, tapi dia tetap tidak bersedia membantuku. Kamu gak bisa biarin keluarga aku bangkrut, Bar. Aku orang yang dulu kamu cinta."


" Heh, itu masa lalu yang gue sesali. Untung dulu bokap Lo gak menyetujui kita kalau iya, udah ikut bangkrut keluarga gue. Sana Lo pergi, ganggu aja. Atau lo pengen luka yang lebih parah dari yang kemarin?" Ancam Bara


Maura ketakutan melihat amarah Bara, dengan delikan tajam ke arah Cassandra, Maura meninggalkan meja itu.


" Kak, gak perlu segitunya."


" Brotosedjo, ayah Maura, seorang penipu. Dia mencuri ide produk milik Rugawa, ayah Raja, sayang."


" Hah, serius?"


" Iya, itulah mengapa RaHasiYa melarang Hartadraja melakukan kesepakatan dengan Brotosedjo, babe."


" Ih, jahat banget. Kok gak kreatif sih, kalau gak bisa bisnis ya mundur gak elit banget caranya." Omel Cassandra


" Hahahaha, kamu yang baru dengar dikit aja marah apalagi kita yang tahu banyak. Karena ulah penipu itu keluarga Raja hampir bangkrut, untung Daniel menawarkan kerja sama antara Birawa dan Rugawa." 


Bara mendekap Cassandra gemas dengan erat


" Ih, awas. Malu, di tempat umum."


" Apa sih yank, ini biasa aja. Kita juga di pojokan gak banyak orang lihat."


" Oooh begitu duduk di pojokan supaya bisa mesum, udah sama siapa aja beginian?"


Bara menepuk jidatnya " salah ngomong, aku cuma sama kamu duduk di pojokan, sama yang lain mah dekat pintu keluar malah." Masih mendekap Cassandra


" Termasuk sama kak Tamara?"


" Apaan dah, aku tuh gak pernah tertarik sama dia, dianya aja yang sok dekat. Aku cuma mau kamu."


" Tapi gak dilamar kayak kak Jimmy melamar Tia."


Bara melihat Cassandra dengan jenaka " oooh lagi ada yang iri karena sahabatnya dilamar." Ucap Bara menahan tawa


" Iiih gak gitu, tapi kan...au ah bete." Cassandra keki


" Hahahaha.....aku pasti nikahi kamu, tapi apa kamu bisa menikah sambil kuliah?, Kamu kedokteran loh"


Cassandra merenungi itu " iya juga ya." Gumamnya.


" Kamu gak perlu iri, Jimmy menikahi Tia memang keadaannya harus begitu, kita tahu itu. Bukan aku gak mau nikahi kamu sekarang, tapi terus terang saat ini fokus aku ngurusin kamu, Atma Madina dan jiwa Jimmy. Aku harap kamu sabar." 


Cassandra memeluk lengan Bara erat " aku tahu, maaf udah bikin kakak gusar."


Bara menggeleng " Maaf, perhatian aku terbagi, tapi aku harap kamu tahu kalau aku cinta kamu." Bara mengecup puncak kepala Cassandra


****

__ADS_1


" Cheers," ucap serempak petinggi surga duniawi, dan para kolega


" Hebat kamu Rudi, berhasil bujuk polisi menghentikan penyelidikan surga duniawi. kapan kita bisa beroperasi lagi." ujar Brotosedjo


Rudi tersenyum jumawa " lusa, kita gak bisa buang waktu. Vic, hubungi pelanggan tetap, dan buat promo besar-besaran. sayangku Adinda, kamu harus bersiap-siap menjadi Mega bintang lagi."


" Tentu, pa."


" Saya punya kabar bagus, Sandra Atma Madina menelpon, dia ingin kita perluas bisnis. Dinda, kamu ikut sayang dia suka kamu." ucap Celine ke Adinda


" tentu, aku harap bisa mendekati Bara Atma Madina."


" Jalan kita lancar, mari kita kumpulkan pundi-kekayaan dan kekuasaan." seru Rudi mengangkat tangan dengan segelas wine merah ditangannya


" Untuk kejayaan belum sama." serunya.


" Untuk kejayaan bersama." sambut serempak mereka.


" Baiklah, aku pergi dulu. mencari pelanggan baru." Adinda meninggalkan para kolega.


Club dengan suasana romantis menyambut kedatangan Adinda dan Erika yang berpakaian minim nan sexy


" Oke, kita mulai cari mangsa." Ucap Erika ke Adinda


" Itung-itung cari pelanggan kalau Surga Duniawi aktif lagi."


" Gila, nyari perkara Lo curi pelanggan orang."


" Ini tuh strategi namanya." Alibi Adinda


" Gue kesana dulu, ada cowok kesepian." Adinda berjalan melenggokan tubuh mendekati seorang lelaki tua yang duduk sendiri sambil menyesap minuman beralkohol


" Hallo, Daddy." Sapa menggoda Adinda


Tanpa kata lelaki itu menarik Adinda ke pangkuannya, tangannya menyibak pakaian mini dres sampai menemukan kenikmatan di tengah ************


" Puasin aku malam ini, baby." Bisik mesum sang pria yang sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Adinda.


" Yin, itu Adinda bukan sih?" Bisik William menunjuk kearah kursi pojok


" Iya, anjir." Zayin menelpon seseorang.


" Bang, lakukan streaming cctv club the flowless, fokus target Tamara dan Adinda." Zayin menutup sambungan telpon.


****


Gedung RaHasiYa


Saat ini mereka berada di ruangan Ibnu lantai delapan


" Nu, undangan gue udah ready belum, semingguan lagi loh gue nikahannya." Jimmy mengingatkan.


" besok Lo bisa ambil."


" Lo, barang persyaratannya udah ready belum?" tanya Daniel.


" Kata papi lusa datang."


" Btw, sakit kepala Sivia makin menjadi, gue khawatirnya karena chip yang kita pasang empat tahun lalu. Apa Lo pada gak kasihan dengan dia." Ujar Ibnu.


" Chip itu gue rancang bisa melepas diri, menghancurkan dirinya sendiri dan terbuang lewat BAB kalau kita tutup database dia." Ucap Jimmy.


" Entaran aja tutupnya setelah dia balik dari Italia ." Ucap Daniel.


" Okey, gua tutup database secara otomatis seminggu setelah dia balik dari Italia." Ucap Ibnu.


Drrttt....ponsel Ibnu bergetar


" Hallo?"


"....."


" Kenapa?" Ibnu berdecak dengan ketidaksopanan si penelpon yang menutup telpon sepihak


 " Siapa, Nu? Tanya Daniel.


" Zayin, nyuruh kita streaming cctv club the flowless." Ucap Ibnu sambil mengutak-atik laptopnya.


" Astagfirullah, sekarang dede Ayin mainannya club." Celetuk Jimmy..


" Niel, telpon bang Erros, dia ada di sana ga?" Minta Mumtaz


....


" Tenang, ada. Gue udah minta tolong jagain Zayin." Ucap Daniel menutup sambungan telponnya.


" Tu anak maunya apa sih?" Khawatir Jimmy.


" Gue dapat kabar kalau dia belakangan ini selalu dekat dekat Tamara, entah untuk apa." Ucap Rizal.


" Apa malam ini kita nonton bokep live?" Celetuk Ibnu.


" Lo matiin, Lo simpen rekaman club malam ini. Astagfirullah, gue mau tidur.." Jimmy meninggalkan ruangan Ibnu dengan hawa gerah, karena dari layar terdengar suara cecapan cumbuan


***


" A, mau kemana? Ini baru jam setengah enam loh" tanya mama melihat Mumtaz yang sedang memasang tali sepatu dengan pakaian rapih.


" Refreshing ma, belakangan ini banyak banget urusan berat."


" Ini adik bungsu kalian mau nikah loh, kok kalian gak bantuin." Keluh mama melihat anak-anaknya bersikap cuek dengan pernikahan Tia.


" Ayin gak ngerti mau ngurus apa, Ayin nunggu perintah komando saja." Ucap Zayin.


Mumtaz: " Idem." 


Zahra:     " Idem (2)" 


Tia berdecak sebal " A, uang Aa cukup buat beli mobil, gak?" Tanya Tia.


Mumtaz mengangguk," kalau mau beli mobil, tanya mama. Kartunya di mama."


" Boleh?" Tanya Mama.


Mumtaz berjongkok di depan mama, dan menggenggam kedua tangan mama," mesti berapa kali Aa bilang, uang Aa, uang keluarga. Keluarga ini tanggung jawab Aa. Pakai saja sesuai kebutuhan keluarga, apapun itu."


" Dan Lo Ayin, jangan merasa gak berguna hanya karena menggunakan uang Aa." Ucap Mumtaz sebelum mencium tangan mama, dan meninggalkan rumah.


Zayin kaget mendapati kakaknya tahu perasaan sungkan dia sebagai lelaki.


" Kamu merasa begitu, dek?" Tanya kak Zahra.


" Kadang-kadang. Aku merasa egois masuk TNI dikala Aa Mumuy menghabiskan waktunya mencari nafkah buat kita dari remaja."


" Hilangkan pikiran itu, kita ini keluarga yang gak segan mengungkapkan kekesalan hati. Kalau Aa gak ngomong apa-apa, berarti gak apa-apa." Ujar kak Zahra.


" Ma, kita ke showroom hari ini bawa semua kartu Aa Mumuy. Kalian harus ikut milih."


" Sama Aa Ayin aja, kakak ada operasi. Kakak mah nerima jadi." 


" A,..." rengek Tia.


" Oke. Ajak bang Jimmy supaya cepat."


***


Pagi pukul 07.00 WIB sebuah showroom yang memamerkan mobil dibuka guna melayani pelanggan atas nama Alfa Atma Madina.


Tentu mereka tidak akan mensia-siakan kesempatan melayani seorang Atma Madina meski mereka heran seorang Alfa membeli kendaraan merk mereka.


" Ma, yang ini aja." Tia menunjuk mobil Fortuner keluaran terbaru warna hitam mengkilap.


" Kamu suka yang itu?" tanya mama, Tia mengangguk cepat.


" Menurutmu gimana, Yin?"


" Ikutin aja ma, daripada ngambek." Ujar Zayin

__ADS_1


" Ma, entar ke tempat motor, ya!"


" Kamu mau ganti motor?" zayin mengangguk


." Motor sekarang dari Ayin SMA, dan udah sering mogok, habis motor jama,ah."


" Baiklah, supaya adil."


" Cih, tadi aja sungkan, sekarang keenakan." cibir Tia.


" Kalau sudah, kita langsung bayar aja, ya " mereka ke tempat pembayaran.


"Yin, telpon Aa mau sekalian beli, gak? maaf ya mas, agak lama menunggunya." Zayin menjauh dari mereka untuk melakukan sambungan telpon


" Tidak mengapa, mungkin mbak bisa lihat produk yang lain?" tawar sellernya


" Tidak perlu, saya bagaimana anak saja." mama tersenyum


Tak lama Zayin datang kembali " Kata Aa, gak perlu, tapi disuruh tawarin kakak Ala. kata Kakak gak perlu repot, tapi kalau maksa beliin yang C-HR Hybrid warna putih." ucap Zayin males.


Kalau sudah begini dia jadi sungkan beli motor. Aa Mumtaz sudah keluar uang banyak buat beli dua mobil itu pastinya.


" Mas, saya mau yang hitam tadi, Sama yang diomongin anak lelaki saya, ya."


" Baik. maaf untuk C-HR nya harus pesan dulu, paling kami usahakan dua bulan lagi baru bisa."


" Usahakan paling lambat jangan sampai sebulan saja, mas." ucap Jimmy


" Baik, kami usahakan." Para seller tidak bisa menolak permintaan seorang Alfaska.


" Untuk Fortuner nya hari ini, ya. Yang mau calon istri saya." tekan Jimmy.


" Siap, nanti sore kami antar ke rumah."


Selagi mama dan yang lain sibuk transaksi Tia menjauh karena mendapat notifikasi pesan


" Temui saya dia cafe' D'lima pukul sembilan" Tia tegang mendapat pesan dari seseorang itu.


Tanpa sepengetahuan mereka sejak mereka memilih kendaraan ada seseorang yang mengamati mereka


" Ridho, kamu awasi mereka, dan laporkan segalanya kepada saya." ucap seorang wanita dalam kendaraan Porche.


" Baik, nyonya." sang asisten turun menuju showroom tersebut."


Ketika mama hendak membayar, Jimmy mencegahnya " biar Jimmy yang bayar, ma."


Mama menepuk-nepuk tangan pelan Jimmy sambil tersenyum " terima kasih, tapi Aa Mumuy mau traktir keluarganya."


" Saya bayar pakai kartu, gak apa-apa kan!?" mama mengeluarkan sebuah kartu berwarna silver dengan nama Stratus Reward Visa dari dompetnya.


Para seller terperangah melihat kartu tersebut, mereka tidak menyangka sosok yang berpenampilan sederhana ini memiliki kartu yang jarang dimiliki oleh orang, sekalipun konglomerat.


" Pantas gampang banget belinya, toh kartunya magic." pikir sang seller.


Seusai menyelesaikan transaksi mobil mama dan Zayin ke tempat motor sementara Tia dan Jimmy pergi ke kampus.


" Ma, apa gak kebanyakan kita ngabisin uang Aa?"


" Gak apa-apa. masih ada kartu yang lain yang belum dipakai." ujar enteng mama merangkul lengan Zayin ke tempat motor.


" Kak, Tia turun di sini aja." Tia menepuk pundak Jimmy.


Jimmy menepikan motornya, " kenapa?"


" Tia mau ke rumah Mayang, ada perlu."


" Kakak anter. Iya kali kakak nurunin kamu di sini."


" Gak apa-apa, kakak ada kuliah jam sepuluh kan. Udah, sana." Jimmy mengerti heran. biasanya Tia paling malas naik angkot, tapi sekarang dia


Tia menstop angkutan umum , Jimmy termangu di tempat karena khawatir Jimmy bergegas mengikuti angkutan tersebut


yang berhenti di depan cafe'D'lima.


Dengan perasaan was-was Tia memasuki cafe' tersebut dan menunggu seseorang tak lama seorang wanita perih baya yang masih cantik mendatangi mejanya dan duduk di hadapannya.


" Punya nyali juga kamu bertemu saya sendiri?" tanya wanita tersebut.


menolak terintimidasi Tia menatap tegas wanita itu " Mami..."


" Batalkan pernikahan kalian, kamu bilang Afa adalah bagian keluarga kamu jadi tidak mungkin kamu menikah dengan seseorang yang kamu sebut sebagai saudara. Saya sudah memilih calon istri yang pantas buat Alfa." ucap to the poin mami Sandra


Tia tertegun mendengar penolakan yang terang-terangan tersebut, hatinya sakit.


" Boleh saya tahu kenapa mami tidak menyetujui kami?"


" Karena kamu miskin, silsilah keluarga kamu tidak jelas."


Tia terkejut dengan alasan mami atas penolakannya.


" Boleh saya tahu siapa calon istri Alfa?"


" Wanita baik dan terhormat yang bisa mengikuti gaya kami, Adinda Aloya."


Tia terkaget mendengarnya " maaf, maksud mami?"


" Adinda Aloya putri dari Rudi Aloya, seorang pengusaha travel dan perhotelan di Indonesia. Apa kamu bisa menandinginya?"


Tia seketika kesal " Saya tidak perlu bersaing dengan wanita murahan itu, dan saya menolak untuk berpisah dengan kak Alfa." ucap Tia tegas.


" Kamu,...." mami Sandra naik pitam. Beliau melempar beberapa foto di atas meja.


Foto yang tadi Tia dan keluarga di showroom mobil " Saya sudah menduga kamu akan menolak karena bagi kalian Alfa adalah ATM kalian. Ibu kamu seorang janda tentu harus menggunakan anaknya untuk menggaet orang kaya untuk menjamin hidup kalian." ucapan hina mami terasa menusuk di hati


Tia menutup mata sakit " terserah apa kata mami, tapi saya tidak bisa berpisah dengan kak Alfa jika calon yang mami sediakan adalah dia."


" Kamu,..."


" Stop, Mi." suara keras nan tajam milik Jimmy menginterupsi mereka. Jimmy sebenarnya mendengar semua obrolan mereka, dia benar-benar marah kepada mami-nya


" Hentikan hinaan mu, Afa benar-bena kecewa." dia menarik tangan Tia untuk meninggalkan cafe' tersebut.


Sesampainya di taman kota Jimmy memarkirkan motornya.


Dia membawa Tia duduk di bangku taman menghadap danau buatan sedangkan dia berdiri menghadap Tia


" Kenapa kamu berbohong padaku?" tanya Jimmy.


Tia menghela nafas lelah, dia menarik tangan Alfa untuk duduk agar tenang.


" Lantas apa yang harus aku katakan kepadamu? bahwa calon mertua yang menolak ku ingin bertemu denganku dan mengucapkan selamat?" sarkas Tia.


" Tentu aku tahu jika mami akan mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan, apa kamu pikir aku akan membiarkan kamu mengetahuinya? kamu sudah terlalu banyak beban, kak. aku gak bisa buat kamu sedih lagi."


Jimmy mencium tangan Tia dalam " maaf, aku tahu apa yang mami ucapkan menyakitkan, tapi aku harap kamu..."


" Tidak, aku menolak permintaan mami untuk pisah, tapi aku pikir kita harus memikirkan perasaan mami. Aku gak bisa mengadakan resepsi dengan mewah ketika mami masih tidak menyetujui kita."


Jimmy menggeleng " kamu tidak perlu berkorban untuk itu."


" Kak, pernikahan itu cukup sah saja. minimal untuk saat ini itu sudah cukup. Karena kamu Jimmy, tentu harus dengan resepsi, tapi biasa saja dulu ya." bujuk Tia lembut.


Jimmy menggenggam tangan Tia erat " aku gak tahu mengapa mami keberatan denganmu. Wanita baik dan yang memahami aku. Terima kasih masih bertahan untuk aku." Jimmy mencium tangan Tia bertubi-tubi sebagai bentuk sayang dan penyesalan.


" Sudah, aku gak apa-apa. Yuk, kita ngampus." Jimmy mengangguk.


Sepanjang jalan menuju parkiran motor Jimmy tidak melepas tangan Tia seakan ingin memberi kekuatan padanya.


****


Dista duduk tertunduk di atas kasur dengan ponsel yang masih dalam genggamannya. Dia termenung sedih atas rumor yang sedang beredar di dalam wa group kampusnya.


dia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasurnya dan menutup mata dengan tangannya. Dia malu.


" Non, den Daniel menunggu di ruang tamu."


" Iya mbok, Ita turun." tanpa semangat Ita menghampiri Daniel.

__ADS_1


Daniel berdiri dan mendekat ke Dista " Kenapa dengan wajah loyo kamu?" ucap Daniel sambil mengelus pipi Ita.


Dista memeluk Daniel " Kak, kakak cinta sama aku kan?" Dista menyembunyikan wajahnya dileher Daniel yang merasakan tetesan air mata Dista...


__ADS_2