
Sivia duduk meringkuk ditutupi selimut tebal sambil menatap keluar jendela yang diguyur hujan dengan tatapan kosong.
Cklek...
Alejandro, Rodrigo, Raul, dan harry memperhatikan Sivia dengan wajah gusar, sejak pulang dari mansion Hartadraja Sivia mengurung diri di kamarnya dalam penthouse Raul.
" Sayang, bisa kamu cerita apa yang membuatmu begini?" Sivia menoleh kepada Alejandro yang duduk di sebelahnya dengan tatapan sendu.
" Apa kakek sudah bertemu dengan nenek?" suara lemahnya mengiris hati tiga hati pria yang terkenal tidak punya hati.
" Belum, sayang. Memangnya kenapa?"
Bulir bening mengalir dipipi Sivia tanpa bisa dicegah.
Sivia menangkup tangan Alejandro dengan keduanya tangannya yang mungil.
" Please, jangan memberi ampun padanya." Alejandro terkesiap dengan permintaan cucunya itu.
Sepanjang sepengetahuan dirinya Sivia selalu menginginkan kasih sayang dari dua nenek nya itu.
" Sayang, kenapa?"
" Aku tidak ingin kita hancur karena ulah nenek. Hari itu aku melihat bagaimana mereka tanpa sungkan membalas kekerasan kepada Tamara."
" Kek, kak. Apa yang terjadi padaku lima tahun yang lalu, aku yakin itu belum seberapa. Mereka bisa menjadi sosok tanpa belas kasih, sama seperti kakek jika ada yang melukai keluarga kita."
" Serahkan nenek kepada mereka, jangan ragu, andai keraguan itu ada. Atau mereka akan menghabisi kita semua."
" Sepertinya kamu kenal baik dengan mereka?" Alejandro masih mempelajari tentang ketegasan RaHasiYa, dan Bara Atma Madina.
Sivia menggeleng," mereka mencekikku hanya untuk sebuah informasi, tidak ada ketakutan dalam pancaran matanya. Dan b0d0hnya nenek membiarkan anak buahnya menyentuh Zahra atas inisiatif dari Tamara."
Seketika raungan amarah dari Alejandro memenuhi ruangan.
Tok...tok...
" Tuan maaf mengganggu, tuan Bara mengundang tuan Rodrigo dan tuan Raul untuk berpesta barbequean pada malam ini." Info sang asisten Rodrigo.
" Dan untuk tuan Gurman, petinggi RaHasiYa ingin bertemu dengan keluarga Armando, Eduardo, dan Pablo."
Sontak suhu ruangan meninggi karena tegang. Sebagai pemimpin kartel berpengaruh, Alejandro tidak menyukai dirinya tidak berdaya, biasanya dia yang memerintah, bukan diperintah.
" Katakan kepada tuan Bara, kami dengan senang hati memenuhi undangannya." Seru Rodrigo.
" Dan untuk petinggi RaHasiYa, kami akan mengabulkan permintaan mereka."
" Rodri...."
" Kakek, jangan katakan kalau kakek berubah pikiran, dan akan mengingkari semua kesepakatan kita?"
Alejandro diam, bagaimanapun dia seorang pemimpin organisasi besar, pantang baginya tunduk kepada sekelompok pemuda receh.
Raul yang melihat keterdiaman kakeknya menjadi geram," kalau aku kehilangan ibuku hanya untuk wanita tua itu, demi Tuhan selama hidupku aku tidak akan pernah mengakui dirimu keluargaku." Tegas Raul, ia meninggalkan kamar Sivia.
******
" Nyonya, ada surat."
Mateo memberikan sebuah amplop berwarna cokelat kepada Guadalupe.
" Dari siapa?"
" Entahlah, ini ditemukan di depan pintu apartemen."
Guadalupe membolak-balikan amplop tersebut, lalu membuka isinya terdapat satu post card yang bertulis " kami mengajak anda untuk berpesta malam ini, buka laptop anda, dan join bersama zoom dengan kode....."
" Mateo, ambilkan saya laptop dan buka aplikasi ini..." Guadalupe memberi post card itu kepada Mateo.
" Baik, nyonya."
*****
Tempat sepi yang terletak di desa terpencil di muka hutan disulap menjadi tempat barbequean yang cozy.
Para sahabat, William, Bayu, dan Arvan, turut bercengkerama bersama Dominiaz, Raul, dan Rodrigo yang duduk di meja bulat bersama Bara, dan petinggi RaHasiYa.
Mereka larut akan hidangan berkelas premium, sehingga mengabaikan empat orang yang diikat tangannya dengan penampilan lusuh.
Dominiaz mengerutkan keningnya bingung." Bar, apa gak ada tempat yang lebih elegan lagi?"
Dengan santai Bara menggeleng," kalian akan tahu apa yang akan aku lakukan."
Di depan mereka terdapat tiga layar besar berposisi saling berhadapan seolah hendak berkomunikasi.
" Apa kita akan mengadakan rapat virtual?" sindir Rodrigo.
" Apa anda sudah mempersiapkan keluarga ketiga 1d1ot itu, dan menempatkan mereka di tempat yang saya inginkan?"" Mumtaz bertanya kepada Rodrigo.
" Sudah."
" Kita lihat kebenarannya," layar yang tepat terpasang ditengah dan berhadapan langsung dengan mereka menyala menangkap area kartel dan sekitarnya.
Rodrigo dan Raul terkesiap, mereka melihat Mumtaz memainkan tabsnya.
Kamera tersebut terus menyusuri lorong mencari keberadaan objek yang dimaksud.
Di area terbuka tampak tiga keluarga duduk terpisah tidak jauh berkumpul di tengah tontonan para anak buah Alejandro.
Rodrigo dan Raul bungkam, hanya turut menyaksikan seperti halnya Dominiaz dan yang lain.
" Hueks.....hueks..." Lendir kental mengalir dari hidung dan mulut Tamara yang tidak dia pedulikan sama sekali.
Para pria menatap Tamara dengan berbagai pandangan yang berbeda, namun tidak satupun dengan pandangan baik.
" Bersihkan dia sebersih mungkin, dan dandani dia sej4l4ng mungkin." Suara berat Mumtaz menginterupsi perhatian mereka dari Tamara.
Tidak lama Eduardo, Armando, dan Pablo, lelaki kecil yang turut memukuli Zahra di ikat dengan mata tertutup kain di dorong ke hadapan mereka tidak jauh Tamara terduduk di tanah.
Ketika penutup mata itu dibuka, diperlihatkan jeritan dari layar kepada ketiga orang tersebut yang terperangah.
Seluruh keluarga besar mereka ada di sana menyaksikan Meraka terikat sebagai tahanan.
Satu layar di sebelah kanan menyala, memperlihatkan wajah bingung Guadalupe.
Wajah Raul menegang," kalian tahu dimana nenek ku tinggal?"
Sungguh Raul merasa kecolongan, untuk pembelian apartemen itu dia bahkan turun langsung agar tidak diketahui oleh siapapun.
" Anda membelinya menggunakan American Black card, bukan? Bahkan saya pernah mendapatkan bug yang sangat besar karena berhasil masuk ke server mereka kala saya berusia 17 tahun." Jelas Mumtaz santai.
Rodrigo membelalakan matanya, Dominiaz hanya menyimak saja.
" Saya paham kalau anda berniat menjauhkan dia dari kami, mengingat semakin dekat masa eksekusinya. tapi satu hal yang harus kalian tahu, seumur hidupku sudah lama saya mempersiapkan diri untuk moment ini."
Semuanya tampak bingung, Wajah tenang dan fokusnya meresahkan para sahabatnya, termasuk adiknya Zayin.
Ditengah kebingungan itu, layar sebelah kiri tepat berhadapan lurus dengan layar Guadalupe tiba-tiba menyala menampakan rupa Eric yang sudah b4b4k belur.
Terdengar pekikan Guadalupe melihat tampang putra Flamboyan-nya. Rodrigo dan Raul semakin awas.
Bara dan petinggi RaHasiYa melirik keluarga Gonzalez.
" Karena semuanya sudah hadir, mari kita mulai pesta kita. orang-orang di seberang layar mendengar suara, berarti kita bisa berinteraksi." Ujar Bara.
Bara melihat ke Mumtaz yang menatap para terdakwa dengan tenang, tatapan yang Bara tahu menyimpan kekejaman dibalik ketenangan itu yang tidak bisa diprediksi dalam bentuk apapun.
" Berikan padaku saudara perempuan ketiga 1d1ot tersebut." Pinta Mumtaz.
Wajah para penculik menegang, Rodrigo memerintah mereka untuk memisahkan saudara perempuan.
Wajah Mumtaz masih terlihat santai saat mengucapkan kata," pvkvli mereka tanpa ampun sampai saya bilang enough."
" NO..." Tolak ketiganya. Yang tidak diacuhkan oleh Mumtaz.
" Ikuti." Titah Rodrigo.
BUGHH...BUGH...BUGH...
" Aaaakh..." Tidak ada raut kasihan pada wajah para sahabat melihat para perempuan itu dipuvkul1.
" Please...jangan pvkvuli kami." lirih salah satu dari mereka.
Teriakan dan penderitaan Zahra yang terpatri dalam ingatan mereka menghapus rasa itu.
Sedangkan para penculik itu, wajahnya memerah semuanya. Pemandangan yang menyenangkan bagi para adik.
" Enough."
Wajah Guadalupe memucat, matanya terbelalak.
Mumtaz melirik tajam pada Guadalupe," hadirkan Gonzalez sekarang!"
" Tidak...jangan pernah berani menyentuh putraku..."
" Atau apa?..HAH..." Potong Mumtaz menantang.
" Rodri... Raul...apa kalian akan diam saja ayah kalian dianiaya dia." Murka Guadalupe.
__ADS_1
Brugh....
Tubuh Eric dipaksa oleh Jeno jatuh berlutut dengan kedua tangan terikat dibelakang kepala.
" Ibnu, Lo bisa mukulin dia kayak si nenek itu menyuruh anak buahnya itu memv-kvli kak Ala."
Para sahabat terbengong bingung dengan permintaan mumtaz, biasanya untuk eksekusi seperti ini Jeno, atau Leon yang akan dipercaya olehnya bukan Ibnu yang bertubuh jauh lebih ringan dari keduanya itu.
" Yakin Lo?" Ragu Ibnu.
" Gue si iya, kecuali Lo gak bisa berantem. Gue maklumi."
Ibnu berdecak malas atas sindiran Mumtaz.
" Mau separah apa yang Lo mau?" Ibnu beranjak membuka risleting jaketnya.
Mumtaz tidak langsung menjawab, ia malah menatap intens Ibnu yang sedang melepas jaketnya.
" Separah luka di wajah bokap-nyokap lo."
Gerakan Ibnu yang sedang memilin lengan kaosnya terhenti, ketika ekspresi marah sekaligus sorot sedih terbingkai di wajah Ibnu.
Semuanya terkaget sekaligus bingung.
" Yakin?" suara Ibnu memberat.
" Lo akan menyesal kalau tidak melakukan itu."
" Kenapa?"
Hening, tidak ada yang bermaksud menginterupsi obrolan dua sahabat kental tersebut.
" Dia tangan kanan orang yang menghabisi bonyok Lo."
Suara rendah nan tegas Mumtaz mengalihkan perhatian semuanya dari Eric kepada Ibnu, sayup-sayup terdengar tarikan nafas terkejut dari mereka.
Ibnu menoleh menatap tajam Mumtaz, ia langsung menarik kerah jaket Mumtaz hingga Mumtaz berdiri dengan mata mereka sejajar saling menilai.
Para sahabat menegang mengerumuni mereka.
" Katakan sekali lagi."
" Dia...tangan....kanan...orang...yang... membv-nvh ayah ibu Lo." Tekan Mumtaz dalam kata membv-nvh.
" Kau mengada-ada!" Tolak Raul akan ucapan itu.
" Heh," Mumtaz tersenyum smirk," kalian bisa tanyakan langsung padanya bagaimana dia bisa sampai di Indonesia dan awal dia merintis di sini."
" Bukti?"
" Semuanya ada di dokumen yang gue kirim ke elo."
" Perse-t4n dengan semua file yang Lo sandi dengan runyam itu."
" Ibnu, apa menurut Lo gue akan berbohong mengenai ini?" tanya cepat Mumtaz.
Setelah lama menatap langsung netra hitam Mumtaz Ibnu melepaskan pegangannya di jaket Mumtaz.
Ia menyugar rambutnya, bergerak tak tentu arah, ia bingung. Dia melangkah lebar menuju Eric yang sudah banyak luka mengering.
BUGH...
Eric langsung terjungkal dalam satu t0nj0kan sekuat tenaga, Ibnu langsung menariknya berdiri, kemudian kembali mengh4j4r. Hal itu terus diulang diiringi kehisterisan Guadalupe.
Eric memuncratkan d4r4h dari mulutnya begitu tend4ng4n keras menekan ulu hatinya yang membuatnya jatuh tengkurap lalu pingsan.
" Heh..heh...heh...."
Nafas ngos-ngosan disertai bulir bening dikedua mata Ibnu mengiris hati Mumtaz dan para sahabat lainnya.
Hening, sepi, hanya deru nafas dari Ibnu sebagai pengisi suara desa terpencil ini.
" Berarti Lo tahu siapa yang menghabisi bonyok gue?"
" Tentu."
" Sebutkan."
" Belum saatnya."
" Drama..." umpat Ibnu.
" Gue pastikan dia menderita seperti Lo yang selama ini juga menderita karena kesepian, haus kasih sayang orang tua tidak peduli berapa banyak ayah Zein dan mama Aida memberinya untuk Lo dan Khadafi." Tutur pilu Mumtaz, Suaranya sedikit bergetar namun masih menyimpan aura dingin.
" Terserah, tapi gue siap kapan saja menghabisinya."
" Tentu."
" Jadi selama ini kamu sudah menargetkan dia dalam waktu yang lama?" Tanya Rodrigo.
" Hmm."
" Kenapa tidak langsung kamu habisi dia?"
" Dengan segala dosa dia, kem4tian masih terlalu baik baginya. Tapi kalau Ibnu menghendakinya, dengan senang hati saya kabulkan."
" Apa yang akan kamu lakukan padanya?"
" Membuatnya menderita seperti Ibnu."
" Sejak kapan Lo tahu dia terlibat?"
" Sejak kita mengurus perkara Sivia beberapa tahun lalu."
" Si4l, b4ngs4t, b4j1ng4n..." amuk Ibnu menend4ng-nend4ng tubuh tidak sadar Eric yang terkulai lemas.
Daniel, Alfaska, Bara dan yang lainnya membiarkannya saja. Mereka pun tahu akan perasaan kesepian tersebut terpancar dari sorot matanya yang kosong. Kalau sudah begitu biasanya Daniel akan menelpon bundanya untuk membawa Ayunda dan ayahnya untuk menghiburnya.
" Hosh...hosh..."
" Hei anak muda hentikan kegilaanmu pada putraku." Teriak histeris Guadalupe.
" Diam kau pel4cvr tua." Hardik Ibnu membahana.
Guadalupe kicep mingkem.
" Akan tiba waktunya giliranmu, disaat itu terjadi, h4bislah kau ditangan ku." Ucap tajam Ibnu dengan tatapan menyalang yang menciutkan nyali Guadalupe.
" Jemput dia sekarang juga." Seru Ibnu, lalu dia melangkah meninggalkan area barbequean menuju mobil sport Alfaska yang dikendarainya dengan laju mengebut dibuntuti oleh beberapa mobil SUV.
Alfaska menelpon seseorang," bawa Guadalupe dari sana, tutup jalan keluar dari unit."
Dilayar terpampang begitu Alfaska menutup sambungan telponnya, unit Guadalupe terkunci.
Guadalupe dengan kaki tuanya melangkah tertatih-tatih, menggedor-gedor pintu agar terbuka, berteriak-teriak meminta pertolongan.
Sampai akhirnya pintu itu dibuka dari luar oleh Leon beserta anak buahnya yang membius kemudian membawa pergi Guadalupe dari sana.
Penculikan serba cepat itu berlangsung di depan mata Rodrigo dan Raul yang hanya bisa tertegun kaget.
" Sampaikan kepada Kakek kalian begitu dia mundur dari kesepakatan, maka tidak ada belas kasih dari RaHasiYa untuk kalian." Tegas Alfaska.
Rodrigo dan Raul hanya mengangguk dalam diam.
" Pesta ini akan dilanjutkan begitu Ibnu siap kembali. Sekarang kita nikmati hidangan yang telah disiapkan." Seru Bara santai.
Selang 45 menit kemudian Ibnu kembali dengan air muka lebih tenang meski masih terlihat mata merahnya seusai menangis.
" Mari kita lanjutkan pesta kita." Bawa svnd4l itu kemari."Alfaska menuang susu coklat hangat kedalam mug-nya.
Hal yang sedikit membuat tiga empat dewasa itu merasa geli ditengah ketegangan.
Mereka bersorak seronok melihat Tamara dengan penampilan sangat minim.
" Ya Tuhanku, mata suci Dede ternodai dengan nikmat." Keluh Bayu.
Pletak...
William menjitak kepala Bayu," nikmati Bay, belum pernah gue lihat orang berpakaian hampir telanjang dengan tubuh hampir penuh luka.
" Berikan saudara perempuan Eduardo." Tatapan mata Mumtaz kini menajam.
Satu perempuan dewasa, dan dua perempuan muda dengan wajah b4b4k belur merintih di lantai.
" Posisikan dia dengan posisi berlutut, begitupun dengan Tamara."
" Perasaan gue gak enak." Celetuk Bayu was-was.
" Dari tadi gue udah gak enak hati." Timpal willian
Jeno menendang lutut Tamara, hingga Tamara berlutut.
" Siapa diantar kalian yang mau melakukan Bl*w j0b dengan j4l4ng ini."
Semuanya terkejut, Mumtaz paling anti dengan hal berbau sek-sual. Dia menghindar kala Bara melakukan hal itu kepada targetnya.
" Boleh, bang?" Ragu salah satu anak buah Leon.
__ADS_1
" Silakan, siapapun yang mau, bawa dia ke tempat yang kalian mau."
Beberapa pria tersenyum senang, mereka mendekati Tamara dengan senyuman mesum.
" Tidak...gue tidak sudi melayani mereka." Tolak Tamara.
" Bara, please maafkan aku, aku bersumpah akan meminta maaf kepada Cassandra atas segala kesalahanku." Rengeknya.
" Bagaimana dengan kak Zahra?" Tanya Daniel.
" AKU MEMBENCINYA." Teriak Tamara.
Yang seketika membuat anak RaHasiYa naik pitam.
" Bawa dia." Titah Alfaska.
" Boleh lebih dari itu gak, bang?" Tawar mereka.
Dengan malas Mumtaz menjawab," no, *****-***** boleh, hanya itu. Videokan." Tekan Mumtaz.
" Hah!!!" Lagi, mereka sangat terkejut atas perintah Mumtaz, mereka berpikir ada yang tidak beres dengan otak Mumtaz.
" Oke " empat pemuda secara bergotong royong mengangkat Tamara untuk dibawa ke belakang pohon besar di dalam hutan.
" Tidaaak... Bara, jangan diam saja, aku dibawa mereka." Tamara meronta menolak mereka, walau itu sia-sia.
" Saya akan memberi hadiah kepada kalian untuk melakukan bl*w j0b dengan mereka." Kata Mumtaz kepada para pria di layar.
Wajah sumringah langsung terpancar, namun kengerian terlukis di wajah para wanita itu. Keluarga besar sudah menangis tergugu.
" Di depan para keluarga itu." Tambah Zayin.
Mata semuanya kembali terbelalak," sumpah, habis malam ini gue bakal periksa jantung gue. Gue sport jantung abis." Keluh Bayu.
Dominiaz menatap Mumtaz yang terlihat berbeda malam ini, bukan hanya Mumtaz, tetapi semua anak RaHasiYa terlihat berbeda malam ini. Mereka terlihat seperti berandalan."
" As your wish, sir." Jawab pria bergigi tonggos.
Tiga pria berdiri tegak di depan tiga wanita yang berlutut, mengeluarkan adiknya yang berdiri tegap dari sangkarnya, dan hal hina itu terjadi
" No, hentikan...ku mohon hentikan..habisi saya. Saya yang bersalah bukan mereka."
Permohonan Eduardo diabaikan oleh mereka.
Eduardo berlari dengan susah payah ke arah Mumtaz, menyimpuh di Kakinya.
" Hentikan, saya mohon..."
" Apa kau berhenti ketika Kakak memohon?"
Eduardo terdiam, " maka lupakan permintaanmu. Diam, dan saksikan wajah menderita saudara perempuan mu." Desis dingin Mumtaz.
Satu anak RaHasiYa memegang kepala Eduardo agar tetap melihat lurus layar yang menampilkan adegan tersebut. air mata Eduardo mengalir membasahi wajahnya.
Mumtaz dan Zayin sendiri memalingkan wajahnya dari kegiatan sen0-n0h itu, mereka memilih memanggang daging diikuti oleh yang lain.
Munt4han, jeritan, dan tangisan tidak diacuhkan oleh dua saudara tersebut, Adgar yang notabene mengenal Zayin menggeleng tidak habis pikir.
Setelah 30 menit barulah Mumtaz menyelesaikan tragedi itu.
" Tuan Rodrigo, pastikan mereka lakukan pelayanan tersebut tiga kali dalam sehari sampai kak Ala sembuh."
" Tidakkah itu sangat keterlaluan?" Raul bertanya mencoba menegosiasi.
" Sivia sudah tidak suci, apa kau ingin aku meminta mereka melakukan itu pada Sivia agar kau tahu kemarahan apa yang aku rasakan melihat trauma yang dialami kakakku?"
Raul mematung, dia menghela nafasnya gusar. " sorry, bukan mengecilkan maksud penderitaannya."
" Jeno, pastikan mereka," matanya menunjuk ketiga 1d1ot," terluka seperti luka kak Ala sampai kak Ala sembuh baru berhenti."
" Bang Arvan, katakan kepada panglima bahwa tersangka Tamara dirikan tewas tenggelam." ujar Bara.
" saya pikir saya tidak punya pilihan selain mengiyakan." bara menggeleng.
" Maaf, tuan. pesta saya cukup usai di sini." tukas Mumtaz.
Tidak lama kemudian, empat pria beserta Tamara yang terkulai lemas dengan mulut penuh cairan kental keluar dari balik pohon.
Penampilannya sangat mengenaskan!!!
" Bawa dia ke the Baraz." titah Bara.
Begitu sampai di tempat parkiran, Alfaska mematung menegang, sementara yang lain meringis prihatin.
Alfaska terkejut melihat kondisi mobil kesayangannya yang sudah penyok parah.
" Ibnu, Lo apain mobil gue?" Alfaska menoleh kepada Ibnu yang berjalan di belakangnya.
" Sorry, tadi gue gak sengaja nyium pembatas jalan."
" APA?"
" Ck, kayak orang susah amat, tinggal diservice."
" Bukan itu masalahnya, itu mobil kesayangan gue."
" Lalu,..."
mata Alfaska membola," lalu? itu mobil kesayangan gue."
" Iya, lalu..."
" Kenapa Lo tabrakin."
" Enggak ada gue tabrakin, si Rojak kayaknya haus belaian dech, kayak yang punyanya, pembatas jalan aja dia pepet."
Setelah berbicara demikian Ibnu langsung kabur menarik Mumtaz yang baru bergabung.
" IBNUUU...." Alfaska mengejarnya sampai menangkap Ibnu dan sparing berdua.
" Si Afa oon, ngajak si Ibnu yang lebih jago darinya buat sparing." celoteh Daniel.
kini Alfaska dibawah kekuasaan Ibnu yang menusuk b0k0ngnya dengan kakinya.
" Aaa....Ini sakit...Lo udah rusak mobil gue, sekarang aniaya gue. sumpah ya gue do'ain dio Ayu jodohnya sama si Juan."
Sontak Ibnu melepas korbannya, menatap tajam Juan yang berdiri kaku.
" Kagak elah, bang. gue kagak Deket sama si Ayu."
" Deket sih Enggak, cuma suka jalan." celetuk Raja.
" HAH!!" Semua anak RaHasiYa melihat penasaran Juan.
" Bu...Bukan jalan, bang. cuma ketemu kagak sengaja di jalan." Juan gugup.
" Tapi berkali-kali, curiga janjian enggak sih." Juan mendelik kesal kepada Raja yang bermulut lemes.
Ibnu kini mendekati Juan yang refleks berjalan mundur karena takut yang ditertawai oleh uang lain.
Rodrigo, Raul, dan Dominiaz memperhatikan tingkah konyol para pemuda itu dengan heran.
" Itu tadi mereka uang nyeremin tanpa belas kasih itu kan?"
*****
" Sayang, kenapa belum juga tidur?" tanya Hito selepas keluar dari toilet masih mendapati Zahra yang terduduk cemas sembari memainkan ponselnya.
Refleks Zahra mengangkat kepala dari ponselnya, lantas kembali menunduk karena gugup.
Hito menghela nafas dengan berat, " ini lagi, kenapa kamu yang baringan di sofa bed, sementara si Edel di ranjang kamu."
" Kak Edel lagi hamil, kak. kalau aku udah sembuh."
Hito berjongkok di samping sofa bed, " kalau kamu sudah sembuh, kamu tatap aku, bukan menghindar dari tatapanku, sayang."
*****
Bragkkkhh....
BUGH...
Semua orang yang berada di ruangan berbau sperm4 terlonjak kaget saat Tamara di lemp4r membentur lengan kayu kursi dan terjatuh di atas lantai.
" Tanura,...eh... Tamara..." teriak Naura kaget dengan keadaan keponakannya.
Jeno tersenyum sinis menyikapi reuni kelurga itu," selamat menikmati reuni keluarga besar kalian."
Jeno melenggang pergi...
" HEI, KAPAN KALIAN AKAN MENGELUARKAN KAMI DARI SINI..." teriak Miranda.
" Ehh,...om...terus... faster..." lirih Adinda dibawah kekuatan Bram Brotosedjo.
" KALIAN HENTIKAN...TIDAK TAHUKAH KALIAN KALAU KALIAN ITU ANAK ANAK DAN AYAH.." Murka Miranda.
Bram tersentak berhenti ditengah puncak kegiatan panasnya yang entah keberapa kalinya dalam satu hari itu...
__ADS_1
Sorry telat update, niat hati ingin tiap hari update tapi apa daya masih enggak bisa...