Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
25 kemanapun kau pergi, aku melihatmu


__ADS_3

" 1, 2, 3...cek..cek...bravo 1 disini " tutur Jimmy. yang duduk di restoran seberang restoran tempat janji nenek Sri dan Sivia.


" 1, 2, 3....Jimmy jangan alay. ini hanya pengamatan biasa." sindir Daniel yang standby pintu masuk utama


" oke gw siap di parkiran. " Mumtaz melapor.


" oke gw sama Bara siap. tunggu target." Ibnu menimpali.


Hari ini skenario mereka adalah melakukan tanam microchip pada Sivia, menyetel ulang mobil Sivia, serta memasang segala alat pengawasan terhadap Sivia termasuk apartemennya


Rizal dan Ubay bertugas memasang cctv di apartemen Sivia dan sekitarnya


" target memasuki parkir basement." lapor Mumtaz.


" oke. target memasuki pintu utama menuju tempat." Daniel mengikuti Sivia sampai Jimmy dapat melihat target.


" oke target terlihat. "Jimmy melapor, Daniel segera menuju tempat parkir untuk bergabung dengan Mumtaz."


" target 2 burung kakak tua turut gabung dengan target 1. Jimmy melapor keadaan restoran


" burung kakak tua? siapa? " Daniel bingung dengan kode Jimmy.


" nenek Sri, Daniel. gini nih kerja bareng amatir. " Jimmy memberitahu sok profesional.


" yang punya burung kan lelaki Jim kok kode nenek burung? tanya sok polos Bara.


" kan ada tuanya." jelas Jimmy tidak merasa bersalah


" oke Bar, Lo in. mereka kayaknya mau pesan." Jimmy memberi instruksi.


Sesuai instruksi, Bara dan Ibnu memasuki restoran seolah tidak tahu disana ada nenek Sri.


Mereka melangkah mendekati tempat nenek Sri seolah ingin melewati mereka


" Bara, Bara Atma Madina? " sapa nenek Sri.


" gothca" batin Bara. berpura-pura kaget tak menyangka Bara berhenti untuk menyapa.


" nenek buyut Sri, kok disini? sedang apa? " Bara mulai berdrama.


" ini nenek lagi ketemu tante Sivia. kamu kenal kan sama dia? " basa basi nenek Sri.


demi sopan santun Bara menoleh ke Sivia mengangguk kecil. " maaf kayaknya Bara ketinggalan kabar. "


Bara mengulurkan tangan kepada Sivia mencium tangan Sivia secara seduktif " perkenalkan saya Bara Atma Madina. generasi kedua dari Atma Madina corp. salam kenal nona. "


Sivia mengerjap takjub dengan orang yang sekarang menggenggam tangannya. " saya Sivia Gonzalez generasi keempat dari Gonzalez corp. salam kenal tuan " berbicara formal dan kalem menjaga kesopanan di depan nenek Sri.


" Bara, apa kamu sudah dapat tempat duduk? sekarang waktu makan siang. sepertinya tempat penuh semua. kalo tidak keberatan gabung sini sama nenek. "


Bara menyambut gembira ajakan itu " tentu. mana berani Bara menolak permintaan dari wanita cantik sekelas nenek." Bara tersenyum ramah neenk Sri tertawa sumringah.


bara mengambil tempat duduk disamping Sivia entah Sivia sadari atau tidak Bara menggeser kursinya lebih mendekat dengannya.


" mari kita pesan makanan dulu sebelum mengobrol." Sivia memberikan senyum menawannya. tentu dia sadar jika Bara mendekat padanya. dia terlalu peka untuk bersikap cuek kepada seorang Atma Madina.


seorang pelayan mendatangi mereka dan mencatat pesanan mereka. setelah selesai, pelayan itu pergi


" Bara, Sivia ini tunangannya om Hito. karena Atma Madina dan Hartadraja banyak kerjasama nenek harap kamu berbaik hati kepada Sivia."


selama nenek berbicara Bara berulang kali memberikan lirikan kode rayuan kepada Sivia yang perkiraan Bara mendapat lampu hijau darinya.


" Bara dengan senang hati melakukannya nek." Bara sekilas menyentuh lengan Sivia ketika dia hendak memindah letak tangannya di atas meja.


Sivia sekejap menatap sikap nekat Bara. setelah berkali-kali ditolak pria incarannya, tentu Sivia tak akan melepas Bara.


" permisi, nenek ke belakang dulu. " Bara berdiri ketika nenek beranjak pergi.


" nona, maaf kalau saya lancang. boleh saya meminjam ponsel anda saya ingin anda menyimpan nomor saya." pinta Bara lembut


" tentu." dengan senyumnya Sivia memberikan ponselnya. selanjutnya Bara membuat Sivia sibuk dengan obrolannya.


pelayan membawa gelas berisi air mineral sebagai pelengkap hidangan. dengan sibuknya Sivia Ibnu secara cepat memasukan chip tersebut tercampur air dalam gelas Sivia.


untuk memastikan chip itu masuk kedalam Sivia, Bara menyodorkan gelas kepada Sivia untuk meminumnya.


Sivia tanpa curiga menerima gelas tersebut dan meminum setengah isinya. dan berhasil chip tersebut telah tertelan oleh Sivia.


Ibnu permisi untuk ke toilet. Sivia tak sadar ponselnya terlalu lama berada di tangan Bara. bahkan dibawa bersama dengan kepergian ibnu.


****


parkiran basement


mobil yang terletak paling pojok memudahkan Mumtaz dan Daniel memasang alat pelacak, kamera tersembunyi arah luar dan arah dalam, alat sadap, dan GPS tersembunyi.


****


markas the aneh


ketika teman-teman nya sibuk di lapangan, di markas, Yuda sang ketos sibuk dengan komputer dan layar besar yang memperlihatkan berapa target lokasi memastikan semua terpasang dengan tepat.


dengan alat komunikasi earphone yang dimodifikasi Yuda melaporkan kesiapan alat pengawasan.


" apartemen cek..." Yuda meminta laporan Rizal dan Bayu.


" oke apartemen ready. simulasi arahan." jawab diseberang


Yuda dari jarak jauh menggerakkan kamera cctv yang terpasang sesuai pusat kendali di markas


" oke. past." Yuda memberitahu Rizal dan Bayu kamera siap.


" parkiran cek..." selanjutnya meminta laporan dari pemasangan alat di mobil Sivia.


" parkiran ready. last check." jawab Mumtaz.


Yuda mengaktifkan dari markas ke aktifkan alat di mobil.


" oke. mobil past. " Yuda memastikan


" resto cek..." Yuda mendengar Bara yang tengah sibuk mengobrol. jadi dia hanya berharap pada Ibnu.


" hp ready...chip tinggal Lo Arahin ke area syaraf." lapor Ibnu.


" hp past, microchip...past." Yuda berujar mantap.


" oke semuanya siap aktif. mission completed." tukas Yuda.


" semuanya kembali ke markas." titah Yuda.


***


Restoran


Mendengar ucapan Yuda, Bara dan Ibnu bersegera menyelesaikan misi


" nek, Bara permisi kembali ke kantor." Bara dan Ibnu beranjak menyalami cium tangan nenek Sri.


Melangkah pergi Bara melempar lirikan kode ke Sivia yang dibalas anggukan kecil dan senyuman. Bara tersenyum mengejek pelan


****


Rumah Mama Aida


" ma. ni undangan wisuda." Zahra menghampiri mama yang duduk di sofa menonton tv.


mama menerima undangan itu " ini untuk dua orang ya. satunya sama siapa ya?" suara pelan mama tiba-tiba sendu.


Mumtaz, Zayin, Tia, diam menunduk menahan tangis. seharusnya hari itu hari membahagiakan bagi ayah dan mama.


impiannya menjadikan kak Zahra seorang dokter terwujud. kak Zahra berjuang keras untuk mewujudkannya.


" yang pasti mama hadir, sisanya rembukan aja." kak Zahra menjatuhkan tubuhnya di samping mama.


Menghadap mama, menggenggam dan mencium tangan mama Zahra menunduk


"ma, maaf Ala gak bisa lulus lebih cepat dari ini. Ala sudah berupaya maksimal menjadi yang terbaik, tapi tetap saja terlambat. terima kasih atas segalanya." Isak tangis Zahra tak terbendung.


Tia dalam pelukan Zayin menumpahkan tangisannya. Mumtaz menunduk dalam dengan mengaitkan tangan erat.


" menurut kalian siapa yang mendampingi mama? " Zahra menatap para adik


" A Mumuy aja. bagaimanapun Aa menjadi pelindung keluarga." ujar Tia. Mumtaz menggeleng.


dia menolaknya, karena dia pernah menjadi anak durhaka. dia merasa tak pantas.

__ADS_1


" kenapa?" tanya mama heran.


" Aa pernah mengecewakan keluarga ini. Aa adik yang tak berguna. zayin aja ma." tolak Mumtaz.


" kalo Aa gak berguna, apalagi Ayin. emang apa yang udah Ayin lakukan untuk keluarga ini? gak. Aa Mumuy aja ma." Zayin mengembalikan lagi ke Mumtaz.


" om Hito aja kalo begitu?" tutur Mumtaz. semua mata menatap heran Mumtaz.


" yang memberi kak Ala beasiswa om Hito. Aa udah periksa. " beritahu Mumtaz menatap lurus kak Zahra. Zahra termangu mendengarnya.


" gimana kak?" mama kembali bertanya.


" terserah kalian." jawab pelan Zahra termenung


" kalau Tia setuju. kan juga calon suami kakak." goda Tia. kak ala mendelik jengah


" Ayin idem Tia."


" Mumuy idem Tia."


" dih pada gak kreatif." kak Zahra beranjak pergi ke kamar menghindari godaan para adiknya. yang lain tertawa terbahak melihat salah tingkah kak Ala


****


kamar kak Ala


setelah berpikir beberapa menit dan berkali-kali membatalkan panggilan. akhirnya Zahra menelpon Hito


gugup karena kali pertama menelpon. Zahra mengigit-gigit kecil kuku jari tangannya


" hallo." sapa Hito di seberang


" ha..hallo Hito?" cicit Zahra.


" iya Zahra. emang mengharap yang lain?" gurau Hito.


" eh enggak."


" kamu kenapa? tumben. semua baik-baik aja kan?" khawatir Hito.


" eh enggak apa-apa. begini...," Zahra bingung bagaimana cara mengucapkannya


" apa?" Hito penasaran.


" sebentar lagi aku wisuda, kamu,.. kalo ada waktu kosong bisa menghadirinya bareng mama?"


sepi, tak ada jawaban dari Hito.


menghembuskan nafas kecewa Zahra memakluminya. " maaf. kalo merepotkan. baiklah aku tutup Tel..."


" baiklah. maaf buat kamu tersinggung. aku hanya terkejut. tak menyangka." jelas Hito.


" dengan senang hati aku pasti datang. terima kasih." tutur Hito lembut


" aku yang terima kasih. baiklah sampai ketemu. nanti undangannya aku beri lewat om Heru ya."


" beri langsung aja ke aku."


" kan mau CEO pasti sibuk "


" kamu kan pacar aku. pasti aku ada wakt buat kamu." goda Hito.


" gak usah mulai ya. aku tutup telponnya." Zahra menutup sambungan telponnya untuk menutupi salah tingkahnya.


Hito terkekeh senang mendapati Zahra sewot.


*****


markas the aneh.


mereka hari ini berkumpul untuk mengamati hasil pemasangan chip.


" asli gw berasa di dunia James Bond. gw berasa jadi agen rahasia gitu. "sedari tadi kehaluan Jimmy terus berkembang


" well, Sivia bekerja di sebuah perusahaan Italia Milik Alfredo Navarro perusahaan baru yang sangat pesat perkembangannya hampir menyaingi top 5 perusahaan terbesar Indonesia. " jelas Daniel.


" gw kayak pernah denger tu nama?" Jimmy mulai mencari informasinya


" dia terakhir yang kita tahu pacar dari Amara, mamanya Tanura." jelas Ibnu.


" Hemm. bisa jadi. kakek Fatio tidak membuang mereka si tempat terpelosok. jadi seharusnya sekarang sudah ada kabar tentang mereka." ujar Ibnu melihat hasil pengamatan gps Tanura.


" sejak berhubungan dengan Amara mereka bisa masuk ke Hartadraja. mungkin Amara bukan siapa-siapa, tapi sepak terjangnya dengan beberapa pengusaha besar di Indonesia menjadikan dirinya bermanfaat bagi pengusaha yang berambisi seperti Navarro corp." Bara menjelaskan


" Lo tau mereka?" Daniel bertanya penasaran.


" beberapa bulan yang lalu Navarro mengajukan proposal kerja sama dalam bidang farmasi kepada rumah sakit Atma Madina, tapi ditolak."


" Dalam farmasi kita udah kerja sama dengan Pradapta. memang harga yang ditawarkan jauh lebih rendah, tapi Atma Madina masih berkomitmen tetap berkerja sama dengan Pradapta. "


" kenapa? "


" Atma Madina IT menemukan beberapa kejanggalan tentang sumber dana Navarro. "


" udah diteliti lebih jauh? " Jimmy memperhatikan penjelasan Bara


" enggak. Lo aja yang pegang. mereka baru dua tahun di Indonesia. sejak tahun pertama terus mepetin Atma Madina dan Birawa. karena mendapat penolakan langsung dari Hartadraja."


" oke gw pegang Navarro." Jimmy mengambil keputusan


" kerja serius Lo ya. kerja. jangan nyuruh orang mulu." sarkas Daniel.


" iya. taruhannya harga diri pengusaha Indonesia ini. gw bakal serius." Jimmy jengkel


" taruhannya tiga nama besar Lo. Atma Madina, Birawa, Hartadraja. Lo khilaf dikit, K.O Lo pada." Ibnu memperingati


" bukan tiga tapi empat." Bara


" hah siapa?" belum apa-apa Jimmy senewen.


" Pradapta." jawab Bara


"dari keterangan Pradapta dicurigai Navarro hadir di Indonesia untuk menghancurkan Pradapta. alasannya kenapa, gw gak tau."


" pokoknya Lo fokus liat seluk beluk Navarro." Daniel memberi wejangan


" aye.aye Captain." Jimmy memberi hormat kepada Daniel


" berita bagusnya sivia di tempatkan di divisi audit. laporan selengkapnya udah gw transfer ke hp Lo masing-masing. jadi baca sendiri." Mumtaz menegaskan.


" oke kita bikin penelitian top 5 perusahaan itu. serius tapi random ." Jimmy mencoba bagi tugas.


" kita? Lo aja kali. cuma Lo yang belum punya tugas tetap. "Daniel menolak keras


" emang? "


" iya." teriak mereka serempak.


" semua data top 5 itu di simpan masing-masing orang ya. bias rangkap jejak rekaman. termasuk Sivia." Mumtaz membuat file dan memeprogram mentransfer ke akun mereka secara otomatis


" udah gw atur. database nya secara otomatis tertransfer ke kalian.


"assalamualaikum." salam Akbar masuk ke rumah Daniel yang sejak masuk sekolah semester baru atas paksaan teman-temannya dijadikan markas dengan nama the aneh.


" wah ada babang Akbar tumben Lo Bar mampir. masih punya waktu luang Lo" sindir Jimmy.


" sorry, udah lama gak gabung. si Tanura ninggalin banyak banget masalah di perusahaan." keluh Akbar yang menjatuhkan dirinya disamping Ibnu.


" gw ada. pesan dari papa disuruh nanyain Atma Madina mundur dari kerja sama pengamanan perusahaan." matanya menatap Bara


" Mumtaz ngundurin diri, jadi yang lain juga mundur." ucap Bara apa adanya.


" kenapa?" Akbar bertanya ke Mumtaz.


" liatin rekamannya Nu." ucap Mumtaz ke Ibnu.


membuka laptopnya Ibnu memperlihatkan rekaman kejadian marahnya Zahra di kantor om Erwin.


Akbar terdiam sesaat " jadi semuanya kembali ke kak Zahra ya gw harus bujuk kak Zahra." semuanya menganggukan kepala


" btw mama ngundang kalian. BBQ an. selamatan wisuda kak Ala malam Minggu ini. ajak juga yang lain."


" oke "


"asshiap."

__ADS_1


" 86." mereka menjawab kompak


*****


Zahra wisuda hanya dengan pakaian simpel berupa tunik dan bawahan celana panjang. alasannya simpel kan tertutup toga.


kak Zahra mendapat Suma cumlaude dengan nilai sempurna.


mama dan Hito yang menjadi wakil menghadiri prosesi wisuda. tak henti-hentinya mama menangis haru, dalam telapak tangannya tersimpan photo ayah menggenggam kedua tangan erat dan menciumnya berkali-kali berharap ayah ada di sini menyaksikan langsung.


Hito yang melihat itu semua diam termangu. rasa penyesalan itu datang lagi. merusak keharmonisan suatu keluarga karena kebodohannya."


" mama, Hito " panggil Zahra tertawa melambai tangan seusai prosesi wisuda. mereka bertemu di lobby gedung.


mama dan Hito Berta para adik dan teman-temannya menunggu kak Zahra di luar ruangan acara wisuda


mama memeluk kak Zahra erat. " selamat kak udah jadi yang terbaik. mama sama ayah bangga padamu." mama menitipkan air mata.


" selamat ya kak. sukses jadi dokternya." ucap Tia memeluk kak Zahra.


" selamat kak jadi dokter yang baik ya." berganti Zayin memeluk kakaknya.


" selamat Kakak. jaga diri jangan jaga pasien aja." Mumtaz memeluk erat kak Zahra.


" kalian semua pada datang juga. kayak satu kampung yang Dateng. buat apa coba." kak Zahra malu. pasalnya cuma dia yang banyak orang yang mengantarnya.


" sengaja biar kakak malu. dan keliatan norak." celoteh Jimmy enteng.


" biar Mumtaz nya tranding. jangan diem-diem Bae." Daniel menambahi yang diangguki oleh yang lain.


" om Hito gak ngucapin selamat gitu ke calon isteri." Tia mulai berulah.


Hito terkekeh pelan sambil mengangguk. " jadi Tia setuju om sama kak Zahra?" gurau Hito, namun tatapannya mengarah ke Zahra yang berdiri sok kalem.


" setuju aja. kalo om tahan sama kakak Ala. om tau kan orang jenius itu suka ada yang eror." bisik Tia keras. Hito tertawa, Zahra menjewer Tia yang langsung menjerit kesakitan.


" oke saatnya kita ke restoran. makan-makan. Alfaska Atma Madina yang teraktir." Bara berucap yang mendapat pelototan dari Jimmy.


" Alfa? siapa tuh?"...


***


perjalanan pulang ke rumah.


Hito dan Zahra pulang dalam satu mobil. sepertinya direncanakan oleh yang lain.


" selamat ya..hebat nilainya sempurna. gak nyangka." Hito membuka suara setelah beberapa menit sepi.


" iya makasih. keren kan aku. gak sia-sia modusin prof Farhan. hihihi." Zahra terkikik lucu mengingat masa kuliahnya yang sering ngintilin profesornya.


" suka sama prof Farhan?" Hito menyelidik


Zahra mengangguk " tepatnya cinta sama ilmunya."


" orangnya?"


" takut di bedah sama Ziva dan Hira." Zahra menggeleng. Hito tertawa pelan.


" entar malem minggu kalo ada waktu datang ya." undang Zahra.


" boleh?"


" tentu. kalo gak ada kerjaan. kan malem minggu pasti sibuk."


" ini mau silaturahim ke rumah pacar. BBQ an." Hito melirik Zahra


" jangan mulai. Zahra baper. repot Loh." Hito terkekeh.


*****


Restoran


Restoran ini di pesan khusus untuk merayakan wisuda kak Ala. yang datang ke restoran ini ternyata tidak hanya keluarga dan teman-teman dekat saja, namun banyak orang yang kak Zahra sendiri tidak kenal.


" Muy, kamu kenal mereka?" bisik kak Zahra ke orang-orang yang heboh mengambil makanan


Mumuy mengangguk " teman sekolah Aa. biarin aja kak. toh bukan kita yang bayar."


kak Zahra mengangguk santai. toh dia tidak risih terhadap orang-orang kenalan adik-adiknya


setelah mereka selesai mengambil makanan, tiba-tiba mereka berbaris rapih dengan bergandengan tangan.


serempak membungkuk dan berdiri mengangkat tangan ke atas


" SELAMAT KAK ZAHRA JADI DOKTER YANG CANTIK YA!" mereka bertepuk tangan sesudahnya dan kembali ke meja masing-masing.


kak Zahra bengong tak berekspresi ketika sadar menggeleng kepala berharap ini mimpi.


" sumpah Muy gak mau gw kenal teman Lo ini. jayus abis." malunya kak Zahra.


" hehehe... terima nasib aja kak." Mumtaz berucap santai sambil makan.


ceklek...pintu restoran terbuka


tampak wanita cantik dengan percaya diri memasuki restoran dengan beberapa wartawan.


" maaf pak. saya sudah beritahu kalo restoran ini saat ini tertutup untuk umum, tapi beliau tak mau dengar." manajer restoran menjelaskan kepada Bara dengan takut.


" tentu saya protes anda melarang saya masuk sementara tunangan saya ada di sini." ucap Sivia menantang.


" siapa tunangan anda? ada yang mau bertunangan dengan anda?" Tia bertanya meledek.


" diam bocah. Hito tunangan saya." Sivia menunjukan jari manisnya yang tersemat cincin emas putih dan mengarahkannya ke kamera wartawan


" kakak yang kalian banggakan hanya seorang pelakor bermoral rendah. dia merebut tunangan saya." lancang Sivia yang ditanggapi oleh Zahra dan keluarga diam tenang.


Sivia berpikir Hito tak akan berani berbicara kenyataannya. Hito yang dia tahu adalah Hito yang tak ingin mempermalukan perempuan dalam keadaan apapun


semua orangsatu meja dengan Hito menatap padanya. Hito menghela nafas bosan dia menatap menusuk Sivia.


Sivia yang mendapat tatapan itu menciut. dia khawatir Hito tega mempermalukannya. apalagi di depan Bara Atma Madina


dia pikir yang makan di restoran ini hanya keluarga Zahra dan Hito saja, tadi dia cukup terkejut mendapati Bara ada di sini. sedangkan Bara tak menggubris keberadaanya


" dia mantan tunangan saya. pertunangan kami sudah lama putus. dia yang memutuskannya. yang ternyata dia selingkuh dari saya. kejadian itu sudah lama satu tahun yang lalu."


" belakangan dia datang lagi pada saya berharap untuk kembali, tapi saya menolak. karena saya tidak cinta dia. " pungkas Hito tegas


wajah Sivia memerah dia terbelalak kaget Hito tega mempermalukannya dan membuka aibnya


" Hito..."


sementara teriakan Sivia menghina kakak Zahra dan keluarganya memenuhi ruangan yang di sorot kamera, Mumtaz sibuk dengan ponselnya. dia mengirim pesan ke group bernama the aneh yang beranggota Mumtaz, Ibnu, Jimmy, Daniel, Bara, Rizal, dan Ubay.


" retas Gonzalez dan publish ke kompetitornya dan publik rahasia Gonzalez corp."


Ibnu yang duduk di pojok mengeluarkan laptopnya, Daniel sibuk dengan iPad, Bara menginstruksikan pembatalan kerja sama dengan Gonzalez.


Jimmy beranjak mendekati wartawan


" saya tau kalian di gaji untuk mencari berita, tapi kalian harus pikir 10 kali ingin memberitakan yang memberatkan kak Zahra. beliau tunangan Hito Hartadraja, dan peserta koas dari Rumah Sakit Atma Madina yang terkenal melindungi seluruh pegawainya yang tidak bersalah."


" pilihannya anda memberitakan Zahra dan keluarganya yang saya yakin tidak akan viral atau karir kalian hancur." ancam Jimmy menatap lurus para wartawan.


para wartawan gemetar dengan aura mengancam yang keluar dari Jimmy.


" tapi kalo kalian memberitakan tentang segala aib Sivia Gonzalez saya dengan senang hati mempersilahkan." Jimmy memberi senyum pasta giginya.


" KAU. siapa kau berani menentang saya?" tantang Sivia lancang.


" saya Jimmy. lelaki yang tidak akan tergoda oleh wanita jalang sepertimu." hina Jimmy.


wajah Sivia memerah naik pitam mengangkat tangan hendak menampar tapi dicekal oleh Jimmy.


" pergi... kau tak diundang di acara ini. kau hanya jalang. bukan di sini tempatnya." Jimmy menatap hina langsung ke manik Sivia.


" siapapun Lo tunggu pembalasan gw. gw seorang Gonzalez." desis Sivia.


" gw tau siapa Lo. orang yang akan bergabung dengan kaum miskin." suara rendah Jimmy semakin menakutkan


" permisi, Nona Gonzalez, saya baru dapat kabar yang datang ke redaksi kami, jika Gonzalez corp untuk produksi make-upnya memakai bahan dasar yang mengandung Mercuri, apa itu benar?" tanya salah satu wartawan yang membuat wartawan lainnya ribut berbisik


Sivia terperangah terkejut, yang semula dia menoleh ke wartawan, sekarang tatapannya diberikan penuh ke Jimmy. yang membalas dengan senyuman miring menghina.


" Lo salah cari lawan." Jimmy menghempaskan tangan Sivia keras hingga Sivia jatuh terbentur meja.

__ADS_1


" bawa dia dan pastikan dia terlarang masuk restoran ini atau restoran kalangan atas manapun." titah Jimmy kepada asistennya yang duduk berbaur dengan anak SMA yang langsung dipatuhi oleh penjaga restoran dia tidak peduli akan keadaan Sivia.


__ADS_2