Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 10


__ADS_3

Aku sudah rapi dengan piyama lalu ku padukan jaket yang panjang hingga ke paha.


"Arek ka mana neng? Kirain Mak mah kamu di rumah teh Salamah?", tegur Mak yang melihat ku sudah rapi.


"Mau beli obat Mak. Kan obat Mak habis. Besok pagi gimana minum nya, kalo sekarang tinggal buat di minum malam?"


"Ya udah atuh ngga apa-apa. Kamu ge capek mereun bantuin di rumah Salamah dari pagi."


"Ngga lah Mak, bentar kok. Paling magrib Bia juga udah pulang."


"Tapi hati-hati ya di jalan. Mana mau ujan kali neng?"


"Pan aya mantel Mak?"


"Nya tos atuh!", kata Mak lesu duduk di bangku meja makan.


"Mumpung Bia keluar, Mak mau nitip apa nih?"


"Ngga neng."


"Ya udah kalo gitu, bia jalan ya mak? Assalamualaikum."


"Walaikumsalam, ati-ati neng!", kata Mak.


Aku pun menjalankan sepeda motor ku. Ku sapa dengan klakson saat berpacaran dengan tetangga.


Tak sengaja aku juga berpapasan dengan kang Cecep dan juga ....mas Febri. Kang Cecep menghentikan laju motor ku.


"Neng Bia arek ka mana?", tanya Cecep. Sedang Febri hanya memperhatikan ku.


"Ka apotik kang. Meser obat Mak, seep!"


(Ke apotek kang, beli obat Mak. Habis)


"Tapi kayanya mau ujan neng!", kata Cecep lagi.


"Bia bawa mantel kok kang, punten kang Bia duluan!", aku pun melajukan kembali motorku.


"Manga neng!", kata Cecep.


Febri hanya diam menatap punggung mantan kekasihnya.


"Emang apotek nya di mana cep?", tanya Febri


saat keduanya melanjutkan perjalanan pulang.


"Dari kantor masih sekitar sepuluh menit lagi Ndan."


"Jauh dong?", tanya Febri lagi.


"Ya gitulah Ndan."


Febri pun diam memikirkan Bia yang nanti jika pulang dalam kondisi hujan dan sendirian pula.


"Kenapa Ndan?", tanya Cecep.


"Ngga. Cuma kepikiran aja nanti kalo pulang Bia kehujanan gimana, terus sendirin lagi."


"Hahahah Ndan, kehujanan naik motor udah biasa kali. Kalo yang Cecep cemasin tuh jalan ke sini licin , itu aja!"


Febri hanya manggut-manggut.


Ya udahlah, kenapa aku harus repot memikirkan seperti itu.


Motor Cecep sudah berhenti di depan rumahnya.


"Makasih cep buat tumpangannya. Kalo ngga mau di tumpangi terus, cariin saya motor."


"Siap Ndan lah. Oh iya , jangan lupa bada magrib ke rumah saya ya Ndan."

__ADS_1


"Siap!", sahut Febri. Cecep pun menuju rumahnya. Sedang Febri masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri.


.


.


.


Aku memarkirkan motor ku di depan apotek. Aku membeli obat Mak seperti biasanya.


Hawa nya semakin dingin dan langit mulai gelap. Sudah kubayangkan seperti apa akses menuju rumah mertua ku.


"Bismillahirrahmanirrahim!", kataku dalam hati. Tapi baru saja ku nyalakan sepeda motor ku, ponsel ku bergetar. Ada pesan dari suami tercinta.


[Masih di rumah teh Salamah Neng?]


Tak berapa lama aku langsung membalasnya, bahkan Aa masih online di sana.


[Udah ngga. Tapi sekarang Bia baru mau pulang, barusan beli obat Mak]


[Kok sore amat neng?]


[Ya kan tadi ngga sempet A, lagian kan emang obatnya harus pesan dulu dan baru ada hari ini]


[Oh...ya udah atuh pulang nya hati-hati. Udah mau magrib neng]


[Iya sayang, aku hati2 kok]


Setelah mengucapkan salam, aku melanjutkan perjalanan pulang.


Alhamdulillah, sudah dekat rumah barulah hujan turun bersamaan dengan azan magrib berkumandang.


"Alhamdulillah!", gumam ku sambil menyandarkan motor ku.


"Alhamdulillah neng, tos dugi. Mak khawatir sama kamu neng!"


"Assalamualaikum Mak. Bia ngga apa kan mak?"


"Heheh ya udah makasih udah khawatir sama Bia Mak."


Aku merangkul bahunya menuju ke dalam rumah.


"Mau solat jamaah?", tanyaku.


"Mak di kamar aja deh!", sahut Mak. Aku pun mengangguk. Kami solat sendiri-sendiri di kamar.


Usai solat magrib, aku masih mendengar Mak bertilawah. Ku putuskan untuk menghangatkan makanan untuk kami makan malam. Hanya ada tambahan telur dadar untuk malam ini.


Makanan sudah terhidang di meja makan, suara Mak juga sudah tak terdengar.


"Mak, makan dulu yuk!", ajakku.


"Ya neng!", sahut Mak dari dalam kamar nya.


.


.


.


Febri keluar dari rumah kontrakan nya, pria berbadan tegap itu mengenakan sarung dan baju Koko nya tak lupa songkok hitam bertengger rapi di kepalanya.


Wajah yang yang rupawan semakin menarik untuk di lihat. Dia berjalan ke arah depan seperti yang Cecep maksud. Benar saja, di tikungan jalan, ia bertemu dengan para pria yang sepertinya akan ke rumah Cecep juga.


"Ndan!", sapa salah seorang.


Febri menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Meuni kasep komandan mah, masih muda keneh!"

__ADS_1


(Ganteng komandan ya, masih muda pula)


"Makasih pak!", sahut Febri ramah. Tak lupa juga iya menyalami bapak-bapak itu.


Rumah Cecep sudah terlihat. Benar kata Cecep, tak susah mencari nya. Hanya beberapa rumah yang menghalangi pemandangan saja dari rumah kontrakan.


"Assalamualaikum!", Febri dan bapak-bapak yang tadi mengucapkan salam. Setelah itu acara pengajian pun di mulai. Cecep yang ramah pun tak henti-hentinya menawari komandannya.


Saat azan isya, acara pengajian pun selesai.


"Cep, anterkeun yeuh ka Mak Titin. Tadi neng Bia belum teteh bawain!", kata teh Salamah menyerahkan pada Cecep.


"Oh...ya udah. Mari Ndan sekalian Cecep antar ya!"


Febri pun mengangguk. Dia pun berpamitan kepada emak nya Cecep, teh Salamah dan suaminya. Usai pamit, Febri dan Cecep pun menyusuri jalan menuju rumah kontrakan sekaligus ke rumah Mak Titin.


.


.


"Mila! Panggil Alby ke mari!", titah tuan Hartama.


"Baik tuan!", kata Mila. Mila pun memanggil Alby yang sedang tadarus di kamar nya.


"Njang, di panggil tuan!", kata teh Mila.


Alby pun menengok ke arah teh Mila.


"Iya teh, saya ganti baju dulu!", kata Alby berdiri.


"Udah gitu aja ga apa-apa, malah tambah kasep."


"Aishhh... teteh mah!", sahut Mila. Teh Mila pun berlalu, kemudian masuk ke kamar menemui suaminya yang sedang menonton televisi.


Alby keluar dari kamarnya menuju tuan besarnya.


"Permisi Tuan!", kata Alby menemui Hartama di ruang tengah.


"Duduk!", perintah Hartama. Alby pun bingung, mau duduk di sofa juga sepertinya tidak sopan. Hartama paham dengan kebingungan Alby.


"Duduk saja, ngga usah takut!", kata Hartama. Mau tak mau Alby pun menuruti nya.


Alby duduk di sofa berhadapan dengan tuannya.


"Tuan, apa saya ada salah sampai saya di panggil?", tanya Alby bingung.


"Kamu bilang, ibu kamu butuh pasang ring jantung. Benar begitu?", tanya Hartama.


"Iya betul tuan!", jawab Alby.


"Saya bisa bantu biayanya."


Alby mengernyitkan keningnya.


"Maksud tuan?"


"Saya akan biayai pengobatan ibu mu. Rap syaratnya kamu harus menuruti semua perintah ku termasuk bekerja di kantor ku."


"Hah? Bekerja di kantor? Tap...tapi tuan, saya kan...?"


"Saya tidak suka di bantah! Dengan senang hati saya menawarkan bantuan pengobatan ibumu!", Hartama melipat kedua tangannya di dada dengan gayanya yang sombong.


"Tapi saya hanya lulusan SMA, di kantor kerja apa tuan? Lalu non Silvy?"


"Kamu tetap mengantar jemput putriku. Setelah itu baru bekerja di kantor. Penawaran saya tidak akan ada yang kedua atau kesekian kalinya. Terserah kamu, kalo kamu mau mengobati ibumu terima tawaran saya. Kalo tak mau pun tidak masalah buat saya!"


Alby terdiam. Akang baiknya jika ia berdiskusi dulu dengan istri serta Mak nya.


"Saya akan pikiran tuan. Terimakasih sebelumnya."

__ADS_1


"Heum. Saya tunggu jawaban mu besok pagi. Silahkan ke kamar mu lagi."


"Terima kasih tuan, permisi!", Alby pun undur diri.


__ADS_2