Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 173


__ADS_3

Meninggalkan istrinya dan mantannya di teras halaman ternyata tak mampu membuat Alby merasa cemburu pada keduanya. Yang ada hanya rasa bersalah karena ia sudah menghakimi Silvy tanpa ingin tahu yang sebelumnya terjadi.


Ya, dia akui. Dirinya memang lelaki bodoh dan egois. Pria tampan itu melepaskan pakaiannya lalu berjalan ke arah kamar mandi. Dia membersihkan diri dan bersiap untuk solat empat rakaat nya. Meski dia lelaki yang tidak tegas dan mencla-mencle, kewajibannya tetap ia lakukan secara rutin. Mungkin itu nilai plus nya dari seorang Alby selain wajah tampannya.


Jam dinding digital kamar itu susu menunjukkan pukul 17.05. Di bawah, ia masih mendengar candaan Silvy dan Anika. Istri keduanya itu memang baru beranjak menuju dewasa. Karena kesalahan dari masa lalu yang membuat ia terlalu berada di posisi ini.


Alby berdiri di balkon kamarnya menatap ujung barat yang mulai senja. Matahari sudah tak lagi bersinar dengan panasnya. Mungkin... seperti itu juga perasaan Bia padanya. Perlahan, perasaan cinta Bia akan tenggelam dengan sendirinya karena ulah Alby yang ceroboh. Tak berpikir panjang. Dan akhirnya malah menyakiti dirinya sendiri bahkan kedua istrinya.


Mimpi itu masih jelas terbayang di pelupuk matanya. Ia mendongak, memejamkan matanya. Menikmati angin sore yang berhembus menyapu wajahnya.


Mungkin kah ini jawaban dari istikharah nya? Apa Bia benar-benar sudah menyerah?


.


.


"Lagi apa toh nduk?", tanya lek Dar.


"Ngga ngapa-ngapain lek. Gabut nih! Pengacara sosis!", kataku sambil memainkan ponselku.


"Pengacara sosis? Kan pengacara kamu pak Kalingga nduk?", tanya lek Dar.


"Bukan itu maksud nya lek. maksud Bia itu, Bia pengangguran banyak acara, sok iya sok eksis. Nih, dari pagi cuma aplot story wa!"


Lek Dar menggeleng pelan.


"Kamu... benar-benar sudah memantapkan hatimu kan nduk?", tanya lek Dar menatap ku. Aku bangkit dari rebahan. Meletakkan ponselku di atas bantal lalu menghadap Lek Dar.


"Insyaallah udah lek. Bia sudah berkali-kali minta petunjuk dari yang kuasa. Dan...ini pilihan terakhir Bia."


"Kamu yakin, sudah tak bisa lagi memberi kesempatan kedua buat alby?"


Aku menggeleng.


"Kok lek Dar tanya gitu toh?", aku mengernyitkan alisku.


"Nduk, nanti akan ada sidang mediasi. Kalian akan di beri kesempatan untuk memperbaiki hubungan kalian berdua. Hakim pasti akan melakukan itu setiap ada sidang perceraian."


Aku menghela nafas ku.


"Insyaallah aku sudah membuat keputusan itu lek. Sekalipun di pertahankan, semua nya tidak akan seperti semula. Bia ngga mau lagi sakit hati, dan juga... mungkin setelah ini Alby akan berhenti merasa bersalah karena menyakiti perasaan ku dan juga mengabaikan Silvy, istri yang sedang mengandung anaknya."

__ADS_1


Lek Dar mengusap kepala yang tak lagi berjilbab. Aku hanya di rumah. Makan , tidur, gulang guling tak jelas. Membersihkan rumah lek Dar yang sebenarnya tak kotor. Mungkin karena aku terlalu gabut.


"Tapi jujur dari lubuk hati nya yang paling dalam. Apa kamu masih mencintai Alby? atau...malah justru Febri?"


Aku menatap lek Dar.


"Kok Febri toh lek?", tanya ku manyun.


"Heheheh...ya lek Dar asal nebak aja nduk. Siapa tahu, masih ada sisa cinta mu buat Febri disudut hati mu yang paling dalam! Enam tahun itu bukan waktu yang sebentar lho!"


"Apaan Lek, ga genap enam tahun kali!",cebikku.


"Yakin? Febri perhatian banget lho...sama kamu nduk!"


Aku menghela nafas kasar.


"Lek, Bia ngga akan sesakit hati ini kalo ngga cinta sama Alby lek."


Aku menaikan bantalku ke pangkuan ku. Lalu menggeser posisi dudukku.


"Tapi Bia sendiri sebenarnya juga ngga tahu kenapa setiap Bia membutuhkan seseorang, selalu saja mas Febri yang membantu Bia. Meski itu hanya masalah yang sebenarnya sepele."


"Sudah ada yang menulis kan takdir itu Nduk."


"Tidak ada luka dan kesakitan yang benar-benar sembuh lek. Semua akan ada sisa dan berbekas meski sedikit bahkan mungkin tak nampak", lanjut ku.


"Lek tahu kok nduk, Alby pasti sangat cinta sama kamu. Makanya dia getol ngga mau lepasin kamu. Tapi...dia sendiri berada di posisi yang sulit. Dan diantara kalian memang harus ada yang mengalah, dan itu...kamu."


Aku tersenyum dan mengangguk tipis.


"Aku sedang berusaha untuk menenangkan diri lek. Belajar ikhlas dengan semua yang terjadi dalam hidup ku. Mungkin aku melepaskan genggaman ku dengan Alby. Tapi... dengan masalah ini ...ada hikmah yang Bia dapat."


"Hubungan bia dan ibu membaik, Bia bisa menerima kehadiran bapak dan adik-adik ku", lanjut ku lagi.


"Ya, setiap ujian pasti akan berlalu. Andai putri masih ada, dia pasti seneng kalo ikut ngrumpi kaya gini!", kata lek Dar sendu.


Aku memeluk tubuh gemoynya lek Dar. Aku tahu, dia pasti sangat merindukan anak semata wayangnya. Entah kenapa bapak dan lek Sarman hanya memiliki anak tunggal. Seperti aku dan almarhum putri.


"Putri udah bahagia disana lek. Dia gadis yang shalihah."


Lek Dar mengangguk. Almarhumah Putri meninggal saat usianya menginjak angka tujuh belas tahun. Masih sangat belia. Tapi namanya umur, hanya Tuhan yang berhak menentukannya.

__ADS_1


"Udah malem, lek mau ke warung dulu. Kayanya lek mu juga udah mau pulang."


"Iya lek!"


Aku merebahkan diri di kasur empuk ku. Saat yang tak pernah aku bayangkan sejak dulu, akan segera tiba. Aku mencoba memejamkan mataku. Tapi hanya ada gelisah yang menguasai perasaan ku.


.


.


"Bina ...boleh ibu tanya?", tanya Ibunya Sabrina.


"Tanya aja Bu!", sahut Sabrina sambil melihat pakaiannya usai di jemur tadi siang.


"Kamu yakin sama nak Sakti?", tanya Ibunya dengan wajah yang sudah banyak kerutan-kerutan di dahinya. Sebenarnya ibunya Sabrina belum terlalu tua, tapi mungkin karena dia sakit wajah nya terlihat lebih tua dari umur nya.


"Bismillahirrahmanirrahim aja, Bu!"


"Kamu bilang, Dimas itu...ajudan ayahnya Nak Sakti, bagaimana tanggapan nya? Apa nanti dia ngga sakit hati?",tanya ibu Sabrina.


"Ngga tahu Bu, tapi kalo Bina liat mas Dimas kelihatan baik-baik aja kok. Malahan...mas Dimas sekarang pacaran sama Anika, adiknya mas sakti. Gadis itu cantik Bu, imut ramah lagi."


"Kok bisa ya kalian di pertemukan lagi seperti ini? Bagaimana kalau...suatu saat nanti Dimas jadi ipar kamu Bin. Kamu kan minder karena merasa ngga sepadan sama Dimas. Tapi sekarang kamu justru menerima Nak Sakti, yang mungkin secara kasta jauh lebih tinggi di banding Dimas. Kita ngga ada apa-apa nya Bin."


"Ayahnya sakti tak mempermasalahkan itu, Bu. Hanya saja, mas Sakti udah terlalu baik sama kita. Rasanya ngga pantas kalo Bina ngecewain Mas Sakti."


"Jadi, kamu belum beneran suka sama sakti?", tanya Ibunya Sabrina.


"Suka lah Bu, cuma orang bodoh yang menolak mas Sakti. Tapi...Bina hanya salah satu orang yang beruntung, bisa mendapatkan laki-laki seperti mas sakti."


(Bia salah satu orang yang bodoh itu, Bina 🤭)


"Bina ngga tahu apa yang mas Dimas pikirkan. Mungkin di dalam pikirannya, Bina terlalu materialistis. Memutuskan untuk menyudahi hubungan yang tiga tahun dan mengiyakan keseriusan mas Sakti yang belum lama Bina kenal. Tapi ...ya sudah lah Bu. Terserah dia mau berpikir apa. Hubungan kami sudah selesai."


Ibu Sabrina mengusap lengan putrinya.


"Semoga kalian hidup bahagia ya Nak!"


Sabrina mengangguk. Menjadi istri seorang perwira adalah impian Sabrin sesungguhnya. Tapi melihat kondisi ibunya yang sakit-sakitan seperti ini, tidak mungkin ia meninggalkan beliau. Karena saat ia menjadi istri Dimas, itu artinya ia harus mengikuti kemana pun suaminya dinas dan berpindah-pindah tempat. Sabrina mengubur dalam keinginan itu. Biarlah semua berpikir negatif padanya. Dia hanya perlu meyakinkan dirinya jika sakti lah yang menjadi jodohnya meski belum lama saling mengenal.


*****

__ADS_1


Makasih.....selama seminggu insyaallah up 3bab hehehe ✌️🤭🤭🤗🤗🤗


__ADS_2