
Alby menggendong ranselnya, tak lupa map yang berisi lembaran kosong yang akan istrinya tandatangani.
Usai berpamitan dengan teh Mila dan mang Sapto, Alby pun keluar menuju garasi. Ia membawa mobil majikannya. Menolak pun akan terasa sia-sia. Tuan Hartama pasti akan memaksa semua kemauannya.
Saat akan membuka pintu mobilnya, tiba-tiba kang Asep datang. Kang Asep yang tak lain adalah keponakan bapaknya Alby pun menepuk bahu Alby.
"Arek ka mana By?", tanya Asep heran. Karena ia melihat Alby membawa ransel yang sama saat pertama kali ke rumah ini.
Alby menatap sejenak Kakak sepupunya itulah.
"Uih kang, Mak di rumah sakit. Mau operasi."
"Innalilahi, kapan by?"
"Insyaallah Mak mau di operasi secepatnya."
"Maneh ijin sama pak Hartama? Bawa mobil ini juga? Tuan Hartama sebaik itu ngijinin maneh bawa mobilnya?", tanya Asep heran.
Alby menghela nafasnya.
"Alby mau menikah sama non Silvy, kang!"
Asep menaikkan salah satu alisnya.
"Mana ada begitu By! Ngga usah aneh-aneh kamu!", suara kang Asep meninggi.
"Huffft...tapi kenyataannya harus seperti itu kang!"
"Nggak! Kamu sudah beristri, bagaimana sama Bia? Kurang apa Bia sama kamu?", Asep mulai terpancing emosi. Di depan pintu belakang, sepasang suami istri itu memperlihatkan Alby dan asep.
"Mak harus operasi Kang. Kalo Alby ngga ngelakuin ini, Mak ngga bisa di operasi!"
"Kenapa ngga bisa? Jadi, demi uang kamu mengkhianati Bia? Bukannya dari awal Bia juga bersedia membiayai pengobatan Mak tiri mu itu?"
"Kang!", pekik Alby.
"Apa? Maneh mau ngomong soal harga diri? Merasa tidak punya harga diri karena memakai uang istri? Lalu ini apa Alby!!!???"
"Ngga sesederhana itu kang!", kata Alby dengan suara melemah.
"Apa? Kamu dapat uang lebih banyak lagi sekaligus istri yang lebih muda begitu? Hanya demi ibu tiri mu, kamu mengorbankan perasaan istrimu By?", Asep meremas rambutnya sendiri.
"Kang! Dengerin Alby dulu. Ini ngga seperti apa yang kang Asep pikir. Alby pun tidak ingin hal ini terjadi. Tapi tuan Hartama menutup akses di semua rumah sakit untuk pengobatan Mak. Dan tadi sudah benar-benar tuan Hartama lakukan. Jika Alby tidak mau menikah dengan non silvy, Mak tidak bisa di operasi. Bahkan Neng Bia sudah menghubungi Alby jika rumah sakit menolak menangani Mak!"
"Ya tinggal pindah ke rumah sakit lain, Bia pasti bayar mandiri kan? Alasan apa yang rumah sakit berikan sampai berani menolak pasien? Bisa di tuntut itu rumah sakit!"
"Kang! Tuan Hartama punya uang, dia bisa melakukan apa saja kang!", kini Alby sudah gak mampu berucap lagi.
"Kenapa kamu ngga biarin aja sih Mak mu itu mati perlahan. Toh dia bukan ibu kandung mu!"
"Kang!"
"Kenapa? Karena dia sudah merawat kamu dari kecil? Kamu lupa? Karena dia juga kamu kehilangan ibu mu!"
"Cukup kang, Mak ngga sejahat itu. Semua hanya salah paham. Bukannya kang Asep selama ini menghormati Mak, tapi kenapa kang Asep tega bicara seperti itu."
"Iya, aku menghormati Mak mu. Tapi aku ngga rela kalo Bia menjadi korban lagi-lagi karena perempuan itu Alby."
"Astaghfirullah kang!"
Asep terdiam, mungkin sedang berusaha menekan emosi nya. Bagaimana tidak, ia sudah menganggap Bia seperti adiknya sendiri.
"Ya udah lah terserah kamu. Maaf, gara-gara aku mengajak mu ke sini malah berakhir seperti ini!", sesal Asep.
Alby menggeleng.
"Jangan salahkan diri sendiri kang. Semua sudah terjadi."
Asep masih bergeming.
"Kang, Alby mau pulang. Mau meminta tanda tangan persetujuan dari Bia."
"Persetujuan?"
"Iya, tuan Hartama meminta Alby untuk menikahi non Silvy secara resmi."
__ADS_1
"Kamu pikir Bia akan melakukannya dengan suka rela?"
Alby menggeleng.
"Mungkin...Alby belum bisa jujur untuk saat ini, menunggu waktu yang tepat."
"Dan itu akan jadi bom waktu untuk mu By!", kata Asep berlalu dari tempat itu.
Sekeluarnya Asep dari rumah mewah itu, ia memukul dan menendang udara sekenanya.
"Kenapa aku harus membawa mu ke tempat neraka seperti ini By! Hanya demi ibu tiri, kamu mengorbankan perasaan istrimu!", Asep berbicara sendiri.
.
.
Seorang pria berjas putih duduk di balik meja sambil memperhatikan beberapa data pasien yang baru saja ia tangani yang tak lain ibu mertua dari gadis yang pernah ia kejar mati-matian beberapa tahun lalu.
"Dia ibu mertua mu Bi?", dr. Sakti bermonolog.
Sebenarnya dia itu siapa? Kenapa sampai Dirut rumah sakit turun tangan menolak tindakan operasi untuk pasien ini? Bukannya itu menyalahi prosedur dan bahkan dari sisi kemanusiaan juga sangat di sayangkan?
Tok...tok...
"Permisi dok!", seseorang perawat masuk ke dalam ruangan dr.Sakti.
"Kenapa sus?"
"Pasien atas nama nyonya Titin bisa di operasi secepatnya dok."
"Hah?", sakti sedikit bingung.
"Benar dok, baru saja ada perintah dari atas dok. Saya juga sebenarnya bingung, apalagi wali pasien bersedia membayar secara mandiri, tapi kenapa tadi sempat di tolak. Pasien juga biasa kontrol di sini dengan dokter sebelum dokter sakti."
Sakti mengangguk pelan.
"Baiklah kalo begitu. Apa anaknya masih di depan ugd?"
"Masih dok."
"Masih dengan anggota TNI itu?", lanjut Sakti.
"Sudah di beritahu ke dia kalo kita bisa melakukan operasi untuk nyonya Titin?"
"Belum dok."
"Ya sudah, biar saya yang beri tahu. Nanti biar dia melanjutkan sendiri ke ruang administrasinya."
"Baik dok. Kalau begitu saya permisi!", ucap suster.
Sakti keluar dari ruangannya menuju tempat Bia duduk.
"Bi!", panggil dr. sakti.
"Eh...iya dok!", aku langsung bangkit dari bangku. Begitu pula dengan mas Febri.
"Alhamdulillah, ibu mertua mu bisa di operasi secepatnya."
"Alhamdulillah, beneran dok?", tanyaku memastikan. Dokter sakti pun mengangguk.
"Tapi kok tiba-tiba bisa ya dok? Bukannya tadi di tolak?", tanya Febri curiga.
"Mas!", aku sedikit meninggikan suara ku pada mas Febri.
"Saya juga kurang paham komandan, saya hanya mengikuti perintah dari atas saja."
"Tapi ka....!", ucapan Febri terputus.
"Udah lah mas, yang penting Mak bisa segera di tangani. Aku pengen Mak cepet sehat lagi."
"Tapi nduk?"
"Mas Febri!", kataku.
"Maaf Bi, apa beliau ini masih kerabat mu?", tanya dokter sakti.
__ADS_1
"Dia...!"
"Saya mantan kekasihnya!", jawab Febri mengulurkan tangannya. Sakti pun menyambut uluran tangan Febri. Mereka pun sama-sama tersenyum.
Ternyata mantan toh? Batin Sakti.
"Apa anda juga mantan nya Bia?", tanya Febri balik. Sakti tersenyum simpul sambil mengusap pelipisnya. Aku yang mendengar obrolan tak jelas dua orang beda profesi ini hanya malu mendengar nya.
"Hehehe tidak sempat jadi mantan kok Ndan. Di tolak terus heheh!" sahut sakti.
Aku menutup telinga ku, malu mendengar omongan mereka hingga aku menyadari ponsel ku bergetar. Ku raih ponsel di saku gamisku. Nama suami ku tertera di sana.
[Assalamu'alaikum A]
Febri dan Sakti saling berpasangan.
[Walaikumsalam. Neng, Aa lagi otw balik.]
[Aa mau pulang?]
[Iya, operasi Mak bisa di lakukan kan?]
[Iya A, Alhamdulillah]
[Apa komandannya masih sama kamu?]
Aku menatap mas Febri sekilas. Febri membalas tatapan ku.
[Em...masih A, kenapa?]
[Ngga , cuma tanya. Kemungkinan Aa sampai sekitar jam sepuluhan nanti.]
[Oh, ya udah. Aa hati-hati ya]
[Iya. Aa tutup ya? Assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
Aku kembali memasukkan ponsel ku ke kantong.
"Alby pulang?", tanya Febri.
"Iya mas. Mungkin nanti jam sepuluhan sampai sini. Kalo kamu mau balik duluan ngga apa-apa mas, terimakasih sudah menemaniku ke sini."
"Iya, nanti mas pulang kalo Albu sudah sampai."
"Owh... baiklah kalo begitu!", ucapku.
"Bia, kamu bisa mengurus administrasi nya sekarang!", kata sakti.
"Oh... begitu dok? Iya!"
Setelah itu aku berjalan menuju ruang administrasi lagi. Tinggallah dia pria tampan dengan profesi yang cukup menarik.
Keduanya tersenyum kecut.
"Apa alasan Bia menolak anda?", tanya Febri.
"Status sosial! Kalo anda?", tanya Sakti balik.
"Beda tipis, tapi...lebih tepatnya restu orang tua."
Keduanya merasa senasib mungkin.
"Anda bisa dekat dengan Bia?", tanya sakti.
"Kebetulan saya ngontrak di samping rumah nya. Rumah dinas masih dalam tahap renovasi."
"Owh....berarti...kenal juga dong sama suami Bia? Kerja di mana?"
Febri menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Belum ketemu langsung sih, baru lewat ponsel. Mungkin nanti saat dia kesini baru kenalan secara resmi. Saya dengar sih, dia kerja jadi supir pribadi di kota."
Dokter sakti hanya ber'oh'.
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih sudah mau di ajak ngobrol diluar pekerjaan. Kalo begitu saya permisi,masih ada pekerjaan lain."
"Sama-sama dok, terimakasih juga ya!" , Febri menyalami sakti sambil menepuk lengannya.