Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 157


__ADS_3

Jadi tujuan Alby seperti itu? Aku tak habis pikir kenapa Alby bisa berubah seperti ini. Apakah ini bukti cinta nya pada ku atau obsesi memiliki ku???


Alby mengecup kening ku begitu lama. Aku hanya bisa memejamkan mataku.


"Maafin Aa udah kasar sama neng!",ia mengusap pipi ku dan menghapus jejak air mataku.


"Tolong jangan pernah lagi berniat meninggalkan Aa. Aa ngga tahu apa yang akan terjadi sama Aa kalo neng benar-benar pergi dari Aa. Aa ngga sanggup neng!"


Mulut ku ingin mengumpat, tapi lidahku terasa kelu. Semua umpatan itu hanya ada di dalam batinku.


Aku marah! Aku benci keadaan ini. Aku capek di permainkan seperti ini.


Alby mengusap luka di bibirku karena ulahnya. Luka yang ada tubuhku mungkin akan segera sembuh, tapi luka batin yang Alby torehkan kali ini sungguh sangat membuatku tersinggung.


Apa dia menganggap ku hanya pelampiasan na*** nya saja??? Kenapa dia bisa segila ini melakukannya padaku?


Aku kembali memejamkan mataku. Merasakannya sesaknya dadaku. Siapa yang akan mengira jika pernikahan bahagia kami berada di ujung tanduk seperti ini!


"Sudah puas?",tanyaku menatap pria tampan ku, eh... ralat! Tidak hanya milikku, bahkan kedepannya nanti dia tak lagi milikku.


"Apa maksud neng?", mata kami saling beradu pandang.


"Sudah puas melampiaskan naf** kamu?"


Alby sedikit tersentak mendengar pertanyaan yang ku lontarkan.


"Kenapa neng berpikir seperti itu?"


"Karena kenyataannya begitu! Kamu bebas mendatangi ku kapan saja semaumu tanpa memikirkan perasaanku! Kamu pikir aku ini apa hah?",ku tunjuk wajah nya dengan telunjukku. Tak ada lagi batas kesopanan yang ku jaga.


Alby meraih telunjuk ku lalu ia genggam dengan erat.


"Jika dengan cara lembut tak mempan untuk mempertahankan neng, Aa terpaksa memakai cara kasar!", matanya menatap emosi padaku.


Bukan, dia bukan Alby yang dulu.


"Egois!"


"Ya, Aa memang egois karena Aa cinta sama neng!"


"Stop!", aku menutup kedua telinga ku.


"Jangan pernah bicara soal cinta lagi pada ku. Karena buat aku semuanya selesai! Dan aku harap ini terakhir kalinya kamu menyentuh ku!"


Alby mendorong tubuh ku yang masih duduk di ranjang. Ia mengungkung ku lagi. Apa dia akan melakukan kekerasan lagi pada ku seperti tadi?


Eits.... jangan di bayangkan yang iya-iya. Kami memang tadi menyatu, tapi aku masih memakai pakaian ku.


"Sudah aa bilang, Aa ngga akan pernah lepasin neng. Kamu dengar!", teriak Alby di depan wajahku. Bahkan aku sampai memejamkan mataku.


"Kalo aa emang cinta sama aku, sayang sama aku harus nya Aa biarkan aku lepas dari pernikahan toxic ini! Kamu hanya menyakiti aku! Hanya itu!"


"Ngga! Kamu harus bersabar sedikit lagi neng!"


"Apa? kamu mau menunggu Silvy meninggal begitu? Ckkkk...jahat! Kamu benar-benar jahat!", aku mendorong Alby dari atas tubuhku.


Nafas ku memburu. Emosi ku sudah meledak saat ini.


"Keluar!"


Alby tertegun mendengar perintah ku untuk keluar dari kamar ku.


"Aku bilang keluar!", teriakku. Bodo amat jika ada tetangga yang mendengarnya.


Alby kembali mendekati ku, lalu merengkuh ku dalam dekapannya. Aku berusaha mendorong tubuh nya agar menjauh,tapi ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Maaf!",katanya lirih. Bahkan aku mendengar ia terisak di bahuku.


"Pergi! Aku ingin sendiri!"


Perlahan Alby melepaskan pelukannya. Ia mengecup puncak kepalaku cukup lama. Dan bodoh nya aku, aku hanya terpejam menikmati betapa tulusnya kecupan itu.


"Baiklah, Aa akan kembali ke mess. Tapi nanti Aa kembali! Jangan ke mana-mana!"


Aku tak menggeleng atau pun mengiyakannya. Setelah itu, ia pun berlalu meninggalkan kamar ku. Ku dengar deru mobil ku keluar dari halaman.


Pandai sekali dia, dia pasti akan kembali dengan alasan mengembalikan mobil jika nanti lek Sarman menanyakan kedatangan nya ke sini.


Aku menyandarkan kepala ku ke headboard ranjang. Apa yang akan terjadi nanti? Aku lelah ya Allah....


Ku pejamkan mataku, mengatur ritme jantung ku yang tidak baik-baik saja. Perlahan, aku pun bangkit lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Kubuka gamis yang melekat di tubuh ku. Kupandangi badanku sendiri. Hanya helaan nafas yang mampu ku hembuskan.


Alby benar-benar 'buas' kali ini. Mungkin karena efek 'puasanya' yang cukup lama. Perlahan aku mengguyur seluruh tubuhku tak lupa ku baca niat mandi junub untuk kembali mensucikan badan.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, aku pun sudah selesai solat ashar sekalian saja aku menunggu magrib.


Aku berzikir untuk mendapatkan ketenangan batin. Memohon pada yang kuasa ,berharap agar DIA memberikan petunjuk dan keputusan yang terbaik.


Aku kembali tergugu di sela doaku. Tapi isakan ku terhenti saat ponselku berdering.


Mas Febri calling....


Aku segan untuk mengangkat telpon darinya apalagi mode video call. Malu, saat ia tahu kondisi ku seperti sekarang. Tapi sepertinya Febri tak berhenti mencoba menghubungi ku. Buktinya ia mengganti panggilan itu ke telpon suara.


Akhirnya,aku pun mengangkat panggilan itu.


[Assalamualaikum,mas]


[Waalaikumsalam, nduk?]


.


.


Febri sibuk di kantornya. Hari ini ia menghadiri rapat yang di selenggarakan dinas terkait.


Singkat cerita, akan ada promosi kenaikan jabatan dan Febri termasuk salah satu pesertanya.


"Saya yakin Kapten Febrianto mampu!",ucap salah satu jenderal yang berdiri di samping ayah Sakti, jenderal Galang.


"Terimakasih!",sahut Febri sopan.


"Kapten Febri betah ya 'ikut' sama Jenderal Galang?", tanya nya lagi.


"Alhamdulillah Jend Amin!",kata Febri sambil menunjukkan senyum ramahnya.


Galang menepuk bahu Febri.


"Febri ini sahabat anak saya. saya juga sudah menganggap nua seperti anak saya sendiri",kaya jendral Galang tulus.


"Terimakasih,pak!"


"Oh ya, bersahabat baik dengan dokter Sakti?",tanya Jend Amin. Febri mengangguk. Persahabatan yang tidak di duga, apalagi karena mengharapkan satu wanita. Batin Febri.


"Iya Jend, kami sudah lama bersahabat."


Kemudian Febri berpamitan pada kedua jendral itu untuk menyapa rekan yang lain.


"Kapten Febri, apa kabar?", sapa seorang perempuan cantik berpakaian hijau army.


"Lettu Amara? Alhamdulillah baik!", jawab Febri.


Keduanya pun berbasa-basi lalu mereka pun menuju meja prasmanan yang memang sudah disediakan.


"Saya dengar Kapten Febrianto sekarang ikut Jenderal Galang ya?",tanya lettu Amara.


"Iya."


Febri menjawab singkat. Karena seperti nya dari tadi hampir semua orang menanyakan pertanyaan yang sama.


"Eum...mas Febri!", kini panggilan dari Amara berubah heheh


"Ya?", sahut Febri sambil meletakkan sendoknya.


"Mas Febri belum menikah lagi?", tanya Amara ragu-ragu. Febri menampilkan senyum manisnya yang membuat semua kaum hawa pasti meleleh. Huweelllleeee....


"Belum ketemu jodoh nya Lettu Amara!",jawab Febri. Amara hanya mengangguk pelan.


Tiba-tiba saja salah seorang rekan mereka bergabung di meja yang sama.


"Kapten Febri sama Lettu Amara saja, masih sama-sama single ini", ledeknya tiba-tiba. Amara tersipu malu. Tapi Febri menanggapi nya santai.


"Bisa aja! Ngga lah, kami hanya berteman kok. Ya kan Lettu Amara?",tanya Febri pada Amara. Amara pun mengangguk pelan.


"Masih belum move on dari almarhumah ya kapt?"


Febri tak menjawab pertanyaan itu, lagi-lagi ia hanya tersenyum.


Rekan seangkatan tahu bagaimana Lettu Amara mengejar cinta Febri bahkan sejak awal pendidikan mereka.


"Maaf, saya ijin solat dulu ya!",pamit Febri pada rekannya.

__ADS_1


Pria gagah itu pun menuju ke mushola yang ada di belakang gedung. Saat ia melepaskan jam tangan nya, tiba-tiba benda itu terjatuh.


"Astaghfirullah!",pekik Febri sedikit terkejut. Rekannya yang akan berwudhu juga sempat terkejut.


"Hati-hati mas, sayang kalo rusak!",kata pria yang memakai seragam yang sama dengan Febri.


"Iya, licin nih jadi merosot."


Febri pun melanjutkan wudhu nya setelah itu ia pun mendirikan solat nya.


Usai solat, entah kenapa pikirannya tertuju pada Bia yang ada di kampung sana. Febri meraih jam tangan hitam itu yang tadinya akan pakai lagi. Tapi ternyata jam tangan itu mati. Mungkin karena terbanting tadi, juga ada keretakan dikacanya.


Jam tangan itu memang bukan satu-satunya yang Febri miliki, tapi... benda itu pemberian dari Bia. Bia memberikan jam itu sebagai hadiah ulang tahun Febri saat itu.


"*Mas Feb tahu ngga kenapa aku kasih jam tangan buat hadiah ulang tahun mu sekarang?", tanya Bia sambil memakaikan benda itu melingkar di pergelangan tangan kiri Febri.


"Apa pun yang kamu kasih, pasti bikin aku inget sama kamu nduk!",jawab Febri sambil menowel hidung Bia.


"Heumm...ngga gitu juga mas. Kamu tahu kan kalo tiap detik berlalu, itu artinya umur kita berkurang. Sesibuk apapun kamu nanti, jangan lupa kewajiban mu. kamu udah dewasa, udah dua puluh lima tahun lho!"


Febri tersenyum tipis.


"Kan ada kamu yang ingetin mas!", Febri merengkuh badan Bia yang mungil. Ngomong -ngomong mereka berdua berada di rumah Bia ya. Tidak berpelukan dimuka umum*.


Tiba-tiba saja kenangan itu melintas begitu saja. Harus nya kenangan itu sudah terhapus oleh lamanya waktu yang berlalu. Tapi kenyataannya, bahkan kehadiran almarhumah Aisah saja tak bisa menghapus jejak kisah cinta keduanya.


Nanti aku telpon Bia saja, batin Febri.


.


.


[Assalamualaikum mas]


[Walaikumsalam nduk]


[Ada apa mas?]


[Kamu yang ada apa nduk? Ngga tahu kenapa dari tadi perasaan mas ngga enak. Kepikiran kamu terus. Kamu ngga kenapa-kenapa toh?]


Deg! Kenapa mas Febri bisa merasakan kekhawatiran itu?


[A...aku ngga apa-apa mas]


[Usah ngapusi nduk. Bar nangis tah awakmu? Ndang cerita'o nduk, kenek opo awakmu kie?]


(Jangan bohong nduk. Habis nangis Jan kamu? Buruan cerita nduk, kamu kenapa?)


Ya, Allah bahkan mas Febri saja tahu aku habis nangis. Apa suara ku begitu kentara. Aku sudah tak bisa lagi menahan isakanku. Dadaku terasa sesak.


[Lho, kok malah tambah nangis. Kenapa nduk, jangan bikin mas khawatir!]


[Alby.... Alby ke sini mas.]


[Maksud nya, dia ke kampung?]


[Iya mas]


[Apa yang dia lakukan sama kamu, dia menyakiti fisik kamu?]


Febri terdengar sangat geram. Tapi tidak mungkin juga aku menceritakan detail bahwa Alby memaksa ku untuk melayani nya dengan kasar pada Febri. Itu sangat memalukan, membuka aib ku sendiri yang notabene adalah mantan kekasihku sendiri.


[Alby ngga mau melepaskan ku mas]


Aku hanya menjawab seperti itu. Semoga Febri tak bertanya lebih jauh lagi.


[Tapi dia ngga main fisik kan nduk?]


[Ngga kok mas. Maaf, udah azan magrib. Aku tutup telpon nya ya mas]


[Ya Nduk. Kalo ada apa-apa cerita sama mas ya Nduk]


[Heum. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Ku letakkan ponselku di atas ranjang ku. Usia azan berhenti berkumandang, aku dirikan tiga rakaat ku. Setelah ini, aku akan ke rumah lek Sarman. Jika aku di sana, Alby tidak akan berani ke sana.


********


Segini dulu ya???

__ADS_1


udah ada gambaran kan Bia sama siapa besok???


__ADS_2