
Aku dan Febri sudah sampai di rumah sakit. Saat kami berada di loby, tanpa sengaja aku melihat Mak Titin yang sedang mendorong Nabil dengan baby strollernya di temani teh Mila.
Aku menghentikan langkahku sambil menahan lengan mas Febri.
"Kenapa nduk?"
"Ada Mak Titin, mas!", kataku. Febri menoleh ke arah yang ku maksud.
"Lalu?", tanya nya sambil menatap mataku.
Aku tak menjawabnya.
"Kita ke sana Nduk, mas janji akan menemani kamu. Ya?"
Aku mengangguk tipis tanpa melepaskan genggaman tangan ku dari Febri. Kami melanjutkan langkah kaki ke kamar Silvy mengikuti Mak Titin.
Mak Titin, Nabil dan teh Mila masuk ke sebuah ruangan. Dan ku yakin itu ruang rawat Silvy.
Setelah di depan pintu itu, aku kembali menahan tangan mas Febri yang masih setia menggenggam tanganku.
Aku mendongak menatap pria jangkung itu.
"Ada apa lagi heum?"
"Aku belum siap mas!"
Febri menghela nafasnya lalu menarikku duduk di sebuah bangku yang ada di lorong itu.
Aku duduk, sedang ia berjongkok di hadapan ku. Tangannya tak terlepas dari genggaman ku.
"Mas tahu, ini berat! Tapi mas yakin, perempuan cantik yang di hadapan mas ini memiliki hati yang lebih cantik di banding parasnya."
Aku tak menggubris gombalannya.
"Nduk, kamu ngga akan bisa selamanya menaruh dendam dan sakit hati kamu. Kamu bilang sudah move on, kamu bilang sudah membuka hati kamu buat aku nduk? Kamu mau membuktikannya sama mas kan?", dia menakupkan kedua tangannya di pipiku.
Di dalam kamar rawat Silvy....
Titin terharu melihat putrinya sudah siuman. Meski yang dia lihat, Silvy hanya mengerjapkan matanya dan dipelupuk matanya menggenang air yang sepertinya siap meluncur.
"Vy!", Mak Titin menghambur ke pelukan Silvy.
Silvy tersenyum tipis.
Alby mengambil Nabil dari stroller lalu mendekatkan Nabil pada istrinya.
Silvy tersenyum melihat putranya yang sangat mirip dengan Alby. Tampan.
"Ini Nabil kita!", kata Alby lirih. Silvy mengangguk pelan. Bulir matanya mengalir begitu saja. Nabil menyentuh pipi perempuan yang sudah melahirkannya.
"Ini bunda, Nabil!", ucap Silvy lirih. Nabil yang sedang aktif-aktifnya bergerak lincah di dekat sang ibu.
__ADS_1
"Papa, mana?", tanya Silvy. Itu pertanyaan yang kesekian kalinya ia tanyakan. Malvin memilih menjauh dari keluarga itu. Ia dan teh Mila memilih duduk di sofa.
"Apa ada yang kalian sembunyikan dari ku?", tanya Silvy lagi.
Titin meneteskan air matanya, tak tega mengatakan kebenaran pada putri nya yang baru saja sadar dari koma berbulan-bulan. Dia hanya takut jika ia mengatakan kejujuran, akan berakibat buruk pada kesehatan dan mental Silvy.
Tapi, kali ini Alby membulatkan tekad untuk mengatakan kebenaran itu.
"Vy...!"
Silvy mengerjap pelan.
"Papa ... sudah meninggal Vy, setelah kamu melahirkan Nabil."
Tak ada sahutan apa pun dari Silvy. Dia justru membeku menatap langit-langit ruangan itu.
"Papa!", ucapnya lirih. Air mata Silvy menetes di tiap ujung matanya.
"Ikhlaskan papa, insyaallah papa sudah tenang di sana Vy!", kata Alby. Silvy masih memandangi langit-langit kamar itu.
"Mba Bia?", kali ini Silvy kembali menanyakan Bia.
Alby menoleh pada Malvin yang tadi sudah menghubungi Bia. Malvin hanya mengedikkan bahunya.
Selang beberapa detik kemudian, sepasang kekasih memasuki ruangan Silvy. Semua mata tertuju pada sepasang kekasih yang saling menautkan tangannya.
"Assalamualaikum!", aku dan Febri mengucapkan salam.
Silvy tertegun beberapa saat melihat Bia dan Febri yang masih saling menggenggam tangan.
Apakah itu artinya Febri dan Bia sudah kembali menjalin hubungan? Batin Silvy.
Febri menggandeng ku menghampiri Mak Titin dan Silvy serta Alby yang menggendong Nabil.
"Apa kabar mak?", sapa Febri menyalami Mak Titin. Mau tak mau aku pun melakukan yang sama.
"Alhamdulillah baik, nak Febri!", jawab Mak Titin. Mak memandangi ku beberapa saat, lalu setelah itu ia memelukku begitu erat. Sudah sekian lama kami baru bertemu lagi. Dengan suasana dan kondisi yang berbeda.
Aku yang baru bertemu Alby tadi pagi terlihat bersikap biasa saja.
Nabil heboh menggerakkan kaki dan tangannya. Tangannya mengulur ke arahku dan Febri. Percaya diri sekali?????
"Mba Bia....!", panggil Silvy begitu lirih. Mataku beralih pada perempuan yang berbaring di tempat tidur. Wajahnya pucat dan semakin tirus.
Nabil semakin heboh bergerak.
"Nduk, kayanya Nabil pengen di gendong kamu!", kata Febri. Aku menatap lelaki ku sekilas. Dia mengangguk tipis. Aku pun memutari ranjang untuk mengamankan Nabil dari Alby. Benar saja, Nabil langsung diam tak banyak tingkah. Bahkan ia menyandarkan kepalanya ke bahuku, seperti mengambil posisi untuk bersiap tidur.
"Aku mau bicara sama mba Bia, berdua saja, boleh?", tanya Silvy pelan.
Aku tak merespon ucapan Silvy, masih fokus pada Nabil yang nyaman dalam dekapan ku.
__ADS_1
Ini anak dari mantan suami mu Bia? Anak yang lahir dari rahim perempuan yang sudah merebut suami mu!!! Sisi jahatku mulai berbisik.
"Nduk!", panggil Febri lagi.
"Aku mau bicara dengan Silvy, tapi kamu sudah janji mau menemani ku kan mas?", tanyaku padanya.
Febri menghela nafasnya. Dia sudah terlanjur berjanji tadi. Febri pun menatap Silvy, dengan anggukan kecil Silvy pun mengiyakannya.
Akhirnya, di ruangan itu tinggallah Silvy, Alby , aku dan Febri. Serta Nabil yang masih nyaman dalam dekapan ku.
Aku menggendong Nabil dengan satu tangan ku, dan tangan satunya menggenggam Febri.
Hening, itu yang terjadi di ruangan itu.
"Mba...!", akhirnya Silvy buka suara. Aku menatap mata perempuan yang sudah merebut kebahagiaan ku, merebut Alby ku.
"Maafkan aku!", ucapnya lirih. Matanya berembun. Bahkan di kedua ujungnya pun sudah basah.
Aku tak menanggapi apa yang Silvy katakan.
"Aku tahu, kesalahan ku sangat besar pada kalian!", lanjut nya semakin lirih.
"Aku hanya meminta maaf dari mu mba, setelah itu mungkin aku akan pergi dengan tenang."
Semua mata tertuju pada Silvy sekarang.
"Permintaan maafku mungkin memang tak merubah apapun, tapi... setidaknya membuat ku merasakan ketenangan. Tak ada lagi kesalahan yang membebani ku, sebelum aku benar-benar pergi!", katanya begitu lirih.
Entah kenapa, ada air menetes di pipiku. Febri semakin erat menggenggam ku. Sedang Alby hanya menatap beku, pada istrinya.
"Sebenarnya aku berharap, andai aku pergi...kamu akan kembali bersama Alby. Tapi...!", Silvy tak melanjutkan ucapannya. Matanya tertuju pada genggaman tangan Bia dan Febri.
"Aku tidak akan kembali pada A Alby, karena aku sudah memilih Mas Febri", jawab ku dengan lugas namun tenang.
"Maaf!", ucap Silvy lagi.
Aku menarik nafas dalam-dalam, sambil memejamkan mataku beberapa saat.
Apa mungkin ini saatnya aku membuka pintu maaf untuk perempuan yang sudah berhasil mengobrak-abrik kehidupan ku?
"Baiklah, aku memaafkan mu...silvy!", kataku tenang. Setelah itu, ia tersenyum.
"Makasih Mba ...!",ucap Silvy lirih. Matanya kini beralih pada suaminya, Alby.
"Mba Bia sudah memaafkan ku,By!", Alby mengangguk pelan.
"Iya, Bia sudah memaafkan mu!", ada rasa haru yang menyeruak di dalam dadanya. Haru karena Bia sudah memaafkan Silvy, tapi ada rasa sakit di relung hati nya saat Bia menegaskan bahwa Bia memilih Febri untuk menjadi masa depannya.
"Aku sudah tenang sekarang. Aku lelah! Aku sudah bisa pergi kan?", tanya Silvy. Mata kami tertuju pada sosok perempuan itu.
"Kamu bicara apa?", tanya Alby.
__ADS_1
"Nabila sudah menunggu bunda nya, By!", kata Silvy sambil tersenyum.