
Pelayat sudah banyak yang berdatangan lagi di pagi ini. Alby tampak pucat karena kurang tidur sejak semalam. Beruntung dia dikelilingi oleh teman-temannya yang perhatian. Meski awalnya dia tak berhubungan baik dengan mereka.
Teman-teman kampus dan para dosen pun turut melayat ke kediaman keluarga Hartama. Termasuk Vega, yang notabene sudah di DO.
"Ve!", seseorang menarik tangan Vega dengan sedikit kasar. Mereka sedikit menjauh dari kumpulan para pelayat.
"Apaan sih?", Vega melepaskan tangan temannya itu yang sudah mencengkram pergelangan tangannya.
"Ini bukan ulah Lo kan?", tanya teman Vega dengan pandangan menghakimi.
"Apaan sih! Lo ngomongin apa?", tanya Vega dengan mengusap pergelangan tangannya.
"Ga usah belagak ga tahu deh Lo, Ve! Silvy kaya gini ulah Lo kan?",tanyanya lagi.
"Kalo ngomong di jaga ya!", tuding Vega.
"Gue ngomong begini karena ucapan Lo waktu itu Ve! Dan sekarang terbukti Silvy udah ngga ada, pasti karena ulah Lo kan?"
"Heh!", Vega mendirikan bahu sahabatnya.
"Silvy mati, itu karena udah takdirnya dia mati. Ngapa nyalahin gue? Emang gue ngapain dia?"
Teman Vega menggeleng.
"Lo bisa lakuin apa pun Ve! Gue kenal Lo!"
"Ckkk! Tahu apa Lo tentang gue hah? Gue ga butuh temen yang cuma mau nyalahin gue! Gue, ga butuh Lo!", Vega kembali mendorong bahu temannya lagi.
"Jangan Lo pikir, gue ga tahu soal Lo yang udah mensabotase mobil Silvy dulu, sampai bikin dia kecelakaan dan cacat!"
Deg!
Jantung Vega berpacu sangat cepat. Dan di saat yang bersamaan, Malvin berada di dekat tembok pun keluar.
"Bang***!", Malvin meraih kerah baju Vega hendak menampar mantan kekasihnya itu. Beruntung Febri melihat kejadian itu. Febri menarik Malvin sekuat tenaga agar tak sampai mencelakai orang, apalagi dia seorang perempuan.
Teman Vega menganga tak percaya, jika obrolannya dengan Vega sampai terdengar oleh Malvin.
Vega masih sedikit ketakutan karena tiba-tiba di serang oleh Malvin.
"Stop Vin!", Febri masih menarik tubuh Malvin.
"Dia...dia yang udah celakain Silvy mas! Dia!", tuding Malvin lagi.
Vega tak menyahut apa-apa, tubuhnya membeku karena ketakutan. Dia tak menyangka jika sahabatnya tahu kalau peristiwa hampir satu setengah tahun itu adalah ulahnya.
"Kemaren, Lo kan yang ketemu gue di lorong rumah sakit yang dekat dengan kamar Silvy? Iya kan?"
Tubuh Vega bergetar menahan ketakutan.
__ADS_1
"Kemaren Lo kan yang udah bikin Silvy sesak nafas? Jawab bang***!", pekik Malvin. Dengan mengumpulkan keberanian, Vega pun tak kalah membalas pekikan Malvin.
"Iya, itu gue! gue yang udah buka selang pernapasan Silvy? Udah puas Lo dengar jawaban gue? Puas????"
Malvin akan maju lagi, tapi Febri menahannya.
"Gue ga nyangka Lo sejahat itu!"
"Lo bilang gue jahat? Lo ga ngaca hah? Lo udah ngerusak gue! Setelah itu Lo buang gue setelah puas sama gue, Lo pengen balik sama Silvy? Tapi Silvy lebih milih suaminya kan? Dan Lo...Lo...yang sebenarnya udah bikin Silvy menderita. Bukan gue!"
Malvin sudah bersiap untuk menyerang Vega lagi, tapi Alby sudah berada di antara mereka.
"Tenang Vin!", kata Alby dengan pelan.
"Dia mas! Dia yang waktu itu ga sengaja tabrakan sama kita di rumah sakit. Dia yang....", nafas Malvin terengah-engah.
"Iya, aku udah dengar Vin. Tapi...bukankah setelah itu, justru keajaiban datang? Silvy bangun dari koma nya kan?!"
"Lebih baik aku liat Silvy koma mas, tapi dia masih bernafas dan masih hidup! Ngga kaya sekarang!", Malvin masih meledak-ledak.
Febri sudah tak menahan tubuh malvin lagi.
"Sudah, ikhlaskan saja silvy agar di pergi dengan tenang. Lebih baik kita bersiap, mau solat jenazah kan?", ajak Febri. Sepertinya obrolan mereka mengundang perhatian para pelayat. Malvin pun mengangguk.
"Urusan kita belum selesai Ve!", kata Malu berjalan mendahului Alby dan Febri.
Oma dan opa sudah sampai di rumah duka. Beruntung Oma punya gamis yang polos. Setidaknya aku yang pakai tak nampak tua sekali karena modelnya.
"Mana mantan suami kamu ya Bi?", tanya Oma.
"Ngga tahu Oma!", kataku. Di dekat pintu, Mak Titin bersanding di bahu teh Mila. Sedang Nabil di gendongan Bina.
"Oma, kita ke Mak dulu yuk!", ajakku.
"Mak siapa?"
"Eum, mamanya A Alby Oma!"
Oma mengangguk tipis. Lalu Oma pun ikut membuntuti ku. Sedang opa bergabung dengan para pengusaha yang ia kenal dan kebetulan sedang melayat ke sini.
"Mak....!", aku mengusap bahu Mak Titin. Mak Titin mendongak. Bukan menyahut Mak malah semakin tergugu. Aku pun duduk di samping Mak Titin yang masih saja menangis.
Aku memeluk dari samping mantan ibu mertua ku yang sudah ku anggap ibu kandung ku sendiri, tapi itu dulu! sekarang...dia tetap lah orang asing buatku. Meski begitu, aku tak bisa untuk pura-pura tak peduli.
"Sabar ya Mak!", aku mengusap punggungnya.
"Neng? Maafin Silvy dan papanya ya neng! Mereka udah jahat sama Neng. Mak juga jahat sama neng!", ucap Mak dalam Isaknya.
"Ssst...udah Mak, insya Bia udah ikhlas memaafkan mereka. Mak yang sabar ya, Mak juga harus ikhlas melepaskan mereka. Ya Mak?", Mak Titin pun mengangguk.
__ADS_1
"Em, solat jenazah udah mau di mulai. Mak mau ikut solat?", tanyaku. Karena aku melihat sudah banyak yang berbaris jadi jamaah yang di pimpin oleh seorang ustadz.
Mak pun mengangguk.
"Oh ya, kenalin Mak. Ini Oma, ibu mertuanya ibuku!", kata ku memperkenalkan Oma pada Mak Titin.
"Omanya Bia dan Malvin", kata Oma. Mak yang awalnya bingung pun hanya mengangguk. Ku antar mak ke kamar mandi belakang untuk berwudhu. Begitu pun aku melakukan hal yang sama.
Kami berdiri di barisan belakang. Beruntung kami memakai jilbab lebar, jadi tak perlu mukena.
Setelah solat jenazah usai, semua bersiap mengantarkan jenazah Silvy ke peristirahatan terakhirnya. Ada drama yang mengharukan. Mak Titin jatuh pingsan berkali-kali.
Teh Mila tampak kewalahan karena Mak seperti itu. Anika dan Bina menemani Nabil di rumah. Tampak nya Nabil anteng-anteng saja ditemani dua orang perempuan cantik itu.
"Nabil nyaman banget sama Kak Bina ya?", Anika mengusap pipi Nabil.
"Mungkin karena kakak udah pantes jadi ibu-ibu kali ya dek!", kata Bina tanpa mengalihkan perhatian pada Nabil. Anika menangkap wajah kakak iparnya sepertinya kurang...
"Ya sih, tapi kan kakak juga bisa aja kan jadi ibu. Kan kak Bina udah nikah!"
Bina menoleh sebentar ke arah adik iparnya.
"Mas mu belum mau, dia masih pengen berdua sama kakak!", katanya lagi. Anika tak tahu harus komentar apa.
.
.
Febri sudah kembali bertugas sambil menyiapkan berkas-berkas yang di butuhkan untuk ijin menikah. Ternyata punya ku juga sudah di urus oleh bapak Anton dan lek Sarman. Kurang baik apa coba mereka????
"Oma, besok aku sama mas Febri mau kembali ke kampung. Kalo boleh Bia minta, Oma dan opa datang ya ke acara pernikahan kami?"
Oma tersenyum tipis.
"Insyaallah! Kami akan ke sana, sekalian menjenguk anak dan cucu Oma yang lain!", kata Oma.
"makasih Oma...!"
"Sama-sama Bia. Pokoknya, Oma harap setelah ini kamu akan mendapatkan kebaikan ya Nak!"
"Iya Oma"
****************
Habis ini siap-siap terima undangan dari Febia ya 🤣🤣🤣🤣
Amplopnya yang tebel yak ✌️
Haturnuhun
__ADS_1