Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 24


__ADS_3

Bada Isya, seorang perawat mengatakan jika Mak sudah siuman. Aku pun bergegas menemui beliau. Sedangkan mas Febri masih duduk di bangku tunggu.


Saat aku masuk ke dalam ruangan Mak, aku melihat mata Mak terbuka. Pandangannya sayu menatap ku lekat. Aku merasa Mak sedang dalam mode sedihnya. Mungkin, ka merasa bersalah membuat ku repot seperti ini.


"Mak...!", aku mengusap punggung tangan Mak. Mulut Mak masih menggunakan alat bantu oksigen.


Tiba-tiba saja di sudut mata Mak, tetesan bening meluncur. Mak menangis?


"Mak kok nangis, sakit banget ya? Maafin Bia ya Mak. Ngga bisa jagain Mak!".


Mak Titin menggeleng tapi dia masih menangis.


"Apa Mak ada yang sakit? Biar Bia bilang ke dokter ya?".


Tapi Mak menggeleng pelan.


"Bia, maaf!", kata Mak lirih. Aku tersenyum tipis.


"Mak, Mak ngga usah minta maaf. Yang penting sekarang, Mak harus istirahat cukup. Insyaallah besok pagi, Mak mau di operasi. Nanti malam A Alby juga sampe ke sini."


Operasi?Alby pulang? Batin Mak Titin.


"Udah ya Mak, Bia harap Mak jangan banyak pikiran. Berdoa biar semuanya lancar."


Mak tidak mengiyakan atau menggeleng. Hanya ada air mata lolos begitu saja.


"Mak kok masih nangis aja sih? Kan ada Bia di sini. Jangan sedih lagi ya Mak. Mudah-mudahan Gusti Allah memberi kesembuhan buat Mak. Biar kita bisa kumpul lagi", aku mencoba memberikan semangat pada Mak.


Mak pun akhirnya mengangguk.


"Ya udah, Bia keluar ya Mak. Mak harus istirahat. Lagi pula di depan ada mas Febri. Mas Febri yang sudah mengantar kita ke sini."


Febri memang laki-laki yang baik Bia, Mak merasa malu seadanya kamu tahu apa yang sudah Alby lakukan. Batin Mak.


Usai membenarkan posisi selimut Mak, aku kembali ke luar.


Mas Febri tampak tidur menyenderkan punggungnya ke bangku.


Wajah tampan nya terlihat sangat lelah. Ya, dia pasti lelah. Sudah bertugas, di tambah lagi membantu ku ke rumah sakit ini.


Aku duduk di bangku yang berbeda dan ada di hadapan mas Febri.


Benar apa yang mas Febri katakan, lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Bisa di bilang, dia adalah cinta pertama ku begitu pula sebagai. Dekat selama lima tahun tentu saja banyak yang sudah sama-sama kami ketahui dari diriku atau dirinya. Menemani masa-masa sulitnya saat awal pendidik militer, menyemangatinya juga saat ia memutuskan untuk kuliah juga. Tapi takdir tak berpihak pada kami.


Nyatanya, kesalahan ibu ku di masa lalu tetap berdampak padaku. Bu Sri, ibunya mas Febri yang tak lain adalah salah satu guru di SMA ku selalu mengingatkan statusku. Aku dan mas Febri dua orang yang kontras dalam segala hal menurut kacamata beliau.


Setahun dua tahun, aku masih berusaha mendapatkan hati Bu Sri. Aku juga pernah mencoba untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke perguruan tinggi di kota asalku. Tapi... lagi-lagi, ucapan Bu Sri mematahkan ku. Sekali pun nanti aku bergelar sarjana pun, beliau tidak akan pernah merestui kami.


Alasannya??? Ibu kandung ku selingkuh dan menikah usai ayah ku meninggal belum genap empat bulan. Meski kejadian itu jauh terjadi sebelum aku mengenal mas Febri. Tapi kenyataannya, cctv netijen di kampung lebih cepat dan mudah merebak melebihi virus. Ya...Bu Sri tidak ingin berbesan dengan perempuan yang berselingkuh. Bahkan, katanya beliau juga tidak respek sama sekali dengan Lurah baru, yang tak lain bapak tiri ku.


Usai membatalkan niatku melanjutkan kuliah, aku memutuskan untuk merantau ke ibu kota. Di usia ku yang ke delapan belas tahun, aku belajar mandiri menapaki kehidupan ku. Le Sarman dan Le Darmi sebenarnya tidak rela melepaskan ku keluar kota apalagi jauh seperti ini. Tapi karena aku sudah bertekad, aku tetap ke kota.

__ADS_1


Warung makan peninggalan ayahku, ku serahkan pada Le Sarman dan Le Darmi. Alhamdulillah, warung makan itu tetap berdiri. Tiap bulan Le Sarman mengirimkan ku laba dari warung setelah di kurangi bagian Le Sarman yang memang bagi hasil dari usaha ini.


Rumah peninggalan ayah sangat layak untuk di tinggali. Tapi Le Sarman dan istrinya tak ingin menempatinya, mereka memilih tinggal di rumah sederhananya yang tak jauh dari warung.


Rumah peninggalan ayah di biarkan terbengkalai. Hingga pada akhirnya, Le Sarman tahu jika sertifikat tanah dan sawah ayah ku di ambil oleh ibuku. Tapi dasar ibu, dia tak mau memberikan sertifikat itu pada Le Sarman. Dan pada akhirnya aku memilih untuk mengikhlaskan saja jika memang ibu menginginkannya. Harta bukan prioritas utama bagiku.


Aku terlalu sibuk dengan pemikiran ku di masa lalu, hingga tak menyadari jika Mas Febri sudah duduk di sebelah ku.


"Kok bengong sih? Dari tadi di panggil-panggil diem aja?", tanya Febri.


"Ah...iya mas. Engga kok!"


"Mikirin apa? Kan nanti suami mu pulang."


"Mikirin apa, embuh ga tau!", kataku berdiri.


"Kan Mak Titin udah siuman, besok juga bias operasi. Terus apa yang kamu pikirkan?"


"Ya...ya...namanya mau operasi mas, pasti wajar dong kalo cemas."


"Heeem. Ya sih. Eh, Mas Alby sampai mana katanya?"


Aku melirik ponselku, belum ada chat dari A Alby.


"Udah jam sembilan mas, apa ngga sebaiknya kamu pulang. Jalan ke rumah kan jauh mas? Apalagi udah malem begini, kamu sendiri lho!"


"Hehehe di tanya apa jawabannya apa. Kan aku bilang nunggu suami mu dulu. Emang ga boleh kenalan langsung gitu? Lagian, emang kamu lupa? Jangankan jalan ke kampung, bertahan di hutan ,di perbatasan bahkan di luar negri pun sudah mas jelajahi."


"Eum...ya sudah kalo begitu. Em.... ngomong-ngomong kayanya kamu belum makan malam ya mas? Oh iya, terus besok gimana? Aku ngga bisa masakin kamu dong mas?"


"Kamu lapar, aku beli dulu kalo gitu", kata Febri berdiri.


"Ngga usah mas. Kalo kamu laper kamu beli aja buat kamu, aku ngga usah."


"Kenapa?", tanya Febri.


Belum sempat ku jawab, ada suara yang sangat ku kenali menjawab pertanyaan Febri.


"Karena saya bawa makanan buat kalian!", kata Alby. Aku menengok ke asal suara tersebut. Dan benar, A Alby sudah berdiri di belakang ku.


"Aa!", pekikku senang. Aku langsung meraih punggung tangannya lalu ku kecup. A Alby pun melakukan hal yang sebenarnya membuat ku malu di hadapan mas Febri. Dia memeluk ku sesaat setelah itu mengecup puncak kepalaku.


"Kok Aa ngga bilang-bilang udah sampe sini aja?", tanyaku.


"Biar konsentrasi aja bawa mobilnya neng."


"Mobil siapa?", tanya ku.


"Majikan Aa minjemin mobilnya. Aa bilang Mak sakit dan mau operasi makanya beliau ngijinin Aa bawa ke kampung."


"Eum..baik amat ya majikan Aa."

__ADS_1


Andai kamu tahu yang sebenarnya neng, kamu tidak akan pernah menuju seperti itu. Bahkan mungkin kamu akan sangat membencinya.


"Oh iya A, ini mas Febri. Lupa mau kenalin secara langsung!", kataku. Febri tersenyum mengulurkan tangannya.


"Febri!"


"Alby!"


Ke dua pria itu saling melempar senyum. Dan tanpa di duga, dokter Sakti menghampiri kami.


"Bia?", sapa sakti.


"dok, selamat malam dok. Belum selesai praktek?"


"Sudah, ini mau pulang sempetin liat kamu masih di sini atau nggak", jawab Sakti.


Alby menautkan kedua alisnya.


"A, ini dokter Sakti. Beliau dokter yang menangani Mak. Dan... dokter, ini A Alby, suami saya."


Alby menyalami Sakti, lagi-lagi Alby tersenyum. Dia memang terlalu mudah memberikan senyumnya yang tentu saja banyak menarik kaum hawa.


Pantesan, seganteng ini! Batin Sakti.


Lebih ganteng dari aslinya, gue aja yang laki-laki mengakuinya. Gimana si Bia ngga milih dia? Batin Febri.


"Kalo begitu, bagaimana kalau kita makan malam bersama? Ya... sudah cukup malam sih sebenarnya, tapi.... kebetulan saya bawa empat porsi. Bagaimana Ndan? Dok?", tanya Alby.


Febri dan Sakti saling memandang.


"Iya mas, di makan ya? Takut mubadzir!", kataku.


Kedua pria berprofesi menjanjikan itu pun setuju.


"Maaf ya, saya ngga tahu selera komandan sama dokter, jadi lauknya seadanya gini!", Alby meminta maaf.


"Terimakasih sebelumnya mas Alby, jadi merepotkan!", kata Febri.


"Terimakasih mas Alby!", kata Sakti juga.


"Sama-sama, apa yang saya beri tak sebanding dengan apa yang kalian lakukan buat Mak saya."


Setelah itu, kami makan dengan tenang. Hampir jam sepuluh, Mas Febri dan Sakti berpamitan.


"Ndan, ternyata...latar belakang pekerjaan kita ngga bikin silau Bia."


"Iya dok."


"Kalo begitu,saya duluan ya Ndan!", pamit Sakti.


"Iya dok, hati-hati. Saya juga langsung pulang!"

__ADS_1


Keduanya berjabat tangan lalu menuju mobil masing-masing.


__ADS_2