
Sakti keluar dari ruangannya, dia mendapati Dimas yang masih asik dengan benda pipihnya sambil cengengesan.
"Dimas! Lo kan yang ngadu sama bokap?", tanya Sakti tiba-tiba. Dimas yang awalnya fokus dengan ponselnya kini berdiri lalu memasukkan benda pintar itu.
"Ngadu apa sih mas? ngga!", kata Dimas geleng-geleng. Persis seperti anak kecil yang ketahuan nakal. Tapi dasar Dimas, tahu saja celah buat bikin calon kakak iparnya keok. Di belakang sakti ada pak jenderal yang baru saja mengobrol dengan teman dokternya yang ada di ruangan sebelah. Pak jenderal meminta Dimas untuk tidak memberi tahu jika dia ada di belakang Sakti.
"Ngga usah boong deh! Lo mau bales dendam kan karena gue udah ngadu Lo pacaran sama Ika?", cerca Sakti lagi.
"Ya ampun mas. Jangan suudzon gitu kenapa. Dosa tahu!", celetuk Dimas.
"Ga nyangka gue, lemes banget mulut Lo ya Dim! Nyesel gue restuin Lo sama Ika."
"Mas sakti, serius saya ngga ngadu apa-apa sama bapak kok."
"Terus, kenapa ayah tiba-tiba tanya-tanya soal Bia coba? Pasti dari Lo kan? Apa Seto? Febri?"
"Ngga usah nuduh-nuduh Sa!", kata ayahnya sambil menepuk bahu putra sulungnya. Sakti membeku di tempatnya. Matanya melotot tajam ke wajah Dimas.
Calon ipar lak***! Bukannya bilang ada bokap di belakang gue! Geram Sakti dalam hati.
Habis lah sudah! Dimas tak kalah membatin.
"Kan ayah tadi bilang, ayah ketemu Bia di depan. Kenapa jadi nyalahin Dimas?"
"Eum...itu ..."
"Udah, ga usah cari kambing hitam. Ayah akan kenalin kamu sama teman anak ayah. Mungkin kamu juga udah kenal!"
"Yah, please deh! Ini bukan saatnya main jodoh-jodohan yah!"
"Bentar lagi ayah pensiun, ayah mau punya cucu. Main sama cucu-cucu ayah di rumah! Lagian kamu udah tua Sa! Tunggu apalagi?", tanya ayahnya.
"Kalo ayah mau cepetan punya cucu, noh... ajudan ayah suruh lamar Ika secepatnya!", kata Sakti sambil melirik Dimas. Mulut Dimas ternganga, wajahnya mendadak pias.
"Adikmu masih kecil, belum lulus kuliah!", sanggah pak jenderal. Dimas merasa tertolong kali ini.
"Ya udah lah, terserah ayah saja!", kata Sakti lesu.
Pak jenderal tersenyum samar. Beruntungnya dia memiliki anak-anak yang penurut. Meskipun dia membesarkan sendiri setelah ibu mereka tiada.
"Ayo Dim!", ajak Ayah Sakti pada dimas.
"Mari, mas Sakti. Saya duluan!", kata Dimas sambil membungkukkan badannya. Ingin rasanya Sakti ngajak Dimas gelud. Dulu mereka tak seperti ini, tapi setelah tahu jika Ika punya hubungan dengan Dimas, keduanya jadi tambah akrab. Akrab dalam arti yang sesungguhnya!
.
.
"Mau jalan-jalan ke luar neng! Aa bosen di sini!", kata Alby padaku.
"Ke luar mana? Taman?", tanyaku. Alby mengangguk.
__ADS_1
Sekarang kami berada di taman. Aku duduk di bangku taman, Alby duduk di hadapan ku. Wajahnya masih terlihat pucat. Tapi dia bilang lukanya sudah tidak terlalu sakit. Padahal ini baru tiga hari. Mungkin lukanya di lem kali, ga di jahit 🤭🤭🤭
"Neng!"
"Heum?"
"Misal kita pulang ke kampung, kita buka usaha di kampung gimana neng?"
Aku mengernyitkan alisku.
"Di kampung mana nih?"
"Di kampung Aa atuh!", sahut Alby. Aku menghela nafas ku.
"Usaha apa? Katering?"
"Apa saja! Yang penting kita selalu sama-sama! Apalagi, bentar lagi kita punya anak neng!", Alby mengusap perut ku.
Di bangku yang berbeda, tampak seorang nenek yang sudah sepuh memperhatikan keromantisan sepasang suami istri itu. Nenek itu tersenyum melihat laki-laki itu mengusap perut istrinya.
"By!", panggil seseorang. Aku dan Alby sama-sama menengok ke arah yang memanggil nama Alby.
Ya, Silvy yang memanggil Alby. Dia berjalan tertatih menghampiri kami berdua.
"By, gimana keadaan mu sekarang?", tanya Silvy. Dia menjatuhkan bobot nya di bangku. Tepat di sebelah ku. Sebisa mungkin aku menahan emosi ku. Jujur, ingin rasanya ku unyel-unyel pelakor ini. Dia sudah merebut Alby, mencelakainya pula. Untung aku masih waras.
"Seperti yang kamu lihat!", sahut Alby datar.
"By, aku minta maaf! Aku tahu aku salah, tapi kamu tahu aku ngga sengaja By!", kata Silvy mencoba meraih tangan suamiku, eh... suaminya juga.
Suara botol terjatuh di bangku sebelah, milik seorang nenek yang sedang duduk sendiri.
Aku langsung bangkit dari bangkuku.
"Kemana neng?", Alby meraih tangan ku.
"Mau ke nenek itu, kasian botol minumnya jatuh. Dan sepertinya kalian perlu bicara!"
"Aa ngga mau ngomong apa-apa kok sama dia!"
"By!", rengek Silvy.
"Sebentar A, karunya eta nenek."
Akhirnya Alby melepaskan tangan ku. Aku mengambil botol minuman nenek itu.
"Ini nek!", kataku menyodorkan botol itu.
"Makasih,cah ayu!", kata nenek itu. Jarak bangku antara Alby dan nenek itu hanya beberapa langkah saja. Jadi, kami masih bisa saling mendengar obrolan.
"By, aku mohon. Jangan pernah bilang mau ceraiin aku By. Kalo kamu ninggalin aku, gimana sama anak ini By? Kamu masih peduli kan? Iya kan By? Buktinya kamu gak ngebiarin aku bunuh diri!"
__ADS_1
Nenek yang bersama ku menatap ku bergantian dengan Silvy.
"Aku akan tetap tanggung jawab sama anak itu, tapi untuk sama kamu aku ngga bisa Vy. Sampai kapan pun aku cuma cinta sama Bia."
"By, tolong kasih kesempatan buat aku. Kasih dikit aja cinta kamu ke aku! Oke, ga buat aku. Buat anakmu yang ku kandung By!", kata Silvy dengan dramanya.
Aku yang mendengar ucapan Silvy merasa teriris. Sakit? Nggak! Lebih dari sekedar kata sakit! Aku menatap ke atas. Takut, air mataku tiba-tiba terjatuh.
Nenek itu menggenggam tangan ku! Mau tak mau aku pun berusaha bersikap baik-baik saja di depan nenek itu. Untuk mengalihkan perhatian nenek dari drama Alby dan Silvy, aku mengajak nenek itu ngobrol.
"Nenek sendiri dari tadi?", tanyaku.
Nenek itu tersenyum, mengusap punggung tangan ku.
"Iya, cucu saya belum datang. Suster yang nemenin saya sedang ke toilet."
Nenek itu tersenyum ramah, meski usianya sudah tak lagi muda tapi terlihat sekali jika dia memang cantik dari mudanya.
"Oh...!", aku membalas senyumannya.
"Nama kamu siapa nduk? Kalo saya, Marini. Panggil saja Oma Marini."
"Oh, iya. Oma Marini. Saya Shabia Ayu Oma, biasa di panggil Bia."
"Nama yang cantik! Secantik orangnya!", Oma Marini mengusap kepala ku.
"Anak perempuan cantik yang lahir di pagi hari, mahsyur dan berhati lembut."
Aku tersenyum tipis.
"Itu arti nama saya Oma?", tanyaku. Oma mengangguk.
"Bisa jadi heheh!", sahut oma Marini.
"Bia pikir benar Oma!", kataku cemberut. Tapi Oma malah terkekeh.
"Insyaallah artinya begitu."
"Sebenarnya, itu singkatan nama ibu dan bapak Bia, Oma. Salman Abdullah dan Bianti Asih. Jadi di singkat Shabia hehehe kata almarhum bapak begitu."
"Owalah....!", kata oma ikut terkekeh. Sejenak aku lupa jika sedang emosi dengan Alby dan Silvy. Aku tak fokus lagi mendengarkan obrolan suamiku dan istri mudanya itu.
"Oma!", panggil seseorang.
Aku pun menengok ke arah yang memanggil Omanya.
"Malvin?!", panggil Oma. Mata Malvin dan aku saling beradu pandang. Lalu tiba-tiba saja ia menengok ke arah Alby dan Silvy.
"Vy?", gumam Malvin tapi masih cukup jelas ku dengar. Dan bersamaan pula Silvy dan Alby menengok ke arah kami.
******
__ADS_1
Ada yang tahu kelanjutannya gimana??? 😁😁😁😁🤭🤭🤭🤭
Belum ada ide gaes 😄