
Febri mengantar ku ke rumah Oma Marini. Dia cukup terkejut mendapati rumah calon mertuanya, pak Anton yang ternyata orang berada.
Satpam membuka gerbang untuk kami berdua. Setelahnya, kami masuk ke dalam area rumah mewah nan megah ini.
"Nduk!"
"Heum?"
"Bapak anak orang kaya ya ternyata?", entah itu pertanyaan atau pernyataan dari mulut Febri.
"Iya", sahutku singkat. Kami sudah berada di depan pintu utama, ada maid yang menunggu kami.
"Assalamualaikum!", sapa ku dan Febri bersamaan.
"Walaikumsalam, mari Non Bia silahkan masuk!", kata maid tersebut. Aku dan Febri pun masuk ke dalam rumah mewah ini. Meski bukan untuk yang kesekian kalinya aku menginjakkan kaki ku disini, tetap saja aku merasa canggung. Ini bukan rumah nenek kandung ku kan?
Maid itu mempersilahkan ku duduk. Setelah itu datang lah Oma Marini sambil tersenyum girang.
"Cucu ku yang paling cantik sudah sampai!", kata Oma Marini. Dia langsung cipika-cipiki padaku.
"Sehat Oma?", tanya ku.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu liat. Malvin udah bilang sama Oma, kamu tidur di sini saja. Pokoknya kalo kamu lagi berkunjung ke Jakarta, kamu harus menginap di sini. Oke?", kata Oma sambil mengelus lenganku.
"Insyaallah Oma!", jawabku. Lalu netra tua itu beralih pada Mas Febri.
"Ini siapa?", tanya Oma.
"Perkenalkan Nyonya, nama saya Febri!", kata Febri menyalami tangan Oma Marini.
"Oh...nak Febri! Ganteng, gagah ya! Abdi negara ya? keliatan nya potongan nya begitu?", tebak Oma.
Febri mengangguk dan tersenyum. Menunjukkan senyum manisnya.
"Iya nyonya!"
"Jangan panggil Nyonya dong, Oma gitu kaya Bia sama Malvin."
Febri tersenyum tipis sambil mengangguk.
"Iya, Oma!", kata Febri malu-malu. Biasanya juga dia memanggil kakek neneknya cuma Mbah Kakung dan Mbah putri itu pihak dari bapaknya. Sedang dari pihak ibunya ia memanggil nya eyang. Nah, dia dihadapkan dengan orang kota plus kaya macam Marini, manggilnya Oma???
"Nah, gitu. Ngomong-ngomong ini calon suami kamu Bia?", tanya Oma lagi. Aku sedikit malu menjawabnya.
Takut di cap perempuan yang kegatelan, belum lama cerai udah cari penggantinya aja.
"Insyaallah Oma, mohon doa restunya!", Febri yang menjawab sendiri. Oma Marini tersentak.
"Tentu Oma merestui, yang penting cucu cantik Oma bahagia. Jangan pernah sakiti cucu perempuan Oma satu-satunya ya!", kata Oma mengancam Febri.
"Insyaallah Oma!", sahut Febri tegas.
"Malvin sudah cerita semuanya. Sebagai orang tua, Oma merasa gagal mendidik Malvin. Gimana juga, Malvin turut andil dalam musibah yang menimpa almarhumah Silvy!"
Aku menghela nafas.
"Eum, opa di mana Oma?", tanyaku mengalihkan perhatian.
"Oh, ada di ruang kerja. Tahu tuh udah aki-aki masih aja demen kerja!", celetuk Oma. Di saat yang bersamaan, opa keluar dari ruangan kerjanya bersama seorang pria.
__ADS_1
"Cucu opa udah sampai?", sapa opa. Aku mencium punggung tangan opa. Begitu pula dengan Febri. Sedang pria di belakang opa menatap ke arah Febri dengan pandangan tak suka.
"Calon masa depan ku, kamu kesini ngga ngabarin?", tanya William padaku. Aku memilih untuk tidak menjawab nya.
Oma mengikut dengan William.
"Sembarangan! kamu ngga liat, ada calon suami keponakan mu heum?", sindir Oma Marini.
William mendengus kesal.
"Apa kabar mas selebgram?", sapa Febri.
Aku menahan tawaku, begitu juga dengan Oma dan opa. Aku yakin Febri tak ingat nama William. Dia juga bukan pengguna sosmed itu. Hanya saja pernah di beri tahu oleh Anika.
"Baik!", jawab William ketus tapi tetap menerima uluran tangan Febri.
"Maaf, Oma , opa dan om... selebgram, saya pamit mau ke rumah duka. Menemani Alby. Tolong titip calon istri saya ya!", ujar Febri. Aku memutar bola mataku jengah. Lebay!!!!
"Tentu saja oma akan menjaga cucu cantik Oma ini!", Oma merangkul bahu ku.
"Terimakasih Oma!", kata Febri tulus.
"Besok, kita ketemu di kediaman keluarga Hartama saja ya nak Febri!?", kata Oma.
Febri mengangguk. "Iya ,Oma!"
"William, kamu udah mau pulang juga kan?", tanya opa.
"Ngga om, aku mau nginep di sini saja. Mau menemani Bia ngobrol!", sahut nya enteng.
"Gak! Ga ada nginep-nginep! balik sono!", usir Oma kesal.
"Tapi om...Tante...!", rengek William.
"Iya , opa! Kebetulan saya baru datang dari negara xxxx. Jadi saya tidak membawa kendaraan", jawab Febri.
"Nah, Wil! Mending sekarang kamu antar nak Febri ke rumah duka. Ada Malvin di sana. Kali aja kamu mau ikut begadang menemani Malvin."
"Ogah!", sahut William kesal.
"Tapi kalo nganter nak Febri mau kan?", tanya opa sambil melipat kedua tangannya di dada. William pun memutar bola matanya jengah.
"Iya iya aku antar. Silahkan komandan!", ujar William mendahului Febri ke depan.
"Nduk, mas ke rumah Alby dulu. Kamu baik-baik di sini ya!", kata Febri.
"iya, aku pasti baik-baik saja kok. Ada Oma sama opa kan?"
Febri mengusap kepala ku dengan Lembut.
"Titip Bia ya, Oma opa!"
.
.
Kediaman Hartama mulai ramai di datangi pelayat. Dari rekan kantor hingga teman-teman kampus Silvy.
Alby duduk di samping jenazah dengan membacakan lantunan ayat-ayat suci Al Quran. Sedang mak Titin berada di kamar. Kondisi nya sangat lemah. Dia masih terpukul dengan kepergian suaminya, dan sekarang putrinya.
__ADS_1
Nabil sendiri, di jaga oleh Anika dan Bina. Marsha pun turut membantu di rumah itu. Dia membantu mengurus segala hal yang kira-kira di butuhkan. Termasuk segala biaya pemakaman Silvy besok pagi.
Sakti dan Malvin duduk di dekat pintu. Mereka mewakili tuan rumah untuk menerima para pelayat.
Hari sudah mulai larut. Tinggi beberapa orang saja yang berada di kediaman itu. Setelahnya, Febri pun sampai ke rumah itu.
William benar-benar mengantar Febri ke rumah Alby. Meski setengah hati, William tetap mau mengantarnya. Bahkan, dia pun ikut turun untuk menemui Alby. Turut berbelasungkawa.
"Om Wil, mau ikut begadang di sini juga?", tanya Malvin.
"Oma mu yang nyuruh!", sahut William.
Alhasil, Febri, sakti , Malvin dan William begadanga menemani Alby yang masih mengaji di samping jenazah istrinya.
Febri mendekati Alby, menepuk bahu Alby sedikit. Alby pun menoleh, menghentikan kegiatan mengajinya.
"Lo jadi temen gue?", tanya Alby. Febri mengangguk.
"Iya!"
"Kayanya Lo belum ganti baju dari siang?"
"Heum, iya. Tadi dari rumah Oma Marini, aku langsung ke sini. Ngga sempat ke mess dulu."
"Oh, gitu. Kalo Lo mau, Lo bisa pinjem baju gue. Kayanya ada yang ukuran nya besar, muat sama Lo!", kata Alby sambil berdiri.
Febri pun turut berdiri.
"Udah ngga usah By. Gue ga mau repotin. Baju ini juga belum terlalu kotor kok. Paling cuma kena keringat. Masih sah buat solat!", kata Alby menolak secara halus.
Di saat yang sama, William datang memberikan sebuah paperbag.
"Itu, satu set pakaian lengkap. Belum gue pake, gue biasa siapin di mobil kalo sewaktu-waktu keluar kota."
Febri melongo di buatnya.
"Lo sadar diri dong, badan Segede gabang mau pake bajunya Alby. Mau pamer roti sobek Lo?", sindir William. Febri menahan senyumnya. Geli dengan tingkah William yang terkesan ketus tapi ternyata baik.
"Makasih ya...om.... selebgram!", kata Febri. William mendengus sebal. Akhirnya ia bergabung dengan Malvin dan Sakti.
"Ya udah, gue anterin ke kamar mandi belakang!", kata Alby. Beruntung di kamar mandi belakang, tersedia sabun cair. Febri pun dengan nyaman mandi disana.
Selesai mandi, Febri menyimpan pakaian kotornya di paperbag tadi. Di sana ada mang Sapto yang duduk di bangku.
"Mang!", sapa Febri.
"Eh, Ndan? Sudah selesai? kalo mau solat isya, di situ saja. Sebelum nya itu kamar Alby!"
Febri pun mengangguk. Setelah itu, ia pun mendirikan empat rakaatnya yang hampir tengah malam.
"Ndan?"
"Febri saja mang!"
"Heheh sama-sama wong jawa kok !", kata mang Sapto. Febri pun mengangguk, tak mengira jika mang Sapto orang jawa juga. Keduanya mengobrol sebentar. Lalu setelah itu keduanya menuju ke depan. Dimana Silvy di baringkan.
*****
Tinggal menghitung hari mo the end yak 🤭
__ADS_1
Pokok'e happy ending lah 🤗🤗🤭
Haturnuhun pisan 🙏🙏🙏🙏