
Alarm ponsel ku berdering, menandakan sudah pukul tiga dini hari. Tanganku terasa pegal dan hampir tak bisa di gerakan. Ternyata...ada yang nyaman berbantalkan tangan ku.
Dengan posisi tengkurap, ia berbantalkan tangan kananku. Tangan kirinya menggenggam jemariku. Sedang tangan satunya dengan santai tanpa beban bertengger di puncak mount Everest ku 🙄
Jika di drama-drama atau novel yang ku baca, biasanya istri yang berbantalkan tangan suaminya. Ini malah terbalik. Mending kalo badannya kecil, lha Febri????
Kalo dia tak di bangunkan, mana mungkin aku bisa mengambil posisi tanganku lagi.
Ku sempatkan memandangi wajahnya yang berahang tegas. Bibir yang cukup tebal, kissable lah pokoknya. Alisnya rapi dan hitam legam. Hidungnya tak terlalu mancung tapi juga tak pesek. Ya...tapi siapa pun akan mengakui jika Febri pria yang tampan dan gagah dalam artian... maskulin gitu lah.
Aku menyingkirkan tangan nya yang nyaman di puncak Everest, tapi bukannya menyingkir, justru dia malah menggenggam nya erat.
"Mas!", pekikku.
"Heum!", hanya gumaman yang keluar dari bibi seksinya.
"Bangun ih. Ini tangan ku kebas! Sama ini, kondisi kan dong tangannya!", kataku sambil terus berusaha menyingkirkan dari aset kembar ku.
Dia mulai membuka matanya, lalu mengangkat kepala nya sampai akhirnya tangan kananku yang hampir mati rasa bisa berganti posisi.
Dia menopang kepalanya dengan salah satu tangannya dan terus memandangi ku.
"Kenapa?", tanya ku sambil memundurkan kepalaku.
"Mau lagi dong!", katanya sambil tersenyum jahil.
"Mesum!", aku mendorong wajahnya sampai dia jatuh terlentang karena tangan nya tak mampu menahan kepalanya.
Tapi itu tak berlangsung lama, tahu-tahu di sudah berada di atasku. Ooopsss....
"Mas! Awas iih....berat! Udah mau subuh ini!"
"Apa? Berat? Masa sih?", ledeknya.
"Masa sihhh???", ulang ku sambil melotot.
"Jangan melotot gitu dong sayang....!", katanya dengan suara di buat-buat sok lembut. Geli! Bukan dia banget! Tapi cukup membuat ku mleyot!
__ADS_1
"Dih, ada yang hidung nya mekar di panggil sayang!", tuding Febri lagi. Sontak saja hal itu membuat ku semakin ingin menimpuknya.
"Di bilang awas mas, berat! Mau mandi ini sebentar lagi subuh lho!"
"Seberat apa?"
"Pokok nya mah berat!"
"Yakin? Semalam aja ada yang bilang, aaah...mas...lagi mas....!", ledek Febri. Sontak ku bungkam mulutnya dengan tanganku.
"Gak! Ga ada kaya gituan! Mana mungkin aku kaya gitu!", kataku ketus tanpa membuka tangan ku dari mulutnya. Tapi dasar Febri, justru telapak tangan ku di jilat olehnya.
"Iiiih...jorok mas !", aku mengelap nya ke daster ku.
"Nduk!", rengeknya lagi.
"Apa?"
"Mau lagi, sekali aja!"
"Nanti lain kali kan bisa mas. Mang ngga capek semalaman? Kayanya salep dari ibu beneran aku pakai! Udah ah, awas mas aku mau mandi!"
Aku cuma bisa menghela nafas panjang.
"Kan mau solat sunnat mas!"
"Sekali-kali libur solat tahajud ngga apa-apa nduk. Kan juga mau ngerjain sunnat yang lain!"
"Astaghfirullah!!!!", aku tak sanggup berkata-kata lagi.
Begini amat yang puasa dua tahun. Gimana sama para jomblo ya???
Febri ngga tahu aja ieu biwir tos jeding, hulu tos kaku, pinggang asa copot, apalagi segitiga Bermuda nya udah nyeuri kumaha euyyyy....Remek sakabehanana!
.
.
__ADS_1
Berbeda dengan pengantin baru, menjelang subuh Alby sudah bersiap untuk berangkat ke stasiun. Nanti setelah di stasiun baru ia melanjutkan dengan pesawat menuju bandara.
Obrolan nya dengan seorang pria di masjid semalam, perlahan membuka hatinya untuk menjalani kehidupan nya yang akan datang. Ada Nabil yang harus ia perhatikan.
Dengan pelan, Alby menggendong Nabil. Tak lupa ia menyeret kopernya.
Ternyata, Mak Titin,teh Mila dan mang Sapto sudah menunggu nya di depan pintu.
"Sini, mamang aja yang bawa koper nya!", mang Sapto mengambil koper yang ada di samping Alby.
"Makasih mang!", kata Alby. Lalu setelah itu, ia menghubungi pihak penginapan yang sekarang sah menjadi milik Bia. Tapi karena kebaikan Bia, Alby sekeluarga di perkenankan memakai segala fasilitas secara cuma-cuma.
Keempat orang dewasa dan satu bayi itu memasuki sebuah mobil yang akan mengantarkan nya menuju ke stasiun. Tak sampai satu jam, mobil itu sudah sampai di stasiun.
Sesampainya di sana, ternyata 'teman-temannya' pun sama-sama sedang menunggu keberangkatan menuju Surabaya.
"By!!", panggil Sakti.
"Hei, bisa bareng?", sapa Alby. Yang lainnya pun hanya bertegur sapa. Terutama pada Mak Titin. Jika kemarin full personil, kali ini minus Dimas yang sudah kembali ke Tuban di mana dia bertugas.
"Lo udah pamit sama Bia?", tanya Sakti.
"Gampang nanti siang. Kalo sekarang, takut ganggu dia!"
Sakti mengangguk.
Alby paham keseharian mantan istrinya yang pasti sudah bangun sebelum subuh. Tapi... barang kali, dia sedang 'sibuk' dengan suami nya yang sekarang.
Dan tak lama kemudian, kereta yang kami tunggu sudah tiba. Kami naik di gerbong yang sama hanya saja bangkunya yang cukup berjauhan.
Alby duduk memangku Nabil yang masih tertidur pulas. Pria itu mengecup ubun-ubun Nabil begitu lama.
"Maafin papa! Mulai sekarang, papa hanya akan fokus sama Nabil dan pekerjaan papa yang kelak hanya akan jadi hak kamu sayang!", bisik Alby pada Nabil. Pria itu memandang jendela yang menyuguhkan pemandangan persawahan di sepanjang jalan menuju ke Surabaya.
******
Tinggal beberapa bab lagi 🙏🙏🙏
__ADS_1
Otewe ke Duda Ganteng yak ✌️🙏🤭
Makasih 🤗🤗🤗