
Mobil kami sudah masuk pelataran parkir rumah sakit. Mas Febri melepaskan seat belt nya, baru setelah itu menurunkanku.
"Barang bawaannya nanti aja kan?",tanya Mas Febri.
"Iya mas. Kan mau Konsul dulu sama dokter!"
Mas Febri akan membopong ku lagi, tapi aku menolak.
"Jangan mas, malu! Aku juga masih bisa jalan. Lagian, belum berasa apa-apa kok!"
Aku mas Febri mengalah, dia meraih pinggang ku, kami berjalan beriringan. Ada perawat yang kebetulan melintas, lalu memberikan kursi roda padaku.
"Silahkan Bu!", kata perawat itu. Aku mengangguk dan tersenyum.
"Makasih sus!", kata mas Febri. Suster itu mengangguk pelan.
"Mau check up atau...?"
"Istri saya sudah pecah ketuban sus."
"Oh, maaf kalo boleh tahu, biasa di tangani dokter siapa?", tanya si perawat. Dia tak mau sembarangan mengambil pasien orang. Ini rumah sakit swasta.
"Dokter Nadia!", jawab Febri.
Nah, kan ! Untung gue tanya dokter nya siapa. Kalo orang lain mungkin ga masalah, yang jadi masalah tuh dokter Nadia kelewat galak! Batin tuh perawat.
"Sus, mah ngajak kami diskusi apa gimana ini ceritanya?", tanya Febri dengan mode khas Kapten nya.
"Ah iya mari silahkan saya antar ke ruangan dokter Nadia. Bapak bisa mengurus administrasinya."
"Sama suster dulu ya Nduk? Mas ke admin dulu!"
"Iya mas!"
Kursi rodaku di dorong oleh si perawat menuju ruangan dokter Nadia. Aku bahkan lupa saat ini hanya memakai daster lengan pendek. Untung jilbabku lebar. Minimal tak terlalu memperlihatkan apa yang harusnya tak orang lain lihat selain mas bojo.
Aku sudah tiba di depan pintu ruangan dokter Nadia.
"Lho, kok berhenti di sini sus?"
"Maaf,Bu. Tapi terus terang saya mah takut kalo berhubungan dengan dokter Nadia. Galak banget!"
"Hehehe...saya bilangin lho sus!", ledekku.
"Jangan atuh Bu!",sahut perawat itu.
"Becanda mereunnnn...!", sahutku.
Perawat itu mengetuk pintu ruangan dokter Nadia yang kebetulan tak sedang menangani pasien.
__ADS_1
"Masuk!", terdengar suara dokter Nadia.
Perawat itu pun mendorong kursi rodaku.
"Selamat pagi dok!", sapaku.
"Pagi, lho...nyonya Bia?", Dokter Nadia langsung berdiri menghampiri ku.
"Ini dok, ketuban saya udah rembes sejak setengah jam yang lalu."
"Oh ya? Mari kita cek sebentar!", perawat itu mendorong kursi roda ku. Aku tahu si perawat pasti tegang mengingat ucapannya tadi saat di luar.
Dokter Nadia memeriksa jalan lahir ku.
"Baru pembukaan satu Nyonya!"
Aku mengangguk.
"Dok, eum... sebenarnya saya pengen melahirkan normal. Tapi suami saya minta saya di operasi saja dok. Bagaimana?"
"Terserah nyonya saja sebenarnya. Menurut catatan medis anda selama ini, kondisi anda memungkinkan untuk melahirkan secara normal kok."
"Meski harus dua kali mengejan?", tanyaku.
"Iya. Insyaallah, fisik anda kuat nyonya. Tinggal keyakinan diri anda saja. Tapi ya... kembali lagi, silahkan di diskusikan lebih dulu dengan suami anda."
Selang beberapa saat kemudian, Mas Febri pun masuk ke dalam ruangan dokter Nadia. Dokter Nadia menjelaskan seperti apa yang tadi dia jelaskan padaku.
Mas Febri menatapku dengan pandangan yang entah, mungkin mau marah tapi ngga enak ada orang lain hihihi
"Berhubung ini baru pembukaan satu, anda bisa beristirahat di ruang rawat lebih dulu sambil menunggu pembukaan. Tapi jika memang mau operasi, kami akan segera menyiapkan segala sesuatunya."
"Bisa kami diskusikan lebih dulu di luar dok?", tanya Febri. Dokter Nadia mempersilahkan. Perawat yang tadi bersama ku pun ikut keluar.
"Maaf Bu, saya permisi!", kata perawat itu.
"Iya sus, makasih!"
Mas Febri menarik kursi roda ku ke bangku. Dia duduk berhadapan dengan ku saat ini.
"Kan tadi mas udah bilang, kamu operasi saja. Bukan apa-apa nduk, tapi mas cuma pengen yang terbaik buat kalian." Dia menggenggam tanganku begitu erat.
"Mas, rekam medis ku menunjukan aku bisa melahirkan normal mas. Kamu ngga usah khawatir begitu. Ya?", aku mengusap rahang nya.
"Di mana-mana istri mau melahirkan ya pasti khawatir nduk?"
"Tapi aku ingin melahirkan normal mas. Please??", aku memohon.
"Tapi mas dengar melahirkan normal itu sakit banget nduk. Apalagi ini...ini anak kita kembar lho nduk. Kasian kamunya!"
__ADS_1
"Mas, insya Allah aku bisa mas. Percaya deh! Ya?"
"Tapi mas ngga tega liat kamu kesakitan nduk!", wajah mas Febri memelas.
"Uluh-uluh ayah cinta banget sama ibu sampe segitunya!", aku menakupkan kedua tanganku di pipinya.
"Ngga usah bercanda deh."
"Hehehhe...mas. Mau lahiran normal atau Caesar, sama aja sakit mas. Sama aja berjuang antara hidup dan mati. Kalo aku dengar malah melahirkan normal pemulihan nya lebih cepat di banding dengan operasi. Operasi kan pilihan terbaik kalau memang tidak bisa melahirkan secara normal. Selama masih bisa normal, ya di usaha normal. Sama aja sakit kok!"
(Maaf 🙏🙏🙏 mamak ga tahu sesakit apa melahirkan Caesar. Alhamdulillah dua2nya normal. Tapi sempat merawat adik ipar yang beres operasi, ngeliatnya sakit banget kayanya)
"Jadi, kamu kekeuh mau melahirkan normal?",tanya nya meyakinkan ku lagi.
"Iya!", jawabku.
"Baiklah! Kita bilang ke dokter Nadia."
Setelah beberapa kemudian. ....
Aku sudah berada di ruang kelas dua. Kenapa ngga kelas satu? Masa orang kaya ngga mampu??? Hehehe
Jaminan kesehatan nya emang dikasih nya kelas dua. Kalo mendadak di VIP, ntar mas Febri yang kena sentil....😁
"Udah ada yang di rasa nduk?", tanya mas Febri saat ia baru kembali dari mengambil tas-tas ku yang ada di mobil.
"Huum, sedikit!", jawabku.
"Apa udah perlu panggil dokter?"
"Belum mas!",aku sedikit meringis. Tadi pas di cek masih bukaan satu, untuk bukaan lengkap masih ada beberapa jam lagi kayanya.
"Mas, kamu ngga ganti baju dulu?", tanyaku.
"Mas ga bawa baju. Gampang lah nanti."
Dia duduk di samping ku mengusap-usap perut ku.
"Apa ngga apa-apa nduk? Ini baru delapan bulan lho."
"Delapan bulan lebih mas. Kan waktu tujuh bulanan aja udah kelewat sebelas hari."
"Sudah siap bayinya buat lahir?", tanya nya lagi.
"Insya Allah mas!"
Karena belum merasakan apapun, aku memilih tidur. Sedang mas Febri bertilawah sambil mengusap perut ku.
*****
__ADS_1
Maaf kalo ternyata ga masuk akal 🤭🤭🙏🙏🙏. Tapi sodara mamak hamil delapan bulan bisa lahir normal 🙏🙏🙏
Lanjut nanti dulu yam, tunggu beres jemput si bungsu dari sekolah dulu 😆