Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 39


__ADS_3

Alby


Suasana kamar Mak masih hening. Tak ada obrolan hangat yang biasa tercipta antara aku, Bia dan juga Mak.


Aku masih syok mengetahui jika Silvy adalah anak kandung Mak.


.


.


Sat itu Mak hanya mengatakan pernah menikah sebelum menikah dengan bapak tapi ...tidak bilang memiliki anak dari pernikahan sebelumnya, dan kami percaya.


Bapak ku menikah dengan Mak sebelum ibu meninggal. Ibu ku dan Mak berteman. Yang ku ingat, ibuku pernah mengatakan jika Mak itu teman ibu saat di kota. Sebagai anak berusia delapan tahun kala itu, aku percaya saja apa pun yang orang tua katakan.


Mak tidak tinggal bersama ku sebelumnya, hingga ibu ku sakit-sakitan dan meminta Mak merawatnya di rumah yang sama karena saat itu bapak bekerja di kota.


Seiring berjalannya waktu, desas desus tentang kedekatan Mak dengan bapak pun santer terdengar. Tapi ibu ku justru tak menghiraukannya. Ibu malah meminta Mak menjadi istri bapak jika dirinya tak ada. Meminta Mak agar menganggap ku seperti anak sendiri.


Tapi Mak tak langsung mengiyakannya. Sebagi janda, ia tak mau di cap sebagai perebut suami orang. Apalagi suami sahabat nya sendiri yang sudah bersedia menampung nya di rumah kami.


Penyakit ibu ku semakin parah, beliau pun meminta mak untuk menikah dengan bapak. Akhirnya, Mak dan bapak pun memutuskan untuk menikah atas permintaan mendiang ibuku.


Kebencian keluarga kami cukup membuat Mak dan bapak kewalahan. Termasuk uwak ku, bapaknya kang Asep. Tapi, Mak membuktikan pada semua orang bahwa dia layak menjadi istri bapak dan menjadi istri bapak bukan karena merebutnya dari ibuku.


Perlahan-lahan kesalah pahaman yang terjadi pun berangsur membaik. Tidak ada lagi istilah atau kalimat kasar yang terlontar pada Mak karena ia membuktikan dirinya tak seburuk itu.

__ADS_1


Dua belas tahun pernikahan Mak dan bapak, bapak pun menyusul ibuku. Saat itu, usiaku sudah dua puluh tahun dan sudah bekerja di salah satu pabrik otomotif yang semua orang tahu jika itu perusahaan ternama. Benefit yang di dapatkan cukup lumayan hingga aku bisa sedikit demi sedikit membantu perekonomian keluarga ku yang saat itu hanya tersisa Mak. Rumah kami di renovasi menjadi lebih baik lagi. Aku membuat kolam ikan dan hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan kami.


Dua tahun sejak bapak meninggal, aku jarang pulang. Ya, meskipun aku sayang sama Mak tapi tetap saja ada rasa canggung dan perasaan tak enak karena aku sudah bukan lagi ABG. Dalam setahun paling aku hanya pulang dua kali. Itu pun saat lebaran dan ambil cuti tahunan saja.


Bertahun-tahun aku menjadi laki-laki yang hampir bahkan jarang berhubungan dengan kaum hawa. Kalau bicara mantan, aku pernah beberapa kali pacaran saat remaja dulu. Tapi setelah bekerja, aku sama sekali tak pernah berpacaran meski banyak sekali gadis-gadis yang mendekati ku. Hingga pada suatu hari, aku mengenal gadis cantik dan imut bernama Shabia Ayu. Gadis cantik beretnis Jawa itu menarik perhatian ku. Selain cantik alami, ia pun satu-satunya gadis yang melihat ku dengan tatapan biasa saja. Dia berbeda dengan gadis lain yang mengejar-ngejar aku karena ketampanan ku. Bukan sombong, tapi kenyataannya memang wajah ku lumayan lah.


Dia bekerja di minimarket berlogo merah itu. Gadis yang berusia dua puluhan itu menolak ku saat di ajak berkenalan.


Sebagai pria yang merasa berwajah diatas rata-rata,bukankah ini suatu bentuk penghinaan??? Ah, tidak! Aku tak berpikir seperti itu. Mungkin gadis itupun sudah memiliki kekasih sampai menolak ku pun itulah wajar.


Tapi... keberuntungan berpihak padaku, ternyata dia single. Aku tahu saat melihat ia menolak ajakan seseorang yang ku tahu secara finansial dan juga tampangnya pun di atasku tentunya. Dia bermobil, sedang aku hanya memakai roda dua itu pun nyicil belum lunas pula.


Sekali dua kali, aku masih melihat betapa gigihnya pria itu mendekati Bia. Tapi respon Bia selalu sama, menolak ajakan pria itu. Yang membuat ku heran, kenapa Bia tak pernah mengiyakan pria itu untuk sekedar pergi bersama. Apa level nya terlalu tinggi buat Bia? Atau Bia mau yang lebih di banding pria itu?


Aku melihat ia melamun sepanjang jalan. Bukankah hampir tengah malam seperti itu cukup berbahaya untuk nya? Dengan percaya diri aku menghampiri nya. Gayung bersambut, dia ternyata merespon ku.


Sejak saat itu kami pun dekat. Jika kami sama-sama off, kami menghabiskan waktu bersama. Satu tahun berikutnya, aku memintanya untuk menjadi istri ku. Dia pun menyetujuinya. Rasa bahagia pun bercampur haru saat aku mengenalkan Bia pada Mak. Mak langsung cocok dengan Bia yang sopan dan supel meskipun jika marah ia akan seperti singa kelaparan 😄.


Pernikahan kami cukup sederhana.Bia bilang, bapak nya sudah tiada. Hanya ada paman yang ia miliki. Paman nya pun menyambut ku dalam lingkungan keluarga cukup baik. Benar yang Bia katakan, pamannya memang pria yang menyenangkan. Aku sempat heran, kenapa ibu Bia tak menghadiri pernikahan kami, tapi Bia hanya bilang. Ibu nya sibuk dengan bayi kecilnya. Aku yang belum terlalu paham pun hanya mengangguk.


Usai menikah aku dan Bia masih sama-sama bekerja di kota beberapa bulan. Tapi ternyata sejak ada pandemi, ada pengurangan karyawan di pabrik ku. Aku yang termasuk dalam pengurangan jumlah karyawan mau tak mau pun keluar dengan pesangon yang lumayan besar lah.


Setelah aku resmi tak bekerja, Bia pun mengundurkan diri dari tempat nya bekerja lalu mengikuti ku kembali ke kampung halaman ku.


Mak ku sangat bahagia dengan kehadiran kami. Bia yang merindukan sosok ibunya juga terlihat sangat dekat dengan Mak. Begitu pula sebaliknya. Mereka nampak seperti ibu dan anak kandung. Terlebih lagi, Bia cukup pintar bergaul. Meski belum lama tinggal di sini, dia paham dan cukup tahu bahasa keseharian kami meskipun awalnya ia tak tahu menahu.

__ADS_1


Bia, perempuan yang penurut. Dia pernah bercerita jika sertifikat tanah dan sawah peninggalan bapaknya di ambil oleh sang ibu untuk di gadai saat ada pencalonan lurah bapak tirinya.


Andai dia mau, kehidupan nya di kampung halamannya sangat baik bukan!? Di tambah lagi, warung makan peninggalan bapaknya juga cukup besar dan ramai yang sekarang di kelola pamannya.


Tapi...Bia ku memang hebat! Dia tetap mengikuti kemana pun dan apa pun keputusan ku selama ini. Dia menerima apapun yang menjadi keputusan ku. Bahkan gajiku yang tak seberapa saat menjadi kuli harian pun di terima dengan senang hati.


Kurang baik apa dia???


Tapi sekarang, aku sudah membuat lukanya menganga. Luka yang mungkin tidak akan pernah bisa terobati meski aku ribuan atau jutaan kali meminta maaf padanya.


Aku mengecewakan Bia ku. Tapi...dari lubuk hati ku yang paling dalam, aku sungguh-sungguh sangat mencinta Shabia ku, hanya Bia ku.


.


.


"Ayo A, kita istirahat ke hotel!", ajak Silvy padaku.


"Tapi Non, Mak...!"


"Non? Hallo??? Aku istri mu A Alby! Silvy!", kata Silvy penuh dengan penekanan.


"Udah, kamu language ke hotel. Kamu ngga kasian sama anak saya, pasti tidak nyaman pakai kebaya seperti itu!"


Aku hanya menghela nafas. Menolak pun rasanya percuma saja. Tuan rumah pasti akan tetap memaksa semua keinginannya.

__ADS_1


__ADS_2