Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 80


__ADS_3

Mobil lek Sarman sudah berada di depan 'warung'. Please, jangan bayangin warung yang kami maksud seperti warteg atau warsun. Lebih tepatnya rumah makan dengan beberapa kursi yang membentang dari ujung ke ujung. Juga tersedia dalam layanan reguler sampai VIP.


Restoran? Bukan juga! Karena ini lebih kecil jika di sebut restoran. Kenapa kami menyebutnya warung? Karena sejak dulu, bapak yang mengajarkan seperti itu. Ada banyak perubahan warung kami sejak bapak tidak ada. Salah satunya, ada saung yang menghadap langsung dengan view pegunungan yang asri. Aku tinggal di kampung nya? Tidak juga. Karena kota ku ini memang dekat dengan gunung yang banyak di gunakan untuk rekreasi.


"Lek, banyak yang berubah ya?", tanya ku saat pertama turun dari mobil.


"Kan ada ide dari kamu juga nduk!", jawab lek Sarman. Aku mengangguk tipis, lalu membuntuti nya yang masuk ke warung. Kondisi warung cukup ramai. Anak-anak sekolah mungkin libur panjang.


"Bia!", seseorang memekik memanggil namaku. Siapa lagi kalo buka lek Dar, istrinya lek Sarman.


"Lek Dar!", aku memeluk tubuh gempalnya.


"Piye kabar e nduk?", tanya lek Dar.


"Penak jamanku toh???", tanyaku memicingkan mataku.


Lek Dar menepuk perutku, meski tak sakit tapi aku mengaduh. Lebay!


"Ditanya serius kok! Emang pak Suharto tanya kaya gituan!", kata lek Dar manyun.


"Ngomong-ngomong Iki wetengku mbok yao ga usah di antemi toh Lek. Sakne kie anakku!"


(perutku, pukuli, kasian)


"Meteng toh koe nduk? Tenane???"


Aku mengangguk. Kedua lek ku pun mengucap syukur.


"Wes sekarang makan Yo, biar dedek bayinya ga luweh!", kata lek Dar.


"Iyo Lek!", sahutku. Aku pun berjalan beriringan menuju dapur mengikuti lek Sarman yang sudah lebih dulu berjalan ke dapur. Aku menyantap makan siang ku yang sebenarnya sudah lewat dari jam semestinya.


.


.


[Mas, aku udah sampai, tapi aku ngga bisa langsung ke situ ya? Mau mampir ke rumah makan yang lagi hits mas. Mau review makanan gitu!] kata William.


[Kamu tuh ya, tujuannya ke sini mau apa sih? Silaturahmi sama mas apa mau ngevlog?] tanya seseorang di seberang sana.


[sambil menyelam minum air mas!], jawab William.


[Warung makan HS mas. Tau kan]


William membatin,Harusnya sih tahu!


[Udah Deket juga bukannya pulang ke sini dulu]


[Wes lah mas. Aku mau makan dulu lah] sambungan itu langsung di matikan.


William memanggil pelayan untuk memesan makanan. Tapi sayangnya semua sibuk.


Aku yang baru selesai makan , melihat kondisi warung ku cukup ramai. Semua kewalahan melayani pengunjung warung tak terkecuali lek Sarman dan lek Dar. Aku yang merasa tak enak hati, usai mencuci bekas makan ku pun turut bangkit lalu menuju ke depan. Ku perhatikan ada yang sepertinya belum memesan makanan.


"Sore mas, bisa di bantu mau pesan apa?", tanya ku ramah sambil membawa notes kecil.


Orang itu mendongakan kepalanya.


"Bia?", sapanya girang. Aku memundurkan kepalaku.

__ADS_1


Nah, bukan nih orang yang satu bangku sama aku waktu di kereta?


"Eh, ya. William?", tanya ku yang memang sedikit terkejut.


"Kamu di sini rupanya?", tanya William tanpa memudarkan senyumannya.


"Heu, mau pesan apa ya? Maaf, pelayan kami sibuk semua. Ngga apa-apa kan pesan sama saya?"


"Ngga apa-apa banget Bi. Kalo boleh malah temenin makan sekalian!", kata William. Aku menghela nafas. Menggeleng pelan kepala ku.


"Maaf, mau pesan apa? Biar nanti cepet di masakin sama koki kami."


"Eum, ada menu apa saja? Yang best seller di sini apa?"


Aku menyodorkan daftar menu di hadapannya.


"Insyaallah best seller semua mas."


William tersenyum manis. Dia mengembalikan daftar menunya padaku.


"Aku percaya sama kamu, pesanin semua yang best seller deh. Yang penting itu pilihan kamu."


"Anda mau menghabiskan berapa porsi? Memang nampung?", tanyaku. William justru terkekeh.


"Ya udah , dua menu masing-masing satu porsi. Minum nya yang seger dan lain dari yang lain. Habis itu, bisa ngga temani aku makan?"


Aku tak menggubris ucapannya yang tidak berbobot.


"Silahkan di tunggu ya mas. Permisi!", aku pun mengundurkan diri dari hadapan William.


Ponsel ku berdering, dari Alby tentunya. Tapi aku mematikan panggilannya. Lalu kunonaktifkan ponselku.


"Mba, ini pesanan meja nomor dua belas ya!", kataku menyerahkan daftar catatan ku.


"Mba, resep yang kemarin enak lho. Biar sederhana gitu tapi bener deh. Cocok di lidah!", kata salah satu koki.


"Alhamdulillah kalo pada suka mah. Tapi itu udah banyak yang pakai resep itu lho."


"Tapi buktinya best seller tuh mba."


"Hehehe ya bagus kalo gitu. Udah pada tinggal nyiapin makanan kan? Aku pulang dulu ya! Capek!"


"Iya mba Bia. Selamat istirahat!", jawab ketiga Koki mudaku. Tapi tetap, ada dua koki senior sejak berdiri warung ini. Mereka berdua adalah teman bapak.


Aku mengambil tasku dan paper bag yang berisi pakaian kotorku. Aku melewati meja dua belas di mana William duduk tadi. Tapi sekarang dia tidak sendiri. Ada seorang pria yang berseragam pdh ala-ala pegawai balai desa. Dan juga remaja tanggung yang berada di sampingnya.


Aku enggan menyapa William, toh aku memang tak berteman, hanya sekedar kenal. Sayang nya pas aku melewatinya, justru ia memanggil ku.


"Bia?!", panggil William. Mau tak mau aku menghentikan langkahku. Aku berbalik badan bersamaan dengan seorang pria dan anak remaja yang bersama William.


"Mba Bia!", panggil anak itu lalu mendekat padaku.


"Esa?", tanyaku balik.


.


.


.

__ADS_1


"By, dari mana semalaman ngga pulang nak?", tanya Mak pada alby. Bukannya di jawab, Alby justru melengkapi langsung menuju ke kamar nya. Sudah dipastikan, Silvy dan tama akan menghakiminya seperti biasa. Baginya, saat ini tidak ada hal yang lebih menakutkan di banding kehilangan Bia.


Titin mengelus dadanya. Teh Mila yang ada di belakang Titin pun mengusap bahu Titin.


"Mungkin Alby sedang banyak yang dipikirin Bu."


"Tapi selama ini, Alby ngga pernah sekalipun mengabaikan saya Mil. Tapi...wajar kalo dia marah sama saya. semua yang Alby alami karena kesalahan saya di masa lalu. Alby, Bia dan Silvy yang jadi korbannya Mil."


Titin terisak di bangku dapur.


"Jangan berpikir begitu bu. Insyaallah Alby anak yang baik. Mungkin saat ini, Alby memang butuh waktu untuk sendiri."


Titin mengangguk sambil menyapa air matanya.


Di sisi lain, Alby langsung memasuki kamarnya.


"Hubby, semalam kamu tidur dimana? aku ngga bisa hubungi kamu. Kamu kenapa sih?", Silvy menghampiri Alby.


"Bukan urusan mu!", jawab Alby datar.


"Gimana bukan urusan ku, kamu kan suamiku!", kata Silvy kekeh.


"Apalagi yang kamu mau hah! Bahkan gara-gara ulah kamu dan papa kamu aku hampir kehilangan Bia!", kata Alby. Saat ini Alby benar-benar seperti bukan Alby.


Silvy sedikit terhuyung sampai terduduk di ranjangnya.


"Maksud nya, Bia pergi ninggalin kamu? Bagus dong!", kata Silvy santai. Tapi Alby menatap tajam ke arah istri keduanya itu.


"Lancang mulut mu!"


"Kamu kok jadi kasar gini sih?", keluh Silvy.


"Iya, ini lah aku. Laki-laki yang ngga punya harga diri. Laki-laki yang di beli oleh kamu dan papamu!", tunjuk Alby di wajah Silvy.


Silvy sedikit terhenyak dengan keberanian yang Alby milikki.


"Kamu mau mengadu pada papamu? Silahkan! Aku sudah tak peduli dengan siapapun! Hanya Bia! Hanya Bia satu-satunya yang aku pedulikan!"


Brakkk!!!


Alby membanting pintu kamar mandi cukup keras. Suara bantingan pintu membuat Silvy sedikit terkejut. Dia benar-benar tak menyangka jika alby yang selama ini dikenal kalem dan pendiam serta penurut, sekarang berubah menjadi pria yang pemarah.


Ternyata kehamilannya masih belum cukup membuat Alby sedikit saja perhatian pada Silvy. Justru semakin menjauh!


Silvy harus mengatakan pada papanya jika Alby bukan Alby seperti yang sebelumnya. Harus ada hal lain yang mengikat Alby menjadi penurut seperti dulu.


.


.


.


Siapa lagi tuh William??? Banyak amat orangnya???


Kalo ada yang masih inget nama 'Esa' pernah nongol di episode sebelum2nya pasti tahu dong siapa tuh yang sama William???


Makasih yang udah setia baca sampai siniπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Apapun komentar kalian para reader's, mamak terima dengan tangan terbuka πŸ˜…πŸ˜…πŸ§‘β€πŸΌ, matursuwun sanget πŸ˜‰. Big hug for you lah Mak 😁😁😁😁😁

__ADS_1


Semoga ga bosen pantengin tulisan receh ini. Btw mau mampir ke karya Mak yang lain juga boleh kok. Spill sitik gak opo-opo toh??? πŸ˜‹



__ADS_2