Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 151


__ADS_3

Alby memasuki ruang rawat Silvy, ia melihat istrinya yang sedang hamil itu menatap datar dirinya yang baru masuk. Tidak seperti biasanya, kali ini tatapan Silvy begitu datar. Jika sebelumnya, silvy tampak selalu antusias jika bertemu Alby, tidak kali ini. Alby melangkahkan kakinya menuju brankar Silvy.


Apa dia bertemu dengan Anika dan Febri? Batin Silvy.


"Kamu sudah makan?",tanya Alby. Silvy cukup terkejut mendapat pertanyaan Alby. Hanya pertanyaan biasa, tapi entah kenapa Silvy merasa ini sebuah hal yang luar biasa.


Karena tak percaya jika Alby bertanya seperti itu Silvy hanya mengerjapkan mata. Alby yang melihat istrinya hanya terbengong-bengong pun berinisiatif mengambil makanan di atas nakas.


"Makanlah, aku suapin!", Alby menyodorkan sendok di depan mulut Silvy. Silvy masih tidak percaya dengan perlakuan Alby.


"Buka mulutmu!", titah Alby. Akhirnya Silvy pun menuruti apa yang Alby pinta. Ada senyum yang terbit di bibir silvy. Apakah dia boleh bahagia kali ini? Walau sebentar saja!


"By!", panggil Silvy lirih.


"Heum!", hanya itu sahutan Alby. Tapi benar-benar membuat silvy merasa senang.


"Aku bisa makan sendiri", kata Silvy. Alby menatap wajah cantik istri mudanya itu. Benar-benar masih muda.


"Aku hanya ingin menyuapimu dan anak kita!", jawab Alby sambil terus menyuapi Silvy.


Silvy mendadak bungkam. Apakah ini mimpi atau nyata? Jika ini memang mimpi tolong jangan bangunkan aku biarkan tetap seperti ini ya Tuhan! Batin Silvy.


Silvy menghentikan suapan Alby. Wajah pucat Silvy masih menjadi pemandangan utama di hadapan Alby.


"By... bolehkah aku minta satu kesempatan untuk bisa menjadi bagian kecil dari hidupmu meski hanya sebentar?"


Alby peralatan makan silvy kembali ke atas nakas. Dia menatap intens wajah istrinya itu.


"Aku akan mencobanya tapi seandainya aku tidak seperti yang kamu harapkan tolong pahami kondisiku."

__ADS_1


Wajah silvy berbinar. Benarkah yang ada di hadapannya sekarang adalah Alby yang selama ini ia inginkan???


Tiba-tiba Silvy memeluk tubuh suaminya. Awalnya Alby hanya diam saja tapi beberapa kemudian, Alby pun membalas pelukan Silvi lalu mengusap punggungnya perlahan-lahan.


Apakah aku sudah benar ya Allah? Alby memjamkan matanya. Pelan, Silvy melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah tampan Alby yang terlihat lelah itu. Silvy menakupkan kedua tangannya di pipi Alby.


"Terimakasih buat kesempatan ini By!", ujar Silvy lirih. Alby menurunkan tangan Silvy dari pipinya. Meski ia memberikan kesempatan untuk Silvy, tapi untuk hal-hal yang seperti itu Alby merasa belum bisa. Sayang nya, Silvy memanfaatkan kesempatan itu. Ia meraih bibir suaminya itu. Alby tak berusaha menghindar tapi juga tak membalasnya. Silvy masih berusaha agar Alby memberi balasan, tapi... beberapa detik sudah berlalu. Alby masih bergeming hingga Silvy menggigit bibir bawahnya yang membuat Alby menerima serangannya.


Semakin lama semakin dalam. Usaha Silvy tak sia-sia, akhirnya Alby membalasnya. Silvy tak peduli dengan apa yang Alby pikirkan. Mungkin yang ada dalam bayangan Alby adalah Bia, tapi Silvy benar-benar tidak peduli.


Alby yang kini sudah membalas Silvy pun semakin menikmatinya. Apalagi, sudah lama ia tak melakukannya dengan Bia sejak Bia keguguran waktu itu.


Kegiatan itu terhenti saat Alby mendorong Silvy perlahan menjauh darinya. Silvy sempat kecewa,tapi setidaknya ini jauh lebih baik. Alby sudah tak sedingin biasanya.


"Aku mau pulang dulu!", Alby bangkit dari bangkunya, tapi Silvy meraih tangan suaminya.


"Insyaallah!", jawab Alby singkat. Silvy meraih punggung tangannya lalu dikecupnya dengan takzim. Alby tak menolaknya.


"Boleh minta tolong By?", tanya nya lagi.


"Apa?"


"Aku...mau pakai hijab, jadi....tolong belikan ya!", kata Silvy sambil menatap manik hitam di hadapannya.


"Hijab?", ulang Alby.


"Huum, aku ingin bertaubat By."


Alby tertegun mendengar ucapan Silvy barusan. Benarkah????

__ADS_1


"Dan...nanti...kita telpon Bia ya By, aku mau minta maaf. Setidaknya...kalau aku nanti sudah ngga ada, Bia sudah memaafkan ku! Dan aku harap, Bia akan menerima bayiku untuk di rawat bersama kamu By!"


Deg! Dada Alby bergemuruh hebat. Seringan itukah seorang Silvy menatap kematian?


"Aku akan minta Bia bertahan sebentar lagi By!", Silvy menunduk dalam. Tangan nya mengusap perutnya perlahan-lahan. Detik itu juga, Alby memeluk tubuh istrinya itu.


"Maaf!", ujar Alby. Silvy tak tahu makna dari maaf Alby. Ia mengusap puncak kepala Silvy. Silvy yang berada dalam pelukan suaminya pun tak tahan untuk tidak menangis. Ia sedih, kenapa di saat dirinya akan pergi justru sikap Alby menghangat padanya. Ia ingin waktu yang lebih lama bersama Alby! Tapi jika memang kenyataannya dirinya hanya serpihan kecil di kehidupan Alby, itu tak apa.


Alby mendongak menatap langit-langit ruangan itu.


Maafin Aa Bia! Jika memang dengan melepaskan mu, aku tak akan lagi menyakiti kalian berdua! Lelaki tampan itu memeluk erat tubuh Silvy yang duduk di brankarnya.


.


.


Anika tak membahas apa-apa selama di perjalanan pulang. Febri yang terbiasa mendengar celoteh Anika pun menatap heran pada gadis itu.


"Kok tumben diem dek?", tanya Febri memecah keheningan.


"Eum, kepikiran Silvy mas!", jawab Anika dengan masih menatap jendela luar.


Febri mengangguk paham. Setelahnya , mereka pun kembali terdiam.


*****


Pendek banget ya??? Mon maap, anak2 libur jadi mamak sibuk sama bocil.


Maapkeun lamun GaJe & banyak typo 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2