
Kami berdua sudah kembali ke rumah lagi. Apa yang akan kami lakukan berdua di rumah? Hufttt...paling naninu lagi naninu lagi. Tapi ...pak suami bilang jangan suudzon, sayangnya emang berakhir nya ke situ-situ juga.
Seperti saat ini, kami baru selesai beraktivitas 'itu'. Hari masih belum terlalu malam padahal, tapi ya...gimana lagi.
"Nduk?!"
"Heum?"
Kami sedang duduk di teras belakang. Sepertinya ini menjadi spot paling nyaman untuk kami berdua menghabiskan waktu.
"Kalo....kita ke Jakarta bawa mobil, kamu keberatan ngga?", tanya mas Febri sambil menggenggam tanganku.
"Kenapa aku harus keberatan mas?"
"Ya...mas takut kamu kecapekan nduk!", katanya merangkul bahuku.
"Capek ya istirahat lah mas. Kalo perlu kita bisa gantian nyetirnya. Ya kan? Masih berapa hari lagi cutinya?"
"Tiga hari sih Nduk!"
"Ya udah, sambil berangkat ke Jakarta,kita bisa mampir dulu ke kota yang kita lewati. Anggap aja honeymoon!"
"Honeymoon kalo cuma nyicip makanan daerah yang kita singgahi doang mah gak honeymoon kali Nduk namanya!"
"Hehehe maunya??"
"Investasi dulu, ke hotel apa penginapan gitu!"
''Ya Allah, ini otak isinya kenapa jadi gituan mulu sih??? Astaghfirullah!", aku menarik telinganya, mesra lho ya....bukan lagi ngomel!
"Maklum dong nduk! Namanya juga pengantin baru!"
"Ngga lah. Ngga segitunya juga!", kataku sambil mencebikkan bibirku.
"Tuh bibir harap di kondisikan dong nduk. Jadi pengen...!"
"Nihhh!", aku mencomot bibir nya dengan jariku. Dia tertawa tertahan.
Ponsel ku berdenting. Ada chat dari Mas sakti.
__ADS_1
"Siapa?", tanya Febri.
"Mas sakti!", jawab ku.
Aku pun membuka pesan dari Sakti.
[Bia, kami udah sampe Jakarta dengan selamat. Ternyata naik kereta dari kampung kamu ke sini lumayan juga ya???(Emoticon tertawa sampai nangis)]
Aku dan Febri tersenyum membacanya. Orang kaya mah biasa naik pesawat, di suruh naik kereta yang lama jelas bakal ngeluh jauh lah.
"Di balas apa mas?", tanyaku pada mas Febri.
"Terserah kamu lah nduk!", jawab Febri sambil memainkan rambut ku yang sedikit basah karena habis keramas lagi ... keramas lagi.
Aku pun membalas chat sakti.
[Alhamdulillah kalo udah sampe mah. Makasih ya udah bersedia ke sini. Lain kali pakai pesawat aja, biar ngga lama di jalan. Tapi seru kan? Kapan lagi coba perjalanan jauh pake kereta hehehe]
Sakti langsung membalas pesanku.
[Iya sih. Buat pengalaman. Kalo Alby dan keluarganya mah pake pesawat. Udah sampe dari siang tadi]
[Oh, gitu. Ya apa ajalah yang penting kalian semua sudah sampai dengan selamat tanpa kurang satu apa pun]
[Iya , Bi. Ya udah kita mau istirahat dulu. Kalian juga selamat menikmati menjadi pengantin baru!]
[Heheh iya mas. Makasih!]
Usai menjawab pesan Sakti, aku juga meletakkan ponsel ku lagi.
"Mas!"
"Heum?", sahut nya tanpa melepaskan jarinya dari rambutku.
"Kalo mas mau, mas bisa kok cek ponsel ku. Aku chat sama siapa, terus telponan sama siapa. Aku ngga pakai password juga."
"Buat apa?"
"Ya, maksud ku tuh kali aja kebetulan aku lagi ga pegang hp. Terus ada yang telpon atau chat. Kamu bisa angkat atau balas chat nya kan?"
__ADS_1
Febri memperbaiki posisi duduknya menghadap ku. Lalu meraih ponsel ku yang ada diatas meja.
"Aku cuma ibu rumah tangga mas. Ngga ada rahasia apa pun di dalam ponsel ku. Beda sama kamu, sekali pun aku istri kamu bukan berarti aku boleh tahu tentang rahasia pekerjaan kamu, mungkin misi dari atasan kamu. Rahasia negara juga barangkali!"
"Hehehe ngga sampai kaya gitu nduk. Kalo rahasia negara di kasih tahu lewat chat, nanti kalo ada yang ngehack nomor ku ya gawat lah!"
"Hehehe...kirain mas."
"Mas bebasin kamu berkomunikasi dengan siapa pun. Termasuk...Alby!"
Dia mengusap kepala ku dengan penuh kasih sayang.
"Mas tahu, kalo kamu udah sayang sama mas , kamu ngga bakal mengkhianati mas. Jangankan sama mantan suami kamu, sama artis sekelas Jungkook atau Song Joongki sekalipun ga bakal berpaling dari mas mu yang ganteng ini."
"Ya iyalah, lagian mana mau mereka melirik model aku. Mau kenal juga ngga!"
"Hehehe....bisa ae mantune pak Bambang!", katanya sambil memencet hidung ku.
Ia memainkan ponselku. Entah aplikasi yang ia buka. Aku membaringkan kepala ku di atas pahanya. Ia mengusap-usap rambut ku.
Dengan Febri, aku merasa jadi sangat manja. Mungkin karena secara usia, dia juga lebih ngemong makanya setiap perlakuan nya yang sebenarnya menurut orang lain alay atau berlebihan, aku justru nyaman. Ya, dia sudah mau menerima ku apa adanya. Segala kekurangan ku bahkan seburuk-buruknya aku dia tahu.
Semakin lama, aku semakin merasa nyaman dengan usapan tangannya di rambutku. Aku memeluk pinggang nya dengan erat. Dan setelahnya, aku tertidur dengan kepala ku di atas pangkuannya.
Febri tersenyum melihat istrinya yang malah terlelap dalam pangkuannya. Beruntung si junior sudah di jinakkan tadi sore. Ngga kebayang kalo bangkit sekarang, sedang pawang nya malah tidur nyenyak.
Tangan nya masih setia mengusap rambutnya. Sedang tangan satunya membuka -buka aplikasi yang ada di ponsel sang istri. Bahkan dia tak membuka room chat di aplikasi hijau itu.
Febri justru sibuk membuka galeri foto. Melihat-lihat hasil foto mentah yang fotografer kirim ke ponsel istrinya itu. Febri tersenyum sendiri saat melihat ada pose lucu teman-temannya.
Tapi detik berikutnya...ia tiba-tiba memikirkan Alby. Apa yang pria itu rasakan? Benarkah dia sudah mengikhlaskan Bia untuk nya???
Febri kembali memandangi istrinya. Saat ini, bukan lagi memikirkan masa lalu yang pernah terjadi. Tapi menatap masa depan yang akan datang.
Bia akan terbiasa menjadi pendamping nya di institusi nya nanti. Meski harus memulai dari awal. Dan Bia akan terbiasa menghadapi segala kondisi yang mungkin tak selalu mendukungnya.
*****
Dikit lagi....🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Makasih