Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 7


__ADS_3

Alby


"Pagi non!", aku menyapa majikanku.


"Heum!", sahut Silvy. Dia tampak memperhatikan penampilan ku yang lebih rapi di banding kemarin.


"Kalo kaya gini kan ga malu-maluin jalan sama gue!", kata Silvy membuka pintu mobilnya sendiri.


Aku yang baru menyadari pun buru-buru menutup pintu mobilnya.


"Maaf non!", kataku.


Tapi sepertinya dia tak menggubris ucapanku.


"Oh ya, nanti pulang dari kampus anterin gue ke toko buku"


"Baik non!"


.


.


.


"Assalamualaikum Mak Titin!"


"Walaikumsalam, eh... Salamah, kadie!", panggil Mak.


"Sibuk naon Mak?", tanya Salamah sambil duduk di sebelah Mak.


"Teu sibuk nanaon", sahut Mak sambil tersenyum.


"Aya perlu jeng neng Bia, Aya teu Mak?", tanya Salamah.


"Aya di jero. Sakedeng nyak?!", kata Mak masuk ke dalam rumah.


Aku sedang menjahit daster ku yang sobek, mau di buang sayang. Masih layak dan bisa di pakai lah.


"Neng!", panggil Mak.


"Ya Mak!", kataku menyahuti panggilan Mak.


"Aya Salamah di tukang!"


(Ada Salamah di belakang)


"Ada perlu sama Bia Tah Mak?", tanyaku sambil melipat daster ku.


"Iya."


Aku dan Mak pun menuju ke teras belakang.


"Teh....!", sapaku pada teh Salamah.


"Neng Bia, keur sibuk?", tanya teh Salamah yang duduk di kursi panjang.


"Ngga lah teh, biasa lah ngerjain apa gitu biar ga suntuk aja."


"Kalo gitu Mak ke kamar ya, mau tiduran dulu. Yuk Salamah, Mak tinggal!", pamit Mak.


"Manga Mak...!", sahut Salamah. Aku pun mengangguk mengiyakan pamitan Mak.


"Teteh ada perlu sama Bia?", tanyaku. Teh Salamah sepuluh tahun lebih tua dari ku.


"Itu neng, besok teh peringatan setahun meninggalnya bapak. Bisa teu, neng Bia bantuin masak di rumah?"


"Oh...yasinan gitu ya teh?"


"Muhun neng. Kumaha?"


"Insyaallah bisa teh."


"Alhamdulillah!", ucap Salamah.


"Tapi...saya mah cuma takut masakan saya ngga sesuai selera sama lidah orang sini teh!"

__ADS_1


"Mana ada gitu, masakan neng Bia mah enak. Udah terbukti juga. Neng mah suka merendah gitu!", puji teh Salamah.


"Jangan terlalu memuji gitu teh, tambah geer saya nya !", kataku terkekeh.


"Hahaha neng Bia mah...oh iya neng, ngomong-ngomong udah kenal belom sama tetangga yang baru nempatin rumah wa Mus?", tanya teh Salamah. Aku menggeleng.


"Lho...kan maneh anu kamari bebersih rumah wa Mus?", tanya Salamah penasaran.


"Iya teh, tapi saya ngga ketemu orangnya. Mungkin pulangnya malem. Saya kan beberes sebentar juga selesai, sore udah di rumah."


"Owh... itu, dia tuh komandannya Cecep di Koramil", terang Salamah padaku.


Jadi, benar itu mas Febri? Dia dinas di sini?


"Kenalan atuh neng. Sama tetangga!", ajak Salamah.


"Hah? Ah...iya teh lain kali, lagi pula kan suami saya ngga di rumah. Ngga enak kalo nyamperin laki-laki lain, ntar di kira saya keganjenan lagi hahaha!"


"Ya ampun neng, sama tetangga sebelah masa ngga kenal. Cuma kenal aja ngga masalah kali, apalagi sesama orang Jawa. Berasa saudara gitu!"


Aku menampilkan senyum sedikit terpaksa.


"Eh...ya ampun teh, dari tadi ngobrolin ngga nawarin minum ke teteh!", kataku sambil berdiri.


"Ishhh...ngga usah, teteh ge balik."


"Maaf ya teh, jadi ngga enak!"


"Apaan sih, ngga usah gitu neng. Jangan lupa besok pagi ke rumah teteh ya neng!", Salamah mengingatkan ku.


"Iya teh, insyaallah!", sahutku.


Teh Salamah pun berpamitan pada ku. Aku sendiri masuk ke dalam kamar ku. Masih jam dua siang, aku bisa tiduran sambil memainkan ponselku.


Tak ada pesan dari A Alby. Mungkin dia sibuk saat ini.


.


.


.


Silvy mengirimkan chat pada Alby. Alby yang sedang membantu teh Mila mengangkut barang belanjaan nya pun terhenti.


"Kenapa Jang?", tanya teh Mila.


"Non Silvy minta di jemput jam tiga."


"Ya udah atuh jalan ayeuna. Dari pada ngoceh-ngoceh ngke!", pinta teh Mila.


"Tanggung teh, dikit lagi kok ini!", ujar Alby. Setelah semua barang-barang belanjaan teh Mila masuk rumah, Alby bergegas menuju garasi untuk menjemput majikannya.


Jalanan tidak terlalu macet, belum jam tiga Alby sudah berada di parkiran mobil universitas.


Silvy berjalan beriringan dengan Anika. Keduanya tampak tertawa bersama-sama.


"Hyuuuh....cewek cacat masih berani unjuk gigi di sini!", sindir Vega yang berjalan bersama Malvin. Malvin pun hanya tersenyum sinis. Silvy yang merasa di sindir pun menatap tajam kepada sepasang pengkhianat itu.


"Ngga usah di ladenin Vy!", ujar Anika mengusap bahu Silvy.


"Apa Lo Nik?Dasar penjilat Lo! Gue tahu Lo masih mau temenan sama dia karena Lo butuh di jajanin kan sama dia?", tunjuk Vega pada Anika. Tapi Anika tak mau ambil pusing mendengar ocehan mantan sahabat nya itu.


Silvy dan Anika tetap berjalan menjauh dari sepasang kekasih laknat itu.


"Btw... kira-kira ada ngga ya cowok yang mau sama cewek cacat kaya lo?", sindir Malvin.


Silvy yang mendengar cemooh mantan kekasih nya pun terbawa emosi. Wajahnya merah padam dan tentu saja kesal.


"Jual mahal sih!", sindir Vega lagi.


"Mending jual mahal, dari pada Lo di obral!",pekik Anika yang justru terpancing amarah nya.


"Heh!", hardik Vega.


"Anika bener kok. Mending jual mahal dari pada di obral, lagian belum tentu kan Malvin jadi suami Lo besok!", kata Silvy menyeringai.

__ADS_1


"Lo...Lo!", hardik Vega lagi.


"Lo tuh udah cacat masih aja blagu cuiiih....!", Vega meludah sembarangan di hadapan Silvy dan Anika.


Silvy menarik nafasnya dalam-dalam. Ingin rasanya menjambak cewek yang tidak tahu diri itu.


"Sayang...habis lulus besok kita akan menikah kan ya?", tanya Vega bergelayut manja pada lengan Malvin.


"Tentu saja beib!", Malvin mencolek dagu kekasihnya itu. Vega pun tersenyum merasa menang.


Silvy meraih ponselnya, lalu menghubungi sebuah nama di kontak telponnya.


[Sayang, kamu sudah di parkiran kan? Jemput aku dong sayang...]


Suara Silvy terdengar sangat manja. Sedangkan orang yang di hubungi justru merasa bingung.


[Halo...non, non Silvy salah telpon ya?]


[Ngga, cepetan sayang kamu ke sini. Aku di pintu keluar gedung fakultas kok]


Panggilan itu langsung di matikan sepihak oleh Silvy. Mau tak mau Alby pun menghampiri majikannya yang terlihat sedang berkumpul dengan beberapa temannya.


Sebelum Alby menyapa, Silvy lebih dulu menyambut kedatangan nya.


"Sini sayang!", Silvy bergelayut manja pada Alby. Alby yang kebingungan pun hanya menuruti perintah majikannya.


"Sayang, kamu udah nungguin dari tadi ya?", tanya Silvy mesra. Anika yang tak paham pun turut merasa bingung, siapa laki-laki tampan yang bersama sahabatnya.


"I...iya", Alby menjawab tergagap.


"Itu sayang, mereka pengen kenal sama kamu, calon suami ku!", Silvy menekankan kata calon suami.


Hah????!!! Alby tidak tahu harus berbuat apa.


"Hahaha Lo beneran calon suami Silvy? Lo terlalu tampan buat cewek model Silvy.Lo mau gitu sama cewek cacat begitu?", Vega tersenyum menghina.


Tapi Silvy tak mau kalah, dia menunjukkan gigi putih nya.


"Tentu saja, biarpun gue cacat tapi gue masih virgin. Gue ga obral sana sini, apa lagi sama kekasih sahabatnya sendiri. Ya...kami saling melengkapi lah, dia terima kekurangan gue dan gue juga terima kekurangan dia yang cuma staf papa ku di kantor. Bukan begitu sayang?", Silvy mencubit pinggang Alby. Alby yang terkejut pun mengangguk pelan.


"Em.. iya benar!", kata Alby yang lagi-lagi tergagap.


Malvin melihat kemesraan mantan kekasihnya dengan laki-laki yang lebih tampan dan dewasa darinya pun merasa kesal sendiri.


"Yuk sayang, kan habis ini kita mau beli cincin pernikahan kita!", Silvy bergelayut manja di lengan Alby.


"Iya...!", sahut Alby pelan.


"Anika, sorry...gue balik sama calon suami dulu ya!", kata Silvy pamitan pada sahabat nya. Vega merasa kalah satu langkah dari Silvy lagi. Di matanya, Silvy selalu saja lebih beruntung. Dia pikir, setelah merebut Malvin dari Silvy tidak ada lagi pria yang mau dengan nya. Tapi ternyata dia salah, justru Silvy mendapatkan pria dewasa yang tampan.


"Sorry juga Vega... Malvin, kami pergi dulu. Bye....?", silvy melambaikan tangannya sembari menggandeng Alby.


"Lo , ikutin aja permainan gue!", bisik Silvy di telinga Alby. Alby pun mengangguk pasrah dengan permintaan majikannya itu.


Sesampainya di mobil, Silvy masih tetap menggandeng lengan Alby.


"Maaf non!", kata Alby melepaskan tangannya dari Silvy.


"Oh...its okay!", Silvy pun melepaskan tangannya.


Silvy membuka pintu depan sedangkan Alby membukakan pintu belakang.


"Gue mau di depan, lihat anak-anak masih liatin kita!"


Alby pun sekarang paham. Silvy pura-pura menyerahkan ranselnya pada Alby. Alby pun menerima ransel itu lalu meletakkan nya dibangku belakang.


Usai meletakkan ransel itu, Alby memutar dan duduk di belakang kemudi.


Suasana hening di sepanjang perjalanan.


"Jadi ke toko buku non?", tanya Alby.


"Ngga. langsung pulang. Gue capek!", sahut Silvy kembali ketus.


Alby yang paham tadi hanya sandiwara di hadapan teman-temannya Silvy pun tak membahas nya lagi.

__ADS_1


Kendaraan pun menuju ke kawasan perumahan mewah dimana Silvy tinggal.


__ADS_2