
"Assalamualaikum!",suara seorang perempuan terdengar memberi salam saat aku dan Febri serta teman-temannya sedang asik mengobrol.
"Walaikumsalam!", jawab kami semua.
"Amara?", sapaku. Dia tersenyum ramah pada semua, terutama padaku. Dengan sedikit membungkuk, ia menghampiri ku dan Febri.
"Selamat menemui hidup baru ya Bia, Mas !", kata Amara. Aku menyambut uluran tangan nya dan ia memelukku. Padahal rekan perempuan Febri yang lain bahkan tak bersalaman dengan ku karena jarak duduk kami agak jauh dan susah.
"Makasih Amara!", kataku. Febri hanya mengangguk dan tersenyum. Mungkin dia merasa aku sudah mewakilinya. Jadi cukup aku aja yang mengatakannya.
"Maaf, kemarin pas acara kalian aku masih di luar. Makanya ngga bisa dateng."
"Iya, ngga apa-apa kok Mara!", kata ku. Dia pun duduk di samping ku. Alhasil, aku duduk di antara aku dan Febri.
"Oh, jadi Lettu Amara udah kenal dulu nih sama nyonya kapten?", ledek salah satu temannya.
Amara dan aku mengambil dan tersenyum bersamaan.
"Keren ya Kapt, bisa akur begitu!", ledek yang lain dan malah menimbulkan tawa yang cukup riuh.
"Apaan sih!!!", Amara memanyunkan bibirnya. Aku merasa mas Febri menggenggam tangan ku erat, dia tak menghiraukan ledekan teman-temannya. Masih memasang wajah sok coolnya. Aku bahkan baru tahu.
"Ngomong-ngomong kenal di mana nih mba Bia sama Lettu Amara?", tanya salah seorang perempuan rekan Febri juga.
"Dimana ya?", tanyaku menoleh pada Amara.
"Di kampung kalian, waktu kami akan berangkat ke luar. Kita baru kenalan disana, waktu mas Febri mengenalkan kamu sebagai tunangannya."
Aku membulatkan mulutku sambil mengangguk.
"Sama waktu kami di luar, aku yang menelpon kamu. Saat mas Febri terkena tembakan."
Suara desas desus dari penghuni ruangan itu cukup meresahkan.
Apa maksud ucapan Amara ya? Batin ku.
Belom sempat aku kembali berpikir, mas Febri yang akan mengambil minum menarik tangan ku yang ada digenggamnya. Jadi, saat dia membungkuk aku pun ikut terbawa seperti posisi nya.
"Ya elah Kapt, ngga bakal ilang juga mba Bia nya!", ledek temannya.
Suara tawa pecah saling bersahutan. Seto yang tahu seperti apa perasaan Amara kepada Febri justru tak ikut menimpali. Padahal tadi dia paling heboh.
"Ilang sih ngga, takutnya mendadak ragu sama suaminya!", kata Febri melirik padaku.
Aku saja tak paham apa katanya. Aku ragu kenapa?
"Sampai segitunya kapten mah. Pak Kapten bucin banget tuh mba Bia hahaha!"
__ADS_1
Aku tersenyum dan mengangguk saja. Terus terang aku bingung menyikapinya sikapnya yang seperti ini. Tadi dia baik-baik saja. Apa karena ada Amara?
Dia mau menunjukkan kalo dia sangat mencintai ku begitu?
"Oh iya Mara, silahkan di cicipi. Maaf , aku belum beli perlengkapan masak jadi aku ga masak sendiri. Tapi lain kali aku masak deh kalo ada acara kaya gini lagi!"
"Makasih Bia!", kata Amara.
"Wah, ide bagus tuh!", celetuk yang lain.
"Istriku punya restoran di kampung kami. Tapi ada keluarganya yang mengurusinya. Makanya, Bia bisa ikut aku ke sini."
"Oya...keren dong. Kalo gitu, pasti pinter masak. Masakan nya enak dong ya kan?", sahut temannya lagi.
Ada sekitar lima belas orang yang ada di ruang tamu termasuk sepasang suami istri itu ya?!
"Lain kali kalian cobain ke sana. Deket sama tempat wisata air terjun Xxx. Penginapannya juga ada, ya kan sayang?",kata Febri mempromosikan warung dan penginapan ku.
"Wihhh... keren tuh! Sok atuh di rancang jadwal ke sana hahahaha!"
Tawa mereka saling bersahutan.
"Kalo mau liat, di IG nya selebgram siapa ya namanya sayang? Yang sepupu nya bapak Anton?"
"Heum, oh...itu. William Adiraja!"
"Iya, emang sepupunya bapak nya Bia!" sahut Febri sambil mengunyah makanannya, lalu menyuapkan pada ku sisa gigitannya.
Jorse...???
Amara memandangi sepasang pengantin baru itu dengan pandangan sendu, itu yang Seto tangkap dari penglihatannya.
"Berati...kamu cucu nya Oma Marini?", tanya Amara padaku.
"Eum, lebih tepatnya cucu tiri Mara. Ibu ku menikah dengan Bapak Anton, anaknya Oma Marini. Tapi... mereka semua menyayangi ku seperti keluarga sendiri. Kamu kenal keluarga Oma Marini juga?"
"Heum, iya. Papi ku rekan bisnis Opa Tyo!", kata Amara.
"Owh...gitu!"
"Berati...kamu kenal sama Malvin dan Willi? Kalian dekat?"
"Ya kenal lah, tapi ngga terlalu dekat. Kami kan jarang bertemu."
Amara mengangguk. Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang akan dia berikan pada pengantin baru.
"Ya Allah?!", pekik Amara. Semua menoleh padanya, dia jadi senyum sendiri karena mungkin pekikannya mengganggu yang lain.
__ADS_1
"Faseh banget nyebutnya Lettu Amara? Otewe ya?? hahahaha kebawa teman-teman nya kaya nya nih!", celetuk salah satu teman Febri.
"Hehehe...iya. Udah kebiasaan!", kata nya masih dengan senyuman kaku nya.
"Ada apa Amara?", tanyaku.
Febri masih saja menggenggam tangan ku, padahal telapak tangan ku sudah berkeringat.
"Itu....tadi aku lupa, aku bawa kado. Tapi lupa ke bawa...aduh! Mana tadi aku numpang mobil temen lagi!", kata Amara.
"Oh, kirain apa! Udah ngga usah repot-repot!"
"Gak lah. Sebentar, aku telpon dia dulu ya!", kata Amara berdiri. Tapi saat ia akan menghubungi seseorang, ada yang datang dari arah pintu.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!", sahut kami semua.
Deg!
Aku paham sekali suara itu! Tapi bagaimana mungkin???
"Eh, By! Baru gue mau telepon Lo tadi. Kado gue ketinggalan di mobil Lo ya? Maaf, Lo jadi repot anterin ke sini. Kok Lo tahu lokasi nya di sini?"
Tak ada sahutan apa pun dari bibir Alby. Matanya fokus mengarah padaku dan Mas Febri.
Aku hampir tak mengedipkan mata ku.
"Masuk By!", panggil Febri pada Alby.
"Ngga usah Feb, terimakasih. Di sini aja! Gue cuma bawain kado nya Amara!", tolak Alby.
Amara menatap Alby dan Febri bergantian. Tapi dia yakin jika Alby sedang menatap istri dari laki-laki yang ia cintai selama ini.
"Apa kabar Lo Feb, neng?", tanya Alby pada kami. Padahal baru beberapa hari kemarin kami bertemu. Matanya tertuju pada genggaman tangan ku dan Febri.
Suasana mendadak hening. Seolah semua paham ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja.
"Apa kabar Seto?", tanya Alby beralih pada Seto yang menunduk.
"Heum , gue baik!", kata Seto.
"Kalian saling mengenal??", tanya Amara bingung.
****
Lanjut nya di sebelah ðŸ¤
__ADS_1