
"Bia?", sapa seseorang.
Aku menengok ke asal suara yang memanggil namaku.
"Mas Sakti!", kataku sambil tersenyum tipis. Saat ini, dia sudah tak memakai jas profesi nya. Otomatis aku memanggilnya seperti itu.
"Dari...dokter kandungan?", tanya Sakti dengan sedikit wajah penuh tanya.
"Eum...iya mas!"
Selang beberapa detik, pintu ruang dokter kandungan pun terbuka.
"Eh ...nyonya Bia masih di sini?", sapa dokter cantik itu.
"Iya Dok!", aku tersenyum ramah.
"Sakti, kamu ngapain di sini?", tanya dokter kandungan itu.
"Ngga sengaja ketemu temen mba!", jawab sakti.
"Nyonya Bia teman kamu?", tanyanya.
Aku menatap ke Sakti, sedang sakti mengangguk untuk menjawab pertanyaan dokter kandungan ku.
"Bia, dokter Kirana ini kakak sepupu ku."
Sakti memperkenalkan Kirana padaku.
"Owh ...kalau begitu salam kenal dok!"
"Eh...ini kan udah ngga praktek, panggil aja mba Rana, kata sakti panggil saya."
Aku mengangguk dan tersenyum tipis.
"Iya mbak."
"Jadi, Bia yang ini Sa?", tanya Rana pada sakti.
Wajah Sakti bersemu merah. Aku tak tahu apa yang mbak Kirana maksud.
"Mba Rana udah mau pulang kan? Udah sana pulang aja. Udah di tunggu sama Twin B juga!", kata sakti.
"Heum...bisa aja kamu. Pantesan ngga bisa move on. Bia nya aja cakep begini. Inget Sa, udah punya suami. Lagi hamil pula! Ngga usah macem-macem!", bisik Rana tapi aku masih mampu mendengarnya.
"Mbak Rana!", kata Sakti sedikit menekan suaranya.
"Oke Bia, saya tinggal pulang dulu ya. Hati-hati sama si jomblo yang ga bisa move on ini ya!", mba Rana menepuk bahuku.
Mas Sakti ngga bisa move on? Maksud nya?
"Ngga usah dengerin omongan mba Rana. Dia emang suka gitu orangnya."
"Heum...iya mas."
"Kamu mau balik ke ruangan ibu mertua mu?"
"Iya mas."
"Aku anterin ya sekalian lewat."
"Eh...ngga usah mas. Aku bisa sendiri kok."
"Ngga usah pikir macam-macam Bi. Omongan Mbak Rana ngga usah di ambil hati. Oh ... iya sampai lupa, selamat ya buat kehamilan kamu."
Aku bergeming mendengar ucapan itu.
__ADS_1
"Bia?", tegur Sakti.
"Eh...iya mas. Terimakasih."
Suaraku sedikit gagap. Semoga Sakti tak menyadari itu.
"Kamu kenapa sih? Kok perasaan kaget Mulu kalo di ajak ngomong? Ada yang kamu pikirkan Bi?"
"Ngga kok mas. Tapi ya...eum...gimana juga kalo liat Mak masih belum sadar perasaan ku belum tenang aja mas."
"Kamu sayang banget ya sama ibu mertua mu? Sambil jalan aja ya ke sana."
Aku mengangguk.
"Iya, Mak sudah seperti ibu kandung ku sendiri."
Sakti mengangguk pelan.
Beruntung sekali si Alby memiliki mu ya Bi. Huffft...Sakti...sadar woy....bini orang!
"Kamu belum pulang sejak ibu mu masuk rumah sakit?"
Aku menggeleng.
"Kalau aku pulang, nanti Mak gimana mas."
"Kan ada suami kamu. Kamu juga butuh istirahat, inget ada janin yang harus kamu jaga juga lho. Jangan terlalu memforsir tenagamu. Usia segitu masih rentan."
"Emang mas tahu berapa usia kandungan ku?"
"Tepat nya ya ngga tahu, tapi kalo kamu baru periksa ya paling sebulan dua bulanan kan?"
"Kamu dokter spesialis apa sih sebenarnya mas?", tanyaku benar-benar tak tahu.
"Spesialis patah hati, hahahaha.....!", jawab Sakti iseng.
"Mas Sakti, ih...serius."
Tanpa terasa, kaki kami sudah berada di depan pintu ruangan Mak.
"Ya udah Bi. Aku antar sampe sini aja ya. Eum...sekali lagi selamat ya, sampaikan juga sama suami kamu. Selamat menjadi ayah."
Aku mengangguk pelan dengan senyum yang sedikit berbeda.
"Iya mas. Terimakasih!", ucapku tulus.
"Aku pulang ya. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam mas. Hati-hati!", ujarku. Sakti mengangkat jempolnya.
Di perjalanan pulang menuju parkiran rumah sakit, Sakti berpikir ada sesuatu yang mengganjal perasaan Bia. Apalagi saat berbicara soal kehamilannya.
Apa ada sesuatu yang sedang Bia alami ya? Tapi...apa hak ku buat cari tahu? Apalagi ikut campur? Sakit mengangkat kedua bahunya.
Saat melewati beberapa ruangan ia sesekali menyapa sesama rekan tenaga kesehatan yang ada di rumah sakit ini.
Sakit menunggu di depan lift yang cukup ramai. Sebagian besar keluarga pasien.
Hingga menangkap suara yang cukup menggelitik telinganya.
"Tau ngga, besok mau ada acara nikahan di sini. Di salah satu ruang VIP katanya."
"Iya, aku denger sih anaknya Tuan Hartama yang mau nikah."
"Tuan Hartama?"
__ADS_1
"Iya. Katanya sih cuma ijab qobul aja. Soalnya calon besannya baru beres operasi."
"Eum...anak orang kaya ijab qobul doang?"
"Ye...bisa ae ijab nya sekarang, ntar resepsi nya di hotel mewah di kota sana. Secara, orang kaya!"
"Hehehe iya sih. Tapi...calon lakinya itu udah punya istri."
Sakti tersenyum sambil menggeleng mendengar dua perawat yang sedang menggosip secara langsung.
"Sok tahu Lo!", perawat satu menoyor lengan rekan gosip nya.
"Gue bukan sok tahu. Orang gue tadi juga ketemu sama calon lakinya kok!"
"Sumpeh Lo?".
"Heum! Mana istri pertama nya cantik lagi. Dari pertama datang, tuh mbak nya kayanya sayang banget sama ibu mertua nya yang habis operasi gitu. Padahal cuma mertua lho!"
"Heh! Mertua sama orang tua tuh sama aja orang tua juga!", kata perawat satu lagi yang dari tadi diam.
"Ya bukan gitu gaes. Istri nya cakep, Soleha, sayang pula sama mertua. Ngapain nikah lagi coba?"
"Udah sih....ngga usah ngurusin hidup orang. Mana ini pasien sini pula", ujar si perawat yang memang sudah menikah di antara dua temannya itu.
"Lo ngga tahu aja sih, lakinya ganteng parah. Sumpah deh!", katanya sambil mengangkat kedua jarinya.
"Mata Lo...kalo liat cowok ganteng aja!"
"Hehehe maklum ya...namanya juga jomblo!"
"Makanya nikah sana!"
"Belom ada yang mau. Maunya sama dokter Sakti, eh...dia nya ngga noleh sama sekali ke gue!"
"Mimpi Lo ketinggian Nay!", ujar rekannya.
Dia tak tahu, kalau laki-laki yang di omongin ada di belakang mereka.
Pintu lift pun terbuka. Satu persatu orang pun masuk. Tak terkecuali tiga perawat yang dari tadi bergosip. Sakti pun turut masuk ke dalam lift tersebut.
Mata salah satu perawat itu membulat mendapati dokter Sakti yang berada dalam satu lift.
Ketiga perawat itu saling menyenggol dengan sikut.
"Sore dok....!", sapa mereka bertiga. Sakti hanya tersenyum tipis.
"Woy ...sejak kapan tuh dokter ada bareng kita ya?", tanya Naya.
"Ga tahu gue!", sahut temannya.
"Kira-kira dia denger omongan kita ngga ya?", bisik Naya pada kedua temannya.
Tapi kedua temannya menjawab, sakti lebih dulu menyela.
"Saya dengar kok sus. Tapi lain kali, jangan gosip yang enggak-enggak. Takutnya yang bersangkutan mendengar, kan ngga enak."
"Iya dok!", sahut ketiganya.
Pintu lift terbuka. Sakti keluar terlebih dahulu di banding ketiga perawat itu.
"Lo sih ngajakin ngegosip!", kata Naya.
"Kok gue. Lo aja yang nanggepin!"
"Udah, kalian sama aja!", ujar si perawat yang sudah menikah itu.
__ADS_1