
Dua orang beda genre itu kini berada di kamar rawat inap VVIP yang cukup besar. Mereka ialah Titin dan Hartama. Mantan pasangan suami istri itu kini tengah berbincang berdua.
Sapto dan Mila, art Hartama sudah lebih dulu berada di luar kamar.
"Sebenarnya apa tujuan mu mas?", tanya Titin lirih.
"Balas dendam padamu."
Hartama menyilangkan kakinya.
Titin tampak menghela nafasnya. Ada rasa sesak di dada perempuan setengah abad itu. Menatap sendu ke arah lelaki yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya sebelum menjadi ibu tiri Alby.
"Kalau kamu mau balas dendam padaku, itu terserah. Tapi kamu sudah menyakiti Shabia. Dia tak salah apa-apa mas. Kenapa kamu ngga biarin aku mati saja agar kamu puas membalas sakit hati kamu sama aku."
Hartama berdecih sambil tersenyum sinis pada mantan istrinya itu.
"Kamu pergi ninggalin aku padahal anak kamu masih bayi? Kamu ngga menghargai aku sama sekali Tin!"
"Mas, Sherly lebih baik untuk kamu. Aku hanya kalangan biasa yang tak sepadan dengan kamu."
"Tapi bukan berarti kamu bebas meninggalkan kami Tin! Apalagi menikah dengan bapaknya Alby!"
"Tidak ada yang perlu di pertahanan dengan hubungan kita saat itu mas. Orang tua mu ngga pernah merestui kita. Tolong pahami itu! Sherly juga perempuan yang baik, buktinya dia merawat Silvy sepenuh hati bukan?", tanya Titin.
Titin sudah banyak bertanya soal Silvy pada Mila yang sudah lama bekerja dengan Hartama.
"Iya, Sherly memang ibu sambung yang baik. Meski dia tak bisa memiliki anak dari rahim nya sendiri. Tapi dia sangat menyayangi Silvy. Tidak seperti kamu, yang tega meninggalkan anaknya, darah daging nya sendiri."
Titin tampak memejamkan matanya.
"Aku tahu rasanya di abaikan mas. Tapi kenapa kamu melibatkan anak kita disini mas. Kenapa kamu tega membuat Silvy menjadi yang kedua?"
"Aku hanya ingin anakku mendapatkan apa pun yang dia inginkan!"
"Tapi aku pernah berada di posisi Bia mas. Aku ngga bisa melihat itu semua!"
"Oh...jadi kamu mau nya gimana? Kamu mau berpihak sama menantu tiri kamu? Iya?"
Titin terdiam. Dia serba salah. Memihak Bia, sama artinya menyakiti anak kandungnya sendiri. Sedangkan jika memihak Silvy, itu artinya ia semakin menyakiti menantunya itu. Rasa trauma dan pengalaman Titin harus terulang pada Bia, berbagi???
"Kasian Silvy jika harus di jadikan yang kedua mas. Dia masih terlalu muda untuk menjalani pernikahan."
"Bisa saja aku membuat Silvy satu-satunya istri Alby. Bagaimana menurut mu?"
"Astaghfirullah!", desis Titin.
"Bia hanya orang asing dalam kehidupanmu. Untuk apa kamu memikirkannya?"
"Mas..."
"Psssst!", Hartama mengatupkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri.
"Kamu mau tahu kenapa aku mau membiayai operasi kamu?"
Titin terdiam.
"Aku ingin kamu hidup lebih lama untuk menikmati semua pembalasan ku satu persatu."
"Tapi Bia dan Alby juga Silvy tidak bersalah mas. Mereka masih muda. Kenapa kamu mengorbankan mereka?"
"Justru aku memberikan yang terbaik untuk anakku sendiri Tin. Dimana masalah nya?"
__ADS_1
"Mas Tama, ini salah mas!", Titin menggeleng pelan di atas bantalnya.
"Nikmati saja alurnya Tin. Perlahan kamu tahu seperti apa rasanya mengikuti permainan ku!", bisik Hartama di samping telinga Titin.
"Astaghfirullah!", Titin kembalikan beristighfar mendengar ucapan Hartama.
.
.
Febri sudah bersiap untuk berolah pagi ini. Rencananya ia akan lari keliling kampung bersama dengan Cecep usai solat subuh.
Baru saja melipat sarungnya, pintu rumah Febri sudah di ketuk oleh Cecep.
Tok....tok ..tok...
"Assalamualaikum mas Febri!", Cecep memberi salam sambil mengetuk pintu.
"Walaikumsalam. Bentar cep!",Febri buru-buru memakai celana trainingnya.
Setelah beberapa saat, Febri keluar dengan setelan kaos dan training.
"Sorry bro, baru beres solat. Kesiangan!", kata Febri sambil menguap.
"Belum kesiangan lah mas. Ini masih gelap kok!"
Febri menyuruh Cecep duduk lebih dulu.
"Mas, itu mobil siapa?", tanya Cecep pada Febri.
"Mas Alby yang bawa, punya mertuanya kali!", kata Febri sedikit ketus.
"Ya emang orang kota Cep!", sahut Febri masih dengan nada ketusnya.
"Kenapa atuh pagi-pagi udah badmood gitu? Batal gitu lari-lari pagi nya?"
"Ya jadi sih cep. Tapi ini masih gelap banget. Lima belas menit lagi aja ya?", Febri menawar.
"Oke!"
"Eum... itu, itu...mobil mertua nya Alby yang baru cep."
"Mertuanya apa mobilnya yang baru Ndan? Eh... maksud saya mas!"
"Habis subuh gini ghibahin orang boleh ngga sih?", tanya Febri.
"Berasa kaya emak-emak komplek deh mas. Masih subuh udah ngomongin orang hahahah!"
Pluk!
Febri memukul lengan Cecep. Sedangkan yang di pukul malah cengengesan.
"Ya gak apa-apa kali mas sekali-kali nggosip mah!"
Febri mendengus kesal. Ia kembali emosi mengingat kemarin. Padahal semalam Alby udah menjelaskan semuanya.
"Kemarin, waktu aku jenguk Mak Titin ternyata...baru selesai acara akad nikah mas Alby sama anak majikannya di ruangan Mak Titin."
"Hah? Naon-naon? Saha anu nikah? Mas Alby? Nikah lagi? Kok bisa?"
"Satu-satu atuh cep tanya nya!", kata Febri geregetan.
__ADS_1
Lalu Febri menceritakan semua yang ia tahu termasuk pertemuan Febri dan Alby semalaman.
"Ya Allah, karunya ning Bia teh!"
(Kasian)
"Tapi... sepertinya Bia udah bisa menerimanya. Buktinya Alby pulang ke sini kan?", kata Febri.
"Saya mah ngga bisa bayangin kumaha perasaan neng Bia teh. Lamun kang Alby mah menang banyak ya?", kata cecep.
Plak!
Lagi-lagi pukulan mendarat di lengan Cecep.
"Awwszzs.... sakit Ndan. Kan belum saatnya latihan fisik Ndan."
Cecep meringis mengelus lengannya yang sakit bekas di pukul Febri.
"Itu mulut ya Cep! Kalo yang di omongin denger gimana coba??"
"Iya Ndan, maap!", ujar Cecep.
"Ya udah yuk katanya mau lari!", ajak Febri.
"Siap!", sahut Cecep.
Saat keduanya melangkah, mereka berdua tak sengaja mendengar percakapan antara Alby dan Bia.
"Jangan terlalu ditekan dong A, nanti susah nyabutnya."
Febri dan Cecep saling berpandangan mendengar suara perempuan yang mereka kenal.
"Ntar Aa yang cabut neng. Tenang aja sih!", sergah Alby.
Febri dan Cecep menelan salivanya.
"Ndan, kang Alby teh serangan fajar mereun nya??"
"Teuing. Teu nyaho urang!", sahut Febri sengit.
"Buset, kemajuan Ndan ngerti basa saya!", kata Cecep bangsa.
"Maksud Lo???", kata Febri kesal.
"Ya udah, nyabutnya ati-ati A. Takutnya mah kesetrum aja."
Lagi, kedua pria itu mendengar suara Bia.
"Iya neng. Nanti Aa ganti colokannya pakai yang bagusan."
Setelah mendengar ucapan Alby barusan, Cecep dan Febri kembali berpandangan. Lalu keduanya pun terbahak sambil lari. Mereka menyadari soal kekepoan mereka yang justru membuatnya mereka sendiri salah sangka.
Sepasang suami istri yang berada di dalam rumah itu pun heran. Siapa yang tertawa ngakak di pagi buta seperti ini?
****
Sambil nunggu ini update, mampir2 boleh dong? 😘
Iseng-iseng baca tapi jangan lupa like & komen nya ya. ditunggu! Makasih 🙏🙏🙏😉😉😉😉
__ADS_1