Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 83


__ADS_3

Pagi-pagi sekali lek Dar sudah kembali ke rumahnya. Aku di rumah ku sendirian. Sambil menunggu matahari terbit, aku berjalan-jalan di halaman rumah ku. Seperti kebiasaan ku sebelumnya, aku menyapu halaman rumah yang kotor karena daun rambutan yang berguguran.


Ada hampir setengah jam aku berkeliling menyapu halaman rumah. Sesekali aku bertegur sapa dengan tetangga kanan kiri. Rasanya bosan tiap kali ditanya keberadaan Alby.


Sambil beristirahat, aku duduk di pijakan teras sambil meluruskan kakiku. Kuusap betisku dan juga perut ku yang kurasa sekarang menjadi kebiasaan keras.


Tanganku ku sandarkan ke belakang, kepala ku pun ku dongakan ke atas sambil memejamkan mataku.


"Nduk!",ada seseorang yang sepertinya berbicara padaku. Aku pun mengambil posisi seperti semula untuk mengetahui siapa yang memanggil ku.


Aku terkejut saat tahu siapa yang baru saja menyebutku dengan kata 'nduk'.


"Mau apa?", tanyaku datar. Ya, dia lah ibu yang melahirkan ku tapi juga menelantarkan ku. Bisa-bisanya dia menampakkan wajahnya dihadapan ku.


"Wes sarapan?", tanya nya.


"Nanti!", jawab ku singkat. Ibuku tersenyum tipis menatap ku.


"Ada urusan apa ke sini?", tanyaku lagi.


"Ibu kangen koe nduk!", katanya sambil berusaha memelukku. Tapi aku memundurkan diri agar ada jarak di antara kami.


"Apa tujuan anda ke sini?", tanyaku lagi. Sepasang suami istri itu saling melempar pandangan. Jij** kumelihatnya!


"Kamu sarapan dulu ya Nduk? Warung kan belum buka. Lagipula, kamu kan ngga mungkin masak toh? Ngga ada yang di masak???"


Aku tersenyum sinis.


"Saya masih mampu buat beli makan. Maaf, sepertinya anda terlalu berlebih-lebihan kalo cemas sama saya. Sudah bukan saatnya mencemaskan keadaan saya, apalagi cuma hanya urusan perut!"


"Astaghfirullah Bi!", ibuku hendak meraih bahuku lagi. Tapi aku lagi-lagi mundur dari dudukku.


"Nduk, bisa kita bicara di dalam. Kami mau bicara yang penting. Selama ini kamu udah cukup lama salah paham nduk. Biar kami luruskan ya?", kata suami ibuku, Anton.


"Ngga perlu! Aku ngga butuh penjelasan apapun. Toh tidak merubah keadaan kalo bapak sudah tidak ada." Aku bangkit dari dudukku.


Sepasang suami istri itu menghela nafas panjang.


Perempuan yang hanya berselisih delapan belas tahun dengan ku pun turut bangkit.


"Sampai kapan kamu mau mendengarkan penjelasan kami nduk? Ini sudah bertahun-tahun. Memang benar, setelah kami menjelaskan nanti bapak mu tidak akan hidup lagi. Tapi kami pengen bia tahu. Semua tidak seperti yang Bia pikir!"


Aku diam tak menyahuti ucapannya lagi.


"Kamu ketemu sama Febri lagi?", tanya ibuku. Aku langsung menatap wajahnya yang jika dilihat dia semakin cantik di usianya yang masih sekitar lima tahun lagi menuju angka lima puluh.


"Iya."


Ku jawab singkat.


"Dia lho Bi."


"Memang apa urusannya sama aku?", tanyaku sambil memicingkan mataku.

__ADS_1


"Ibu cuma takut kalo... kalo kamu bakal goyah setelah tahu Febri sudah sendiri."


"Apa maksud nya?", tanyaku dengan tatapan tajam.


"Bia... maksud ibu....!"


"Jangan sebut anda ibu! Dan tolong! Saya bukan anda! jangan samakan saya seperti anda yang masih berstatus istri orang malah berselingkuh dengan pria lain!"


Plakkkk!


Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku mengusap bekas tamparan itu. Sedangkan ibuku hanya menatap telapak tangannya yang baru ia gunakan untuk menamparku.


"Asih!", pekik suami ibuku.


"Jangan karena anda melahirkan aku, lalu anda berhak menamparku."


Tanpa terasa air mataku lolos begitu saja. Buru-buru ku hapus air mata itu. Aku tak mau terlihat lemah di hadapan para pengkhianatan seperti mereka.


"maaf nduk!", ibu hampir menyentuh wajah ku.


"Pergi lah!", kataku datar.


"Tapi kami ingin menjelaskan sesuatu Bia. Terserah setelah kamu mendengar penjelasan bapak, kamu mau bersikap apa sama kami. Silahkan nduk!", kata Anton.


"Anda bukan bapak saya!", kataku sinis.


"Iya, maaf! Tapi kami hanya meluruskan nduk. Mungkin memang tidak merubah masa lalu, tapi kami hanya ingin kamu bebas dengan kesalahpahaman itu."


Aku melengos tak menatap wajah bapak tiri ku itu.


Aku masih diam berdiri ditempat tadi.


"Sebelum bapak mu sakit, beliau berpesan agar setelah beliau meninggal....saya secepatnya menikah dengan ibumu."


"Ckkkk....mana ada seperti itu! Ini bukan dunia novel!", kataku sinis.


"Nduk, kamu boleh benci sama saya. Silahkan! Tapi jangan benci ibumu dan adik-adik mu."


Aku melengos tak tentu arah. Iya, mungkin aku salah sudah bersikap kurang baik pada Esa kemarin.


"Bapak kamu sakit, gangguan prostat di tambah komplikasi yang di deritanya nduk. Dan... beliau tidak dak bisa memberikan nafkah batin, buat ibumu. Beliau merasa zolim pada ibumu. Kamu tahu, saya saat itu hanya pendatang yang akrab dengan bapak mu. Bahkan kebaikan bapak mu tidak perlu di ragukan Nduk. Saya akui itu!"


Dadaku tiba-tiba sesak.


"Bapak memberi wasiat agar saya segera menikah dengan ibumu setelah bapak mu tiada. Terdengar klise memang! Ibu mu seolah terkesan buru-buru menikah lagi karena dia sudah lama tak mendapatkan nafkah batin dari bapakmu. Bukan begitu Nduk, bukan! Tapi tangan kami hanya dua! Kami tidak bisa menutup mulut orang-orang yang tak tahu kebenaran yang sesungguhnya."


"Kami tidak pernah berselingkuh Nduk! Tidak pernah!", jelas Anton lagi.


"Tapi yang aku lihat, bapak sering menangis setiap malam sebelum beliau meninggal! Pasti dia sakit hati karena pengkhianatan kalian!"


"ngga nduk! Ngga seperti itu!", kini Ibuku yang bersuara.


"Bia, saya tahu. Mungkin sampai kapan pun kamu akan membenci saya. Sekali lagi, silahkan! Tapi yang harus kamu tahu, kamu tidak pernah selingkuh. Apalagi buat nyakitin kamu Nduk!"

__ADS_1


Dadaku kian bergemuruh. Tiba-tiba saja perutku terasa kram. Sakit luar biasa! Aku memegangi perut ku.


"Awsss....!", aku hampir terhuyung dan terjatuh jika Anton tak menangkapku.


"Ya Allah nduk!", ibu menghampiri ku.


"Mungkin Bia belum sarapan Sih, ajak ke dalam sarapan dulu!"


Tanpa menunggu persetujuan ku, aku pun di papah duduk kesofa. Baru saja duduk, lek Sarman masuk tergopoh-gopoh.


"Enek opo Iki?", tanya lek Sarman cemas.


(Ada apa ini?)


Sepasang suami istri itu menengok ke arah lek Sarman. Dia langsung duduk disampingku.


"Kenapa nduk?", tanya Lek Sarman lagi.


"Perutku kram lek!", jawabku lirih.


"Maaf, lek mu nembe ae beres masak Bi."


Aku mengangguk. Sekarang pandangan lek ku menatap sepasang suami istri itu.


"Aku mau anterin sarapan buat Bia, Man!",kata ibuku. Tapi lek Sarman tak menyahuti ucapannya.


"Habis sarapan, kita ke bidan ya Nduk. Lek takut kenapa-kenapa sama bayimu!", ujar Lek Sarman.


"Bia sedang hamil?", tanya ibuku. Lek Sarman yang mengangguk.


"Alhamdulillah!", ucap sepasang suami istri itu.


"Aku ngga apa-apa lek! makan sama istirahat sudah cukup."


''Yakin koe nduk?", tanya sarman memastikan.


"Iya lek!"


"Yo wes. sarapan dulu ya. Em....mau lauk dari lek Dar apa ibumu?" tanya lek Sarman bimbang.


''Masakan lek Dar aja!" aku meraih Tupperware yang lek Sarman bawa. Aku tahu ibuku kecewa. Tapi aku sedang berusaha untuk mencerna dan menerimanya penjelasan mereka.


Aku memang keras kepala! Tapi, benarkah aku durhaka???? Salahkah aku membenci ibuku...????


*****


Maafkeun kalo kurang geregetan yak??? Akan ada saatnya nanti kok heheheh


Makasih udah baca sampai sini 🙏


Dari siang di sini masih ujan sampai sekarang gaes. Gimana di tempat kalian????a


__ADS_1


Gambar hanya pemanis 😅😅😅😅 ga denkkkk 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2