Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 221


__ADS_3

Ada yang nunggu ga seeeh??? Lagi merealisasikan lagunya Ari Lasso, Mengejar Matahari 🤣🤣🤣🤣 kaum mamak kehabisan baju dinas alias daster ga sih? Udah berapa hari ga dikasih panas, alhasil dari pagi uprek sama jemuran kemaren 🙈🙈🙈🙈🤭🤭🤭


Lanjut ke drama Febia deh....🤗


******


Aku membatalkan rencana kepulangan ku. Tiket pesawat juga sudah ku cancel. Setelah itu aku baru menghubungi lek ku di kampung.


Untuk saat ini ,aku akan berada di kota besar yang banyak menyimpan kenangan buruk sekaligus indah.


Jenazah Silvy langsung di urus sore ini juga. Aku masih berada di samping Febri. Tangan ku tak terlepas dari genggamannya.


"Semua baik-baik saja Nduk!", ia mengusap pipi ku dengan tangan satunya. Aku pun mengangguk pelan.


Pintu kamar Silvy terbuka. Di brankar itu, silvy sudah tertutup kain putih. Tak nampak wajahnya yang tadi bahkan sempat mengajak ku bicara.


Maut!


Dia bisa datang kapanpun sesuai perintah Nya!


Aku tak tahan untuk tidak kembali meneteskan air mataku. Febri mendekap ku erat.


"Sudah, kamu sudah memaafkan nya Nduk. Insyaallah, Allah melapangkan kuburnya. Kamu ikhlas kan?", tanya Febri. Aku mengangguk.


Alby memilih untuk mendekap Nabil. Bayi lelaki itu tertidur pulas di gendongan papanya yang saat ini tengah bersedih. Nabil masih terlalu kecil untuk merasakan kehilangan sosok ibu. Dia jadi berkaca pada dirinya sendiri. Saat usianya hampir tujuh belas tahun saja, ia sangat kehilangan sosok ibunya. Sedang Nabil? Dia bahkan belum tahu apa pun.


Sakti baru keluar dari ruang prakteknya. Dia melihat perawat yang sepertinya tengah sibuk lalu lalang.


"Sus, ada apa ya? Kenapa sepertinya sibuk sekali? Tak biasanya!",tanya Sakti


"Itu, dok! Pasien yang koma, tadi siang sudah sadar tapi baru saja... meninggal dunia dok!", kata perawat itu.


"Pasien yang koma?"


Perawat itu mengangguk.


"Nyonya Silvy, dok!", lanjut perawat itu. Sakti terperangah.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un!", gumam Sakti.


"Kalo begitu, saya permisi dok!", pamit perawat itu.


"Iya, sus. Makasih infonya!", kata Sakti. Perawat itu pun berlalu kembali pada tugasnya.


Sakti merogoh ponselnya untuk menghubungi adiknya. Mungkin saat ini dia sedang kuliah sore.


Ponsel Anika bergetar dari tadi. Dia jadi tak fokus dengan materi yang dosennya sampai kan.


Dengan diam-diam, ia mengambil ponsel itu. Alisnya saling bertautan. Merasa heran, tumben sekali kakaknya menelpon.


Anika pura-pura menjatuhkan pulpen nya. Lalu menunduk untuk mengambil pulpen itu, sambil menjawab telepon dari kakaknya.


[Assalamualaikum mas]


Anika menjawab panggilan itu pelan.


[Walaikumsalam. Dek!]


[Ada apa mas, aku lagi ada makul. Mana dosen nya killer lagi]


Anika masih berbisik. Terdengar helaan nafas dari Sakti.


[Ada kabar duka, Dek]


[Kabar duka apa mas?]

__ADS_1


[Silvy.... meninggal!]


Prakkkk....ponsel di genggaman Anika terjatuh.


[Hallo...dek..adek...kamu masih dengar mas bicara kan?]


Sakti berbicara sendiri karena ponsel itu sudah berada di lantai.


Air mata Anika lolos begitu saja.


"Saudara Anika, saya tidak suka ada yang menggunakan ponsel ketika saya memberikan materi!", ujar Dosen itu dengan lantang. Suaranya menggelegar memenuhi kelas itu. Tapi Anika masih membeku dengan air matanya yang masih meleleh.


Karena merasa di abaikan, dosen itu pun menghampiri Anika.


"Anika? Kamu masih mau mengikuti kelas saya?", tanya dosen itu lagi.


Teman yang ada di sebelahnya mengguncang bahu Anika.


"Silvy meninggal!", kata Anika lirih. Meski lirih, tapi ucapan nya masih cukup terdengar oleh temannya yang tak jauh dari bangku Anika.


Dosen itu tertegun beberapa saat. Ia mencari kejujuran di mata Anika. Gadis itu benar-benar menangis.


Mendadak kelas itu riuh! Anak-anak saling berbicara satu sama lain.


"Kamu mau ijin untuk tidak mengikuti kuliah saya?", tanya dosen itu melunak. Meski sebenarnya ia tak mengenal siapa Silvy karena ia dosen baru di kampus ini. Karena sebelumnya ia mengajar di salah satu kampus swasta kota G. Usianya masih cukup muda untuk menjadi seorang dosen.


"Boleh saya ijin Bu?", tanya Anika lagi.


"Boleh. Tapi jika boleh saya tahu, siapa Silvy itu?", tanya dosen itu lagi.


"Dia sahabat saya Bu. Anak kelas ini juga. Hanya saja, dia sudah menikah. Dan setelah melahirkan, dia koma beberapa bulan. Dan ....hiks ....hiks ....!", Anika kembali menangis.


"Sudah! Saya tahu kesedihan kamu! Kalian.... lanjutkan tugas itu, kumpulkan dua hari yang akan datang! Saya akan menemani Anika untuk bertakziah!", ujar Dosen itu.


Anika masih menangis tersedu-sedu. Dosen itu meraih bahu Anika untuk menenangkannya.


"Saya tidak punya mobil, kalo mau kita naik kendaraan umum saja!", ajak dosen itu.


"Tidak usah, Bu! Ada ajudan ayah saya yang menunggu di depan!", kata Anika.


Dosen itu mengernyitkan alisnya. Tapi ia tetap merangkul bahu Anika.


Kedua ajudan Galang menghampiri Anika yang berada dalam rangkulan perempuan dewasa.


"Mba Ika kenapa?", tanya salah satu ajudan.


"Ngga apa-apa kak, tolong antar kami ke rumah sakit ke tempat Silvy di rawat!", kata Anika.


Kedua ajudan itu pun mengangguk.


"Oh, iya. Ini ponsel kamu, Anika!", Bu dosen menyerahkan ponsel Anika yang tadi sempat terjatuh.


Sekitar setengah jam, mobil sudah sampai di rumah sakit. Anika aduh tak menangis seperti tadi. Entah nanti jika ia melihat jenazah sahabatnya.


"Boleh ibu bertanya sesuatu?", tanya dosen itu.


"Silahkan Bu!"


"Kamu sangat dekat dengan almarhumah?", tanya dosen itu. Anika mengangguk.


"Dan ajudan itu ...?"


"Mereka ajudan yang difasilitasi oleh ayahku. Ayahku Jend Galang Wibisono!", kata Anika santai. Mata dosen itu membualat tak percaya jika gadis yang ada di samping nya anak seorang Jend yang Wira Wiri di televisi.


Dari kejauhan, Anika sudah melihat kakaknya. Dia berlari menghampiri sakti yang sedang bersama Alby, Febri dan Bia.

__ADS_1


"Mas!", Anika menghambur ke pelukan kakaknya. Sakti mengusap kepala adik satu-satunya itu.


"Silvy pergi mas ...hiks ..hiks ...!", kata anika terisak.


"Sssstttt....udah dek, insya Allah itu yang terbaik buat Silvy. Dia sudah tak lagi merasakan sakit."


"Hiks...hiks ..aku belom sempet ketemu sama dia mas. Kenapa dia malah meninggal! Aku pernah memusuhi Silvy mas!", rengek Anika lagi.


"Adek, udah ya! Sekarang kita tinggal menunggu petugas mengurus jenazah Silvy. Ya?", Anika mengangguk pelan.


Sakti menatap perempuan dewasa yang bersama Anika tadi.


"Anda siapa ya?", tanya Sakti. Dosen itu memperkenalkan diri.


"Saya Yana, dosen Anika!", kata dosen itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Sakti. Sakti pun menyambut uluran tangan itu.


Aku masih bersandar di bahu Mas Febri, sedang Alby mendekap Nabil dengan posisinya duduk di bangku di sebelah ku.


Dosen itu menjatuhkan pandangannya pada dua sosok yang ada di bangku itu.


Itu, Alby dan istri nya bukan? Lalu kenapa istri Alby berada di pelukan laki-laki lain? Dan...bayi siapa yang ada di dekapan Alby?


Yana melangkah menuju ke bangku di mana ketiga orang itu duduk.


"Aa?", sapa Yana. Alby mendongak, melihat siapa yang memanggilnya.


"Yana?", sapa Alby. Yana adalah tetangga Alby di kampung, ralat.... mantan pacarnya jaman putih abu-abu. Hanya saja, Yana lebih beruntung. Dia berpendidikan tinggi, wajar jika ia menjadi dosen di usia muda.


Mata Yana beralih padaku. Menatap ku heran.


"Bukankah...kamu istri Alby?", tanya Yana padaku. Aku melonggarkan pelukanku dari Febri.


"Dulu iya, sekarang mantan istri!", jawabku. Yana belum paham situasi.


"Maksudnya? Kalian... berpisah?", tanya Yana heran. Tak ada sahutan dari ku dan alby meski ia menatap kami bergantian.


"Lalu ada hubungan apa kalian dengan almarhumah sahabat Anika?", tanya Yana yang semakin bingung.


"Silvy, istri si Aa!", kataku. Aku memang tahu Yana, tapi tak begitu saling mengenal. Padahal aku suka menyewa mobil pak haji, bapaknya Yana jika sedang kontrol Mak ke rumah sakit di kampung dulu.


Belum sempat Yana bertanya lagi, petugas melaporkan jika jenazah sudah siap di bawa ke rumah duka. Mak Titin dan Teh Mila lebih dulu pulang ke rumah untuk menyambut jenazah Silvy.


"Mas Alby, pemakamannya besok kan?", tanya Malvin yang entah dari mana datangnya tadi.


"Iya!", jawab Alby singkat.


"Mba Bia, pulang ke rumah Oma saja ya!", kata Malvin. Malvin juga menatap Febri, meminta persetujuan sekaligus ijin.


"Atau...mba Bia mau menginap di rumah mas Alby? Aku...aku ...akan menginap di sana mba!", kata Malvin lagi.


"Gimana nduk?", tanya Febri. Sakti dan Anika hanya duduk di bangku yang berhadapan dengan ku.


Yana masih tampak kebingungan.


"Ya udah, aku ke rumah Oma Marini saja. Tapi...kamu anterin aku kan mas?"


"Iya, mas anterin kamu. Kalo perlu, mas nitip ke Oma Marini biar jaga kamu! Mas.... juga mau menemani Alby!", kata Febri. Alby dan Febri saling berpandangan. Lalu setelahnya, Alby pun mengangguk.


Rasa penasaran Yana terjawab setelah anika menjelaskan semuanya. Dia akan menghadiri pemakaman istri Alby, esok hari setelah ia meminta alamat itu pada Anika.


****


Makasih ✌️✌️🙏 otewe lah... otewe tamat mangsutne....🤭🤭🤭


Maapkeun lamun loba typo 🙏🙏🙏✌️

__ADS_1


__ADS_2