
"Hei...ke mana temen Lo ? Kasian amat Lo sendirian?", ledek Vega kepada Anika yang sedang memainkan ponselnya di dalam kelas karena dosen yang akan memberikan makul hari ini belum datang.
"Apa sih? Heran deh gue! Kayanya hidup lo ngga tenang banget gitu kalo ga gangguin sama kepoin urusan orang!", kata Anika kesal.
"Hahaha....blagu sih Lo. Mau temenan sama si ca*** itu karena dia banyak duit kan? Dia ga masuk Lo ga jajan kan?", cebik Vega. Anika menggeram dalam hatinya.
"Gue miskin Ve, tapi gue juga masih sanggup buat sekedar makan di kantin!", sahut Anika kesal.
"Lo tuh udah miskin ,sok gaul sama orang berduit. Apalagi namanya kalo bukan Be-Na-Lu?", Vega mengeja kata benalu yang tentunya menohok perasaan Anika.
"Terserah Lo!", kata Anika ketus. Dia kembali fokus dengan benda pipihnya. Tiba-tiba matanya melebar saat ia mendapatkan pesan gambar dari sahabatnya.
"Gila!", pekik Anika.
Pekikan Anika membuat semua mata mengarah padanya.
"Apa sih Nik?", tanya salah seorang temannya.
"Lo liat?!", Anika menunjukkan gambar pernikahan Silvy pada temannya itu.
"What?? Ini gebrakan Silvy benar-benar luar biasa! Silvy merit woy!", teriak teman Anika itu.
Mata Vega terbelalak, terkejut mendengar kabar dari Anika. Ponsel yang ada di tangan Anika pun di rebut begitu saja.
"Ehh...balikin hape gue!", teriak Anika.
Vega menatap ponsel Anika dengan mata yang tersulut emosi. Anika langsung merebut ponsel itu dari Vega.
"Apa Lo? Lo pikir Silvy ga bisa move on dari pengkhianat macam Lo orang?", kata Anika.
"Ada apa sih sayang?", tanya Malvin yang tiba-tiba ada di belakang Vega.
"Mantan Lo baru aja nikah. Gercep kan?", tanya Anika. Ia kembali memainkan ponselnya. Membuka aplikasi kamera ungu sambil tersenyum.
"Weeeeisssh... ganteng banget lakinya Silvy. Gue juga mau kalo model laki ganteng dewasa pula. Ngga nyesel Si silvy lepas dari Malvin dapet kek ginian!", ujar salah satu mahasiswa.
Malvin yang awalnya tak tahu menahu pun menjadi emosi mendengar ledekan temannya itu. Kerah baju anak itu langsung di tarik kasar oleh Malvin.
"Ngomong apa Lo hah?", teriak Malvin di depan anak itu.
"Santai bro! Lo harus terima kenyataan. Suami Silvy lebih dari pada Lo!", kata anak itu melepaskan cengkraman dari lehernya. Malvin langsung membuka aplikasi itu di ponselnya.
Mata Malvin memerah melihat gambar itu.
"Sialan!", kata Malvin langsung keluar dari ruang kelas mereka. Vega pun turut keluar dari sana.
"Vin...tunggu!", teriak Vega.
"Hhhhuuuuuii....!", anak-anak menyoraki kepergian sepasang kekasih itu yang menurut mereka adalah pasangan pengkhianat. Bagaimana tidak? Vega sahabat Silvy justru merebut kekasih sahabatnya sendiri. Dan Malvin yang playboy juga tak ada bedanya, mengkhianati kekasihnya malah berpacaran di belakang Silvy. Miris bukan??
__ADS_1
.
.
Sekarang aku sudah ada di dalam mobil mas Febri. Kami baru saja keluar dari area parkir. Tak ada yang membuka percakapan dari kami keluar ruangan Mak.
Karena dari tadi hening, dan tak ada obrolan apa pun akhirnya Febri menyalakan radio.
"Kalo kamu ngga mau ngobrol, boleh kan mas nyalain radio?", tanya Febri padaku.
"Iya!", jawabku singkat. Lagi pula, itu kan hak nya dia. Toh aku yang numpang mobilnya.
Febri pun mencari gelombang radio yang menurutnya pas di dengar sepanjang jalan kerumah.
*Hallo sahabat muda di manapun kalian berada. Ku maha damang every body???? Hahaha yeuay...jumpa lagi sama dj Olin yang paling kece dan tentunya bersuara merdu mendayu-dayu ini akan menemani aktivitas siang hari kalian semua.
Betewe....udah pada makan siang belom nih? Buat mengawali siang hari kita nih yang ya.... panas-panas membara gitu ya. Aishhh... matahari aja yang panas hati mu jangan ya BESTie....hehehhehe.....
Spesial buat kamu-kamu semua khusus generasi sembilan puluhan lah ya. Tapi generasi milenial kaya Dj Olin yang cantik ngga ada tandingannya ini juga boleh denger kok. Suwerrrr....boleh banget!
Olin mau puterin lagu galau yang pernah hits pada jamannya dong yek kaann?? Mungkin mereka udah pada beranak pinak wkekekeke
Oke, langsung aja nih dengerin satu persatu soalnya Olin bikin playlist khusus buat lagu-lagu kek gini.
Cuss lah*....
*Tak ada sedikitpun sesalku
Telah bertahan dengan setiaku
walau di akhir jalan ku harus melepaskan dirimu
Ternyata tak mampu kau melihat
dalamnya cinta ku yang hebat
Hingga ada alasan bagimu tuk
tinggalkan setiamu.....
Demi nama cinta telah kupersembahkan hatiku hanya untukmu
telah kujaga kejujuran dalam setiap nafasku
Karena demi cinta telah kurelakan kecewaku atas ingkar mu
sebab ku mengerti cinta itu tak mesti memiliki
Andai saja bisa kau pahami
__ADS_1
layaknya arti kasih sejati
karena cinta yang sungguh tak kan pernah mungkin bersyarat*....
Lagu itu masih terus mengalun bersamaan dengan air mataku yang luruh. Seolah-olah lagu itu mewakili perasaan ku saat ini.
Iya, aku yang saat ini sedang kecewa pada suamiku sendiri. Tanpa ku sadari aku pun kembali tergugu.
Febri yang menyadari keadaan ku langsung mematikan radionya.
"Maaf nduk. Mas ngga tahu kalo....".
"Gak opo-opo mas!", kataku lirih.
Febri menghela nafas. Niat hati ingin menghibur Bia, tapi justru membuat Bia kembali menangis.
"Setia itu menyakitkan ya mas?", kataku sambil mengusap sisa air mata dan ingusku.
"Tidak juga!", sahut Febri.
"Sebenarnya aku malu mas sama kamu juga mas Sakti."
"Kenapa harus malu?", tanya Febri masih menatap ke arah depan.
"Aku malu dengan kondisi rumah tangga ku. Aku tidak bisa menutupinya dari kalian, orang asing!", kataku.
Febri menengok ke arahku.
"Kami tahu, ini semua bukan keinginan mu. Dan mungkin ini juga cara Tuhan mempertemukan kita kembali. Mempertemukan kamu dan sakti kembali. Tidak ada yang lepas begitu saja dari pengawasan Nya Bi."
"Aku bukan istri yang baik, yang menutupi aib suami nya. Aku justru mengumbar masalah rumah tangga ku di depan kalian semua."
"Situasi dan kondisi nya yang membuat kami tahu. Bukan karena kami tiba-tiba ingin tahu Bia."
Aku menghapus air mataku lagi. Kenapa sih air mataku meleleh terus, ga bisa di kondisikan.
"Tapi aku malu!"
Febri menghela nafasnya pelan.
"Bi, kamu ngga sendirian!", kata Febri pelan.
"Maaf, aku tahu. Aku tak berhak apa pun disini. Tapi tolong...ijinkan aku menjaga dan menemani kamu Nduk. Bukan sebagai mantan kekasih mu, tapi sebagai teman mu!", ujar Febri.
Sekarang aku yang menatap wajah gagahnya itu. Rahang tegas dengan raut wajah serius yang menambah sisi maskulinnya. Aku pernah jatuh sedalam-dalamnya pada pesona pria yang ada di samping ku itu.
"Tidak ada pertemanan yang murni antara dua orang berbeda gender mas!", kataku. Mataku kini beralih kembali melihat arah luar.
Andai kamu tahu Bi, aku ingin meminta Alby melepaskan mu buat aku. Biar kamu ngga terkekang dengan hubungan yang menyiksa mu Bi! Febri hanya mampu membatin, tidak mungkin ia mengatakan itu pada Alby secara langsung.
__ADS_1