
Meninggalkan sepasang kekasih yang baru official menuju halal, tengok dulu lah si biang masalah heheh.... maapkeun....nama hanya kebetulan lewat di kehaluan mamak, mbok ada yang baca dan kebetulan namanya sama kaya tokoh di sini ya 🙏🙏🙏🙏✌️✌️✌️✌️
Alby memasuki rumahnya jam dua dini hari. Ya, dia memang sudah berjanji akan menemani isteri nya untuk kontrol kesehatan dan juga kandungan Silvy setiap bulannya.
Saat Alby memasuki kamarnya, ia mendapati istrinya sedang terduduk sambil bersandar di ranjang. Jangan lupa, ia masih mengenakan mukenahnya.
Apa dia benar-benar sudah berubah? Dia sudah bertobat? Batin Alby. Karena melihat posisi istrinya seperti tak nyaman, Alby pun berusaha mengangkat tubuh Silvy ke ranjang. Tapi ternyata, silvy merasakan pergerakan yang membuat ia terbangun.
"By, kamu udah pulang?", tanya Silvy lirih. Alby hanya mengangguk pelan.
"Sudah makan?", tanya Silvy lagi.
"Sudah!", jawab Alby singkat.
"Ya udah, kamu istirahat deh. Pasti capek!", ujar Silvy. Alby memandangi tak percaya jika istri nya sudah berubah seperti sekarang. Rasanya tidak mungkin!
"Heum!", sahut Alby. Dia pun beranjak dari ranjang, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, ia pun merebahkan diri di samping Silvy yang sudah mulai tertidur lelap.
Alby memandangi perempuan yang sudah ia nikahi beberapa bulan ini, meski pernikahan ini terpaksa tapi ada nyawa yang berada di rahim istri keduanya itu.
Terdengar dengkuran halus dari bibir mungil perempuan yang masih belia itu. Entah kenapa, seperti ada yang menuntun tangan Alby untuk mengusap kepala Silvy yang sedang bermimpi itu. Wajahnya memang cantik, bahkan sepertinya ia sangat bahagia dalam mimpinya. Pipinya kini semakin tirus, tapi tak menghilangkan jejak kecantikannya.
Apakah ia mulai merasa kasihan pada perempuan ini? Mungkin,iya.
"Maaf!", ujar Alby lirih. Tapi tanpa Alby tahu, Silvy tak benar-benar tidur. Dia mendengar permintaan maaf dari suaminya. Hatinya ngilu, antara sedih dan sekaligus bahagia. Andai Tuhan mengijinkan, ia ingin hidup lebih lama lagi. Merasakan kebahagiaan bersama suaminya ini.
Sepasang insan itu pun kembali terlelap dalam buai mimpi.
.
.
"Papa di antar Mama, Silvy di antar kamu kan By?", tanya Hartama yang sekarang sudah duduk di kursi roda.
Oh, iya...ada yang terlewat! Hartama sudah menikah dengan Titin beberapa hari sebelum Alby ke Jawa timur.
Panggilan nya pun sekarang mulai berubah, tapi tidak bagi Alby. Dia masih kekeh memanggilnya Mak.
"Iya, Pa."
Perjalanan ke rumah sakit tak terlalu jauh dari kediaman keluarga Hartama. Sesampainya di sana, mereka berpisah ke dokter yang bersangkutan masing-masing.
Di tempat yang sama, Febri mengantar 'bapak' untuk menjenguk rekannya yang di rawat di sana.
Tanpa sengaja, Galang dan Febri berpapasan dengan sepasang suami istri baru itu.
"Mak!", sapa Febri saat melihat Titin mendirikan kursi rodanya. Ya, Hartama baru selesai kontrol. Dan tak berapa lama, muncul lah Alby dan Anika.
Emosi Febri terpancing melihat keberadaan Alby yang ada di sini bersama Silvy.
What? Silvy pake hijab? Batin Febri.
"Nak Febri!", sapa mak. Galang hanya tersenyum tipis karena dia memang tidak mengenal orang yang disapa 'mak' oleh Febri.
__ADS_1
Lalu Febri pun mengangguk tipis pada tuan Hartama yang duduk di kursi rodanya.
Mata Febri beralih ke Alby yang berada di belakang Mak Titin.
Tanpa ba-bi-bu, Febri menarik kerah kemeja Alby. Lalu....
Buggghhh....
Sebuah bogeman mendarat cantik di rahang tegas seorang Alby. Alby sempat terhuyung ke belakang, membuktikan bahwa pukul Febri tak main-main.
"Alby!", teriak Silvy dan Mak bersamaan. Begitu pulang Galang yang meneriaki Febri.
"Febri, stop!", Galang menarik lengan bawahannya itu karena Febri akan kembali meraih tubuh Alby yang duduk dilantai. Mak Titin membantu Alby untuk bangkit.
"Lo ngapain tiba-tiba mukul gue hah?", tanya Alby yang emosi. Mak Titin berusaha menenangkan Alby dengan mengusap punggungnya.
"Lo tanya kenapa? Bang***!", lagi-lagi Febri akan melayang kan tinjunya jika tak di tahan Galang
"Cukup Febri!", peringatan Galang cukup tegas.
"Dia itu laki-laki brengsek pak! Kelakuannya melebar bina****!", nafas Febri memburu.
Orang-orang yang ada di sana beristighfar.
"Lo ada masalah apa sama gue hah?!", Alby pun terpancing emosinya.
"Lo, ninggalin Bia gitu aja setelah Lo nikmatin dia. Terus Lo pulang ke sini, nemenin istri Lo yang lain. Laki macam apa Lo hah!"
"Jaga omongan Lo ya Feb. Jangan karena Lo laki berseragam, Lo pikir gue takut sama Lo!"
"Apa? Bia.... sakit?", tanya Alby dengan emosinya yang mulai mereda.
"Kenapa? Lo mendadak cemas? Sok perhatian? Padahal Lo yang udah bikin Bia kaya gini!", Febri kembali maju lalu menonjok rahang Alby lagi. Galang lengah, dia pikir Febri tidak akan memukul Alby lagi l.
"Udah Feb, udah. Kita pulang!", ajak Galang dengan suara tegasnya. Nafas Febri memburu, ia melirik sekilas cincin di jari manis Titin dan Hartama bergantian.
"Kalo pada akhirnya Mak menikah lagi sama Tuan Hartama, untuk apa Bia di korbankan! Untuk apa hah!", teriak Febri semakin tak terkontrol.
Titin nampak tertunduk. Tak menyalahkan ucapan Febri sama sekali.
Alby masih mengusap rahang nya yang memar karena pukulan Febri tadi. Dia sama sekali tak menyangka jika Bia sampai seperti itu.
"Gue ngga akan tinggal diam kalo Bia sampai kenapa-kenapa! Lo....laki paling egois yang pernah gue kenal!", dorong Febri pada Alby. Galang menyeret Febri dengan paksa.
Galang tahu berapa emosinya Febri saat ini. Jenderal berbintang dua itu mendorong Febri untuk duduk di bangku penumpang. Galang yang akan membawa mobilnya.
"Lho, pak....?", tanya Febri bingung.
"Kamu lagi emosi, biar saya yang nyetir!", ujar Galang.
"Tapi pak...!"
"Kalo kamu lagi marah kaya begini, bahaya! Ngga cuma buat kamu dan saya, tapi orang lain!", pinta Galang dengan suara tegasnya.
__ADS_1
"Siap pak!", sahut Febri pada akhirnya.
.
.
Para orang tua sudah berada di kediaman pak Bambang. Asih dan Anton, lek Sarman dan lek Dar, Sus dan suaminya serta kedua orang tua Febri sudah duduk di ruang tamu.
"Nduk, udah lebih baik?", tanya Asih sambil mengusap lengan putri sulungnya.
Aku mengangguk tipis. Dibilang sehat, aku masih merasakan sakit. Di bilang sakit, aku terlihat baik-baik saja di depan orang.
"Pulang ke rumah ibu ya?", bujuk Asih. Aku mendongak, menatap lek Sarman yang sama khawatirnya padaku.
Aku menggeleng.
"Ngga Bu!", tolakku halus.
"Tapi kalo kamu di rumah sendiri, bahaya nduk. Gimana kalo Alby datang terus nyakitin kamu lagi?", ibu masih meyakinkan ku.
"Ya udah, di rumah lek lagi aja. Lek pasti bisa jagain kamu, kalo sewaktu-waktu dia kesini."
Aku pun mengangguk. Aku bukan gak mau tinggal bersama ibuku, tapi rasanya tak etis saja jika aku harus serumah dengan bapak tiri ku. Meski dia baik, tapi aku tak nyaman jika harus setiap saat bersama keluarga baru ibuku.
Lek Dar, mengusap lengan ku pelan.
"Jangan menyimpan apa pun sendiri. Kamu masih punya keluarga yang akan selalu mendukung apapun keputusan kamu!", ujar lek Dar bijak. Ya, ini yang aku suka dari lek Dar.
"Kita pulang ya Nduk?!", ajak lek Sarman. Aku pun mengangguk.
Sebelum kami semua benar-benar berpamitan, aku menyempatkan diri untuk memeluk Bu Sri.
"Makasih ya Bu, sudah mau merawat Bia. Bia udah ngerepotin ibu!", kataku dengan tulus.
"Ngga usah sungkan! Anggap ibu , seperti kamu anggap ibu dan lek Dar mu. Maaf, kalo selama ini ibu menyakitkan kamu!", kata Bu Sri mengusap lengan ku. Aku kembali memeluk tubuh gempal itu. Ini seperti mimpi, Bu Sri bisa berubah baik padaku???
Beliau mengusap kepala ku dengan penuh kasih sayang.
"Kamu juga harus bahagia Nduk. Jangan lagi tertekan dengan keadaan. Lepaskan beban kamu! Semua berhak menentukan masa depannya sendiri, termasuk kamu.Kalau dengan berpisah dengan suami mu itu akan memberi ketenangan batin, lakukan Bia. Bukan ibu mau mendoakan yang buruk, tapi......"
"Iya Bu, terimakasih!", mungkin aku salah sudah menyela ucapan Bu Sri. Tapi aku tahu inti percakapannya nanti seperti apa.
"Bia pamit ya Bu!", aku mencium punggung tangan Bu Sri. Dia pun tersenyum tulus. Padahal selama aku jadi murid nya, jadi pacar nya Febri, senyum itu tak pernah ada.
****
Ada hikmahnya juga ya Bia, koe semaput 🤭🤭🤭
Sido pegatan iki Tah! Albia on proses bubar, Febia otewe official. Ngga cuma Sakti dong???
Eh.... sabar! Masih lama lah proses itu mah... Mamak masih mau pancing emosi reader's dulu ah....🤭🤭🤭🤭
Betewe... haturnuhun yang udah sudi mampir & ngikutin tulisan mamak sampe di sini! Maap kalo banyak typo ya 🙈
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏 makasih