
Galang baru datang ke rumah induk bersama dengan Febri.
"Febri, panggil Seto dan Dimas ke sini!", pinta Galang.
"Siap pak!", sahut Febri.
Febri meninggalkan Galang lalu menuju ke belakang dimana kamar nya berada. Dia mendapati Seto dan Dimas yang baru selesai mandi. Terlihat lebih segar.
"Dim, To! Di panggil bapak!", ujar Febri.
"Kenapa Feb?", tanya Dimas.
"Ngga tahu, tadi bapak cuma bilang gitu sih! Panggil kalian berdua dan gue juga!"
Dimas dan Seto mengangguk pelan.
Keduanya menuju ke rumah lebih dulu, di susul Febri yang mengganti pakaiannya lebih dulu.
Saat sampai di meja makan, Dimas dan Seto sudah duduk di hadapan Galang.
"Febri, Dimas dan Seto! Saya mau bicara serius!", ujar Galang dengan wajah wibawa.
Ketiga cowok ganteng itu meneguk ludahnya. Hawa-hawanya seperti ada hal yang membuat mereka bertiga spot jantung.
"Diantara kalian bertiga, pangkat Febri yang paling tinggi."
Febri dan kedua sahabatnya mengangguk.
"Dan kamu Dimas, Seto...kalian sudah lama ikut saya."
Galang menghela nafasnya.
"Jadi... maksud saya, saya rasa apa tidak sebaiknya jika kalian kembali dinas ke markas. Karir kalian akan jauh lebih berkembang di bandingkan jika harus selalu bersama saya."
Ketiga sahabat itu saling berpandangan. Apa bapak akan mengganti mereka dengan prajurit yang lebih muda dari mereka?
"Saya mau kalian....em...terutama kamu Dimas."
Dimas meneguk salivanya dengan matanya yang masih fokus pada atasannya.
"Saya harap jika kalian kembali ke kantor, kesempatan kalian untuk mendapatkan karir yang lebih cemerlang bisa lebih mudah kalian dapatkan."
"Jadi... maksud bapak?", tanya Febri.
Galang menarik nafasnya.
"Saya kan sebentar lagi pensiun, mungkin mobilitas saya tidak terlalu intens seperti sebelum-sebelumnya."
__ADS_1
"Jadi, mungkin saya cukup dengan Rio dan Ridwan saja."
Febri, Dimas dan Seto tak ada yang berani menyahuti.
"Kalian kelak akan jadi orang-orang besar. Jangan terlalu nyaman berada di bawah ketiak saya. Saya yakin kalian akan jauh lebih berkembang jika berada di kantor."
"Jadi, intinya...kami...kami harus kembali ke kantor dan tidak lagi ikut bapak?", hanya Febri yang paling vokal dari tadi.
"Iya. Tapi tidak secepatnya juga. Paling tidak sampai acara pernikahan Sakti selesai."
Ketiga cowok ganteng itu mengangguk paham.
"Dimas, semoga setelah kamu kembali ke kantor, karir kamu lebih baik. Dan saya harap, kamu tidak main-main pada anak bungsu saya!", ujar Galang.
Febri dan Seto saling lirik memberi kode.
"Kamu paham maksud saya?", tanya Galang lagi.
"Siap, paham Pak!", sahut Dimas tegas.
"Ya sudah, silahkan kembali ke kalian!", Galang lebih dulu meninggalkan mereka bertiga. Setelah Galang masuk ke kamar, barulah Febri, Dimas dan Seto kembali ke belakang di mana kamar mereka berasa.
Ketiganya memilih duduk di bangku taman belakang.
"Kalo emang itu buat kebaikan kita, bagus dong? Siapa tahu karir kita bisa lebih bagus seperti kata bapak", Febri mengawali obrolannya dengan teman seprofesinya.
Dimas dan Seto saling berpandangan, tak percaya kalau sahabatnya bisa sebijak ini. Ehhhh??? Hallo? Bijak katanya?
"Oke, motivasi kita berdua intinya sama. Kalo Lo sendiri?", tanya Seto.
"Gue? Gue mah B aja tuh! Yang jelas gua jalanin apa yang ada aja."
''Yakin??? Ngga ada gitu motivasi buat menghalalkan nyonya Bia, otewe single tuh?!", ledek Dimas.
"Hooh, tenan!", Seto menimpali.
"Belum ke arah sana kali. Yang penting gue mah sekarang liat Bia udah jauh lebih baik, lebih tenang dan bisa kembali senyum, itu udah cukup buat gue."
Ckkkkkk.... terdengar decakan dari duo sahabatnya Febri itu.
"Lha? Ga percaya?", tanya Febri.
"Ora! Ngapusi!", sahut Seto.
(Nggak! Bohong!)
.
__ADS_1
.
Alby berada di balkon kamarnya menikmati malam. Pria tampan yang sebenarnya bukan perokok aktif itu kini sedang menyesap nikotinnya.
Membuang asapnya ke udara luar yang terbawa angin. Rentetan peristiwa yang dia alami selama ini seperti mimpi buruk. Mimpi buruk yang menghancurkan semuanya. Ya, semua kisah cinta nya dengan Bia.
Tak pernah terbayangkan jika pernikahan indah mereka akan berakhir seperti ini. Pernikahan yang di dasari oleh rasa cinta dan saling menerima segala kekurangan sudah selesai dengan sebuah kata keramat 'talak' yang dengan sadar ia ucapkan pada istri pertamanya.
Alby menarik rambutnya dengan kasar. Menyesali hidup nya yang sedang terjadi saat ini.
Di ranjangnya, Silvy hanya mampu menandingi suaminya yang kalut. Dia tak mau banyak bertanya kepada suaminya karena sudah pasti rasa sakit dan kecewa yang Alby rasakan. Semua karena keegoisan Silvy!
Alby meraih ponselnya. Ia buka gambar-gambar foto kenangan dirinya bersama Bia. Ada ratusan foto yang ada di dalam memori ponselnya.
Foto awal mereka baru saling mengenal. Dimana Bia masih memakai seragam merahnya khas minimarket yang menyebar di hampir seluruh kota. Sedang Alby sendiri pun tak beda jauh memakai pakaian dari tempat nya bekerja.
Keduanya tampak sangat serasi!
Tapi melihat foto item justru air mata Alby meleleh. Dia tak bisa lagi menahan kepedihan hatinya yang harus dipaksakan berpisah meskipun keduanya masih sama-sama saling mencintai.
'Ya Allah, aku saja yang seorang laki-laki bisa menjadi Cengeng karena berada di situasi ini, bagaimana dengan Bia?', gumam Alby lirih.
Alby mendongak sambil memejamkan matanya. Menikmati hembusan angin malam yang kian dingin tapi tak mampu mendinginkan gejolak hatinya yang membara. Rasanya jauh sakit dari pada luka fisik yang pernah ia rasakan.
'Semoga aku bisa mengikhlaskan mu Bia. Meski ini sungguh menyakitkan buat kita. Tapi aku berusaha untuk bisa menjadi sosok yang jauh lebih baik.'
Di tempat yang berbeda....
Aku membuka jendela kamar ku. Ada gerimis rintik menemani malam ku.
Kalimat talak yang Alby katakan masih terngiang-ngiang di telinga ku. Semenyedihkan ini kah kisah hidup ku....???
Alam pun seperti nya mendukung, sesuai dengan perasaan ku yang mencoba untuk berdamai dengan keadaan baru ku. Turut bersedih kah?Siapa yang menyangka jika semua akan berakhir seperti ini????
Aku tak akan meminta Tuhan mengembalikan Alby untuk ku, tidak! Karena mungkin waktu ku bersama Alby memang hanya cukup sampai disini.
Kini, aku hanya berusaha untuk menjalani hidup ku menjadi jiwa yang baru, diri yang baru. Dan semoga harapan baru pula!
Rahasia kehidupan ku di masa yang akan datang menjadi misteri dan semua kupasrahkan pada yang berkuasa atas diriku.
*****
Satu bab lagi yak??? Ga fokus nih ah....🤣
Di gerecokin bocil bae
Btw makasih yang udah mampir di mari hehehhe
__ADS_1
hatur nuhun ✌️✌️✌️🙏🙏