Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 42


__ADS_3

~Jomblo itu pilihan, bukan takdir~


****


Febri baru saja selesai ritual mandi. Padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tapi usai mandi dan mendirikan empat rakaatnya, ia malah memilih duduk bersantai di teras rumah nya dengan membawa secangkir kopi dan tak lupa ponselnya.


Meskipun suasana kampung sepi, tak menyurutkan keinginan Febri untuk duduk di teras. Yups, hidup sendirian seperti ini baginya bukan hal baru. Mau dia berada di dalam rumah ataupun di teras, Febri tetap sendiri.


Sebenarnya ada keinginan untuk menikah lagi, secara...dia pria yang normal. Apalagi ibunya juga seringkali mengingatkan perihal jodoh pada nya. Mengingat dirinya yang sudah menduda hampir dua tahun ini sejak pandemi.


Tapi...entah kenapa ia merasa jika saat ini belum ada yang pas untuk berada di sudut hatinya. Padahal, sebelum menikah dengan almarhum istri nya pun ia belum merasakan apa pun pada istrinya. Tapi seiring berjalannya waktu, Tuhan sang pembolak balik hati pun bersedia merubah perasaan tak peduli Febri pada almarhum istrinya hingga ia bisa menerima pernikahan tersebut. Sayangnya, sang pembuat skenario justru menjadikan Febri seorang duda. Ya... tentu nya duda berkelas. Dia di tinggal oleh istri nya karena ajal, bukan karena pengkhianatan atau berkhianat.


Febri meraih seputung rokok. Memantik nya, lalu menghisapnya. Kepulan asap yang menguar ke sekitarnya ia anggap beban hidupnya yang sedang ia jalani saat ini. Semoga ia bisa menjalani hari-harinya lebih baik lagi.


Di rumah depan Febri, Alby pun sedang melakukan hal yang sama. Bedanya, Alby meminum teh. Tapi ia sesekali juga merokok, cuma tidak terlalu sering.


Dilihatnya wajah sang istri yang tertidur pulas usai percintaan mereka tadi yang mereka ulangi. Entah seperti apa rasanya badan Alby. Ada perasaan bersalah yang tak tergambarkan olehnya. Puas memenuhi keinginan Silvy, Alby datang pada Bia meminta hak yang sama. Pria macam apa dirinya? Maniak kah??


Alby sendiri pusing memikirkan itu semua.


Di tengah pemikirannya, Alby meraih ponselnya. Di lihat ada chat dari Silvy.


[Besok siang ibu mu bisa pulang. Sebelum ke kota, kami mau mampir dulu. Kata nya sih mau pamit sama Bia dan tetangga. Ya... sebenarnya sih aku ga maksa dia ikut tinggal bersama ku, tapi mungkin dia hanya merasa bersalah sudah menelantarkan ku. Tunggu aku ya hubby]


Tak lupa Silvy menyertakan emoticon love.


Alby mendesah panjang. Sudah di pastikan esok akan jadi semakin rieweh.


Tangan kiri Alby membawa rokok, sedang tangan kanannya memegang ponsel. Tapi ia masih bisa membuka pintu belakang.


Alby pun keluar, lalu duduk di tepi kolam. Tanpa sengaja, ia melihat Febri yang masih duduk di terasnya seorang diri.


Ya? Sama siapa lagi?


Mengingat ucapan Febri saat di rumah sakit tadi, Alby jadi terpancing emosi.


Secara terang-terangan ia masih mengharapkan Bia bukan? Bagaimana mungkin ia meninggalkan Bia seorang diri di kampung nya. Sedangkan si Febri, mantan kekasih nya yang bisa saja mencari celah di antara Alby dan Bia. Apalagi Febri tahu sendiri situasinya tadi saat berada di ruangan Mak.


Dengan percaya diri namun pelan, Alby menghampiri rumah Febri yang hanya terhalang beberapa langkah.


"Assalamualaikum!", sapa Alby.


Febri yang dari tadi fokus dengan benda pipihnya nya pun mendongakkan kepalanya. Sedikit terkejut mendapati pria yang sudah menyakiti Bia ada di hadapannya. Tapi sebisa mungkin ia menahan diri. Apalagi situasi nya sudah malam begini.


"Walaikumsalam. Mas Alby? Silahkan duduk!". Suara Febri terdengar sopan.


Alby pun duduk di bangku yang ada di depan Febri. Keduanya sama-sama terdiam beberapa saat hingga akhirnya Febri membuka mulutnya.


"Maaf soal tadi siang. Saya salah, sudah ikut campur urusan pribadi anda."


Alby menghela nafasnya.


"Tidak usah formal. Kita bicara sebagai sesama pria dewasa Mas Febri."

__ADS_1


Febri menegakkan punggungnya ke sandaran kursi.


"Ya?", tanya Febri menggantung.


"Aku tahu, kamu masih peduli dengan Bia. Apalagi kamu tahu kejadian tadi siang. Sebagai seorang pria yang pernah atau mungkin masih menyukai istriku, kamu ingin berusaha melindungi Bia bukan?", tanya Alby langsung pada intinya kepada Febri.


Febri tersenyum tipis.


"Aku sadar diri kok mas Alby. Seindah apapun masa lalu, Bia hanya ingin kejelasan masa depannya saja. Dan aku...aku hanya bisa melindunginya dengan caraku sendiri. Jika Bia lelah bertahan dengan situasi yang membuatnya tertekan, aku siap dan ada untuknya. Bukannya aku mengharapkan kalian berpisah mas. Aku hanya realistis, Bia tak serapuh itu. Dia sudah terbiasa merasakan pengkhianatan dari kecil."


"Apa kamu juga termasuk kategori pengkhianat Bia?", kata Alby telak.


Febri menghisap rokoknya yang tinggal sedikit. Lalu mematikannya di asbak.


"Bisa iya, bisa juga tidak."


Sekarang Alby yang tersenyum tipis. Dua pria tampan itu tampak saling menyindir.


"Kamu mudah menilai permukaan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalamnya."


"Sebenarnya aku tak ingin ikut campur..."


"Aku terpaksa menikah dengan Silvy. Tak ada niat sedikit pun untuk mengkhianati Bia. Karena aku sangat mencintai Bia."


Febri meletakkan kedua tangannya di dagu, mendengar kelanjutan dari penjelasan Alby.


"Sampai kapan pun aku tidak akan bisa dan tidak akan pernah melepaskan Bia."


"Tapi jika Bia sudah tidak bisa bertahan di posisi ini? Bagaimana?", ujar Febri.


Alby menghisap rokoknya perlahan.


"Aku berada di situasi yang tidak membuat ku melakukan semua ini. Awalnya, aku pikir tuan Hartama hanya memperalat aku hanya sekedar untuk menyenangkan hati Silvy dengan cara menikahinya. Dari surat perjanjian, ancaman, dan...yang paling parah adalah tuan Hartama membuat nama Mak blacklist agar tidak diterima di rumah sakit manapun."


Febri sedikit tersentak, apa power orang berduit sampai seperti itu?


"Dalam keadaan terdesak, aku menyetujui apa pun perintah tuan Hartama."


"Termasuk menikahi gadis itu?", tanya Febri. Alby pun mengangguk.


"Awalnya, aku ingin merahasiakan semua dari Bia. Tapi ...tuan Hartama benar-benar licik. Aku hanya batu pijakan untuk ajang balas dendam pada Mak."


"Maksud mu?"


"Mak itu, mantan istri tuan Hartama. Dan.... Silvy adalah anak Mak dengan tuan Hartama."


"Tunggu? Mak ibunya Silvy? Lalu kamu?"


"Mak adalah ibu sambungku yang dari kecil sudah merawat ku. Makanya, apapun aku lakukan untuk kesembuhan Mak. Termasuk, terjebak dalam situasi ini yang membuat ku serba salah."


Febri menggeleng bingung.


"Kalo tujuan nya untuk balas dendam sama Mak, kenapa Bia yang harus di korbankan?", tanya Febri dengan nada suara penuh sesak.

__ADS_1


Alby menggeleng pelan. Dia sendiri tidak tahu kenapa Bia yang harus menderita di sini.


"Lalu, bagaimana keadaan Bia sekarang? Tadi, selama di perjalanan pulang Bia cuma nangis."


"Alhamdulillah, dia sudah tidur."


Febri mengangguk pelan.


"Aku dan Bia hanya berharap jika kami bisa melewati semua ujian pernikahan kami."


"Itu artinya, Bia sudah bisa menerima pernikahan mu dengan Silvy?"


"Insyaallah, iya."


Febri tersenyum sinis. Apakah Bia benar-benar bisa bertahan jika suaminya saja. meragukan seperti ini.


"Hal yang ku takutkan saat meninggalkan Bia di sini...adalah kamu!", ujar Alby. Febri mengernyitkan keningnya.


"Aku bukan perebut istri orang", kekeh Febri.


"Iya, aku tahu. Andai itu terjadi, bukan hanya jabatan yang kamu pertaruhkan bukan?", tanya Alby.


"Ya...bisa jadi begitu mas Alby. Tapi aku bukan tipe orang yang mudah memaksa kehendak ku. Bukan mengharapkan hal buruk, sekali lagi bukan mendoakan yang tidak baik untuk hubungan kalian. Jika suatu saat nanti Bia sudah tak mampu bertahan,tolong lepaskan! Biar dia menentukan jalan hidupnya sendiri."


"Tapi aku tidak akan pernah melepaskan Bia. Terdengar egois memang. Bagiku, Bia hanya milikku. Tidak ada yang boleh mengancam posisi Bia dalam hidup ku,"Kini Alby turut menyandarkan tubuhnya.


"Ancaman terbesar mu bukan karena aku atau pun dokter sakti mas Alby. Tapi dari dirimu sendiri."


Alby memicingkan matanya. Dokter Sakti? Ah ya, Alby ingat seperti apa interaksi antara Bia dengan sakti. Dia baru ingat jika dokter itu yang dulu mengejar-ngejar Bia sebelum Bia melabuhkan hatinya pada Alby.


"Apa kalian berdua sedang berkompetisi dengan situasi ini?", tanya Alby dengan wajah tegang. Ya, bagaimana ia tak tegang. Andai Bia benar-benar meminta nya lepas, itu artinya Febri dan Sakti siap menggantikan dirinya?


Tidak! Shabia ayu hanya milih Alby Gunawan!


"Tidak ada apa-apa mas alby. Sejauh ini, kami murni hanya simpati terhadap Bia karena situasi ini. Entah suatu saat nanti."


"Jangan berekspektasi terlalu tinggi, karena Bia akan selalu bersama ku, aku tak akan mungkin pernah melepaskannya. Camkan itu komandan!", ujar Alby.


Febri sempat terdiam beberapa saat hingga ia melirik jam di ponselnya. Sudah hampir tengah malam.


"Sekali lagi, saya hanya berharap apa pun yang terbaik bagi Bia. Itu saja mas Alby?!"


Alby menatap wajah pria yang gagah dan berotot itu.


"Terimakasih sudah menjadi teman ngobrol ku. Aku harap, jangan terlalu dekat dengan istri ku! Assalamualaikum!", kata Alby sambil beranjak menuju rumah nya.


"Walaikumsalam."


Setelah melihat Alby masuk ke rumah nya, Febri juga masuk ke dalam kamarnya.


Mereka berdua sama-sama memikirkan Bia?


*****

__ADS_1


Mohon dukungannya ya reader's 🙏🙏


jaman lupa like dan sarannya biar bisa nulis lebih Bagus lagi. Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2