
Di salah satu sudut kamar kost, seorang pria tampan sedang fokus dengan laptop dan juga kopi yang terhidang di meja.
Pria yang menyandang predikat dokter muda terbaik di rumah sakit Xxx di kota G ini masih berkutat dengan pekerjaannya.
Sesekali ia menoleh ke ponselnya yang adem ayem, tak ada yang menghubunginya sama sekali. Ada seseorang yang ia harapkan untuk menghubunginya lebih dulu. Tapi sayang nya ia berharap berlebihan. Tidak mungkin seorang Bia akan menghubunginya lebih dulu. Dia pikir dia itu siapa? Mengharap istri orang menghubunginya, bukan kah itu berharap yang tidak-tidak? Pertemuan lagi dengan gadis pujaannya pun mungkin hanyalah sebuah kebetulan.
Gadis yang selalu menolak cintanya karena selalu merasa tak pantas bersanding dengannya.
Sakti tersenyum tipis, mengingat saat awal-awal ia menyatakan cintanya pada Bia. Gadis cantik yang bekerja sebagai kasir di salah satu minimarket yang banyak tersebar di Indonesia.
Flashback on
"Selamat datang di *******market!", sapa seorang gadis cantik dengan rambut yang tercepol rapi.
Sakti yang lupa melepaskan jas profesi nya itu langsung masuk ke minimarket tersebut dengan membalas senyuman manisnya.
Usai mengambil barang belanjaannya, sakti menghampiri meja kasir. Ia membaca name tag yang menggantung di leher gadis cantik itu.
Shabia Ayu
Sepertinya nama itu jarang sekali ya? Gumam Sakti.
"Totalnya Enam puluh lima ribu ya pak dokter!", sapa Bia.
Sakti yang terkesima melihat kecantikan Bia pun terkekeh. Sambil menyerahkan selembar uang berwarna merah, sakti menyahuti sapaan Bia.
"Panggil saja saya Sakti, ngga usah pake dokter segala!", ucap sakti. Teman Bia yang ada di sebelahnya menyikut lengan Bia. Terlihat kedua gadis itu saling sikut. Menggemaskan sekali melihat Bia yang malu-malu tapi masih sempat melotot ke temannya.
"Ini pak belanjaannya. Dan ini kembaliannya. Silahkan datang kembali!", Bia menyodorkan kembalian dan belanjaan sakti.
Sakti tersenyum menerima belanjaannya dan juga kembaliannya.
"Iya, saya akan datang lagi kok mbak Shabia Ayu!", kata sakti sambil tetap memberikan senyuman mautnya.
Sakti pun keluar dari minimarket tersebut masih dengan menyisakan senyumannya.
"Bia...ih... ganteng banget sumpah!", pekik Meli, teman Bia.
"Meli ih...jangan bikin malu gitu ah!"
"Aishhh... kamu mah! Tapi serius tuh dokter ganteng sumpah. Dan kayanya dia tuh naksir sama kamu. Cinta pada pandangan pertama gitu heheheh!", celoteh Meli.
Tapi justru di sahuti Bia ," Ngga usah mengkhayal ketinggian Mel. Cukup sadar diri saja."
"Eh ...emang kenapa? Kamu cantik dia ganteng, ngga usah minder kali."
"Bukan perkara minder Mel. Cuma tau diri saja, aku siapa dia siapa. Lagian ih ...ngapain ngomong kaya gitu. Kaya orang bener aja. Ya kali tuh dokter naksir aku beneran, kalo cuma aku nya yang kegeeran? Hahaha , ogah Mel!"
Meli malah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Percaya sama gue, gue jamin dia bakal balik lagi. Bukan cuma mau belanja, tapi dia penasaran sama Lo Bia ...!", kata meli meninggalkan Bia di meja kasir.
Sakti yang baru saja masuk ke mobilnya pun terdiam sambil mengulas senyum.
Bayangan wajah gadis cantik itu melekat sekali di pelupuk mata Sakti. Biasanya, tiap sakti lewat atau sekedar memberi senyum saja banyak kaum hawa yang kelepek-kelepek. Termasuk teman Bia tadi. Tapi kenapa Bia seolah biasa saja?Bahkan sapaan ramah nya masih sama kepada pelanggan yang lain.
Sakti menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Beberapa Minggu setelah itu, tak sengaja ia melihat Bia yang termenung di halte busway. Kebetulan hari ini sakti sedang tak membawa kendaraan. Meski sudah tak memaksa seragam minimarketnya, Sakti hafal betul jika gadis yang duduk sendiri di sana itu Bia.
__ADS_1
Dengan langkah pasti, Sakti menghampiri Bia.
"Hai, ketemu lagi kita?", sapa sakti.
Bia mendongak ke arah sakti.
"Eh...iya? Siapa ya?"
Sakti tersenyum tipis.
"Yakin lupa sama aku?"
Bia mengernyitkan dahinya. Lalu setelah itu ia tersenyum.
"Heheh lupa sih ngga, cuma emang saya ngga kenal sama mas deh kayanya?"
Sakti terkekeh sendiri. Keliatan banget kalo ingatan Bia itu buruk. Atau dia hanya pura-pura?
"Ya udah, kenalan deh. Sakti!", sakti mengulurkan tangannya. Bia memandangi tangan itu beberapa saat. Tapi akhirnya ia menyambut uluran tangan tersebut.
"Shabia, panggil saja Bia!"
Sakti manggut-manggut. Setelah itu, ia turut bersandar seperti Bia.
"Pulang ke mana?", tanya sakti.
"Namanya pulang ya ke rumah lah mas!"
Lagi-lagi sakti tersenyum menghadapi gadis cantik itu.
"Hehehe bercanda, aku kos di ***** !"
"Iya lah mas, kalo ngga searah ngapain mas naik busway di halte ini sama aku."
"Eum...iya juga sih!"
"Baru pulang kerja mas? Kerja di mana?"
Sakti menoleh ke wajah Bia.
"Di RS xxxx."
"Eum...eh...RS xxxx?", tanya Bia. Sakti mengangguk. Bia terdiam beberapa saat, setelah itu ia menepuk dahinya sendiri.
"Eh .. kenapa?", tanya sakti heran.
"Heheh ngga mas. Jangan bilang mas ini yang waktu itu belanja di minimarket tempat aku kerja. Yang dokter itu kan?", tebak Bia.
Ah, dia memang benar-benar lupa ternyata.
"Heum!", sahut sakti. Tiba-tiba saja wajah Bia memerah.
"Maaf, aku ngga inget tadi mas."
"Ya ngga apa-apa. Berati aku aja yang inget ya?", tanya sakti sambil terus tersenyum.
Harusnya sih, kaum hawa meleleh di senyumin orang ganteng macam sakti. Tapi sepertinya Bia biasa saja.
"Eum...ya ngga tahu juga mas. Kan mas sendiri yang inget aku. Aku ngga maksa mas sakti buat nginget-nginget aku toh?"
__ADS_1
"Iya sih. Habis gimana ya? Bebek hari setelah aku ke sana, kamu nya ngga ada. Malah katanya udah pindah. Eh...mungkin ini yang di namakan jodoh. Ketemu lagi kan kita di sini?"
Bia tersenyum terpaksa.
"Takdir mas, bukan jodoh!", sahut Bia. Setelah itu ia terdiam, seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.
"Memang kenapa kalo aku ngarep kamu jodoh ku?", tanya Sakti.
"Eeh???", Bia sedikit terkejut.
"Ya...siapa tahu kita berjodoh kan?"
''Heheheh mas sakti ternyata suka bercanda ya? Mana ada mas? Kita hanya kebetulan ketemu di sini? Berati baru dua kali kan kita ketemu? Ngga usah ngomongin jodoh-jodoh segala mas."
"Baru dua kali, kalo ketiga kali kita ketemu lagi berarti jodoh beneran gitu?"
"Hahaha mas sakti bisa aja becandanya ah. Udah ah, garing deh ah!"
"Kalo aku bilang beneran naksir kamu sejak pertama kali ketemu, gimana? Boleh kan?"
Bia sedikit terkejut mendengar ucapan Sakti. Tapi setelah itu, ia bersikap biasa lagi.
"Ngga boleh! Aku ngga bisa."
"Kenapa? Kamu udah punya pacar ya?", tanya sakti to the point.
Bia tak mengiyakan juga tak menyangkal.
"Entah!", ia mengendikan bahunya.
"Kok gitu? Atau jangan-jangan kamu di gantungin ya?"
"Ishhh...mas sakti sok tahu!"
"Ya abis nya jawaban kamu ambigu gitu."
"Terus kalo aku bilang aku udah nikah, mas sakti mau apa?"
"Heheheh ya ngga mau apa-apa sih. Emang kamu pikir saya ngga bisa bedain mana perempuan yang sudah menikah sama belum?"
"Ishhh... percaya diri sekali anda !"
Tapi setelah itu keduanya malah tertawa bersama.
"Boleh bagi nomor hp kan?", tanya sakti. Tanpa ragu, Bia menyerahkan ponselnya pada sakti agar ia menuliskan nomor nya di sana.
"Udah ?"
"Udah, nih!", sakti mengembalikan ponsel Bia.
"Eh, itu bus nya udah datang."
"Penuh Bi, kamu dulu ngga apa-apa deh!", ujar sakti.
"Oh, ya udah kalo gitu. Duluan mas!", ucap Bia berpamitan pada Sakti.
Sakti hanya mengangguk pertanda mengiyakannya.
flashback off
__ADS_1