Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 110


__ADS_3

Silvy melenguh memegangi kepalanya. Alby yang berada di brankar yang berbeda pun bangkit mendekati Silvy. Tuan Hartama sedang ada urusan ke kantor meski hari sudah menjelang sore. Sedangkan Mak dan teh Mila keluar dari kamar sejak beberapa menit yang lalu.


Dengan perlahan, silvy mengucek matanya. Wajah seseorang yang pertama kali dia lihat adalah suaminya. Suami yang sama sekali tak menganggap keberadaannya. Menyakitkan bukan?


"Gimana keadaan kamu?", tanya Alby yang kini berdiri di samping Silvy. Dia pun memakai pakaian pasien seperti Silvy.


"Apa pentingnya keadaan ku? Bukankah kamu lebih senang kalo aku kenapa-napa? Kalo aku tidak ada, kamu lebih bahagia bersama istri pertama mu itu kan?", kata Silvy pelan. Tapi Alby tahu, suara itu mewakilkan perasaan seorang Silvy.


"Maaf, aku tahu aku menyakiti mu. Aku tidak bisa memperlakukan kamu secara adil Fy. Dan dari awal kamu tahu itu. Kamu yang memaksakan situasi ini."


Silvy tersenyum sinis. Menatap wajah tampan yang dia miliki tapi tak bisa mencintai dirinya.


"Apa karena aku ca*** ? Apa sebegitu buruknya aku buat kamu By?", tanya silvy dengan suara bergetar.


"Bukan. Tapi, aku tidak bisa memberikan apa yang kamu harapkan!"


"Ckkk! Kamu bisa memberi ku anak, tapi kenapa kamu tak bisa sedikit pun memberikan cinta mu buat aku By? Sedikit...saja! Apa memang aku di lahiran hanya untuk di buang? Di buang ibuku? Di buang suami ku? Bahkan papa yang selama ini menyayangi ku sekarang tak berpihak padaku???!!!"


Silvy meremas rambutnya yang panjang terurai.


"Argggggghhhh!", Silvy berteriak meluapkan amarahnya.


Alby berusaha menenangkan istrinya itu. Tapi jika dia mendekati Silvy, ia juga takut jika lukanya akan kembali terbuka seperti tadi.


"Pergi! Aku ngga butuh kalian! Biarkan aku dan anakmu mati By! Dari pada nanti jika anakku lahir hanya merasakan apa yang aku rasakan! aku tidak diinginkan! Argggggghhhh!", Silvy histeris lagi. Dengan terpaksa, Alby pun memeluk istrinya. Dia tak perduli lagi dengan lukanya jika nanti akan terbuka lagi karena Silvy yang meronta.


"Pergi by! Pergi! Aku benci Bia! Aku benci!", Silvy masih berteriak dalam pelukan Alby.


"Aku benci seperti ini By. Aku benci! Hiks...hiks...!", suara Silvy mulai pelan.


"Tenang Vy! jangan seperti ini!", kata Alby pelan.


"Jangan tinggalkan aku By! Aku ngga mau! Kalo sampai kamu ninggalin aku, aku akan benar-benar mengakhiri hidup ku dan juga bayi ini!", isak Silvy dalam pelukan Alby.


Alby tak bergeming. Dia berada di posisi yang sangat sulit. Anak yang Silvy kandung tidak berdosa. Tapi anak yang Bia kandung pun darah dagingnya juga. Bagaimana bisa ia menyakiti mereka semua????


"Kamu boleh sama Bia, By! Tapi jangan pernah tinggalkan aku dan anak kita! Beri aku sedikit cinta mu By, hiks ...hiks...!"


Alby mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sadar, darahnya kembali merembes di perutnya. Tapi...mungkin sakit nya tak seberapa di banding dengan sakit yang Bia dan Silvy rasakan saat ini.


"Aku ngga mau pisah sama kamu By. Ngga mau!", kata Silvy masih memeluk pinggang suaminya.


"Iya!", jawab Alby singkat. Tapi tiga huruf itu nyatanya membuat sedikit celah bahagia di sudut hati Silvy.


"Istirahat lah. Aku mau panggil dokter! Luka ku kebuka lagi!", kata Alby meringis kecil. Silvy melepaskan pelukannya. Dia menatap luka yang ada di perut suaminya. Seandainya saja Alby tak mencegah nya waktu itu, mungkin luka itu yang berada di tubuh Silvy.


"Maaf, sudah membuat mu luka seperti ini!", kata Silvy sambil mengusap jejak air mata di pipinya. Tak ada sahutan apa pun dari Alby.


"By!"


Alby yang tadi nya akan melangkah ke brankar nya pun berhenti.


"Katakan! Kamu tidak akan pernah meninggalkan ku!", kata silvy. Alby bergeming.


"Tolong katakan By.Berjanjilah!", kata Silvy sekali lagi.


"Iya, aku tidak akan meninggalkan kalian!", kata Alby pelan. Silvy bahagia mendengarnya, matanya tertuju ke arah pintu. Dia tahu, sejak tadi Bia berada di sana. Dia yakin jika istri pertama dari suaminya itu mendengar janji yang suaminya ucapkan.


.


.


"Stempel apa?", tanya Anika dengan lugunya.

__ADS_1


"Dewi!", kataku sedikit keras.


"Kamu masih kecil, ngga usah tahu!", kata Dewi. Teman seprofesi dan sekamar ku dulu itu memang terkenal cablak.


"Lagian kamu kenapa sih masih malu-malu gitu Bi. Sama suami sendiri saja malu! ya mas Febri!", celetuk Dewi lagi.


"Gendul, mas Febri bu....!", kalimat ku kembali di potong oleh Dewi.


"Emang yang namanya jodoh ga kemana ya. Dulu, Bia nangis-nangis lho pas mutusin kamu mas Febri. Dia yang mutusin, dia yang nangis. Semingguan kali dia gak napsu makan. Eh, ga lama di deketin dokter koas di rumah sakit itu tuh. Jalan sih jalan, sebenarnya juga ada rasa sih tapi.... lagi-lagi minder, katanya dia ngga pantes sama tuh dokter."


Aku sampai bingung harus bagaimana menyumpal mulut Dewi yang sudah bertahun-tahun tak ku temui ini.


"Mba dewi kenal sama dokternya?", tanya Anika antusias. Aku melebarkan mataku.


"Kenal banget sih ngga! tahu aja! Tuh, suka jalan sama mas dokter. Tapi ga jadian hahaha. Kepincut sama cowok Sunda kali!"


"Dewi....udah! Stop! Please ngga usah ngomong kaya gitu lagi! nyesel gue ketemu Lo lagi bener!", kataku kesal.


"Eh...nyesel Lo bilang? nih gue bilang sama laki Lo sekalian! Mas Febri, dulu tuh kalo dia abis mudik, ketemu sama situ! Stempel nya di mana-mana, udah gitu cengar-cengir mulu! Gila aja kan? Hampir enam tahun ngga ngapa-ngapain tuh bohong banget! Ya kan???", kata Dewi lagi tanpa di ayak.


Sungguh aku benar-benar malu! Aku sudah tak sanggup mendengar ocehan Dewi. Serius! aku menyesal bertemu dengannya lagi.


"Bener Lo Feb? Yakin enam tahun ngga ngapa-ngapain?", bisik Seto.


"Diem ga Lo! Lo ga liat tuh mukanya Bia kaya apa?", bisik Febri lagi pada Seto.


"Cukup Dewo! mas Febri itu...."


"Febri belum jadi suami nya Bia kok!", kata Seto. Mata ku dan Febri membulat bersamaan.


"Hah? Mereka belum nikah?", tanya Dewi. Anika hanya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku udah nikah Dewi!", kataku.


"Ya memang mereka belum menikah, mungkin akan menikah di waktu yang akan datang!", sahut Seto. Febri menoyor kepala sahabat nya itu.


"Maksud nya gimana sih?", tanya Dewi.


"Aku udah nikah Dewi, sama Alby! Cowok Sunda yang Lo bilang!", kataku.


Dewi membekap mulutnya yang ternganga otomatis tadi. Mendadak wajah dewi berubah pucat.


"Hehehe...sorry Bi. Lagian Lo ga ngomong dari tadi sama gue. Tahu gini kan gue ga buka aib Lo **go!", kata Dewi.


"Gue mau ngomong, tapi Lo nyela Mulu!", kata ku.


"Heheheh tapi kalian kok bisa sama-sama sih? Ya wajar dong gue pikir kalian nikah!"


"Saya dan Seto ajudan ayah nya Anika!", kata Febri.


"Saya, adiknya dokter Sakti!",kata Anika memperkenalkan dirinya pada Dewi. Lagi-lagi mulut Dewi teranganga.


"Kok bisa sih??? Aduh, sumpah gue jadi ngga enak. Maaf ya mas Febri. Jadi tahu kan aibnya Bia hehehe! Gue pamit deh kalo gitu! Gue shift dua nih! Kita lanjut lagi ntar ya? tuh kamar gue paling ujung! Bye Sapi!", kata Dewi buru-buru. Mungkin dia merasa tak enak sendirian mengumbar aib di masa laluku.


"Wah, ternyata mba Bia pernah ada rasa toh sama Mas Sakti??? Heum...Ika jamin, dia bakal bersorak hore kalo denger gini nih!", kata Anika.


"Ngga usah aneh-aneh dek!", kataku.


"Ehem! bener ya dek! Nih, sebelah gue juga kayanya nyesel. Kok nyesek amat ya, tahunya baru sekarang!", sindir Seto.


Dan Febri hanya menunjukkan wajah sok cueknya.


"kalo kalian cuma mau ngecengin aku, mending balik deh!", usirku.

__ADS_1


"Ya, kok gitu mba!", rengek Anika.


"Makasih ya dek, udah bantu mba cari kosan!", kataku tulus.


"Makasih juga sama mereka dong?!", kata Anika.


"Iya ,makasih Anika, mas Febri, mas Seto!", kataku.


"Sama-sama!", sahut Febri dan Seto.


Tak berapa lama, ponsel ku berdering. Tumben Mak telpon.


"Ya udah,kami pamit ya? Kalo ada apa-apa jangan sungkan hubungi kami!", kata Anika.


"Iya. Makasih ya!", kataku lagi. Mereka bertiga pun meninggalkan kamar ku.


[Assalamualaikum Mak?]


[Walaikumsalam, neng. Di mana?]


[Di kosan Mak. Insyaallah langsung bisa di pakai kok]


[Neng, si Aa masuk rumah sakit lagi. Lukanya kebuka lagi tadi]


[Astaghfirullah! Pantas dari tadi Bia ga bisa hubungi si Aa Mak]


[Iya, hape Aa ketinggalan di rumah]


[Rumah sakit tadi?]


[Iya neng.]


Mak memutuskan sambungan telepon setelah ia memberi tahu di mana kamar rawat Alby. Benar kan, istri macam apa aku ini. Suami ku sakit, aku malah makan-makan bersama mantan ku. 😔😔


Sekitar dua puluh lima menit, aku sampai dirumah sakit. Aku langsung menuju ke kamar rawat Alby. Tapi langkah ku terhenti saat aku mendengar suara teriakan dari dalam kamar alby. Ya, aku lihat tidak hanya alby yang di rawat di kamar itu, ada Silvy yang juga memakai pakaian pasien. Silvy melihat keberadaan ku yang ada di dekat pintu.


"Katakan! kamu tidak akan meninggalkan ku By!"


Aku melihat Alby terdiam.


"Tolong katakan By! Berjanjilah!"


"Iya, aku tidak akan meninggalkan kalian!", ucap Alby.


Tiba-tiba air mataku lolos begitu saja. Sakit? Tidak! Tapi sakiiitttt banget! Dadaku sesak! Bahkan untuk bernafas pun rasanya sungguh sulit.


Aku mengurungkan niatku masuk ke dalam ruangan Alby. Aku tidak sanggup melihat kebersamaan mereka. Nggak! Ngga bisa!


Ucapan dan janji Alby kemarin nyatanya semua bohong! Sia-sia rasanya memberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya.


Aku mendengar sendiri Alby tidak akan meninggalkan Silvy, sedang Alby tahu sendiri jika aku mau kembali bersama Alby asalkan aku yang menjadi satu-satunya. Ucapan Alby menjadi jawaban untuk semuanya.


Alby memilih Silvy! Ya, aku sudah kalah!


Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Pikiran ku sudah tak karuan sampai tiba-tiba aku merasa tubuh ku tak bertulang. Dan....


Brukkkkk.....aku terjatuh di lorong rumah sakit yang sepi ini.


*****


Tarik napas.... insyaallah kalo di loloskan nya cepet sama mimin, Mak aplot kelanjutannya.


Makasih 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2