Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 57


__ADS_3

Aku bersiap untuk ke pasar pagi ini. Membeli beberapa kebutuhan untuk pesanan mas sakti besok. Entah kenapa aku merasa semangat sekali. Mungkin bawaan si utun dalam perut ku heheh


Sebelum aku otw pasar, ku panasi roda dua ku. Karena sejak tahu hamil, aku tak pernah memakai kendaraan itu. Di tambah lagi, aku memang tak kemanapun. Sejak sakit hati itulah bernaung dalam hatiku, aku seolah segan untuk sekedar keluar. Tapi aku sudah berusaha membuka hati dan lapang dada. Aku sendiri yang memutuskan untuk bertahan dan melewati fase sulit ini. Tapi...ke depannya, entah! Selama aku sanggup, aku akan berada di posisi seperti ini. Mungkin dengan ku yang menyibukkan diri seperti ini, pikiran ku akan teralihkan.


Aku sudah lebih dulu mencatat bahan-bahan apa saja yang akan ku beli dan aku butuhkan besok.


Setelah di rasa siap, aku mengambil dompet ku di atas nakas tak lupa ponsel ku. Baru saja ku genggam ponsel ku, ternyata tadi ada chat dari suamiku. Seperti biasa, dia menanyakan aktivitas pagiku. Aku tersenyum tipis melihat perhatian kecil darinya. Mungkin keputusan ku untuk bertahan saat ini sudah tepat.


Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi suamiku. Dering kedua ketiga keempat...tak di angkat. Hingga akhirnya aku meletakkan ponselku di dalam dompet. Tapi beberapa detik berikutnya, Alby menghubungi ku. Dengan semangat empat lima, aku pun mengangkat telpon dari orang yang ku rindukan. Apalagi Alby melakukan video call.


[Assalamualaikum A]


Aku menyapa nya, tapi yang ada di layar ponsel ku bukan wajah suamiku melainkan...istri kedua Alby.


[Walaikumsalam]


Sahut Silvy sambil sesekali menguap. Tunggu, dia sedang berada di tempat tidur dengan selimut yang menutupi sebatas dadanya.


[Eh...kakak maduku?]


Silvy membenarkan posisi duduknya. Kali ini ia benar-benar terlihat baru bangun dari tidurnya. Rambutnya masih berantakan dan terurai tak rapi sebagian.


Entah kenapa dada ku tiba-tiba merasa sesak. Apa mereka telah melakukan...???


[Alby mana?]


Aku mencoba meredam emosi ku saat ini. Sabar Bia...sabar....! Meski sesungguhnya aku ingin menangis.


[Eum... sepertinya lagi di kamar mandi? Kenapa? Ada kepentingan apa ya sama suamiku? oops...suami kita heheheh ]


Aku meremas tanganku dan menahan agar air mataku tak lolos begitu saja karena ucapan Silvy.


[Dimana Alby?]


Kuulang pertanyaan ku.


[Kan tadi gue bilang mandi, denger ngga sih?]


Ya Allah, kenapa perempuan seperti ini yang Alby jadikan saingan ku!


[Tapi kenapa kamu lancang mengangkat ponsel Alby.]


[Hei,Alby itu juga suamiku. Apa salahnya kalo gue pegang ponsel my hubby?Lagian, Lo bikin gue kebangun gara-gara keganggu sama suara ponsel Alby.]


Aku diam beberapa saat sampai aku mendengar suara Alby.


[Apa yang kau lakukan!]


Alby meraih ponselnya dari tangan Silvy.


[Assalamualaikum neng?]


Alby menyalami ku. Ku lihat ia tampak segar dengan rambut basahnya.


Ya Allah, jadi benar mereka??? Astaghfirullah! Kenapa pikiran ku selalu tertuju ke arah sana! Loro ati iki....😭


[Walaikumsalam]

__ADS_1


Kulihat alby menjauh dari tempat tidur mereka.


[Mau ke mana neng sayang? Udah rapi?]


Ya, ini suamiku yang seperti biasa. Ramah dan perhatian. Tapi....aahh!!!


[Aku mau ke pasar. Mulai besok aku menerima pesanan katering]


[Jangan capek-capek neng. Kasian calon bayi kita nanti. Aa akan transfer nanti siang. Kamu ngga usah susah-susah cari tambahan lagi neng.]


Aku menarik nafas perlahan.


[Terimakasih sebelumnya. Sebenarnya aku tak kekurangan uang A. Hanya saja aku memang ingin menyibukkan diri agar pikiran ku tak lagi fokus dengan sakit hatiku]


[neng...]


[Sepertinya Aa juga sudah menikmati peran sebagai suami beristri dua ya?]


Alby menggeleng pelan.


[Sayang, dengerin Aa.]


[Ngga ada yang perlu Aa jelaskan. Apa yang Bia lihat sudah menjelaskan semuanya]


[Neng...]


[Aku mau jalan. Udah keburu siang.]


[Neng, kamu lagi hamil. Usahakan jangan bepergian pakai motor Neng. Aa ngga mau neng kenapa-kenapa]


[Lalu, aku harus mengandalkan siapa? Aku bisa melakukan banyak hal sendirian. Aku mampu!]


[Cukup A! Cukup!]


Entah kenapa air mataku tiba-tiba lolos begitu saja.


[Sayang, maafin Aa]


[Assalamualaikum.]


Aku langsung mematikan video call ku. Bayangan mereka yang ber****ta membuat ku semakin sakit hati. Ku tekan dadaku yang terasa begitu nyeri. Sakit...sakit luar biasa. Aku mendongak menatap langit-langit kamarku.


Ku tarik nafas ku pelan-pelan. Meski tak meredakan rasa sakit ku, setidaknya aku bisa lebih tenang. Aku pun bersiap untuk pergi ke pasar.


Di tempat lain, Alby mendatangi istrinya yang masih bersantai di ranjang mereka.


"Udah kangen-kangenannya sama istri tua mu?", ledek Silvy.


Alby menatap emosi pada istri mudanya itu.


"Kenapa kamu lancang sekali mengangkat ponsel ku?", tanya Alby pelan tapi dengan nada yang menekan.


"Uuuh...takut...! Kenapa kamu begitu menyeramkan hubby?? Bicara sama Bia saja kamu lemah lembut, tapi kenapa bicara padaku seperti itu?", Silvy pura-pura takut dan memasang wajah sok imut nya. Meski pada dasar nya ia memang imut.


Alby menyugar rambutnya ke belakang.


"Tolong, lain kali jangan pernah sentuh ponselku", kata Alby datar dan melunak.

__ADS_1


"Oke! No problem."


Alby pun berjalan menuju ke lemarinya untuk mengambil kemejanya. Dia harus bersiap ke kantor. Tapi sebelumnya, ia harus ke ATM atau minimal ke minimarket agar bisa mentransfer Bia.


Saat Alby sedang rapi memakai kemejanya, tiba-tiba Silvy melingkarkan tangannya ke pinggang lelaki tampan itu.


Alby berusaha melepas pelukan Silvy tapi bukannya lepas justru semakin erat.


"Sayang, hari ini aku ngga ada kelas. Boleh ikut ke kantor kan?", tanya Silvy sambil sesekali mengecup punggung suaminya yang sudah tertutup pakaian.


"Terserah!", sahut Alby datar.


"Kok gitu sih jawabannya sayang?", tanya Silvy sambil mencium tengkuk Alby. Sudah pasti Silvy meninggalkan jejak di sana. Seketika Alby pun terkesiap.


"Kamu apa-apaan sih?", Alby sedikit membentak , memaksa Silvy melepaskan jeratannya dari punggung Alby.


Lalu Alby berbalik dan wajah mereka saling berhadapan. Tapi Silvy mengalungkan tangannya ke leher Alby.


"Jangan galak-galak kenapa sih sayang?", kata Silvy manja. Alby menarik nafas dan pandangannya beralih ke arah lain.


Cup....


Silvy sedikit berjinjit untuk mencuri ciuman di bibir suaminya. Alby tak merespon tingkah Silvy yang baru saja mencuri ciumannya.


"Aku mandi dulu ya hubby. Tungguin. Kita ke kantor sama-sama. Okay?", Silvy pun berjalan tertatih menuju ke kamar mandinya.


Alby terduduk di ranjangnya. Ia meraih ponsel yang ada di sampingnya. Lalu meneken nomor salah satu kontak di ponselnya.


[Sha, sibuk ngga?]


[Ngga mas?Ini udah di taksi lagi otw kantor. Ada yang bisa aku bantu?]


[Eum...maaf kalo merepotkan. Bisa minta tolong transfer ke rekening istriku? Maksud ku, Bia? Tadinya aku mau mampir ke ATM, tapi ternyata Silvy mau ikut ke kantor.]


[Eum... gitu, ya udah mana nomor rekening nya dan mau transfer berapa?]


[Satu juta ada kan Sha? Nanti aku ganti uang cash di kantor]


[Siap bos. Oke, kirim saja nomor rekening nya.]


[Oke Sha. Makasih sebelumnya]


[Sama-sama]


Setelah itu, aku pun mengirim nomor rekening Bia. Beberapa menit berlalu, Marsha mengirimkan bukti transfer nya pada Alby.


[Sudah saya transfer mas.]


Begitu chat dari Marsha. Dia menggunakan aplikasi D*** ternyata.


Mungkin aku juga harus menggunakan aplikasi itu atau M banking seperti Bia.


[makasih Sha]


Marsha hanya membalas dengan emoticon jempol dan smile.


[Neng, Aa udah transfer.]

__ADS_1


Alby langsung mengirimkan bukti transfer itu pada istrinya. Sayangnya, Bia sedang fokus dengan roda duanya.


__ADS_2