
Tiga mobil berderet-deret beriringan. Pak Rio dan rekannya mengawal di depan mobil yang di tumpangi oleh Galang, Seto dan Anika.
Sedang Febri, Dimas dan Sakti berada di mobil paling belakang.
Dimas yang kali ini menyetir mobilnya. Sedang Sakit duduk di bangku penumpang.
"Kok deg-degan ya!", kata Sakti pelan tapi terdengar oleh kedua sahabat.
"Namanya masih hidup ya deg-degan!", sahut Febri.
"Bukan gitu maksudnya Febri! Gue tremor, nih liat!", pungkas Sakti lagi.
"Tenang aja sih ntar juga diterima. Masa iya udah sampai sana Sabrina bakal nolak Lo!"
Dimas menelan ludahnya kasar. Omongan Febri mengingatkan pada kejadian setahun yang lalu. Dimana saat Dimas melamar Sabrina justru Sabrina memutuskan hubungan mereka. Menyakitkan bukan?
"Iya mas Sakti, yakin aja! Bismillah! Insyaallah semua lancar!", kata Dimas.
Febri paham dengan ucapan sahabatnya itu. Mulut berkata demikian tapi hati siapa yang tahu?
"Makasih Dim, tapi ...Lo beneran ikhlas kan kalo gua sama Bina?", tanya Sakti.
"Hehehe ya ikhlas lah mas. Mungkin memang benar, saya cuma jaga jodohnya mas sakti hahaha!", sahut Dimas dengan tawa lebarnya.
Febri pun turut tertawa seperti Dimas. Tapi dia tahu jika Dimas hanya sedang menutupi perasaan kecewanya pada Sabrina.
"Tapi lu belum pernah ngapa-ngapain calon istri gue kan? Kakak ya yang di sebelah lo udah mendaki gunung melewati lembah?", tanya Sakti pada Dimas sambil melirik Febri yang saat ini sedikit memanyunkan bibirnya.
Dimas tertawa kecil.
"Ngga sampai segitunya kali mas Sakti! Kita mah normal-normal aja. Umumnya pacaran, ngga aneh-aneh kaya Febri!"
"Gue mulu yang roasting! Mentang-mentang gua yang paling pro diantara kalian!", celetuk Febri. Dia tak marah saat sahabat-sahabatnya suka meledek seperti itu.
Sakti dan Dimas tertawa. Setidaknya, Sakti sudah tak terlalu deg-degan.
Ketiga mobil itu berhenti di sebuah gang. Gang yang hanya bisa di lalu satu mobil, tak bisa dua arah.
"Parkir nya di mana ini?", tanya Sakti.
"Dilapangan tenis saja, nanti minta ijin sama orang yang di sana. Kalo parkir di pinggir jalan gini, takut ada mobil yang mau lewat", kata Dimas.
"Hafal benar, udah sering ke sini ya!", ledek Febri pada Dimas.
__ADS_1
Dimas hanya memutar bola matanya malas. Tak mau ambil pusing, ia pun memarkirkan mobilnya. Diikuti oleh mobil Seto dan pak Rio.
Delapan orang itu turun dan berjalan menuju ke rumah Sabrina yang ada di dalam gang. Cukup lumayan mereka berjalan kaki. Sampai akhirnya mereka berhenti di halaman rumah yang kecil, bahkan sepertinya mereka mengontrak bukan hak milik.
"Assalamualaikum!", Galang dan yang lain memberikan salam saat berada di halaman rumah itu.
"Walaikumsalam!", dari dalam mereka di sambut oleh seorang laki-laki berbaju batik dan seorang perempuan yang memakai pakaian serasi.
"Pak jenderal Galang? Masyaallah, suatu kehormatan pak Galang dan keluarga berkenan mengunjunginya gubug kami!", ujar pria itu yang ternyata masih kerabat jauh ibunya Sabrina dan sekaligus menjabat jadi ketua RT di sini.
Galang mengulas senyum.
"Jangan berlebihan pak, saya jadi ngga enak nih!", Galang menimpali.
"Kalau begitu, silahkan masuk pak Galang, mas Sakti dan keluarga. Maaf, rumah ini memang kecil."
"Tidak apa pak!", Galang dan yang lain pun masuk ke dalam rumah itu. Tak banyak orang di sana. Benar kata pak RT, rumah itu kecil dan tak menampung mereka semua.
Dimas meminta ijin untuk berada di luar saja ketika acara lamaran itu berlangsung di susul oleh Seto. Sedang Febri, pak Rio dan rekannya memilih duduk di samping atasnya dan keluarga nya ya itu.
Acara lamaran pun sukses, keluarga Sabrina menyambut baik lamaran tersebut dan... pernikahan itu akan di laksanakan dua minggu lagi. Gercep ya Sakti????
Sedang Dimas, duduk di pinggiran gang. Semacam poskamling yang beralaskan keramik putih.
"Heum? Emang gue kenapa?", tanya Dimas balik sambil menyalakan rokoknya.
"Gue tahu, Lo pasti... sedih!"
"Sok tahu!", sahut Dimas sambil membuang asap rokoknya dari hidung.
"Lo putus sama Sabrina waktu Lo ngelamar dia kan? ya... walaupun lamarannya belum resmi kaya yang sakti lakukan ini!"
Dimas menunduk, menyanggah kedua tangannya di lutut.
"Gue udah berusaha untuk melupakan nya To. Tapi ngga tahu kenapa dia harus di hadirkan lagi dalam hidup gue. Bahkan nantinya gue bakal berinteraksi sama dia lagi."
Seto mendengarkan curhatan sahabatnya. Meski terkenal dengan selengekan nya, nyatanya kehidupan percintaan mereka tak semulus karir mereka.
"Gue...udah ikhlas sama semua ini To. Cuma gue ngga bisa lupain aja ucapan Bina yang mengatakan dirinya tak sepadan sama gue. Tapi sekarang justru dia mau nikah sama anak atasan gue. Itu aja sih To. Itu aja!", kata Dimas lagi.
Tanpa mereka berdua ketahui, Anika ternyata berdiri tak jauh dari Dimas dan Seto.
Seto menepuk bahu Dimas.
__ADS_1
"Mungkin dia punya alasan lain Dim! Dan Lo ga bisa maksa dia buat jelasin apa alasan itu karena sekarang...dia juga calon 'majikan' kita. Udah ada Anika. Lo sayang kan sama Anika? Bukan perasaan antara adik dan kakak, melainkan perasaan laki-laki terhadap perempuan?", tanya Seto yang mewakili pertanyaan Anika juga.
"Sayang lah To, buat gue sekarang cuma Anika. Gue tenang kalo liat dia tertawa lebar, bertingkah manja sama gue. Gue merasa di butuhkan! Gue cinta sama Anika, To. Tapi...ya balik lagi, gue udah pengen serius tapi Lo tahu sendiri Anika masih kuliah."
"Kali aja Lo ngajak dia nikah, dia nya oke. Udah pernah ngajak belom?", tanya Seto.
"Ngga berani gue. Gue takut di tolak lagi. Biar Anika minta sendiri ke gue."
"Dih? Mana ada begitu!", celetuk Seto. Anika mendengarkan obrolan itu pun terdiam. Mungkin kah ia menyusul jejak kakaknya???
.
.
Aku berada dikamarku. Sudah jam sembilan malam. Alby masih mencoba menghubungi ku beberapa kali tapi tak ku gubris.
Dan saat aku akan menutup mataku, ada pesan yang masuk dari Febri.
Febri mengirimkan foto acara lamaran itu. Sakti dan Sabrina tampak serasi. Aku turut bahagia melihat Sakti yang akhirnya bisa menemukan sosok yang akan mendampingi nya kelak. Bukan seperti dirinya yang tak pantas dengan Sakti.
Terlihat aku sudah membaca pesan Febri, cowok ganteng itu langsung menghubungi ku. Aku pun mengangkat panggilannya.
[Assalamualaikum]
[Walaikumsalam, belum tidur kan nduk?]
[Udah mimpi sampe Belanda kok! Ini lagi jawab telpon kamu]
Febri terkekeh di seberang sana mendengar Bia menjawab ketus.
[Ya maaf kalo udah ganggu]
[aheum]
[Tadi kenapa ngga di angkat telponku?]
[Sibuk]
[Di warung?]
[Heum]
[syukurlah kalo cuma sibuk di warung. Soalnya perasaan mas ngga enak tadi tuh. Takut kamu kenapa-kenapa! Tapi tahu kamu sehat wal Afiat seperti ini, mas tenang. Seneng!]
__ADS_1
Apa Febri bisa merasakan saat aku sedang tak baik-baik saja? Kenapa setiap aku mengalami hal yang 'menyesakkan' dada, Febri pasti seperti itu???