
"Maaf yang mulia, klien saya tidak ingin ada sidang mediasi. Dan setelah ini, klien saya menyerahkan semuanya terhadap saya. Dan soal harta Gono gini akan segera kamu urus!", kata Hotma selaku pengacara Alby.
Aku dan Alby yang duduk bersebelahan tak lagi saling bertegur sapa. Semua di wakili oleh pengacara kami masing-masing.
Sidang pun usai, kami keluar bergantian dari ruangan itu.
"Lek, bia ke kamar mandi dulu!", kataku berpamitan pada tiga laki-laki setengah baya itu.
Aku menarik nafas ku. Meski diawal aku merasa berat, tapi sekarang aku jauh lebih lega. Lega dalam artian yang.... mungkin beban ku sedikit berkurang.
Sesampainya di kamar mandi, aku hanya mencuci mukaku. Lalu membuang masker yang sebenarnya sudah tak nyaman ku pakai sejak tadi.
Saat kelua dari kamar mandi, ternyata Alby juga sama-sama berada di ambang pintu seperti ku.
Suasana mendadak canggung. Sepi! Tak ada yang melintas barang seorang pun. Mata kami saling beradu pandang. Aku yang dari pertama kali bertemu Alby tak melepaskan masker ku, kini sudah terbuka.
Alby melihat betapa buriknya wajahku saat ini. Mata sembab, hidung megar memerah karena terlalu banyak menangis. Wajah Alby pun sebenarnya tak berbeda jauh seperti ku. Masih ada jejak sisa air mata di wajah tampannya.
Aku memutuskan untuk mengabaikan pandangan itu. Tapi baru saja aku melangkahkan kakiku, Alby meraih pergelangan tangan ku.
"Meski neng sudah bukan istri Aa lagi, Aa masih akan tetap cinta sama neng. Sampai kapanpun!"
Bulir-bulir hangat kembali meluncur, tapi buru-buru aku hapus agar ia tak melihatnya.
"Ada yang lebih berhak menerima cinta kamu....Alby! Dan itu....bukan aku!", kataku sambil melepas jeratan tangannya. Bukan terlepas tapi justru Alby menarik ku hingga menghempaskan ku dinding. Dia memepet ku bahkan nyaris tubuh kami berhimpitan.
Aku mendengar nafasnya memburu, matanya berair dan andai saja ia berkedip sudah kupastikan dia akan menangis seperti ku.
"Katakan sekali lagi neng memanggil ku apa?", tanya nya tepat di depan bibirku. Aku menarik nafas ku.
"Alby!", jawabku singkat. Alby memalingkan ke arah lain.
"Katakan kalau neng sudah ngga cinta sama Aa! Katakan kalo neng sudah tak memiliki rasa apa pun sama Aa!", katanya pelan masih di depan wajah ku. Meski pelan tapi tiap kalimat nya mengandung tekanan.
"Kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi Alby. Jadi, tolong lepaskan aku! Tidak pantas laki-laki yang baru menalak seorang perempuan berposisi seperti ini!",kataku sambil membalas tatapannya.
Alby mengedipkan matanya, dan ya...air mata lelakiku itu meluncur begitu saja.
"Sekarang Aa lepasin neng. Bebaskan neng! Tapi suatu saat nanti, Aa harap kesempatan itu kembali untuk Aa bersama neng lagi! Kalo neng pikir cuma neng yang merasa paling tersakiti, silahkan! Asal neng tahu, Aa juga sama tersiksanya!"
Alby menghapus air matanya.
"Aa memang lemah sebagai seorang suami. Aa cengeng menjadi seorang laki-laki! Tapi yang perlu neng tahu, cuma neng satu-satunya yang bisa membuat Aa seperti ini!"
Usia mengatakan itu, Alby melepaskan ku. Tapi sebelum ia beranjak menjauh, ia menyempatkan untuk mengecup keningku. Lagi!
Setelahnya, ia benar-benar menjauh dari jangkauan ku. Dengan langkah gontai aku menghampiri lek Sarman dan yang lain. Dari kejauhan aku melihat Alby memasuki mobil bersama pengacaranya.
"Kita pulang nduk!", ajak lek Sarman merangkul bahuku. Aku pun mengiyakan dengan anggukan kan.
Mobil kami perlahan keluar dari area parkir instansi pemerintah itu. Lek Sarman tak mengajak ku bicara apa pun. Mungkin dia tahu, aku butuh untuk menenangkan diriku.
"Buka jendela ngga apa-apa kan pak Kalingga?", tanyaku.
"Boleh, silahkan!", ujar pak Kalingga yang mengemudikan mobilnya di dampingi bapak Anton.
Mobil kami berhenti di traffic light. Tanpa sengaja, mobil yang ku kendarai bersebelahan dengan mobil yang Alby tumpangi juga. Dan kebetulan juga yang kebetulan, kaca mobil kami sama-sama terbuka.
Aku duduk di bangku penumpang sebelah kiri dan Alby di bangku sebelah kanan. Alhasil, meski kami berdua berada di mobil yang berbeda, kami seolah bersebelahan.
Mata kami kembali saling bertemu. Untuk beberapa detik, pandangan ku terpaku pada sosok yang sampai detik ini masih ku cintai. Tapi ternyata Alby yang memutuskan pandangan kami. Ia lebih dulu menutup kaca mobilnya. Mungkin dia kecewa atas keputusan ku!
__ADS_1
Ini yang terbaik untuk kita A! Batin ku.
Mobil kami pun kembali melaju. Di persimpangan, mobil kami terpisah. Mobil ku ke arah kiri, mobil Alby ke arah kanan.
Seperti halnya jalur yang sedang kita tempuh ini, kita beda haluan. Aku mau begini, kamu mau begitu! Dan di sini lah kita berpisah. Tujuan kita sudah tak lagi sama.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar. Lek Dar juga tak banyak bertanya, membiarkan aku masuk ke dalam kamar ku.
Sambil berbaring, aku memeriksa ponsel ku yang sama sekali tak tersentuh sejak aku berangkat ke PA tadi pagi.
Serentetan misscalled dan pesan dari Febri memenuhi aplikasi hijauku. Dari pesan teks sampai pesan suara.
Terdengar betapa ia mengkhawatirkan aku. Selalu dan selalu, dia bilang perasaan nya tak enak setiap aku sedang seperti ini? Dia merasakan jika aku sedang tak baik-baik saja? Kenapa dia bisa seperti itu. Bingung mau menjawab apa, aku hanya membalas chat nya.
[Maaf mas, aku baru pulang. Tadi sidang perdana gugatan ku pada Alby]
Hanya itu yang ku kirim kan padanya. Sayangnya, chat singkat ku itu justru membuat ia menghubungi ku.
[Assalamualaikum Nduk!?]
.
.
"Non, pulang yuk? Udah siang banget ini!", ajak Mila pada Silvy yang sejak menjelang siang minta di temani berjalan-jalan di taman.
"Bik...!"
"Ya non?"
"Selama ini Silvy jahat sama bibik!"
"Bibik udah maafin non silvy kok."
"Kesalahan yang Silvy lakukan banyak Bik. Apa Allah akan mengampuni dosa-dosa Silvy?"
"Insyaallah non, selama non bertaubat dengan sungguh-sungguh! Insyaallah Allah akan selalu membuka pintu taubat untuk umat-umat Nya."
Silvy kembali terdiam.
"Apa sebelum Silvy pergi, Bia mau maafin aku ya Bik? Bagaimana sidang mereka ya bik? Apa Bia mau mempertahankan pernikahan mereka? Apa ngga bisa ya Bia bertahan sedikit lagi, toh aku akan segera pergi!", kata Silvy menunduk.
"Astaghfirullah! Ya Allah non, jangan bicara seperti itu."
Mila memeluk tubuh Silvy.
"Pulang ya Non!", Mila mengajak Silvy pulang. Ia mendorong kursi roda silvy.
.
.
.
"Lo tuh kenapa sih? Pulang dari kantor kok uring-uringan terus Feb?", tanya Dimas.
"Bia ngga bisa di hubungi dari pagi Dim. Ini udah lewat tengah hari. Ngga biasanya kaya gini? Bikin gue khawatir."
"Kebiasaan deh! Pikir positif aja kenapa sih. Insyaallah Bia ngga kenapa-kenapa. Toh di rumah dia ngga sendirian. Kecuali kalo kaya kemarin, pas masih di kampung Alby. Dia sendirian di sana, wajar kamu cemas. Sekarang situasi nya sudah berbeda."
Febri nampak menghela nafas. Ia memeriksa ponselnya.
__ADS_1
Ting! Sebuah notifikasi yang ia tunggu dari tadi.
[Maaf mas aku baru pulang. Tadi sidang perdana gugatan ku pada Alby]
Febri langsung bangkit dari bangkunya. Dimas menatap heran pada sahabatnya itu.
[Assalamualaikum Nduk]
[Walaikumsalam]
[Kamu....ngga apa-apa kan nduk? Perasaan mas ngga enak terus dari pagi nduk.]
[Aku ngga apa-apa mas. Jangan terlalu mencemaskan aku]
[Mas tahu, ini pasti berat buat kamu. Tapi mas yakin, kamu bisa melalui nya nduk. Kamu kuat. Dan ini...yang terbaik buat kalian]
'Maaf Bia, kalau mas jahat. Mas bahagia dengan perpisahan mu dengan Alby!'
[Insyaallah kami sudah ikhlas kok]
[Kamu... sudah bicara dengan Alby tadi?]
[Susah mas]
Mengingat kalimat talak yang Alby katakan tadi membuat ku kembali terisak. Masih saja terdengar menyakitkan!
[Nduk, stop! Jangan nangis lagi! Mas ngga mau denger apalagi liat kamu nangis lagi. Mas tutup ya? Assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
Febri kembali mendudukkan diri di bangkunya.
"Bia wes pegatan Feb?", tanya Dimas.
(Bia udah cerai Feb?)
Febri mengangguk.
"Wah, lampu kuning nih!", celetuk Dimas. Sontak langsung di gibeng oleh Febri.
"Sakit *ego!", kata Dimas.
"Gue ngga sejahat itu Dim. Gue juga ngga bisa kali dengerin Bia nangis kaya tadi. Pasti sakit banget. Kalo gue ada di sana, udah gue puk-puk tuh punggung nya!", ujar Febri dengan masih memasang wajah sedihnya.
"Anjiiirrr....kalo Bia Lo yang puk-puk itu namanya Lo cari kesempatan!", kata Dimas kesal.
"Tapi kan minimal gue bisa nenangin Bia, Dim!", kata Febri.
"Karepmu lah Feb. Cah gemblung!", sahut Dimas berlalu meninggalkan Febri.
(Terserah kamu lah Feb. Anak gila)
Febri menghela nafasnya. Di depan Dimas, dia bisa bertingkah konyol seperti itu. Tapi di saat sendiri seperti ini, hanya dia sendiri yang tahu perasaannya.
******
Huffft.... semoga tak mengecewakan kalian 🙏🙏🙏 maaf kalo banyak typo yakkk
Sibuk jadi kang ojek bocil kalo ngga hari libur soalnya ✌️✌️
Hatur nuhun, lanjut besok lagi 😉
__ADS_1