
Perawat sudah mengganti pakaian Mak. Saat ini aku menyuapi Mak sarapan paginya.
"Alby can kadieu?", tanya Mak.
"Belum Mak!", jawabku singkat. Tapi tanganku masih telaten menyuapinya.
"Neng udah sarapan? Sarapan dulu sana!"
"Nanti Bia sarapan Mak, sekalian keluar mau beli dalaman. Bia mau mandi.”
Mak pun mengangguk."Mak ngga apa kan Bia tinggal sebentar?"
"Iya neng."
Aku pun menghapus sisa makanan Mak yang belepotan di sekitar bibir Mak. Tak lupa ku berikan obat agar Mak bisa kembali beristirahat.
"Mak, Bia keluar dulu ya!", pamitku. Mak pun mengangguk pelan.
Aku memutuskan untuk membeli pakaian sekalian di supermarket yang tak jauh dari rumah sakit. Ya, aku pernah bekerja dan tinggal di sekitar sini. Tempat di mana awal-awal aku bertemu dengan Alby dan juga sakti.
Aku langsung masuk ke store pakaian dalam. Ku beli langsung beberapa potong. Setelah itu aku pun membeli pakaian yang simpel. Gamis rumahan seperti biasa.
Belanja kali ini murni memakai uang tabungan ku yang tiap bulan di transfer oleh lek Sarman. Ini laba warung makan kami.
Usai membayar belanjaanku, aku menuju ke kios laundry. Ya, aku ingin secepatnya ganti pakaian. Dry cleaning yang ku pilih. Karena setelah itu aku bisa langsung memakainya.
"Ini mbak pakaiannya!"
Aku menerima pakaian yang sudah siap pakai.
"Makasih mbak."
"Eh, kayanya mba baru di sini ya?", tanya petugas laundry.
"Iya mba, saya lagi nunggu ibu saya di rumah sakit. Kebetulan saya baru datang dari kampung. Saya ngga bawa baju ganti."
"Oh, kalo mba mau sekalian mandi di sini aja. Ngga apa-apa kok mbak. Di sini cewe semua kok."
"Terima kasih, saya ngga mau ngerepotin."
"Ngga ngerepotin kok mbak. Kayanya, mba nya juga lagi sakit ya? Mukanya pucat banget?"
"Eum...ngga kok saya sehat. Cuma mungkin semalam kurang tidur, jagain ibu saya. Dan mungkin bawaan hamil muda kali mba!"
"Oh...mba nya lagi hamil? Atuh sama dong kaya saya!", kaya si mba laundry.
"Oh ya?"
"Iya mba. Udah mba mandi aja dulu, kamar mandi nya di sebelah kanan."
Meski ragu aku pun akhirnya menyetujui ide mba laundry. Aku mandi patas saja, toh ngga enak. Ini bukan kamar mandi sendiri.
Aku pun keluar dengan badan yang jauh lebih segar.
"Makasih lho mba!", kataku.
"Sama-sama. Eh... ngomong-ngomong kita belum kenalan lho!"
"Eh, iya sampai lupa. Saya Shabia."
"Oh, saya Nita."
Kami kembali mengobrol hingga tiba-tiba di kejutkan dengan kehadiran seseorang.
"Mba Nina, dress ku udah beres kan?", teriak seorang gadis. Dan aku mengenalnya!
"Ika?", panggil ku. Anika pun menoleh padaku.
"Mba Bia? Kok mba Bia di sini? Bukannya kemaren masih di kampung?", cerocos Anika yang langsung duduk di sebelah ku.
"Heum, mba jagain ibu nya si Aa."
Anika mengangguk. Nita menyerahkan dress yang Anika maksud.
"Kalian saling kenal?", tanya Nita.
"Iya mba Nita. Malah kemarin Ika sempet nginep di rumah mba Bia waktu ikut ayah ke kota G. Eh...ngga tahunya mba Bia udah di sini aja."
Aku tersenyum tipis.
"Kok bisa saling kenal? Kayanya dari segi usia jauh deh....!"
"Mba Nita, ini lho yang namanya mba Bia. Yang selalu menjadi topik pembicaraan setiap keluarga kita kumpul."
__ADS_1
Aku menautkan kedua alisku. Begitu juga dengan Nita.
"Maksud mu, ini...Bia yang udah nolak Sakti?", tanya Bia.
Aku melotot mendengar ucapan mba Nita. Gimana ceritanya begini sih?
"Heum!", sahut Anika.
"oooh... pantas saja. Kamu cantik Bia. Sakti juga ganteng kok, tapi kok bisa ya ada yang nolak sakti. Padahal dari dulu banyak yang ngejar-ngejar sakti."
Apa aku boleh geer??? Oh, tentu tidak!
"Mba Nita ini sepupu ku mba!", jelas Anika.
"Sepupu? Seperti mba Kirana?", tanyaku.
"Iya, mba kenal mba Rana juga?", tanya Nita.
"Kebetulan saat itu saya periksa kandungan sama mba Rana."
Anika dan Nita membulatkan mulut nya.
"Maaf, kalo kepo. Memang apa yang mas sakti ceritakan pada keluarga kalian? Kenapa sepertinya saya sering jadi bahan obrolan kalian?"
Anika dan Nita berpandangan. Lalu keduanya tertawa.
"Mas sakti itu di kenal dingin, jutek,judes. Tapi kalo udah sama keluarga besar kami dia itulah humble mba. Mas sakti selalu menceritakan tentang mba Bia yang selalu menolak cintanya mas sakti. Katanya mba Bia minder kalo disanding sama mas Sakti. Jadi mba ngga mau kasih harapan sama mas ku."
Aku menggelengkan.
"Kami hanya berteman dari dulu. Tak pernah ada apa-apa."
"Iya, karena mas sakti selalu di tolak sama mba Bia heheh."
"Udah lah Ika, jangan bahas seperti itu. Saya sudah bersuami sekarang. Nanti mba di judge sok cantik lah apa lah gegara pernah nolak mas sakti. Tolong jangan pernah bahas seperti ini lagi."
Aku mengusap punggung tangan anika.
"Maaf ya mba, bukan maksud Ika...."
"Iya, ya udah lupain aja. Eum...kalo gitu mba permisi mau balik ke rumah sakit dulu ya. Kasian ibu mertua ku sendirian."
"Iya mba. Hati-hati!", kata Ika.
"Sama-sama mba Bia."
Nita pun menunjukkan senyum manisnya.
.
.
Aku masuk ke dalam ruangan Mak. Sudah ada Alby di sana.
"Neng, dari mana?", tanya nya menghampiri ku.
"Beli pakaian A. Aku ngga bawa baju ganti!", ku letakkan paperbag ku.
"Sudah sarapan?", tanya nya. Ah, iya! Aku lupa sarapan karena asik ngobrol. Aku menggeleng.
"Ini udah jam sebelas neng. Kenapa belum sarapan? Kasian si utun neng!"
"Iya, lupa!",sahutku. Alby mengambil makanan di atas nakas.
"Teh Mila bawain nasi sama ayam bacem, makan ya?", kata Alby menyodorkan nasi padaku.
Aku pun menerimanya. Aku mulai memakan sarapan sekaligus makan siang.
"Neng, neng juga harus perhatikan kandungan neng. Mungkin neng ngga lapar, tapi si utun juga butuh nutrisi neng."
Ya, perkataan Alby benar. Tapi tadi aku murni lupa untuk sarapan.
Aku hanya mengangguk sambil terus mengunyah makanan ku.
"Sayang, aa balik ke kantor dulu ya. Nanti sore kita ke kosan Marsha. Katanya di sebelah kamar Marsha ada yang kosong."
Aku menghentikan kunyahan ku. Lalu meminum air putih.
"Untuk apa aku kost? Toh nantinya kamu hanya datang sesekali padaku."
Aku tersenyum miris.
"Bukan begitu neng!", alby duduk di samping ku. Titin hanya memperhatikan interaksi sepasang suami istri itu dari brankar.
__ADS_1
"Lalu apa?"
"Setidaknya, aa bisa lebih sering bertemu dengan mu sayang. Aa tidak perlu bolak-balik ke kampung karena ada kamu di sini."
"Tapi tetep saja kan aa tinggal di sana? Percuma aku di sini. Kesannya kok aku yang jadi istri simpanan."
Biarlah alby menganggap ku kekanak-kanakan. Tapi untuk kali ini aku tak bisa menuruti keinginan nya.
Alby menghela nafasnya.
"Apa ini artinya neng pengen di kampung lagi?", tanya Alby dengan nada kecewanya.
"Buat ku ngga ada bedanya A."
Alby mengusap pelipis nya.
"Aku masih mampu sewa hotel kok. Ngga usah cemas, itu uang pribadi ku."
Alby menoleh cepat ke arahku.
"Maksud neng apa bicara seperti itu?"
"Aku ngga bermaksud menghina mu. Hanya saja, aku memilih untuk 'menyamankan' diriku sendiri."
Alby diam dengan pemikirannya sendiri. Ditengah keheningan ruangan ini, Silvy dan Hartama masuk. Aku dan Alby langsung menatap sepasang bapak dan anak terlak**t yang pernah ku temui.
"Kamu belum balik ke kantor By?", Silvy langsung mendudukan dirinya disamping Alby. Tak ada sahutan di bibir Alby. Tak lama kemudian, Hartama pun duduk di seberang ku.
"Kebetulan kamu di sini!", ucap Hartama padaku. Apa yang mau dia sampai kan padaku kali ini?
"Anda ada perlu dengan saya?", tanyaku datar.
"Mungkin iya, mungkin saja tidak!", jawab Hartama sambil mengangkat salah satu kakinya.
Mataku ternoda melihat Silvy yang begitu posesif melingkarkan tangannya di lengan Alby. Cemburu??? Mungkin iya! Tapi sepertinya Alby juga menikmati peran itu. Pria munafik! Umpat ku dalam hati.
Astaghfirullah! Aku hanya menguatkan diriku sendiri, kalo bukan aku sendiri lalu aku harus mengandalkan siapa?
"Besok, saya akan menggelar resepsi pernikahan mereka!", Hartama menunjuk dengan dagunya.
Atensi ku langsung mengarah pada sosok suamiku yang diam tak bergeming. Tapi aku lihat, rahangnya mengeras.
Resepsi ya? Ah, iya! Aku hanya ingin tertawa. Pernikahan kami saja tak ada resepsi karena aku tak ingin memberatkan beban suami ku. Dan sekarang, apa alby masih mengunggulkan soal harga diri????
"Bukan urusan saya!", balas ku sesantai mungkin.
Alby langsung mendongak dan menatap ku. Untuk beberapa detik, netra kami saling bertemu.
Aku tidak mau terlihat cengeng di depan mereka.
"Tapi kamu harus datang ya mba! Karena kamu orang yang sangat 'penting'. Ya, tamu istimewa lah istilahnya."
Alby melepaskan tangan Silvy dari lengannya.
"Ya, aku akan datang!", jawabku singkat.
Hartama tersenyum sinis padaku. Aku pun bangkit lalu menghampiri Mak.
"Maaf ya Mak. Mungkin Bia jahat. Tapi mulai detik ini, Bia sudah tidak bisa mengabdikan diri Bia untuk jadi menantu yang baik buat Mak."
Aku berbisik di sebelah telinga Mak. Mak sempat terkejut. Dia menggeleng lemah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bia pamit Mak. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Alby mencekal tanganku.
"Neng mau kemana?", tanya nya tanpa melepaskan tangannya dari pergelangan tangan ku.
"Ke tempat dimana aku diinginkan bukan di butuhkan saat ada yang menginginkan kehadiran ku saja!"
Aku melepaskan jeratan tangannya. Lalu kakiku melangkah hendak meraih gagang pintu.
"Ballroom hotel angkasa!", kata Hartama. Aku tetap keluar dari ruangan itu. Tapi beberapa detik berikutnya, Alby kembali meraih tangan ku.
"Aku akan menginap di hotel itu. Jadi besok tak perlu menunggu ku. Aku disana."
Aku melangkah kan kaki ku cepat-cepat. Berusaha menghalau rasa sesak di dadaku.
******
Sok atuhhhh ....😌😌😌😌😌Mak siap kok!
__ADS_1