Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 120


__ADS_3

Kaki ku sudah melangkah menjauh dari tempat aku dan Malvin berbicara tadi. Bohong jika aku tak peduli lagi pada Alby. Bagaimana pun dia masih suamiku dan aku sangat mencintainya. Terlepas Alby mencintai atau tidak pada istri keduanya itu, Silvy yang tidur dengan selain suaminya adalah kesalahan besar. Mungkin Alby tidak akan merasa terkhianati karena pernikahan mereka tanpa cinta. Tapi Silvy juga sudah jelas-jelas melakukan kesalahan besar itu. Dan kemungkinan, jika Alby tahu kelakuan istri mudanya, dia akan semakin keras kepala untuk melepaskan ku.


Tapi??? Apa bedanya aku dengan Silvy? Aku dekat dengan laki-laki yang jelas-jelas masih mengharapkan ku! Bedanya, aku tak melakukan seperti yang Silvy lakukan.


Apa aku juga disebut selingkuh???? Kepalaku semakin berdenyut memikirkan hal sejauh itu.


Ngga Bia, kamu hanya berteman dengan mereka semua. Tak ada niat untuk memberikan harapan pada mereka! Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri meski aku akui, kadang kebersamaan dengan mereka membuat ku merasa nyaman. Entah, nyaman dalam artian seperti apa.


.


.


Aku menghampiri Anika dkk di loby. Tampaknya mereka masih merusuh di rumah sakit ini.


"Aku kan bisa ninggalin mobil di sini! Kaya ngga tiap hari ke sini lagi aja!", protes Sakti. Itu yang ku dengar.


"Gue juga bisa kali nitip mobil di sini!".


Febri tak mau kalah.


Mereka berdua benar-benar seperti anak kecil yang sedang berebut sesuatu. Tak ada yang mau mengalah di antara mereka. Aku seperti tidak mengenal sosok ke duanya. Padahal.... biasanya mereka terkenal cool dan calm. Tapi lihatlah...saat ini dia pria tampan itu justru terlibat adu mulut hanya oleh masalah sepele.


"Ya udah, berarti tinggal ikut mobil nya kak Dimas aja. Apa susahnya sih?", celutuk Anika.


"Mereka itu mau balapan dek. Siapa yang anterin mba Bia. Tahu gitu , kakak sama kamu aja yang anterin ya dek!", Dimas mulai memanasi mereka berdua.


Mencegah kelanjutan omongan mereka yang tak penting, aku pun menengahi.


"Kalo masih mau debat kaya anak kecil, ya udah lanjut aja. Aku bisa naik taksi kok!", kataku.


"Ngga!", kata Sakti dan Febri kompak.


"Ya udah, kalo emang kalian mau ikut silahkan! Tao tolong jangan bikin keributan. Ngga malu apa di lihat sama orang-orang tuh?", tanyaku. Ya, di sana ada beberapa orang yang sedang memperhatikan dia pria tampan itu. Mata keduanya pun berkeliling ke segala arah. Hah! Muka mereka tampak memerah, malu mungkin! Febri dengan seragam loreng nya, Sakti dengan jas dokter nya.


"Sama aku aja mba!", Anika langsung menggandeng lengan ku lalu menuntun ku menuju parkiran. Dimas pun mengikuti ku dan Anika.


Febri dan sakti menyusul kami. Mereka berdua benar-benar meninggalkan mobilnya untuk ikut mengantar ku.


Lagi-lagi di tempat parkiran dua pria beda profesi saling berebut untuk masuk ke dalam mobil.


"Udah, Adek di belakang sama mas dan Bia. Biar Febri di depan nemenin Dimas." Tutur Sakti mencoba meloby adiknya.


"Eh, enak aja! Aku mau di belakang aja!", sahut Febri.


Mungkin keduanya lagi kesurupan jin bocah yang resek!


"Heleh! Yang lagi Ter-Bia-Bia. Eling woy....de'e masih duwe bojo! Heran aku tuh!", kata Dimas yang lama-kelamaan kesal dengan teman seprofesi nya dan anak atasannya itu.


Aku membuka pintu depan untuk Anika. Lalu aku memutar untuk duduk di belakang kemudi. Biarkan saja mereka ngoceh tidak jelas.


"Kok mba Bia duduk di balik kemudi sih?", tanya Anika heran.

__ADS_1


"Heum! Biar adil! Sampe kapan mau dengerin perdebatan ngga penting kaya gitu dek!" , jawab ku.


Aku mulai menyalakan mesin mobil. Dan suara mobil yang di starter mengalihkan atensi mereka bertiga.


Mereka baru sadar saat aku membuka kaca mobil.


"Masih mau di sini? Kalo masih, silahkan! Aku bisa balik sama Ika!", kataku.


Anika terperangah.


"Mba, mba mau setir mobil?", tanya Anika dengan wajah polosnya.


"Bia, aku aja yang nyetir. Kamu bisa duduk di belakang aja!", kata dimas.


"Bia, biar dimas aja yang bawa mobilnya. Kamu di belakang sama aku dan Febri deh!", kata Sakti.


Belum juga giliran Febri bicara, aku sudah bersuara lebih dulu.


"Aku mau balik sama Ika aja kalo gitu!", langsung ku tutup kaca mobil.


Ketiga pria itu berebut masuk ke kursi penumpang. Konyol! Mereka benar-benar konyol di mataku!


Kenapa aku seperti tak mengenal mereka berdua ya?????


Dimas di apit antara Sakti dan Febri. Anika masih terbengong-bengong melihat ke arahku.


Aku mulai menarik tuas dan menginjak rem.


Ya, aku memang bisa menyetir mobil. Bahkan sejak aku SMA karena aku sering membantu lek Dar dan lek Sarman berbelanja kebutuhan warung. Itu juga karena Febri yang mengajariku. Tapi, setelah aku ikut Alby aku tak pernah lagi mengendarai sendiri. Saat kontrol Mak ke rumah sakit dulu, aku lebih memilih menyewa mobil beserta supirnya. Akses dari kampung ke rumah sakit yang membuat ku agak takut jika nantinya akan membahayakan orang lain. Apalagi, jalan di kampung ku di apit jurang. Bahaya kan kalo yang tidak terlalu mahir di jalan yang medannya saja tak ku kuasai?


"Lebih ngga fit lagi dengerin kalian ribut terus."


Mobil yang ku kendarai sudah masuk ke jalan protokol. Anika masih membeku di tempatnya.


"Kamu punya sim Bi?", tanya sakti.


"Pernah punya. Tapi tak ku perpanjangan. Buat apa di perpanjang? Emang kemampuan orang yang tadinya punya sim akan menurun setelah lima tahun berikutnya???", kataku masih fokus dengan jalanan ibu kota.


"Eum.... sebenarnya aku udah lama banget ngga bawa mobil. Mungkin.... sekitar dua atau tiga tahun yang lalu lah pas habis nikah sama Alby."


"Hah!!!", mulut empat penumpang di mobil itulah terperangah.


Mereka mendadak pucat! Ingin rasanya aku tertawa lepas. Melihat wajah ketakutan mereka seperti hiburan yang tak lucu untukku. Lha??? Tak lucu? Lha kok ngguyu????


Aku menahan tawaku meski pada akhirnya tak bisa ku tahan hingga lepas begitu saja.


"Mba Bia, kamu ngga lagi ngeprank malaikat toh?", tanya Dimas. Cowok gagah itu tampak sekali meragukan kemampuan ku.


"Ngeprank kok malaikat toh mas?!", kataku masih fokus dengan kemudi ku. Mobil berhenti di lampu merah.


Aku melirik Febri dari spion. Apa yang dia pikirkan? Sedang bernostalgia kah????

__ADS_1


"Mba....!", kata Anika yang mendadak kalem.


"Apa?", tanyaku sambil menengok ke arah nya.


"Eh.... liat depan aja mba!", kata Anika. Aku pun mengangguk dan menurutinya.


"Mba serius, terakhir bawa mobil tiga tahun yang lalu? Emang ngga kagok gitu?", tanya Anika takut-takut.


"Heum! Gimana ya???", kataku sambil mengetuk lingkaran di tangan ku.


"Ngga Ika, mba kemarin pulang masih sempat kok bawa mobil di kampung."


Anika sedikit lega mendengar ucapan ku.


"Hati-hati ya mba!", kata Anika lagi. Sakti dan Dimas masih terdiam di belakang. Febri pun sepertinya iya, hanya saja terlihat sekali jika ia sedang memikirkan sesuatu.


"Mas Febri yang mengajariku."


Anika menengok ke belakang. Sakti dan Dimas pun menengok ke Febri. Sedangkan dia yang ditatap seperti itu justru salah tingkah sendiri.


"Kenapa liatin aku gitu?", tanya Febri yang duduk di sebelah kiri. Tak ada jawaban apapun dari Anika sakti dan Dimas.


Mobil sudah berhenti di depan gang tempat ku kos.


Kemarin aku sudah sempat mengambil uang sebelum aku ke rumah sakit untuk menjenguk alby. Tapi malah pada akhirnya aku juga terkapar jadi pasien di sana.


"Udah sampai aja mba! Alhamdulillah!", kata Anika mengucap syukur lalu dia pun turun seperti ku.


Ketiga penumpang ku pun keluar dari pintu belakang. Aku dan anika menghubungi pengurus untuk melunasi biaya kamar ku.


"Aku mau beli minum dulu, ada yang mau nitip?", tanya Dimas sebelum kami benar-benar berada di depan kamarku.


"Aku ikut kak!", kata Anika. Aku melotot ke anika. Bisa-bisanya Anika meninggalkan ku dengan dua pria tampan tapi aneh ini????


"Sekalian beli makan Dim!", Sakti menyerahkan uang warna pink tiga lembar pada Dimas.


"Beli makan apa?", tanya Dimas.


"Apa kek, yang penting bikin kenyang. Sekalian belanja ke supermarket buat beli sabun atau apa kek yang Bia butuhin!"


"Eeh???", tanyaku heran.


"Ngga usah, aku belanja sendiri ntar!", sahut ku cepat-cepat.


"Iya, beli makanan aja!", kata Febri. Akhirnya Anika dan Dimas pun pergi.


Febri dan Sakti duduk di bangku depan kamar. Aku sendiri masuk ke dalam kamar kost ku yang sebentar lagi ku huni.


Saat aku menebahi kasur ku, di depan kamar ku terdengar kehebohan. Dan aku hafal suara itu! Ngalamat mempermalukan ku ini mah!


*****

__ADS_1


Ringan-ringan dulu ya say....🤗🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2