
"Kok papa selalu ngijinin Alby nemuin Bia sih pa?", kata Silvy kesal karena sejak semalam dia tak bisa tidur tanpa Alby di sampingnya. Bahkan hak yang harus Silvy dapatkan dari Alby pun dengan cara memaksa. Silvy pun sadar, Alby tak sepenuh hati melakukan itu untuknya. Tapi dasar Silvy yang keras kepala. Asalkan sudah mendapatkan Alby, dia sedikit puas. Hanya saja, kenapa papa nya justru masih membebaskan Alby menemui istri pertamanya itu.
"Kenapa tidak? Bukankah kalian juga punya hak yang sama? Lagi pula, nantinya juga waktu mu sama Alby lebih banyak di banding Alby sama Bia."
"Tapi aku ngga suka Pa!", pekik Silvy.
"Sayang, dengerin papa. Kamu bisa setiap hari bertemu suami mu. Sedangkan Bia? Tidak pasti!"
"Pa, sebenarnya apa sih rencana papa? Kenapa papa ngga pernah melibatkan Silvy, tahu-tahu rencana papa udah beres."
"Silvy sayang, dengerin papa! Apapun akan papa lakukan buat kebahagiaan kamu nak!", kata Hartama sambil mengusap bahu putrinya itu.
"Oke...Silvy percaya sama papa! Tapi...bisa kan pa, bikin Alby ninggalin Bia selamanya? Aku pengen Alby cuma buat aku Pa."
Titin yang sedang berada di dapur terkejut mendengar ucapan putri nya itu. Dia tak habis pikir bagaimana cara Hartama mendidik putri tunggal mereka.
"Hahahha itu mudah sayang!", kata Hartama.
Titin menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Benarkah? Kapan papa akan melakukannya?", tanya Silvy antusias.
"Papa tidak akan melakukannya sayang. Tapi...Bia sendiri yang akan melepaskan diri dari Alby."
Titin yang menguping sungguh tak kuat mendengar obrolan 'gila' anak dan mantan suaminya itu.
"Apa mungkin pa? Sepertinya Bia terlalu tergila-gila sama Alby."
Silvy mencebikkan bibirnya.
"Hahaha papa akui Alby memang tampan Nak. Pantas saja kalian memperebutkan Alby. Tapi ...tolong dengarkan papa. Papa punya cara sendiri agar mereka berpisah tanpa sentuhan langsung dari papa."
"Yakin pa? Papa ngga lagi bohongin Silvy kan?", tanya Silvy ragu.
"Iya lah sayang. Percaya sama papa!"
"Oke! Silvy percaya sama papa."
Keduanya sedang menikmati sarapannya di meja makan.
"Bibik....bikinin jus jeruk buat aku!", teriak Silvy pada Mila. Sayangnya Mila sedang tidak ada di dapur. Dia sedang ke pasar di temani Sapto.
"Bibik!", teriak Silvy. Bukan Mila yang menghampiri Silvy, tapi Titin.
"Ini jus jeruknya nak!", kata Titin. Ia meletakkan gelas jusnya di depan Silvy.
"Aku nyuruh bibik, bukan kamu!", kata Silvy ketus. Dia benar-benar merasa sangat membenci ibu kandungnya yang tega menelantarkan dirinya sejak bayi.
"Ehem! Vy, jangan bentak-bentak ibumu seperti itu. Kalo kamu ngga anggap dia ibu kandung mu, minimal ya...anggap saja mertua mu nak!", kata Hartama sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
"Ciiih...apa peduliku pa. Aku harus memperlakukan dia sebagai ibu kandung ku? Jangan harap! Aku menganggap dia ibu mertua ku? Ngga sudi! Jelas-jelas dia lebih memilih Bia di bandingkan aku pa!", kata Silvy dengan kasar dan penuh emosi.
"Nak, maaf!", ujar Titin lirih.
Silvy melempar gelas jus yang ada di hadapannya hingga gelas itu terpecah berserakan di lantai.
Hal itu tentu saja mengejutkan Hartama terlebih Titin. Mila yang baru saja masuk ke dapur juga tak kalah terkejutnya.
"Silvy, ngga usah lempar barang kata gitu. Bahaya nak!", Hartama mengingatkan putrinya.
"Kok papa jadi bela dia sih?"
__ADS_1
"Bukan membela, tapi itu bahaya nak. Kalo nanti kamu ngga sengaja menginjaknya gimana?"
Silvy tak menanggapi ucapan papanya. Wajahnya malah melengos begitu saja. Kesal! Iya, dia begitu kesal karena baginya papa justru membela ibu kandungnya.
"Ingat ya! Bagiku, keberadaan kamu di sini tak lebih sebagai seorang pemba****! Jadi jangan harap aku akan memperlakukan mu seperti ibuku atau mertuaku!", kata Silvy lalu ia bangkit dari bangkunya menuju ke kamarnya di lantai atas.
Titin masih tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Putri nya menganggap dia seperti pemban** di rumah ini?
"Bagaimana Tin?", tanya Hartama pada mantan istrinya itu. Titin mendongakan kepalanya.
"Maksud kamu apa mas?", tanya Titin heran.
"Ckkk...ini baru awal Tin. Masih panjang kelanjutannya! Jadi, sudah benar kan apa yang ku lakukan saat ini? Menyiapkan jantung mu agar bisa mengikuti permainan ku."
"Mas, kalau kamu memang membenci ku kenapa harus melibatkan anak-anak ku mas? Lakukan apa pun yang kamu inginkan padaku! Jangan hancurkan kebahagiaan anak-anak ku!"
"Hahahaha Titin...Titin! Aku tahu apa yang membuat putriku bahagia! Kamu pikir, seberapa paham kamu memahami putrimu hah?"
Mata Hartama menatap nyalang ke arah Titin. Titin tak bisa lagi menahan air matanya.
"Kamu hanya orang asing yang kebetulan mengandung putriku!", kata Hartama berubah lirih. Titin masih tak bisa menahan air matanya.
"Yang Silvy katakan benar! Tidak ada yang gratis di dunia ini! Bekerja lah seperti Mila! Karena kami, hanya menganggap mu seperti Mila. Tak lebih!", kata Hartama sambil meninggalkan Titin di meja makan.
Kaki Titin luruh ke lantai. Mila menghampiri dirinya yang masih tersedu-sedu di lantai itu.
.
.
"Dek, tunggu di sini ya! Mas mau ke mereka dulu ya!", kata Sakti meninggalkan Anika dengan Febri.
Anika masih memandangi suami sahabatnya dengan perempuan yang kakaknya cintai selama ini.
"Alhamdulillah mas sakti!", kata Alby sambil menyalami tangan sakti.
"Oh iya Bi, sisa pembayaran berapa?", tanya Sakti.
"Dua ratus lima puluh lagi mas." Sakti pun mengulurkan uang itu padaku. Aku pun menerimanya.
"Alhamdulillah, makasih mas. Semoga berkah dan tidak mengecewakan!"
"Sama-sama Bi. Oh ya sebentar, aku panggilin ob dulu."
Sakit memanggil ob beberapa orang. Lalu mengangkutnya. Tak lupa ia menyisakan beberapa untuk dirinya dan juga yang lain.
"Mas Alby?", panggil Anika. Alby memalingkan wajahnya ke arah Anika.
"Ya?", sahut Alby datar. Lalu ia menggamit pinggangku.
"Eum...kenalin Bi, mas Alby. Ini Anika , adikku!", kata Silvy memperkenalkan Anika pada ku. Aku mengangguk dan tersenyum.
"Tunggu! Mas kenal sama mas Alby? Kok bisa?", tanya Anika penasaran.
"Ya, karena mas Alby suami Bia dek."
"Suami? Ngga!", Anika menggeleng.
"Saya memang suami Bia, Anika!", kata Alby.
"Kok mas Alby tega sih duain Silvy mas?", tanya Anika pada Silvy.
__ADS_1
Oh, aku paham. Gadis ini temanya Silvy!
"Dek, jaga ucapan mu!", kata Sakti mengingatkan adiknya.
"Apa sih mas? Benar kan, mas Alby udah duain Silvy? Kok dia tega sih mas sama sahabat aku?", kata Anika tidak terima.
"Kamu ngga tahu apapun dek, jadi jangan ngomong macam-macam!", kata sakti.
"Mas, aku tahu banget seperti apa sahabatku! Pasti dia bakal kecewa banget kalo tahu suaminya justru menjadikan dia istri kedua. Ngga mas. Sebagai teman, aku ngga terima Silvy di perlakukan seperti itu."
"Silvy tak sebaik yang kamu pikir Anika!", kata Alby.
"Hah?", Anika terperangah.
"Silvy tahu aku sudah beristri," kata Alby.
"Apa? Bukankah mas harusnya berterima kasih sama Silvy? Mas Alby yang cuma staf di kantor om Tama, bisa diterima oleh Silvy dan om tama? Kenapa mas Alby tega menusuk Silvy dari belakang. Dan kamu mbak, apa hanya karena ingin hidup mewah kamu menjual suami kamu?", kata Anika penuh emosi.
"Anika!", bentak Sakti yang tak enak karena ucapan Anika benar-benar keterlaluan.
Apa aku marah? Ya, aku pantas marah.
"Jaga bicara mu dek. Kamu ngga tahu apapun, dan jangan ikut campur urusan mereka dek!"
"Mas, mas jangan buta hati dong cuma gara-gara mas cinta mati sama mba Bia. Ingat, bertahun-tahun cinta mas bertepuk sebelah tangan kan sama dia?"
Apa? Kenapa Anika bisa tahu sejauh itu?
"Cukup dek! Kamu keterlaluan!", kata sakti menghardik adiknya.
"Mas sakti!", aku menengahi kakak beradik itu.
"Neng, sebaiknya kita segera pulang dari sini!", ajak Alby padaku.
Febri yang dari tadi memantau perdebatan itu dari jauh pun akhirnya mendekat mereka.
"Sebentar A."
Aku mendekati gadis muda itu.
"Anika, saya tidak silau dengan harta yang tuan Hartama tawarkan untuk kami. Saya tahu, kamu sahabat yang baik. Tapi mungkin, kamu belum terlalu memahami dan mengenal sahabat mu. Saya tidak menyalahkan kamu."
Anika menatap mataku. Entah apa yang ada di dalam pikiran Anika.
"Saya tidak ingin mengadu domba kamu dengan sahabat mu. Tapi, sebaiknya kamu mencari tahu dulu. Jangan menilai segala sesuatu hanya berdasarkan apa yang baru saja kamu lihat. Kadang, kenyataan tak sehalus permukaan."
Anika bergeming.
Kenapa dia begitu tenang menghadapi ku ya? Batin Anika.
"Tolong maafkan adikku ya Bi!", ujar Sakti.
"Iya mas. Ngga apa-apa."
"Ya udah neng, kita pulang. Mas sakti, Mas Febri kami pamit ya!", kata Alby mengajakku.
Aku pun berpamitan pada mereka semua. Dan setelah itu, mobil kami meninggalkan area parkir rumah sakit.
"Mas, mas tahu yang sebenarnya?", tanya Anika.
"Mas malu dek kamu bersikap seperti itu."
__ADS_1
"Sudah bro, jangan marahin adikmu seperti itu. Yang perlu Lo lakukan sekarang adalah jelaskan sama Anika!", kata Febri.