Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 105


__ADS_3

"Alhamdulillah, pak Alby bisa pulang besok siang. Lukanya sudah membaik. Bisa dirawat jalan kok!"


"Alhamdulillah, terimakasih dok."


Usai memeriksa luka Alby, dokter pun keluar.


"Udah jam delapan neng. Udah makan, solat?", tanya Alby padaku.


"Udah A."


"Ya udah atuh neng istirahat."


"Heum!"


Aku duduk di samping Alby. Dia masih memandangi ku.


"Neng!"


"Heum?"


"Neng mau kan memulai dari awal lagi?", tanya nya padaku.


"Iya!", sahutku singkat.


"Tapi besok Aa keluar dari sini, kita harus ke rumah tuan Hartama dulu?", tanya Alby lagi.


Aku menghela nafas. Tentu saja aku sendiri bingung. Aku belum mencari tempat tinggal sementara selama aku di sini. Pakaian ku saja pemberian dari Mak Titin kemarin. Pakaikan kotorku masih teronggok di kantong keresek.


"Iya, aku antar ke sana. Tapi, habis itu aku bakal cari kosan."


Alby menggeleng.


"Nanti kamu kecapekan neng. Aa ngga mau!"


"Terus, Aa mau aku stay di sana gitu sampai Aa pulih? Ngga bisa! Mana mungkin aku satu atap dengan madu ku! Ngga mau!"


Alby menggenggam tangan ku.


"Maaf!", gumam Alby.


"Udah , Aa ngga usah pikir macam-macam. Tenang saja, aku bisa kok cari kosan. Yang bisa secepatnya kita pakai. Yang fasilitasnya lengkap."


"Tapi aa ngga mau kalo jauh dari neng lagi!"


"Aku janji, kalo udah dapet tempatnya, aku langsung hubungi Aa. Aku jemput Aa!"


Alby mengangguk pasrah.


"Udah malem, neng sare gih! Kasian si utun di ajak begadang terus."


"Iya. Aa duluan aja. Kalo aa udah tidur, aku juga tidur kok!"


"Ya udah!", Alby mulai memejamkan matanya. Mungkin karena efek obat, Alby mudah sekali tertidur pulas.


Ponsel Alby bergetar. Ada panggilan dari tuan Hartama. Sedikit ragu, aku mengangkat panggilannya.


[Hallo?]


[Hallo Bia, apa Silvy di sana?]


[Ngga tuan. Silvy memang ke sini tapi sore, sebelum anda ke mari.]


[Oh ya sudah]


Sambungan telepon pun langsung terputus. Ngga ada makasih-makasih nya sama sekali tuan Hartama itu.


Aku pun memilih untuk ikut merebahkan diri di sofa, meluruskan pinggangku.


.


.

__ADS_1


"Kemana anak itu?", Hartama mondar mandir di dalam rumahnya.


"Mungkin ke rumah teman nya tuan, siapa ya namanya?", gumam Sapto.


"Siapa? Anika?", tanya Hartama.


''Oh, iya tuan."


"Coba saya cari ke sana!", kata Hartama.


"Perlu saya temani Tuan? Sepertinya anda lelah sekali!"


"Baiklah! Ayo!', Hartama menyerahkan kunci mobilnya pada Sapto.


.


.


"Ssst...Ve, itu bukannya mantannya cowok Lo?", teman Vega menunjuk Silvy dengan dagunya. Vega mencari tahu siapa yang di maksud oleh temannya itu.


"Eh, iya. Itu Silvy! Ngapain dia di sini?", tanya Vega.


"Samperin tuh!"


Vega pun turun dari meja bar nya. Dia menghampiri Silvy yang sedang menikmati minumannya.


"Hai!", sapa Vega sok ramah. Silvy menatap benci pada mantan sahabatnya itu.


"Ngga usah deket-deket gue!"


"Weis, ngga usah marah dong. Gue cuma heran aja, ngapain Lo di sini? Ga takut di cariin laki Lo?"


"Bukan urusan Lo!"


"Silvy....Silvy... beruntung banget ya jadi Lo. Udah punya suami ganteng, eh...mantan Lo juga masih ngebet sama Lo! Heran gue, apa kelebihan Lo? Padahal Lo kan c****!"


"Diem Lo, kalo Lo cuma mau bikin gue emosi mending jauh-jauh deh. Gue lagi ga mood berantem sama Lo!"


"Bukan urusan Lo!", dorong silvy ke bahu Vega.


''Eh, kok malah main dorong Lo !"


"Gue bilang ngga usah dekat-dekat gue. Ngeyel banget sih Lo!"


Vega meraih gelas yang ada di meja bar lalu menyiramkannya ke kepala Silvy.


Silvy yang terkejut pun spontan melakukan hal yang sama dengan Vega. Silvy menjamak rambut Vega dengan kasar.


"Awssshh...sakit bang***!", pekik Vega. Dia pun membalas Silvy. Aksi tarik menarik mereka membuat keadaan klub malam itu semakin ramai. Tidak ada yang bermaksud memisahkan mereka berdua. Semua hanya menonton aksi saling Jambak dorong itu.


"Stop!", tiba-tiba seorang laki-laki menarik perut Silvy agar menjauh dari Vega.


"Lepas! gua habisin cewek pengkhianat kaya dia! Gue benci! Gue benci!", Silvy terus meronta dari pelukan laki-laki itu yang tak lain adalah Malvin.


"Stop Vy, stop! Ngga ada gunanya Lo ladeni cewek kaya dia."


Silvy memutar badannya. Wajahnya semakin memerah setelah tahu pria yang sudah memisahkan dirinya dari vega.


Tanpa bicara apa pun, Silvy meraih tas nya dan juga tingkat kecilnya. Sudah jalan tertatih, sempoyongan mabuk berat! Pokoknya lengkap sudah ketidakmampuan seorang Silvy. Malvin menangkap tubuh mantannya yang sudah mabuk berat.


"jangan sentuh gue!", pekik Silvy.


"Gue ngga mau kalo sampe Lo dan bayi Lo kenapa-kenapa Vy! Lo ga sadar, Lo minum begini bahaya buat kandungan Lo!"


Malvin menggendongnya, membawa ke dalam mobilnya. Silvy tak banyak meronta, mungkin karena minuman keras itu sudah terlanjur menguasai dirinya.


Malvin duduk di belakang kemudi.


"Ngga ada yang peduli lagi sama gue! Ngga ada Vin! Alby aja ngga ngarepin anak gue! Bokap gue juga lebih milih gue pisah sama Alby! Udah ngga ada yang sayang sama gue! Lo tau ngga Vin! Gue benci! Gue benci semua, terutama Bia. Gue benci Bia. Gue benci Lo."


Silvy meracau tak tentu arah. Ucapannya semakin tak terkontrol.

__ADS_1


Malvin menjalankan mobilnya. Dia sendiri tak tahu harus membawa Silvy ke mana. Apalagi sudah malam seperti ini. Andai dia di bawa pulang dalam keadaan seperti ini, pasti papanya bakal menyalahkan Malvin lagi.


"Gue sayang sama Lo Vy! Gue masih tetap sayang sama Lo!", kata Malvin. Silvy sudah tertidur usai racauannya tadi.


Akhirnya, Malvin memutuskan untuk membawa Silvy ke hotel. Mungkin setelah ia sadar, baru Malvin antar ke rumah papanya.


.


.


"Udah malam, sana masuk dek!", pinta Sakti pada Anika.


"Belum jam sepuluh mas!", kata Anika.


''Dimas, Lo pulang deh sana. Biar adek gue tidur! Ngga takut di cariin bapak Lo?!"


"Ini mau pulang mas. Ya elah, gini amat sih!", kata Dimas.


"Dek, Kakak pulang dulu ya!", kata Dimas pamitan pada Anika.


"Hati-hati kak, sampe rumah tolong kabarin ya!"


"Iya!"


Usai mengusap kepala kekasihnya, Dimas pun berpamitan pada sakti dan Febri.


"Udah sana masuk dek!"


"Iya mas, iya!", celetuk Anika sambil berlalu masuk ke dalam rumahnya.


"Eh, gue keluar dulu deh. Rokok gue abis!", kata Febri.


"Beli di mana?", tanya sakti.


"Warung depan!"


"Ya udah deh, gue mau pulang sekalian! Jagain Ade gue ya!", kata Sakti menepuk bahu Febri.


"Iya!"


Keduanya keluar dari gerbang. Mobil sakti memang parkir di pinggir jalan. Saat keduanya akan berbelok, sebuah mobil berhenti di depan mereka.


Hartama turun dari mobil. Dia terkejut melihat sakti dan Febri yang baru saja keluar dari rumah Anika.


"Tuan Hartama?", sapa Sakti. Sedang Febri sendiri masih berdiri di samping sakti.


"Ini, rumah Anika kan? Kalian ngapain di sini?", tanya Hartama. Kedua pria tampan itu saling berpandangan.


"Eum, iya. Anika adik saya tuan. Dan Febri, ajudan ayah saya yang bertugas menjaga adik saya!"


Jadi Anika adiknya Sakti? Dan Febri jadi ajudan keluarga Anika? Batin Hartama.


"Oh, saya baru tahu."


"Ngomong-ngomong ada keperluan apa anda ke rumah adik saya ya tuan?", tanya Sakti.


"Ah, iya. Apa anak saya kemari? Silvy tidak bisa di hubungi. Saya hanya tahu Anika sahabat Silvy."


"Maaf tuan, Silvy tidak ke mari. Bahkan Anika sendiri sudah beristirahat di dalam", sakti menjelaskan.


"Baiklah kalau begitu! Terima kasih!", Hartama meninggalkan mereka berdua begitu saja! Kok dia percaya saja dengan ucapan Sakti? Ya, dia yakin Silvy tidak akan mungkin ke sini. Apalagi ada dua pria itu bersama Anika.


"Kita cari ke mana lagi To?", tanya Hartama.


"Saya hanya tahu non Anika dan mas Malvin tuan. Tapi sepertinya non Silvy tidak mungkin bersama mas Malvin kan. Apalagi sejak kecelakaan itu, saya sama sekali tidak pernah melihat mas Malvin berkunjung ke rumah."


"Benar juga ya To. Ya udah,kita pulang saja. Semoga Silvy sudah ada di rumah!"


"Baik tuan!"


Mobil pun kembali meluncur ke rumah mewah keluarga Hartama.

__ADS_1


__ADS_2