
"Dokter! Tolong anak dan menantu saya!", teriak Hartama yang baru memasuki gedung rumah sakit.
Perawat membantu Hartama meletakkan Silvy di atas brankar lalu mendorong nya ke IGD. Selanjutnya, dokter lain menangani Alby.
"Lho, pak Alby? bukankah Anda baru keluar tadi siang?", sapa dokter jaga yang kebetulan menanganinya kemarin.
"Iya dok, sepertinya luka saya kebuka lagi!", Alby meringis menahan rasa nyeri di luka bekas tusukan itu.
Dokter pun segera menangani Alby kembali. Luka yang belum kering, sekarang kembali terbuka. Dokter tak ingin banyak bertanya. Dia rasa cukup paham kenapa luka itu bisa terbuka. Pasti karena Alby berusaha mengangkat atau melakukan hal berat yang di paksakan.
Alby sudah di tangani dengan baik, begitu pula dengan Silvy.
"Bagaimana dok? Apa putri dan calon cucu saya baik-baik saja?", tanya Hartama cemas.
"Sepertinya nyonya Silvy belum makan dari kemarin tuan, makanya tubuhnya drop seperti tadi. Tapi sejauh ini, dia bisa menerima cairan vitamin dari infusnya. Dan untuk kandungannya Alhamdulillah baik. Tapi untuk di perhatikan, sepertinya nyonya Silvy mengalami shock. Setidaknya, jaga emosinya agar tetap stabil. Hormon ibu hamil itu memang kadang tak bisa diprediksi. Tapi sebagai orang terdekat, sebaiknya kalian harus mendukung nyonya Silvy agar emosinya stabil dan kandungan nya juga baik."
Dokter mengatakan informasi itu panjang lebar.
"Baik dok! Tapi, apakah Silvy boleh di bawa pulang setelah ini? Atau perlu perawatan di sini?"
"Untuk satu atau dua hari saya rasa cukup bagi nyonya Silvy memperoleh perawatan di rumah sakit ini."
"Baiklah dok, terima kasih."
Dokter itu mengundurkan diri dari ruang IGD.
"To, saya mau urus kamar Silvy dan Alby dulu!"
"Baik tuan!", Sapto paham apa perintah bosnya. Sementara dia menjaga silvy dan Alby sampai mereka mendapatkan ruangan.
Silvy masih belum sadarkan diri saat dia di bawa keruang rawat inap. Alby pun terpaksa harus menjalani perawatan karena lukanya yang kembali terbuka tadi. Mereka berada di ruang yang sama
Alby sampai lupa untuk mengabari istrinya yang sedang mencari tempat untuk berteduh mereka nantinya. Tapi sayangnya Alby lupa membawa ponselnya.
Di sisi lain, dua perempuan cantik yang baru selesai memakan baso nya pun tertawa cekikikan.
"Aku telepon Alby dulu bentar ya Dek!"
''Ya mbak!"
Suara ponsel Alby berdering, tapi tidak ada satupun yang mendengar karena ponsel itu ada di dalam kamar.
"Apa si Aa tidur ya? Kok ngga diangkat-angkat sih?", gumam ku.
"Kenapa mba?",tanya Anika.
"Heum, ini aku telpon Alby ngga di angkat."
"Mungkin lagi istirahat mba, kan biasanya kalo baru keluar dari rumah sakit masih harus banyak istirahat. Efek obat juga kali!"
"Owh...iya juga sih dek. Tapi, apa mba jahat banget ya? Aku tinggalin suami yang masih dalam masa penyembuhan,sedang aku sendiri malah maka enak begini sama kamu dek!"
"Ya ampun mba, ya ngga lah. Jahat dari mananya sih? Kan di sana juga ada ibunya, ada is...tri...nya juga!", suara Anika memelan saat mengatakan kata istri.
Aku tersenyum kaku. Ya, aku terlalu mengkhawatirkan suamiku. sedangkan di sana, ada seseorang yang juga memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti ku.
Obrolan ku dan Anika terhenti saat Febri dan Seto kembali dari kamar mandi. Saat ini Keduanya sudah tak memakai seragam lagi. Mereka memakai kaos oblong. Tapi ya...memang dari postur tubuh mereka seperti itu, mau di tutupi seperti apa juga badan mereka memang kekar. Mungkin latihan fisik mereka benar-benar di jalani selama ini.
"Udah, habis ini mau kemana?", tanya Seto.
"Kan mau ke kosan yang dituju kak Seto! Gitu aja nanya!", kata Anika sambil menyeruput es tehnya.
"Iya tahu nyai, tapi alamatnya itu di mana?", sahut Seto sewot.
"Kak Seto galak, aku bilangin kak Dimas lho!", ancam Anika.
"Bilangan sono. Gak takut gue sama Dimas. Tinggal gue aduin aja ke bapak. Kalo kalian per ....!"
"Heummmpppptttt!", Anika membungkam mulut Seto dengan tangannya.
"Issshhh....kak Seto jorok!", kata Anika saat menyadari tangannya basah karena ulah Seto.
"Kamu tuh dek yang jorok! Mana bau lagi tuh tangan!", kata Seto kesal.
"Ya udah maap sih! Lagian lemes amat sih tuh bibir kaya cewek aja!", sahut Anika.
"Yang lemes tuh pacar mu dek!", kata Seto tak mau kalah.
__ADS_1
"Stop! Maksud kamu pernah To? Anika pernah diapain sama Dimas?", tanya Febri. Mata Anika membulat.
"Ngga! Ngga pernah ngapa-ngapain! Kak Seto tuh ngasal!", kata Anika panik.
"Halah, kaya ga tahu aja Dimas modelan gimana!", celetuk Seto.
"Udah....udah...stop! Jadi ke kosan nya gak?", aku menengahi mereka.
"Jadi mba!", ajak Anika sambil berdiri lebih dulu lalu berjalan ke wastafel untuk mencuci tangannya.
Keempat orang itu sudah duduk di mobil. Kali ini, Febri yang membawa mobil itu.
"Nah, mas Feb. Berhenti di sini! Kita jalan ke dalam gang itu!", kata Anika.
"Stop dek!", kataku.
"Apa mba?"
"Di sini?", tanya ku.
"Ngga mba, itu gang kecil itu masuk berapa langkah terus ketemu rumah. Nah itu kosannya."
"Hah?"
"Kenapa sih mba???", tanya Anika heran.
"Ika, ini kosan bebas banget ka. Mba takut ah!", kata ku.
"Ya emang bebas mba tapi itu dulu , sekarang ada kok yang khusus suami istri. Tapi, kok mba tahu ini kosan bebas?", tanya Anika.
"Dulu aku kos di daerah sini juga. Tapi agak ke dalam Sono. Di sini mahal Ka!", kataku. Tapi aku tetap menurut, mengekor di belakang Anika. Seto dan Febri pun hanya mengikuti kami berdua.
"Wah, kebetulan dong!", kata anika.
"Kamu tahu sekarang berapa biaya kos di sini? Jaman mba kerja di minimarket aja udah sejuta enam ratusan. Apalagi sekarang? Pasti lebih mahal."
"Mba, kaya orang susah aja. Ika tahu kok restoran mba Bia yang di kampung. Yang hits itu kan? Yang di sambangi sama William Adiraja?"
Aku menghentikan langkahku. Tepat juga di depan gerbang kosan.
"Kamu tahu dari mana?", tanya ku pada Anika.
Aku menghela nafas.
"Mau cerita dulu apa masuk dulu ketemu sama yang punya kosan?"
"Cerita aja dulu!", kata Anika. Ya, keempat orang itu berdiri di depan pintu gerbang.
"Jadi, William itu... sepupunya bapak."
Anika, Febri dan Seto mengernyitkan alisnya.
"Bapak Salman?", tanya Febri. Aku menggeleng.
"Bapak Anton mas."
Febri tersenyum, ini untuk pertama kalinya sejak Febri mengenal Bia , dia menyebut bapak tirinya 'bapak'. Dulu Bia hanya memanggil nya suami ibuku.
"Kamu udah baikan sama lek Asih dan pak Lurah?", tanya Febri. Seto dan Anika yang tak tahu apapun hanya menonton adegan sepasang mantan kekasih itu.
"Heum, bisa di bilang iya. Apalagi... ternyata Malvin, mantan pacarnya Silvy itu keponakan bapak!"
"Apa????", pekik Anika.
"B aja kagetnya dek! Mba juga baru tahu kemarin pas di rumah sakit. Oma Marini, Omanya Malvin sekaligus ibu mertuanya ibuku juga di rawat di sana. Kebetulan mereka sedang video call, dan bapak liat aku bersama Oma Marini dan Malvin."
"Wah...drama novel banget ini mah!", celetuk Anika.
"Udah ah, ngga usah liat ke dalam. Mahal Ika!", rengek ku.
"Mahal? Kaya orang susah aja sih mba!", celetuk Anika dengan entengnya.
"Dua juta itu banyak Anika! Kamu belum ngrasain cari duit itu susah sih!", kataku.
"Iya tahu, tapi kan duit mba Bia banyak."
"Sok tahu!", kataku.
__ADS_1
"Liat aja restoran nya rame begitu! Masih aja mau hidup ngenes sama mas Alby. Di madu lagi! Kalo Ika mah ogah!"
Kok mendadak hatiku nyeri ya???
Anika yang terlalu jujur atau aku yang kelewat baper.
"Dek!", Febri mengingatkan anika. Ya, sekarang bukan hanya sakti yang memanggil Anika dengan sebutan dek. Tapi hampir semua yang ada di dekatnya termasuk aku.
"Maaf mba, jangan marah!", Anika menggelendot manja di lengan ku.
"Ngga! Mba ngga marah. Ya udah, masuk deh! Kelamaan di sini. Di kira kita mau minta sumbangan lagi!", kataku.
Akhirnya kami berempat pun masuk ke dalam rumah besar itu yang di jaga oleh satpam.
"Sore pak!", sapa anika.
"Sore mba!", satpam itu melirik ke Febri dan Seto. Seketika ia menegapkan badan lalu hormat pada Febri dan Seto.
Emang keliatan ya kalo mereka prajurit??? Batinku.
"Selamat sore Ndan!", sapa satpam.
"Selamat sore pak, ini kami mau cari kamar kos ada yang kosong? Buat suami istri!", kata Febri.
"Ada Ndan, mari saya antar ke pengurusnya!"
Satpam itu mengantar kami masuk untuk menemui si pengurus.
Setelah di rasa cukup tahu informasi tentang kosan ini, pengurus kos mengantar ku kami lantai dua.
Kamarnya cukup luas, ada kamar mandi di dalam dan fasilitasnya pun lengkap.
"Gimana mba?", tanya pengurus itu.
"Ya udah deh. Saya ambil!", kataku. Lalu aku memberi dp pada pengurus kosan.
"Saya dp dulu ya mba! Nanti malam suami saya ke sini, saya lunasi!", kataku. Pengurus kos memberikan kuncinya padaku, tak lupa ia meminta fotocopy tanda pengenal ku.
"Kenapa nduk? Ngga ada uang cash?", tanya Febri.
"Iya mas. Nanti sekalian ke minimarket sama ke ATM."
Febri dan Seto memilih menunggu di luar, sedang aku dan Anika masuk ke dalam kamar kosanku.
Aku di bantu Anika memasang sprei di ranjang ukuran medium ini. Sampai terdengar samar-samar suara orang yang mengobrol dengan Febri dan Seto.
Aku dan Anika pun keluar dari kamar ku.
Mataku tertuju pada seorang gadis yang mengobrol dengan Febri. Melihat Febri yang menatapku, gadis itu pun menoleh juga padaku. Mata ku dengan gadis itu saling berada
"Sapi??", pekik gadis itu.
"Gendul?", balas ku. Seketika itu juga kami berpelukan.
"Ah, apa kabar kamu Bi? Sapi? Sapia?", tanya gadis itu yang tak lain Dewi, teman masa kerjaku dulu.
"Shabia Ndul!", kataku.
"Wah, ngga nyangka kita ketemu lagi. Sumpah kangen banget sama Lo Bi!", kata Dewi.
"Sama, gue juga. Sorry, hp gua wasalam. Makanya kita lost kontak!", kataku masih dengan nada terharu.
"Hahaha ga apa! Btw...gue ngga nyangka ya Bi. Lo jadi ibu Persit ya??? Wah....kayanya gagal move on sama mantan nih! Akhirnya, kalian bersatu juga!", ocehan Dewi sungguh keterlaluan.
"Apaan sih Dew. Ngga usah ngadi-ngadi!", kataku.
"Ngadi-ngadi gimana? Gue inget betul kok, dia mantan Lo yang TNI itu kan? Lo yang mutusin dia tapi Lo sendiri yang nangis-nangis? Padahal kalo abis mudik, stempel Lo di mana-mana??", ocehan Dewi benar-benar membuat ku mati kutu. Febri mematung mendengar ocehan Dewi , yang katanya teman Shabia. Mungkin dia merasa malu.
"Stempel apa???", tanya Anika dengan lugunya.
********
Setelah canda candi receh ini, konflik sebenarnya di mulai hehehehe 🤭🤭🤭
pantengin ya???!!!
Makasih yang udah sempetin mampir ke tulisan receh mamak. Maaf kalo banyak typo ya 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Masih proses review, blm d ACC sama yang punya kawasan. Mon maap 🙏